Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Apakah perintah sholat diterima Nabi Muhammad saat isro' mi'raj?

Pertanyaan ini tentunya akan muncul saat kita membandingkan ayat Al Qur’an yang berisikan tentang perjalanan isra’ mi’raj dengan beberapa riwayat yang termuat dalam hadist yang berisikan hal yang sama. Bersyukurlah bagi kita yang mau berfikir……karena Tuhan akan melebihkan derajat kita beberapa tingkat lebih tinggi. (baca Larangan Menuliskan Hadist)

Keutamaan Al Qur’an

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi  (memperhatikan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Qs. Shaad 38 : 29)

“supaya mereka mentadabburi”, yakni agar mereka berupaya memahami makna-maknanya dan beramal dengannya. Tidak mungkin bisa beramal dengannya kecuali setelah tadabbur. Dengan tadabbur akan menghasilkan ilmu, sedangkan amal merupakan buah dari ilmu.

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (Qs. Asy Syuura 42 : 52)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “…Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Qur’an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.” (lihat al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 38)

“Dan apakah orang yang sudah mati[502] kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam 6:122)

 Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata mengenai tafsiran ayat ini, “Orang itu - yaitu yang berada dalam kegelapan- adalah dulunya mati akibat kebodohan yang meliputi hatinya, maka Allah menghidupkannya kembali dengan ilmu dan Allah berikan cahaya keimanan yang dengan itu dia bisa berjalan di tengah-tengah orang banyak.” (lihat al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 35)

 

Hadist Isra’ mi’raj Vs Al Qur’an
Dasar bagi banyak orang yang menyakini bahwa isra’ mi’raj adalah suatu peristiwa dimana Nabi Muhammad menerima perintah sholat lima waktu adalah termuat dalam Hadist Shahih Bukhari No. 211 Jilid I yang dirawikan oleh Anas bin Malik r.a. (baca : Sejarah Sholat)

 Banyak hal yang harus kita teliti keabsahan dari hadist tersebut :
1.      Malaikat penjaga langit, tidak mengenal Malaikat Jibril……
Sebuah Perenungan :
a. Padahal semua orang yang beragama samawai meyakini bahwa jibril merupakan salah satu malaikat utama, yaitu dengan salah satu tugasnya menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul. Kenapa malaikat penjaga dari langit ke-1 hingga langit ke-7 tidak tahu?!!.

“Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (Qs. At-Takwir 81: 19-21)

b. “Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya..” (Qs. Al-Anbiya`21 : 19).

“mereka tiada mempunyai rasa angkuh…..”, Malaikat dalam hadist riwayat tersebut tidak mencerminkan ayat ini, sebab angkuh terhadap Tuhan, Nabi melaksanakan isra’ mi’raj adalah atas perintah Tuhan, kalau sudah jelas itu perintah Tuhan kenapa harus menghentikan jibril bertanya ini dan itu. Selain itu yang bersama malaikat jibril adalah “manusia sempurna”, kenapa tidak tahu.

Muhammad adalah manusia sempurna karena telah mampu menggulung semua unsur (Syariat, Thariqat, Hakikat, Ma’rifat) sehingga menjadi “insan kamil”

c. Pertanyaan yang lebih naïf adalah “apakah tidak ada kordinasi dulu antara Tuhan dan Para malaikat terkait isra’ mi’raj nabi!”.  

2.      Buraq digambarkan seperti hewan tunggangan, yang di-ikat di pintu masjid……(akan dibahas dalam tulisan tersendiri….,Sebenarnya apakah Buroq)   
      
3.      Rasulullah shalat 2 rakaat sebelum ke langit……..…., padahal perintah sholat belum diterima!!!?????.....(Baca : Isra' Mi'raj Dalam Syariat & Hakekat).

Sebuah Perenungan
a. Padahal perintah shalat belum datang (menurut Hadist Shahih Bukhari No. 211 Jilid I yang dirawikan oleh Anas bin Malik r.a.).

b. Sementara sejarah juga mengatakan bahwa jauh sebelum terjadinya Isra’ dan Mi’raj, Nabi Muhammad dipercaya telah melakukan Sholat berjemaah dengan Khadijjah sebagaimana yang pernah dilihat dan ditanyakan oleh Ali bin abu Thalib yang kala itu masih remaja.

