Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Filosofi

1.   Sebaik-baiknya Ibadah
2.   Penderitaan Awal Pencerahan
3.   Kepala Ikan
4.   Tugas Murid Junaidi
5.   Asal Api Neraka
6.   Musa & Wali Tuhan
7.   Membakar Diri Demi DIA
8.   Malaikat Yang Nyata
9.   Renungan Hati
10. Aku Adalah Orang Kaya
11. Mengundang Tuhan Makan Malam
12. Anak Bertanya Tentang Tuhan
13. 40 Tahun Berbuat Dosa
14. Kisah 5 (Lima) Perkara Yang Aneh
15. Jangan Meminta Kepada Makhluk
16. Atha Bin Yasar Dan Wanita Penggoda
17. Antara Anak, Ayah dan Burung Gagak
18. Perempuan miskin, Sapi tua dan Gaza
19. Kisah Pohon Apel
20. Orang yang Berjalan di Atas Air
21. Abu Nawas - Yang Lebih Kaya Dan Mencintai Fitnah
22. Burung dan Telur
23. Kisah Pasir
24. Raksasa dan Sufi
25. Kisah Seorang  Raja  Dan Putranya
26. Burung Merak Raja di Bawah Keranjang
27. Alam Semesta Adalah Guru Yang Bijak
28. Raja dan Empat Orang  Permaisuri
29. Kisah Seorang  Maling Yang Ahli Fiqih Dengan Seorang Qadli Yang Tajir
30. Saatnya Menuai Cinta
31. Siapa  yang  tahu  maksud Tuhan
32. Dialog  Dengan  Penghuni  Kubur
33. Merenung Sejenak Untuk Diri & Jiwa Yang Tersakiti
34. Anjing-anjing Neraka
35. Pemuda beribu bapakan babi
36. Kisah Neraka Jahanam
37. Nafsu yang degil
38. Awan mengikut orang yang bertaubat
39. Jenazah Berubah
40. Keledai Yang Tidak Menyerah Dengan Nasib
41. Burung & Telor
42. Sabar Menghadapi Ujian Dunia
43. Pertanyaan Sahabat
44. Macam Sabar
45. Hakikat Sabar
46. Istri Cerewet & Karomah Kyai
47. Orang Bijak & Kambing Hitam
48. Filosofi Jawa Ajaran Sunan Kalijaga
49. Sebuah Renungan
50. Tukang Kayu, Mungkar & Nakir
51. Tempayan Retak
52. Sepuluh Kesalahan Istri
53. Makna Bunga
54. Nabi daud & Ulat
55. Karma dan Hukum Karma
56. Kecerdasan Spiritual
57. Tugas Murid Junaidi

Anak Bertanya Tentang Tuhan

Sebelum kepada inti masalah terhadap pokok bahasan terkait pertanyaan anak, sebelumnya penulis ingin menceritakan sebab timbulnya tulisan “ Pertanyaan Anak Terkait Tuhan “.

Disuatu hari pada suatu malam terdapat kumpul-kumpul (red, jawa : riyungan) di suatu tempat. Pada kumpul-kumpul ini terdapat bahasan yang menarik, salah satunya tentang “Hidup Yang Baik Dengan Cara Yang Betul”.  Tiba-tiba salah seorang sahabat bertanya “ Bagaimana kalau anak bertanya tentang Tuhan?...Bagaimana kita sebagai orang tua untuk menjawab agar anak mengerti, sebab anak-anak sekarang semakin kritis!”, mendengar pertanyaan itu penulis terdiam sejenak, kaget….Terdiamnya penulis bukan karena tidak ingin menjawab, atau tidak mengerti, akan tetapi oleh penulis dimaknai bahwa pertanyaan tersebut sekaligus sebagai “Peringatan Tuhan” untuk penulis. Tuhan memperingatkan penulis akan beberapa hal, antara lain :

1. Saat membicarakan bab terkait “WIDATUL WUJUD” penulis harus melihat peserta diskusi (pribadi, pengalaman, pola pikir, pola tindak, dsb).
2. Dalam menyampaikan sesuatu harus menggunakan “bahasa” yang sesuai dengan “point 1” diatas, dengan harapan agar “materi” yang disampaikan tepat sasaran.
3. Sehingga ada “materi” yang harus “dibuka” dan ada yang harus “ditutup”.