c. Beberapa kejanggalan variasi cerita Isra’ dan Mi’raj diantaranya sebut saja kisah Nabi Muhammad dan Buraq ketika berhenti di Baitul maqdis dan melakukan sholat berjemaah didalam masjidil aqsha bersama arwah para Nabi sebelumnya, padahal sejarah mencatat bahwa masjid al-aqsha baru dibangun pada masa pemerintahan Khalifah umar bin khatab tahun 637 masehi saat penyerbuannya ke Palestina yang mana notabene saat itu Nabi Muhammad sendiri sudah cukup lama wafat, beliau wafat tahun 632 masehi.
d.      Cerita sholatnya Nabi Muhammad dan para arwah inipun patut mengundang pertanyaan, sebab Nabi sudah melakukan sholat (menurut hadis itu malah raka’atnya berjumlah 2) sehingga pernyataan Nabi menerima perintah Sholat saat Mi’raj sudah bertentangan padahal kisah ini terjadi detik-detik sebelum mi’raj itu sendiri.

4.     Kisah tawar-menawar jumlah rakaat Shalat…..(Baca : Makna Bolak-baliknya Nabi)

Sebuah Perenungan
a. Yang menjadi subjek memperjalankan Rasulullah Muhammad dalam Peristiwa Isra’ (perjalanan) yang bermakna Mi’raj (naik melalui tangga – tangga) adalah Allah Subhanahuta’ala (Qs.Al Israa’ 17 : 1), Dia yang Maha Berkehendak. Sedangkan di dalam hadits tersebut, diceritakan Nabi Musa yang menyuruh Nabi Muhammad untuk naik – turun sebanyak sembilan kali, guna mendapat pengurangan perintah sholat dari 50 rakaat menjadi 5 rakaat.

b. Nampak pula dalam kisah palsu ini seolah Nabi Musa begitu perkasanya dan berilmu sehingga mampu mendikte Allah sehingga menuruti pandangan Musa alaihissalam dalam hal perintah sholat.
Dalam Al Qur’an Nabi Musa pernah ditegur Tuhan karena keangkuhannya, sehingga diperintahkan belajar kepada Nabiyullah Qidir. Hal ini mengandung arti bahwa selama belajar dengan Qidir semasa masih hidup di dunia, nabi musa tidak pernah bisa mengambil pelajaran dari perintah Tuhan agar belajar kepada hambanya yang lain yang telah dikasih ilmu disisinya. Sehingga saat telah meninggalkan jasadnya, sifat angkuhnya masih dibawa hingga saat ketemu Nabi Muhammad.

c. Tidakkah kekurang ajaran arwah Nabi Musa dalam cerita tersebut dengan menganggap Allah SWT juga tidak mengerti akan kelemahan dan keterbatasan umat Nabi Muhammad sebab tanpa dipikir dulu telah memberi beban kewajiban yang pasti tidak mampu dikerjakan oleh mereka sehingga arwah Nabi Musa itu harus turut campur memberi peringatan kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad.

d. Keganjilan tampak jelas dalam hadist ini, bahwa sebelum menuju langit Rosulullah sholat dua rakaat di Baitul Maqdis, sedangkan menurut kisah hadis tersebut, perintah sholat belum diterima.

e. Nabi Muhammad tidak pernah membantah atau minta dispensasi (pengurangan) tugas dari Allah. Fakta ini dapat kita temukan dalam nash Al Quran dan Hadits yang shahih. Maka mustahil rosul mengadakan tawar menawar kepada Musa apalagi kepada Allah. Sedangkan seluruh rosul telah berjanji kepada Allah untuk beriman dan menolong misi Muhammad Rasulullah.

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya"[209]. Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu “.(Qs. Ali Imran 3 : 81)

[209]. Para nabi berjanji kepada Allah s.w.t. bahwa bilamana datang seorang Rasul bernama Muhammad mereka akan iman kepadanya dan menolongnya. Perjanjian nabi-nabi ini mengikat pula para ummatnya.

5. Ruh para Nabi berada di langit, bukan di barzah……
Sebuah Perenungan
a. Dalam hadits ini menggambarkan bahwa Para Nabi yang sudah wafat sudah berada di langit. Sedangkan seluruh Manusia termasuk para Nabi yang sudah wafat berada di Maqomnya dan tidak bisa kemana-mana karena terdapat dinding pembatas ( Barzakh) yaitu dinding yang membatasi Alam Dunia dan Akhirat.

“Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu[883] (memenuhi) perjanjian”. (Qs. Al Kahfi 18 : 48)

[883]. Yang dimaksud dengan waktu di sini ialah hari berbangkit yang telah dijanjikan Allah untuk menerima balasan.

 

b. Tuhan mengenggam seluruh ciptaannya. Ditegaskan dalam ayat berikut :

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (Qs. Az Zumar  39:42)

[1313]. Maksudnya: orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali kepadanya lagi.

 

c. Belum lagi cerita sholatnya para arwah Nabi pun rasanya tidak bisa kita terima dengan akal yang logis, masa kehidupan mereka telah berakhir sebelum kelahiran Nabi Muhammad dan mereka sendiri sudah menunaikan kewajiban masing-masing selaku Rasul Allah SWT kepada umatnya, perlu apa lagi mereka yang jasadnya sudah terkubur didalam tanah itu melakukan sholat ?

Setelah selesai sholat berjemaah, lalu satu persatu para arwah Nabi dan Rasul itu memberi kata sambutannya … sungguh suatu hal yang terlalu mengada-ada, karena jumlah mereka ada ribuan yang berasal dari berbagai daerah dibelahan dunia ini, baik yang namanya tercantum dalam al-Quran ataupun tidak, berapa lama waktu yang habis diperlukan untuk mengadakan kata sambutan masing-masing para arwah ini ?

Isra’ Mi’raj adalah penentuan waktu Shalat
Dalam beberapa ayat Qur’an disebutkan bahwa perintah shalat itu sebenarnya sudah diwahyukan sejak lama kepada para Nabi dan Rasul sebagai ibadah utama untuk berkomunikasi dengan Allah. Jadi bukan hanya pada saat Rasulullah saw saja shalat itu diperintahkan.

“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah”. (Qs. Al Anbiyaa' 21: 72-73)

 Ayat di atas secara tegas menginformasikan kepada kita bahwa Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub telah menerima wahyu untuk mengerjakan shalat (wa iqaamash shalaati). Selain kepada beliau bertiga, Musa ternyata juga sudah memperoleh perintah shalat itu.

“Dan Aku telah memilih kamu (Musa), maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Qs. Thahaa 20 : 13 – 14)

Lebih jauh, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah agar anak keturunan beliau dijadikan Allah sebagai orang-orang yang menjaga shalatnya, dan terus istiqamah untuk menegakkan. Termasuk di dalamnya adalah Nabi Isa as.

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku-orang orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.” (Qs. Ibrahim 14 : 39-40)

“Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup”. (QS. Maryam 19 : 30 – 31)

Dan yang lebih menarik, Allah memberikan gambaran bahwa cara shalat mereka juga dengan ruku’ dan sujud kepada Allah. Selain itu ditegaskan bahwa mereka tidak menyerikatkan Allah, mensucikan, dan mengagungkan, serta memuji muji KebesaranNya.

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.“ (QS. Al Hajj 22 : 26)

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”. (QS. Maryam 19: 58 – 59)

 Kalimat ‘menyia-nyiakan shalat’ di bagian terakhir ayat di atas, menunjukkan kepada kita bahwa beliau-beliau adalah hamba-hamba Allah yang sangat taat menegakkan shalat. Karena digambarkan, banyak orang sesudah mereka yang menyia-nyiakan shalat, dan bermalas-malasan dalam mengerjakannya. Maka, lantas turun Rasul baru (sampai Nabi Muhammad saw.) untuk memompa kembali semangat dan ketaatan umat dalam menegakkan shalat.

 “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Hajj 22 : 78)

 Dan kalau kita cermati ayat di atas, kita bahkan memperoleh informasi bahwa sejak zaman Nabi Ibrahim kita memang sudah disebut sebagai orang Islam. Juga pada zaman Nabi Muhammad, yang menjadi saksi atas keislaman kita. Maka, kita memperoleh perintah untuk mendirikan shalat sebagaimana Nabi Ibrahim juga menjalankan shalat.