 “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Adz Dzaariyaat 51:55)

Penulis sangat berterima kasih kepada Tuhan yang langsung “memberikan peringatan” melalui lisan sahabat tadi. Setelah menyadari itu penulis langsung merubah “materi” pembicaraan.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. Al Baqorah 2:214)

Terima kasih sahabat telah mengingatkan penulis, sesuai janji penulis akan dituliskan pertanyaan sekaligus jawaban dari “ketika anak bertanya terkait dengan Tuhan”. Pokok bahasan yang di tulis bukan asli buah karya dari penulis akan tetapi dari berbagai sumber dan sedikit diadakan perubahan. Perubahan semata-mata untuk menjadikannya sempurna jawaban buat anak, walaupun semakin kedepan anak akan semakin kritis. Semoga bisa untuk dijadikan referensi. Bagi nara semua sumber dari tulisan ini kami ucapkan beribu terima kasih.


UNTUK DI PERHATIKAN
Pertanyaan tentang Tuhan sebenarnya bukan hanya milik anak-anak, tetapi kita semua, yang mengaku diri sebagai orang percaya paling tidak pernah sampai pada satu pertanyaan siapakah Tuhan menurut saya? Karena memang berdasarkan Perkembangan Iman menurut James Fowler ada satu masa dalam kehidupan yang mulai mencari pemahaman tentang Tuhan. Namun ada orang yang terus menelusuri pencarian tersebut sampai akhirnya memiliki ‘pengalaman spiritual’, ada juga yang kemudian berhenti mencari dan tidak mengalami ‘pengalaman spiritual’ dalam kehidupan imannya.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan ’pengalaman spiritual’? Pengalaman spiritual adalah satu bagian dari kehidupan manusia di mana terjadi suatu pergumulan iman, pencarian bahkan perjumpaan dengan “Yang Dicari”, sebuah pengalaman yang membuat manusia merasakan damai sejahtera, sukacita dan kebahagiaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Pada umumnya pengalaman spiritual seperti yang disebutkan di atas terjadi ketika manusia sudah mencapai satu tahap perkembangan iman yang disebut synthentic conventional. Tahap perkembangan ini umumnya terjadi ketika manusia mencapai usia dewasa. Tetapi itu pun bukan sesuatu yang otomatis terjadi, karena untuk sampai ke tahap tersebut manusia harus melalui tahap-tahap perkembangan yang lain yang dimulai sejak anak-anak atau bahkan bayi.

Apakah pengalaman spiritual dapat dimiliki oleh anak-anak? Seharusnya ya, tapi bentuknya berbeda dengan orang dewasa. Pengalaman spirituil mereka muncul dalam bentuk rasa takjub/kagum terhadap kemegahan alam. Mereka dapat melihat keindahan bunga/pelangi dan sebagainya, di sanalah penglaman spiritual mulai mengambil bagian dalam kehidupan mereka.

Sementara pertanyaan tentang Tuhan itu baru akan muncul ketika anak-anak mulai dapat berkomunikasi dengan baik. Tentunya diawali dengan kebiasaan-kebiasaan yang ditanamkan kepada si anak misalnya berdoa. Biasanya mereka tidak bertanya kenapa harus berdoa, melainkan mereka terima saja kebiasaan itu sebagai suatu bagian dari kehidupan dan kegiatan sehari-hari mereka.

Ketika mereka mulai dapat berbicara/berkomunikasi, maka pertanyaan yang muncul biasanya tidak langsung tentang siapa itu Tuhan, tetapi mempertanyakan terlebih dahulu kebiasaan-kebiasaan yang ada itu;  seperti mengapa kita harus berdoa?, baru kemudian pertanyaan dilanjutkan “Tuhan itu ada di mana sih?” “Tuhan sedang apa?” Persoalannya adalah apa jawaban kita ketika mereka bertanya tentang Tuhan? Sebelum kita menjawab pertanyaan mereka, pikirkan dulu jawaban kita karena kemampuan abstraksi anak masih rendah.

Dalam teori perkembangan kognitif, Piaget menyebutkan bahwa anak usia 2-7 tahun sedang berada dalam tahap pra-operasional. Pada tahap ini, anak sudah bisa membayangkan wujud benda sekalipun benda tersebut tidak ada di hadapannya. Anak sudah mulai mengerti, bahwa benda yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Contohnya, ketika boneka disembunyikan, si kecil tahu bahwa boneka itu ada, tapi tidak bisa dilihatnya. Persoalannya, hal itu hanya berlaku pada benda-benda yang pernah dia lihat. Jadi bagaimana dengan Tuhan. Maka yang paling enak adalah menjelaskan konsep Tuhan dengan memberi contoh dengan menggunakan perwakilan dari hal nyata yang diketahui anak. Misalnya: “Tuhan itu tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Sama seperti angin. Adik bisa merasakan angin tapi tidak bisa melihatnya kan?” lalu tiup tangannya sehingga ia bisa merasakannya.

Ada kalanya pertanyaan yang diajukan sangat sulit bagi mereka untuk mengerti maka kita bisa juga mengatakan dengan jujur akan keterbatasan kita dan meminta mereka untuk bersabar sampai mereka menjadi lebih besar untuk bisa memahaminya. Hal ini malah akan mendidik anak mengenai pentingnya mencari jawaban sendiri sehingga mereka bisa belajar lebih banyak tentang imannya. Cara lain yang bisa digunakan adalah dengan mencari orang yang kita anggap cukup kompeten untuk menjawab pertanyaan si kecil.

Bagaimana mengajarkan/memperkenalkan tentang Tuhan kepada anak-anak kita?
1.      Kenalkan lewat alam sekitar. Kemampuan untuk merasakan dan mengalami keindahan alam itu sangat menolong anak untuk melihat kebesaran Tuhan.
2.      Kenalkan lewat cinta. Melalui sentuhan, ucapan, sikap, perhatian, semua itu memperkenalkan sifat-sifat Tuhan kepada anak-anak.
3.      Kenalkan lewat cerita. Bisa melalui film-film rohani tapi lebih efektif melalui cerita yang disampaikan oleh orangtua.
4.      Kenalkan lewat bakat yang dimiliki. Hargai mereka dan katakan bahwa Tuhan menciptakan mereka dengan kemampuan tersebut. Melalui penghargaan ini anak juga dibangun untuk memiliki rasa percaya diri, karena anak merasa Tuhan telah memberinya suatu keistimewaan.
5.      Kenalkan lewat kebiasaan-kebiasaan dan tanggungjawab sehari-hari. Misalnya: doa, ibadah, ucapan syukur.Tentunya ini dilakukan melalui contoh dari orang dewasa yang ada di sekitarnya.

Apa saja yang harus diperhatikan/tips?
1.      Gunakan bahasa anak-anak = tergantung usia anak ketika bertanya tetapi usahakan mereka akhirnya mengerti kalau perlu menggunakan contoh sehari-hari. Misalnya ketika kita bilang Tuhan itu ‘Pencipta’ langit dan bumi. Kata ‘pencipta’ di sini anak-anak sulit mengerti maka diberikan contoh seperti membuat kue, itu artinya mencipta, nah Tuhan itu lebih dari sekedar membuat kue.
2.      Usahakan agar situasinya menjadi sesuatu yang menyenangkan buat si anak. Maksudnya jangan dibuat menjadi sebuah pelajaran agama yang begitu serius.
3.      Kalau kita tidak bisa menjawab kita jangan malu untuk mengakuinya dan cobalah berusaha mencarinya bersama-sama entah melalui Alkitab atau melalui ensiklopedia atau internet.

Sebagai Contoh “Tuhan Itu Siapa?”

Tanya 1: “Bu, Tuhan itu apa?”
Jawablah:
“Nak, Tuhan itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu.”

Tanya 2: “Bu, bentuk Tuhan itu seperti apa?”
Jangan jawab begini:
“Bentuk Tuhan itu seperti anu ..ini..atau itu….” karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.

Jawablah begini:
“Adek tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Tuhan itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan.”

 “ (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”. (QS. Asy-Syura 42:11)

Tanya 3: “Bu, kenapa kita gak bisa lihat Tuhan?“
Jangan jawab begini:
Karena Tuhan itu gaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Jawaban bahwa Tuhan itu gaib (semata), jelas bertentangan dengan ayat berikut ini.

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin[1452]; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Hadid 57 : 3)
[1452]. Yang dimaksud dengan: Yang Awal ialah, yang telah ada sebelum segala sesuatu ada, Yang Akhir ialah yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah, Yang Zhahir ialah, Yang nyata adanya karena banyak bukti- buktinya dan Yang Bathin ialah yang tak dapat digambarkan hikmat zat-Nya oleh akal.

Dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan gaibnya Tuhan dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan bahwa Tuhan itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan.

Apalagi jika kita menggunakan diksi (pilihan kata) “barang” dan “sesuatu” yang ditujukan pada Tuhan. Bukankah sudah jelas dalil Surat Asy-Syura di atas bahwa Tuhan itu laysa kamitslihi syai’un; Tuhan itu bukan sesuatu; tidak sama dengan sesuatu; melainkan Pencipta segala sesuatu.

Meskipun segala sesuatu berasal dari Zat-Sifat-Asma (Nama)-dan Af’al (Perbuatan) Tuhan, tetapi Diri Pribadi Tuhan itu tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af’al. Diri Pribadi Tuhan itu tidak ada yang tahu, bahkan Nabi Muhammad Saw. sekali pun. Hanya Tuhan yang tahu Diri Pribadi-Nya Sendiri dan tidak akan terungkap sampai akhir zaman di dunia dan di akhirat.

“(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya”.  (Q.S. An-Najm: 16-17)

Jawablah begini:
“Mengapa kita tidak bisa melihat Tuhan?”
Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik berpikir retoris)
“Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak ‘kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah,melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi,Bagimana kita mau melihat Pencipta matahari itu. Iya ‘kan?!”

Atau bisa juga beri jawaban:
“Adek, lihat langit yang luas dan ‘besar’ itu ‘kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. Adek gak bisa lihat ujung langit ‘kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita salat. Allah Mahabesar.”

Silakan hadapkan bawah telapak tangan Adek ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Adek ‘kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Adek. Masih terlihat jelaskah jemari Sobat setelah itu?

Kesimpulannya, kita tidak bisa melihat Allah karena Allah itu Mahabesar dan teramat dekat dengan kita. Meskipun demikian, tetapkan Allah itu ADA. “Dekat tidak bersekutu, jauh tidak ber-antara.”

Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”
Jangan jawab begini:
“Nak, Allah itu ada di atas..di langit..atau di surga atau di Arsy.”
Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Lalu jika Allah ada di langit, apakah di bumi Allah tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Allah…berarti prinsip Allahu Akbar itu bohong?

Dia bersemayam di atas ’Arsy. (Ayat ini adalah ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang wajib dibelokkan tafsirnya. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita mengenal makna denotatif dan konotatif, nah.. ayat mutasyabihat ini tergolong makna yang konotatif).

Juga jangan jawab begini:
“Nak, Allah itu ada di mana-mana.”
Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Allah itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.

Jawablah begini:
“Nak, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang yang saleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Allah selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada.”

“Qalbun mukmin baitullah”, ‘Hati seorang mukmin itu istana Allah.” (Hadis)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat:.(Q.S. Al-Baqarah 2 : 186)

“………..Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Hadiid 57: 4)

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.  (Q.S. Al-Baqarah 2 : 115)

“Allah sering lho bicara sama kita..misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Allah untukmu, Sayang.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)
Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Baqarah: 213)

Tanya 5: “Bu, kenapa kita harus nyembah Tuhan?”
Jangan jawab begini:
“Karena kalau kamu tidak menyembah Tuhan, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Tuhan, kamu akan dimasukkan ke surga.”

Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Allah bahkan menjadi benih syirik halus (khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka,”Masak sama Allah kayak dagang aja! Yang namanya Allah itu berarti butuh penyembahan! Allah kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!”

“Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya.” (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)

Jawablah begini:
“Nak, kita menyembah Tuhan sebagai wujud bersyukur karena Tuhan telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, ‘kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita.

Kalau Adek gak nyembah Allah, Adek yang rugi, bukan Allah. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru.”
(Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam. (Q.S. Al-Ankabut: 6)

Katakan juga pada anak:
“Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Allah, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?!” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

“Kenapa, Bu?”
“Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Allah tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Allah selalu ada untuk kamu. Nanti, Allah juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu.

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

 

Link Terkait