Nah, berbagai ayat dan informasi di atas, saya kira memberikan penegasan kepada kita bahwa sebenarnya shalat itu sudah menjadi bagian wahyu-wahyu Allah sejak zaman Rasul-Rasul sebelumnya. Bukan hanya kepada Rasulullah Muhammad saw. Apalagi kalau kita baca hadits ‘shahih dan kuat’ berikut ini :

“Aku didatangi Jibril a.s. pada awal-awal turunnya wahyu kepadaku. Dia mengajarkan kepadaku wudlu dan shalat”

(HR Imam Hakim – vol. III : 217, Al Baihaqi vol. I : 162, dan Imam Ahmad vol. V : 203, sebagaimana dikutip dalam buku ‘Shalat bersama Nabi Saw’, Hasan Bin ‘Ali as Saqqaf, Yordania, terjemahan oleh Drs Tarmana Ahmad Qosim, Agustus 2003).
Hadits Nabi ini menceritakan, sebenarnya turunnya perintah shalat itu terjadi di awal-awal masa kenabian. Berarti sejak awal masa kenabian beliau, Rasulullah saw memang sudah menjalani shalat. Bukan setelah peristiwa Isra’Mi’raj.

 “………..Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman .(Qs. An Nisaa’ 4 : 103)

 Hal ini juga ditegaskan Tuhan dalam ayat dibawah ini ;

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[847] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “. (QS.Al-Isra 17:1)

[847]. Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.  


Peristiwa itu bukan untuk menerima perintah shalat, melainkan untuk ‘memompa’ semangat Rasulullah saw dalam memperjuangkan penyampaian risalah Islam. Karena pada waktu itu Rasulullah saw memang sedang mengalami keprihatinan yang sangat mendalam, setelah ditinggal oleh paman dan istrinya. Sehingga Allah menunjukkan tanda-tanda KebesaranNya di alam semesta kepada Rasulullah saw, dengan maksud membesarkan hati beliau. Sekaligus memberikan keyakinan yang lebih besar tentang kekuasaanNya.

Hadist yang meriwayatkan perintah shalat telah ada, ketika Khadijah ra. masih hidup (sebelum peristiwa Isra Mi’raj)…

Musnad Ahmad 1691: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abu Asy’ats dari Isma’il bin Iyas bin ‘Afif Al Kindi dari Bapaknya dari kakeknya berkata; Saya adalah seorang pedagang. Saya datang untuk menjalankan ibadah haji, lalu saya mendatangi Al Abbas bin Abdul Muththalib untuk membeli dagangan darinya, yang dia juga seorang pedagang. Demi Allah, pada saat saya di Mina, ada seorang laki-laki yang keluar dari dalam tenda yang tidak jauh darinya, dia melihat ke arah matahari, ketika matahari telah condong, orang itu berdiri dan shalat. Kemudian keluarlah seorang wanita dari tenda itu juga dan berdiri di belakang orang tadi dan ikut shalat. Lalu seorang anak kecil yang menginjak usia baligh keluar dari tenda tersebut dan ikut shalat bersama kedua orang tadi. Maka saya pun bertanya kepada Al Abbas; “Siapa orang itu Wahai Abbas?” dia menjawab; “Itu adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib anak saudaraku.” Saya bertanya lagi; “Siapakah wanita itu?” dia menjawab; “Itu adalah istrinya Khadijah binti khuwalaid.” Saya bertanya lagi; “Siapa pemuda itu?” dia menjawab; “Itu adalah Ali bin Abu Thalib anak pamannya.” Saya bertanya lagi; “Apa yang mereka lakukan?” dia menjawab; “Dia sedang shalat, dia mengaku bahwa dia adalah seorang Nabi, dan tidak ada yang mengikuti perintahnya kecuali istrinya dan anak pamannya, pemuda tersebut. Dia juga mengaku bahwasanya akan ditaklukkan untuknya perbendaraan-perbendaraan Raja Kisra dan Kaisar.” Kemudian ‘Affif, yaitu anak paman Al Ays’Ats bin Qais berkata; -dan dia masuk Islam setelah itu serta keIslamannya baik- “Seandainya Allah memberiku rizki Islam pada hari itu, maka aku adalah orang yang ketiga bersama Ali bin Abu Thalib RAdhi Allahu ‘anhu.”

Musnad Ahmad 3361: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abu Balj dari Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas ia berkata; Orang yang pertama kali shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah Khadijah adalah Ali, dan ia berkata sekali lagi; Yang masuk Islam.

Kaum Yahudi juga melakukan sujud kepada Allah SWT dalam shalatnya. Tetapi , sujudnya berbeda dengan sujud umat Islam. Sujud dalam shalat yang diajarkan Rasulullah adalah dengan menempelkan kening di tempat sujud. Sedangkan sujudnya kaum Yahudi dengan menempelkan pipi kirinya ke tanah, sehingga pipi kanannya menghadap ke langit dan matanya juga melirik ke langit.

Tentang hal tersebut terkait dengan peristiwa yang terjadi ketika kaum Yahudi dipaksa untuk bersujud kepada Allah dengan diangkatnya Gunung Sinai di atas kepala mereka. Hal ini untuk memaksa Bani Israil agar percaya kepada Allah SWT. Sebagaimana yang diserukan oleh Nabi Musa as. Namun, takkala menyaksikan gunung terangkat dan berada tepat di atas mereka, orang-orang Bani Israil gemetar ketakutan. Akibatnya mereka bersujud sambil melihat gunung Sinai yang terangkat di atas kepala mereka. Mereka bersujud sambil melirik ke arh Gunung Sinai yang terangkat. Mereka khawatir tertimpa gunung.

Semua peristiwa di atas disebutkan dalam Al-Qur’an “Dan ingatlah Kami memanggil janji dari kalian dan Kami angkatkan Gunung Sinai di atas kalian seraya Kami berfirman, ‘Berpegang teguhlah pada apa yang Kami berikan kepada kalian dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kalian bertaqwa.” (Q. S. al-Baqarah 63).

Dalam satu hadist Rasulullah SAW bersabda, “Dua kali Jibril mengimami aku di Al Bait.”. Dari hadist tersebut dapat diambil pengertian, bahwa kata “mengimamai” dalam hadist tersebut dapat dipahami bahwa Jibril mengajarkan kepada Nabi Muhammad SAW tentang bagaimana mendirikan shalat dalam Islam dan Al Bait adalah Baitullah.

Pelaksanaan shalat yang terdiri dari takbir, rukuk, sujud dan tasahud, sebenarnya adalah perbuatan yang tidak dikehal bangsa Arab dan bangsa lainnya. Hal ini membuat Yahya bin Afif, sahabat Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW, merasa kagum dan menceritakan : “Pada masa jahiliyah, aku pergi ke Ka’bah dan singgah di kediaman Abbas bin Abdul Mutholib. Ketika matahari terbit aku memandangi Ka’bah. Saat itulah seorang lelaki muda (Rasulullah SAW) datang. Ia juga menatap langit lalu menghadap Ka’bah. Tak lama kemudian datanglah seorang anak kecil (Ali bin Abi Thalib) yang langsung berdiri disebelah kanan yang pertama tadi. Kemudian menyusul seorang perempuan (Khadijah bin Khuwailid) datang dan berdiri di belakang keduanya. Ketika lelaki pertama itu rukuk, anak kecil dan perempuan itu pun mengikitinya. Kemudian, lelaki muda itu berdiri lagi, kedua oarng yang di belakangnay juga berdiri. Lelaki muda itu merendahkan badannya dan bersujud yang segera diikuti keduanya”.

 Menyaksikan itu Yahya bin Afif heran, ia pun bertanya kepada Abbas bin Abdul Muthalib yang saat itu berdiri disampingnya, “Wahai Abbas, apa itu? Apa yang dilakukan orang-orang itu? Apakah engkau merasa bahwa itu merupakan sesuatu yang agung?”. Abbas bin Abdul Muthalib yang pada saat itu belum memeluk Islam menjawab, “Benar itu pasti sesuatu yang agung”. Wallahu a’lam.

Sebuah Ijtihad
Berdasarkan kajian dari Al Qur’an dan Hadist, maka peristiwa isra’mi’raj dapat disimpulkan adalah sebagai berikut :
1. Isra’ Mi’raj bukanlah peristiwa dimana Nabi menerima Perintah sholat ataupun tata cara sholat, melainkan penentuan waktu-waktu sholat, yaitu 5 waktu : Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’

2. Peristiwa itu bukan untuk menerima perintah shalat, melainkan untuk ‘memompa’ semangat Rasulullah saw dalam memperjuangkan penyampaian risalah Islam. Karena pada waktu itu Rasulullah saw memang sedang mengalami keprihatinan yang sangat mendalam, setelah ditinggal oleh paman dan istrinya. Sehingga Allah menunjukkan tanda-tanda KebesaranNya di alam semesta kepada Rasulullah saw, dengan maksud membesarkan hati beliau. Sekaligus memberikan keyakinan yang lebih besar tentang kekuasaanNya.

3. Sejarah shalat itu sudah ada sebelum Nabi Muhammad. Dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengisahkan tata cara para Nabi sebelum Nabi Muhammad yaitu ada yang berdiri, ruku’ dan sujud yang jika dirangkai maka seperti shalatnya umat Islam.

Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi.
Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa.
Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait