Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Filosofi

1.   Sebaik-baiknya Ibadah
2.   Penderitaan Awal Pencerahan
3.   Kepala Ikan
4.   Tugas Murid Junaidi
5.   Asal Api Neraka
6.   Musa & Wali Tuhan
7.   Membakar Diri Demi DIA
8.   Malaikat Yang Nyata
9.   Renungan Hati
10. Aku Adalah Orang Kaya
11. Mengundang Tuhan Makan Malam
12. Anak Bertanya Tentang Tuhan
13. 40 Tahun Berbuat Dosa
14. Kisah 5 (Lima) Perkara Yang Aneh
15. Jangan Meminta Kepada Makhluk
16. Atha Bin Yasar Dan Wanita Penggoda
17. Antara Anak, Ayah dan Burung Gagak
18. Perempuan miskin, Sapi tua dan Gaza
19. Kisah Pohon Apel
20. Orang yang Berjalan di Atas Air
21. Abu Nawas - Yang Lebih Kaya Dan Mencintai Fitnah
22. Burung dan Telur
23. Kisah Pasir
24. Raksasa dan Sufi
25. Kisah Seorang  Raja  Dan Putranya
26. Burung Merak Raja di Bawah Keranjang
27. Alam Semesta Adalah Guru Yang Bijak
28. Raja dan Empat Orang  Permaisuri
29. Kisah Seorang  Maling Yang Ahli Fiqih Dengan Seorang Qadli Yang Tajir
30. Saatnya Menuai Cinta
31. Siapa  yang  tahu  maksud Tuhan
32. Dialog  Dengan  Penghuni  Kubur
33. Merenung Sejenak Untuk Diri & Jiwa Yang Tersakiti
34. Anjing-anjing Neraka
35. Pemuda beribu bapakan babi
36. Kisah Neraka Jahanam
37. Nafsu yang degil
38. Awan mengikut orang yang bertaubat
39. Jenazah Berubah
40. Keledai Yang Tidak Menyerah Dengan Nasib
41. Burung & Telor
42. Sabar Menghadapi Ujian Dunia
43. Pertanyaan Sahabat
44. Macam Sabar
45. Hakikat Sabar
46. Istri Cerewet & Karomah Kyai
47. Orang Bijak & Kambing Hitam
48. Filosofi Jawa Ajaran Sunan Kalijaga
49. Sebuah Renungan
50. Tukang Kayu, Mungkar & Nakir
51. Tempayan Retak
52. Sepuluh Kesalahan Istri
53. Makna Bunga
54. Nabi daud & Ulat
55. Karma dan Hukum Karma
56. Kecerdasan Spiritual
57. Tugas Murid Junaidi

Dialog dengan penghuni kubur

Pada satu kesempatan,Nabi Isa a.s. pernah menjumpai seonggok tengkorak ditengah jalan yang jauh di luar pemukiman manusia. Kemudian beliau berdo‘a  kepada Allah SWT agar tengkorak itu dapat berbicara sehingga ia dapat melakukan dialog dengannya. Tengkorak itu adalah bekas seorang raja yang bernama raja Jumjumah.

Atas takdir Allah, tiba-tiba tedengar dari mulut kepala tengkorak itu suara, katanya, "Ya Nabi Isa, telah diperintahkan oleh Allah terhadap tengkorang kering ini agar dapat berkata kata denganmu, maka tanyailah apa-apa yang engkau kehendaki. Salam Allah Ta‘ala kepadamu, ya Nabi Isa Ruhullah."

Nabi Isa berkata, "Hai tengkorak yang kering, kulit pun tidak ada padamu, maka apa-apa yang kutanyakan kepadamu, jawablah  hai tengkorak yang kering." Ujar sang  tengkorak. "Tanyakanlah tuan apa-apa yang dikehendaki hati tuan; dengan takdir Allah hamba akan menjawab segala pertanyaan tuan."

Mulailah pertanyaan-pertanyaan dari Nabi Isa diajukan kepada tengkorak itu, "Hai tengkorak yang kering, laki-laki atau perempuankah engkau, merdekakah, ataukah seorang budak; Islam atau kafirkah engkau; berbahagia atau sengsarakah engkau; mulia atau hinakah engkau, kaya atau miskinkah engkau, engkau pemurah atau kikirkah; raja atau menteri?" Tengkorak kering  itu   pun menyahut, "Ya Nabi Isa ruhullah, hamba laki-laki bukan seorang perempuan; dan hamba ini merdeka bukan  budak, dan  hamba  orang Islam bukan seorang kafir, dan hamba orang mulia, bukan orang hina, dan hamba orang celaka bukan orang bahagia di akhirat; hamba orang kaya, bukan orang miskin, dan hamba seorang pemurah bukan orang kikir,dan hamba seorang baik, bukan seorang jahat, dan hamba seorang tua, bukan anak  muda;  dan  hamba berasal dari seorang raja, bukan seorang menteri.

Dahulu, ya Nabi Isa Ruhullah, rupa hamba sangat baik dan juga sangat menakjubkan lagi elok rupanya dari seluruh rupa. Sangat gemilang bercahaya.  Demikianlah keindahan paras hamba, jika siapa pun melihat melihat rupa hamba,  pastilah ia heran dan tercengang dengan postur tubuh hamba yang gagah.  Ketahuilah bahwa hambalah yang pemurah di daratan Mesir dan Syam

Dahulu kerajaan hamba sangat besar. Pada waktu hamba hendak pergi berangkat atau bertamasya pergi berburu,  mungkin berjumlah enam belas ribu budak pengiring. Belum termasuk hulubalang, menteri-menteri, tentara-tentaranya. Sedangkan  rakyat hamba tidak terhitung jumlahnya, melainkan Allah  SWT dan  Rasul-Nya juga yang mengetahuinya. Gajah, kuda, dan unta hamba tidak terhitung banyaknya pula. Enam belas ribu budak hamba diberi pakaian  yang beraneka ragam. Empat  ribu orang mengenakan pakaian seragam yang berwarna kuning. Empat ribu lainnya memakai seragam berwarna merah.  Empat ribu lainnya memakai seragam hijau. Pada pakaian mereka dikenakan emas, perak, dan kumuda. Emas yang bertahtakan mutu manikam. Ada pula hiasan burung rajawali dan burung merak. Dimana  bulunya tersusun dari  emas.  Empat ribu  orangnya memegang senjata dari emas.

 Di sebelah kanan seribu orang memegang pedang emas. Di sebelah kiri seribu orang memegang keris. Di bagian belakang hamba memegang tombak.  Empat ribu orang  mengendarai kuda sembrani Di sebelah  kanan hamba seribu orang penunggang kuda yang berseragam hijau. Disebelah kiri penunggang kuda berwarna. Di hadapan hamba kuda yang berseragam putih. Para penunggang kuda tersebut mengenakan  pakaian  berwarna emas dan memegang  senjata kerajaan, ya  Nabi Isa Ruhullah. Adapun tentara dan rakyat hamba itu tidak terhitung banyaknya, melainkan Allah dan Rasul- Nya  yang mengetahui.

 Demikianlah kebesaran kerajaan hamba, ya Nabi Isa Ruhullah. Tidak seorang pun dari raja-raja melakukan perlawanan terhadap hamba. Dan tidak pula kerajaan-kerajannya menyamai kerajaan  hamba dan kebesaran  hamba. Dahulu, seluruh raja pada jaman hamba berada di bawah kekuasaan hamba, serta mereka diwajibkan memberi upeti kepada  hamba. Dahulu, tiga  puluh ribu unta  di bawah kekuasaanku. Gajah, unta, dan kuda tidak terhitung jumlahnya."

 Ujar Nabi Isa,  "Hai Raja Jumjumah, berapa lama tuan tinggal dalam kerajaan tuan?" Raja Jumjumah menyahut, "Ya Nabi Isa Ruhullah, empat ratus tahun lamanya berada dalam kerajaan hamba, ya Nabi Isa Ruhullah. Dengan dermawan hamba dalam sehari semalam hamba (pernah) memberikan sedekah  sebesar sejuta dinar dan dirham kepada fakir miskin dan  musafir.

 Pada waktu dahulu, setiap hari hamba memberikan  pakaian kepada para alim.  Demikianlah perihal perbuatan hamba di dunia senantiasa dilakukan. "Dahulu, seluruh mesjid dan mushola yang berada di daratan Mesir dan Syam yang  perlu diperbaiki akan hamba perintahkan untuk diperbaiki.

Demikianlah perihal dari perbuatan hamba di dunia. Akan tetapi Allah Ta‘ala Tuhan semesta alam juga yang tidak disembah selain dari-Nya, hanya  Dialah yang  memberikan harta pada, hamba-Nya." 

Nabi Isa bertanya lagi, "Hai Raja Jumjumah, bagaimana engkau merasakan kekurangan di dunia, dan bagaimana engkau merasakan sakaratul maut, dan bagaimana rasanya minum pada saat sakaratul maut, dan bagaimana merasakannya saat berada  di dalam   kubur?"

Raja Jumjumah pun menjawab, "Ya Nabi Isa  Ruhullah, amat ajaib dan  sangat sukar dan menyakitkan atas seluruh hal yang tuan tanyakan kepada hamba.  Sekarang hamba akan ceritakan  kepada  tuan  mengenai kematian  hamba.

 "Pada satu kesempatan, hamba pergi mandi ke sungai Alhamd dengan seluruh  hulubalang, menteri-menteri,tentara-tentara, dan sebagian rakyat hamba turut serta mengiringi. Setelah mandi, hamba naik  ke  darat, kemudian duduk di tepi sungai itu. Hamba  pun merasakan kedinginan pada tubuh seperti hendak demam.  Hamba segera pulang ke istana Para pengiring hamba pun terlihat berduka atas keadaan   yang  dialami hamba.

 Setelah tiba di istana, hamba berbaring di atas permadani yang bersipuhkan emas dan bertahtakan ratna mutu manikam. Kata hamba kepada seluruh menteri dan  para  budak: ‘Hai kalian, pergilah kepada tabib yang telah mengobati aku, karena selama empat hari demam   masih dirasa‘, dan aku pun menghentikannya atas penyakitku ini.
"Kemudian datanglah orang yang akan mengobati. Namun pengobatannya dirasakan tidak memberi manfaat. Hingga selama lima  hari demam hamba semakin terasa. Lalu hati hamba berkata,  Wah badanku, akan berpisahlah nyawa dan badan, seperti seorang yang sangat mengasihi seorang yang lainnya.  Kemudian berpisahlah keduanya, rasanya adalah bagaikan kehilangan kesadaran, dan terbakarlah hati keduanya. Dan apa pun yang dilakukan, bagi hamba tidak akan menjadikan penghibur, karena sangat cintanya kepada sang kekasih dan selalu teringat terhadap perpisahannya tersebut.

"Demikianlah cintanya kepada nyawa hamba, saat berpisah dengan badan hamba.  Dari kehendak yang memiliki kehendak itu, maka ridhalah hamba akan kehendaknya ini.  Kemudian hamba pun  berpikir dalam  hati, Oh, niscaya  aku akan  mati juga, karena terlihat muka aku menjadi pucat tidak seperti  biasanya, dan berduka citalah hamba.

Sesaat kemudian terdengar suatu bunyi, katanya, Kenalkah engkau terhadap siksaan orang durhaka,  karena ia tidak beribadah kepada Allah Ta‘ala Tuhan semesta alam (sebagaimana mestinya)‘. Dan hamba lihat seorang  laki-laki amat besar  datang  ke hadapan hamba.  Kemudian ditikamnya dada hamba begitu sakitnya hamba merasakan  hal demikian.
 
"Tersentaklah diri hamba dan lemah lunglailah  dirasakan. Selanjutnya didengar lagi suara, Keluarkanlah nyawa orang yang durhaka ini‘. Maka seluruh tubuh hamba terasa seperti bercerai-berai. Seluruh sendi-sendi tulang hamba terbaring di atas  bantal. Ketika itu, anak isteri dan keluarga hamba begitu menangisi karena cintanya kepada hamba.  Oh, aku ini akhirnya  mati juga  pada  hari ini, saat ini  telah  datang ajalku.

Waktu itu, tidak ada seorang pun yang  dapat menolong hamba, dan tidaklah dapat menyertai hamba. Hamba pun melihat seluruh anak isteri dan seluruh keluarga hamba Maka hamba  melihat seluruh anak isteri dan keluarga hamba  menangis dengan sangat berdukanya, karena sayangnya kepadaku.

 "Pada saat itu, tidak seorang pun dapat memberikan faedah dan manfaat kepada hamba, melainkan karena apa apa yang telah diberikan kepada para ulama dan fakir miskin dahulu itulah yang menolong hamba. Sedangkan apa-apa baik kenikmatan, makanan yang dimakan, pakaian yang terbuat dan emas  yang  dipakai dahulu, kini ia  menjadi siksaan dan azab kepada hamba. 

"Kemudian datanglah Malaikat Maut kepada hamba dengan bunyinya yang  berat. Kepala dan kakinya berada pada tujuh lapis langit hingga ke tujuh  lapis  bumi, serta sebelah sayapnya  merupakan  azab dan sayap lainnya  adalah rahmat. Ketika itu, mukanya ada enam, ya  Nabi Isa Ruhullah. Kesatu dari  atas; kedua muka kanan; ketiga muka kiri; keempat di bagian depan; kelima di bagian belakang; dan keenam di bagian bawah."

Bertanyalah kembali Nabi Isa, "Hai Raja Jumjumah tengkorak kering, apa yang Anda pertanyakan kepada malaikat maut." Jawab sang Raja, "Ada pertanyaan yang diajukan, yaitu, Hai Malaikat, apa sebabnya mukamu itu  ada enam. Sahut  malaikat, Hai Raja Jumjumah, orang durhaka celaka. Ketahuilah olehmu, bahwasanya mukaku dari atas kerjanya mengambil nyawa  seluruh nyawa anbiya.  Mukaku  dari depan, akan mengambil nyawa seluruh umat Nabi Muhammad SAW. Muka di bagian belakang berperan dalam mengambil nyawa orang-orang kafir. Mukaku di bagian kanan mengambil nyawa penghuni wilayah Masyrik dan sebelah  kirinya  mengambil  nyawa   penghuni wilayah Maghrib. Dan Mukaku di sebelah bawah mengambil nyawa  segala jin dan  setan.

Nabi Isa mengajukan pertanyaan berikut, "Hai Raja Jumjumah, bagaimana kau merasakan kedatangan kematian?" Raja Jumjumah berucap, "Ya Nabi Isa Ruhullah, pada satu waktu, datanglah Malaikat maut kepada hamba, la datang mengambil nyawa hamba. Lalu kulihat ia beserta dengan tiga  puluh malaikat yang  disuruhnya untuk memegang lidah hamba agar jangan menjerit akibat dari rasa takut yang dahsyat, dan mendengarkan suara mereka, tulang belulang hamba lemah lunglai rasanya. Jika para penghuni wilayah Maghrib mendengarkan suara itu yang seperti halilintar yang membelah. Demikianlah suaranya itu.

"Selanjutnya, ketiga puluh malaikat tersebut diperintahkan oleh Allah untuk memegang kaki hamba agar jangan bergerak. Kemudian diperintahkan oleh Allah untuk melontarkan tembaga ke dada hamba yang kemudian hancur. Begitu sangat sakit dan panasnya terasa di dada hamba. Sekali lagi. diperintahkan oleh Allah Ta‘ala seorang malaikat untuk memegang leher hamba serta dipakaikannya rantai dan belenggu pada leher  hamba, dan dipakaikannya  tali  kekang terbuat dari api pada mulut hamba oleh malaikat, dan disiksanya hamba. Begitu menderita hamba akibat sakitnya itu, maka ucap hamba kepada malaikat yang menyiksa hamba,‘lepaskanlah hamba dari siksa  ini,  sebagai upahnya akan kuberikan seluruh harta, anak isteri, segala  budak hamba‘. 

Setelah mendengar  perkataan    hamba  tadi   maka   disapunya mulut hamba    oleh   Mala‘katul Maut    dan  dirasakannya   oleh  seluruh  anggota tubuh   seperti   hancur   lebur  rasanya.    Malaikat itu   berkata,  Hai   orang durhaka yang celaka,  ketahuilah  olehmu bahwa  kami ini bukan (akan) mengambil  upah  dari  kamu,  karena   kami mengerjakan  perintah   dari   Tuhan kami  dengan   sesungguhnya. Begitulah  kami  yang  akan   mengerjakan  dengan sebenar benarnya. Kami bukanlah seperti  kamu manusia yang bersaksi dengan dusta  dan bersumpah dengan tidak sebenarnya, dan meninggalkan perintah  Allah  Ta‘ala, serta  mengerjakan larangan-larangannya. Oleh karena   itu,  laknat  Allah  kepada  kamu,  dan   azab   Allah  yang  menyiksa dengan tiada   berkesudahan hingga hari kiamat‘."

Pertanyaan   berikut yang dilontarkan  oleh Nabi Isa, "Hai Raja Jumjumah, ketika  nyawamu  lepas,  bagaimana  kau merasakan  rasa  sakitnya, dan tatkala  tubuhmu terlentang   setelah   ditinggalkan  nyawanya,  bagaimana juga rasa sakitnya?"
Dijawab oleh Raja   Jumjumah, "Ya  Nabi Isa  Ruhullah, ketika  nyawa hamba   diambil  oleh   malaikat    maut,    beribu-ribu sakitnya   dirasakan oleh hamba  melebihi seperti  ditikam  dengan  senjata,   dan  melebihi sakitnya daripada kambing hidup yang  dikuliti,  dan   seperti   kain  yang  teramat   tipis lalu  dimasukkan  ke  dalam  air, kemudian dibuang ke  atas  duri-duri, setelah itu   ditarik   oleh   pemilik  kainnya,   maka    luluh  lantaklah    rasanya    ketika nyawa hamba   diambil oleh  Malaikat Maut,   dan  setelah  itu  badan  hamba merasakan   sakitnya,   ketika  nyawa  sudah diambil oleh Malaikat Maut,  dan terbaringlah   tubuh  hamba   di  atas    tikar.  

Apabila  bergerak   lantai   rumah hamba, dirasakanlah  kembali rasa  sakitnya.  Ketika  diangkat  untuk dimandikan   oleh orang-orang, dan  ketika  digosok-gosok saat memandikan, hamba  merasakannya   begitu  sakit. Setelah  itu,  dikafanilah hamba, kemudian diangkat   untuk dimasukkan  ke  dalam  keranda.   Sambil  ditanggung, diantarlah  ke  kubur. Dimasukkanlah aku  ke dalam  liang lahat,  lalu bergoncanglah tanah  kuburnya, dan  dirasakan  oleh aku begitu sangat sakitnya   dan   pedih  dirasakan   seperti hancur   lebur  daging  ini.  Berpisahlahseluruh persendian tulang  dan  habislah tak   tersisa   hilang rasanya,   ya  Nabi Isa  Ruhullah."

"Hai  Raja   Jumjumah, bagaimana  rasanya  ketika  masuk ke  bumi dan (mendengar)  suara  dari pertanyaan   Munkar dan  Nakir?" tanya  Nabi Isa kembali.

Raja    Jumjumah  menyahut,   "Ya   Nabi  Isa   Ruhullah,  setelah   selesai hamba  dikuburkan  oleh  jama‘ah, kemudian datanglah  dua  malaikat, pertama  bernama Munkar, dan yang kedua bernama Nakir yang diperintahkan  oleh Allah untuk menanyai  orang-orang di dalam  kubur. Kemudian kata   kedua malaikat  tersebut kepada  hamba.  Hai orang  durhaka yang   celaka,   tutiskan olehmu  perbuatan    yang   telah    engkau   perbuat    di dalam dunia, baik jahat   maupun baik semuanya. Seluruhnya tuliskan olehmu;   jangan    kau   sembunyikan,   agar    di   hadirat Allah  semuanya  itu dibalas.

"Kata   hamba,  untuk  menulis itu,  apa  tintanya,   kalamnya,  dan kertasnya   untuk  hamba.   Ujar   Malaikat itu,   Hai orang   durhaka   yang celaka,  sebagai tintanya   adalah  air  mulutmu, kalamnya  adalah  telunjukmu, dan  kertasnya   itu adalah   kain  kafanmu.  Maka   seluruh perbuatanmu  yang baik   dan   jahat; dosa   besar   dan   dosa   kecil   seluruhnya tuliskan   olehmu; segeralah kautuliskan. Mengapakah, hai orang durhaka yang celaka, dirimu diam, apakah  itu keinginanmu?‘. Oleh karenanya,   ditulislah  oleh  hamba.

"Dalam pikiran hamba mengatakan  bahwa ternyata   banyaklah dosa hamba,   dan   sedikit saja   pahala   hamba.   Ah, tidak   akan   kutulis  dosa- dosanya.   Malaikat berkata.  Hai orang   durhaka   yang   celaka,   tuliskan seluruh dosamu yang kauperbuat.   Dari  dosa  besar  maupun dosa  kecil jangan engkau sembunyikan. Selanjutnya   hamba tuliskan semuanya baik jahat maupun baik.  Kata   hamba,  Wah,  sekarang  dosaku sangat   banyak  tidak terhitung   lagi,   ya Nabi Isa  Ruhullah.  Segala   hal   perbuatannya   tidaklah dapat  hamba katakan   kepada  tuan,  melainkan Allah SWT juga  yang amat mengetahuinya.

"Tiba-tiba ada  dua  malaikat  yang  sangat  hitam,  amat   tinggi  dan besar   seperti   pohon  kurma.   Dari  mulutnya keluar  api  yang  menyala-nyala. Kemudian  berkata    kepada   hamba,   katanya,    Hai   orang   durhaka   yang celaka,   siapa  Tuhanmu, siapa  nabimu, apa   agamamu,  siapa  imammu, apa kiblatmu, dan  siapa  saudaramu?"Lalu  sahut hamba, Engkaulah  Tuhanku.

"Setelah   didengar jawaban  tersebut oleh  malaikat, ia sangat  marah. Kemudian  dipecut  dengan  cemetinya   yang bercabang-cabang. Setiap cabangnya  keluar api yang menyala.  Kalau  saja  cemeti yang bercabang itu dipukulkan  ke  atas bumi  ini,  maka   akan   ratalah ia  atau   bukit  pun akan rata  dan terlihat hancur.

"Demikianlah,   hamba    dipukulnya,   yang   menyebabkan   tubuh   hamba hancur.  Persendian-persendian tulang  pun cerai-berai. Dagingnya  juga hancur-lebur. ibarat awan  yang ditiup angin  kencang.  Demikianlah  rasanya; dipukul tiga kali berturut-turut. Malaikat berkata  lagi, Hai  bumi, jepitlah orang  durhaka  yang  celaka  itu.  Makanlah   olehmu dagingnya sebagai suatu rejeki,  karena   ia  orang  yang  durhaka  kepada  Allah  Ta‘ala‘. Setelah  itu, dijepitlah   hamba   oleh   bumi.
Habislah   luluh  lantaklah    tubuh   hamba,   serta daging  pun  hancur  tercerai-berai. Persendian-persendian tulang  juga hancur-remuk. Ujar   bumi,  Hai  orang  durhaka  yang  celaka,  tatkala engkau tinggal  di  atasku.   seluruh keinginanmu yang  durhaka  kaulakukan  di  atasku, seperti  zina,  dan  lain-lainnya yang  dilarang  oleh  Allah  SWT.

"Setelah    dijepit   oleh  tanah tersebut,   bumi   berkata   kembali, Hai orang   celaka    yang   durhaka,   sekarang  engkau masuk   ke   dalam   perutku, maka   akulah   rupa   yang   buruk,  dan   akulah   rumah   yang   berisi  siksaaan akulah  juga  rumah yang  berisi seluruh bau  busuk dan  anyir.

"Selanjutnya,   hamba  melihat dua  orang  yang  sangat   hitam  rupanya. Kepalanya   sangat    besar   seperti   bukit   di negeri  Syam.   Kedua orang  itu yang  ternyata adalah  malaikat,   kemudian membawa hamba.

"Setibanya    di  bawah   Arsy   Allah  Ta‘ala, terdengarlah   oleh  hamba satu  suara,  yang mengatakan,  Hai Malaikat-Ku, bawalah  orang  durhaka yang celaka  itu ke  dalam  neraka.  Buanglah ia ke  dalam  siksa  yang  sangat menyiksa   itu‘.  Kemudian  hamba   dibawa   oleh   malaikat    itu   ke   neraka. Sesampainya    di     pintu    neraka,     hamba  diserahkan kepada Malaikat Zabaniyah,  seraya  mengatakan,  Hai  Malaikat Zabaniyah,  masukkan  orang yang  celaka   ini ke dalam neraka  Siksalah dia  dengan  siksaan  yang  sangat menyiksa.

"Setelah    itu,   hamba   pun  dimasukkan  ke  dalam   neraka   yang   amat sangat   menyiksa itu.   Terlalu  banyak macamnya  siksaan  dan   azab   yang hamba  lihat. Hamba   sering  menangis  dan   mengerang  menyaksikan  keadaan siksa  neraka  itu.  Ucap  hamba,  Oh,  siapa  lagi  yang  hamba  harapkan,  dan siapa  lagi  yang  akan   mengasihi hamba. Oh,  bagi  hamba  sangat   diharamkan sekali-kali untuk  berbuat dosa,   seandainya   hamba   berada   di  dalam   dunia hanya sesaat  saja  lamanya.

"Pada    waktu   itu,   hamba   tidak   mengetahui   lagi   bagaimana   nasib hamba   selanjutnya. Namun, kemudian hamba  melihat empat   buah   kursi tersimpan  di  kanan  dan  kiri  Arsy  Allah  Ta‘ala. Lalu  hamba  menanyakan kepada malaikat yang  menyiksa  hamba   mengenai  siapa   yang  mendapatkan anugerah   Allah  Ta‘ala Al  Karim itu.  Jawab Malaikat,  Adapun satu  kursi itu  adalah  dianugerahklan kepada  Nabi  Muhammad  Rasulullah.  Satu   kursi berikut adalah   untuk Nabi  Ibrahim  khalilullah.  Satu    kursi  lagi  untuk  Nabi Isa  Ruhullah Dan  satu  kursi sisanya  adalah  bagi Nabi Musa Kalamullah.

"Pada  saat itu,  hamba  lihat seorang  tua   duduk di  atas   satu   kursi dan  dari  hidungnya senantiasa   keluar  api. Beberapa  malaikat diperintahkan oleh   Allah   Ta‘ala untuk   memasukkan  orang   tua   itu   ke   dalam   neraka, serta dirantai  yang membelenggu dan  tali.   Setelah selesai  menjalani  segala macam   siksaan,   hamba  lihat ia  dibawa  ke  atas mimbar.  Bawalah   ia ke dalam  neraka  dan  rantailah   serta   belenggulah dan  kekanglah pada  lehernya. Sesungguhnya orang  ini  durhaka  yang  celaka   tidak   mau  menuruti  perintah Allah  Ta‘ala dan  Rasul-Nya‘.

"Dalam   menjalani siksaan,   rambut   hamba  habis  terlepas   dari   kulit. Tulang   hamba   pun   hancur   dan   patah-patah. Bibir  hamba   seperti   bukit Haliyah  besarnya.  Tubuh hamba  besarnya  seluas  seperti  jauhnya  orang  yang mengendarai  kuda  sembrani  selama   tiga   hari tiga   malam.  Seperti  jarak itulah  besarnya.  Jika  orang  lari  dengan  kuda  sembrani yang  sangat   tangkas selama   tiga   hari   tiga   malam,   maka   tebal   bibir  atas    bawahnya  sama seperti itu.  Hidung hamba  pun seperti  bukit  besarnya.  Sementara    mata   dan telinga  menjadi hamba  tuli.

"Hamba  juga  dikenakan  pakaian  yang  terbuat   dari  kulit  api  neraka. Di dalam  baju  itu  terdapat   macam-macam binatang,  seperti  ular, kalajengking, dan  lipan  yang  tercipta   dari  api  neraka.   Jika  saja   binatang- binatang   itu diturunkan  ke  bumi, maka  seluruh isi  bumi   dapat ditutupi  oleh karena  besar  tubuhnya.  Dan dengan marahnya binatang-binatang itu menggigit  tubuh hamba.

"Awalnya perut hamba diikat dengan tali  dari api neraka,  dan diikatkan kepada  satu  pohon yang  tercipta   dari  api neraka  juga. Selanjutnya   kaki hamba disimpan di atas.   Sedangkan  kepala  disimpan di bawah,   seperti   orang   yang digantung  sungsang  andai   saja   penghuni dunia menyaksikan penyiksaan itu,  niscaya  seluruhnya akan   sangat terkejut dan takut   karena   kedahsyatan   siksaan  itu.   Setelah   selesai  dari  tempat   ini, hamba dibawa kepada  saksi lain. Kemudian diserahkanlah hamba kepada Malaikat Zabaniyah.

"Hamba  disuruh untuk  memakai  suatu   sepatu   terbuat   dari  api  yang panjangnya  sepuluh gaz  (+110  meter)   dan tingginya empat  puluh gaz. Apabila  dipakai ke  kaki  sepatu   itu,  maka  timbullah rasa   hangus  di  dalam dada  dan sangat   meruyak hingga serasa  hancur  lebur. Asapnya  naik  sampai ke  otak   hamba.  Ya  Nabi  Isa  Ruhullah, makanan hamba  dari tembaga  dan timah  yang  melebur.

Setelah selesai   menjalani   siksan   di  tempat  ini,  kemudian  hamba dibawa  ke  satu   bukit  api  neraka   Hamba  lihat beribu-ribu bukit  dari  api neraka.  Di atas   bukit-bukit itu,  terdapat  batu-batu dari  api  neraka  juga. Ada  pula pepohonan yang  tercipta   dari api neraka  pula,  serta   binatang- binatangnya  yang  terbuat dan  api  neraka  juga.

"Pada  satu  bukitnya, terdapat  siksaan beribu-ribu macam,  dan beribu-ribu  macam   api.   Terdapat    pula   sungai-sungai  api   yang   airnya berasal  dari tembaga,   timah,  dan  besi yang  telah   melebur. Ada  juga  airnya yang  berasal dari darah  dan  nanah  yang  berbau sangat   anyir  dan  busuk.

"Tiap-tiap sungai, airnya  berputar-putar, dan  bunyinya bagaikan guruh   dan   halilintar    yang   membelah   angkasa. Demikianlah   yang   hamba dengar,  terdengar  hingga seribu tahun perjalanan  manusia.

Ketika hamba  sampai  di  atas   bukit.  Binatang-binatang itu  disuruh oleh  malaikat   Zabaniyah   menyiksa  hamba   beratus-ratus kali.  Andai saja anak  dari dari seekor ular  di antaranya   yang terjatuh   ke bumi, maka hancurlah  bumi karena   bisanya.

Lalu   hamba  dibawa  ke  dalam  sungai. Seluruh  anggota   badan  dan persendian  tulang   rasanya    seperti   hancur lebur.   Tiga   ratus    kali hamba digigit,  kemudian  di  bawah   bukit  beribu-ribu siksaan  dan  azab  Allah Ta‘ala hamba rasakan    lagi,   dan   tubuh   hamba   diikat   dengan   tali   dan   api  dan dirantai  yang  terbuat   dari  api juga.   Hamba pun  diikatkan kepada  sebuah pohon yang  terbuat   dari  api  neraka   juga.  Sedangkan  rantai   membelenggu hamba  dan dililitkan pula kepada  pohon itu. Hanguslah tubuh hamba dan hancurlah  daging hamba  rasanya.

"Hamba  sendiri ketika  hidup kembali tidaklah  ada  bandingannya siksaan-siksaan yang   telah   dialami itu,   ya   Nabi  Isa   Ruhullah.  Begitu menderitanya,    hamba   pun  menangis  dengan   menjadi-jadi serta  berseru-seru kepada   Allah   Azza   wa   Jala,    ‗Ya   Ilahi,   Ya   Robbi,  Ya   Saidi,   Ya Maulayya,   Ya  Tuhanku, telah  hanguslah segala  tubuh  hambamu dan  hancur leburlah   daging   hamba,   serta    meluruh  dari kulitnya  hamba  rasakan   ya Tuhanku,  perut hamba   pun  jadi   melorot   ke  bawah,   hingga  hamba   dapat duduk  di  atasnya‘. Demikianlah seruan  hamba  ke  hadirat Allah Ta‘ala. ya Nabi Isa  Ruhullah.

"Hamba    kemudian   lihat banyak   orang   yang   mendapat   siksa,   dan datanglah    ular,   kalajengking,   dan   lipan  dari api   menggigit  mereka   sama seperti   yang   menggigit  tubuh  hamba.   Mereka   pun  meraung-raung karena terlalu sangat   sakitnya.   Dan  menangis begitu  memilukan. Hamba  katakan, Hai  Malaikat  Zabaniyah,   apakah   dosanya   dari  orang-orang  itu  hingga disiksa  dengan  yang  demikian  itu?.

"Malaikat  Zabaniyah menjawab, Hai orang durhaka yang celaka, ketahuilah  olehmu bahwasanya   orang  itu  tidak  mau mandi junub serta   tidak suci  dirinya ketika  ia  pergi ke  mesjid, demikianlah dosanya  orang  itu."
Raja   Jumjumah berkata,   "Ya  Nabi  Isa  Ruhullah, hamba  lihat orang- orang  yang  matanya   dituangi  dengan  api  yang  menyala-nyala, la terbaring dan tergantung  seraya  berseru kepada Allah SWT.  Hamba pun bertanya kepada Malaikat Zabaniyah, mengenai hal itu.  la  menjawab bahwa sesungguhnya  orang  itu  ketika   di  dalam   dunia sering mengintip aurat   isteri orang lain, serta  berusaha menggodanya.

"Ya  Nabi  Isa  Ruhullah, hamba  juga  melihat seorang  perempuan  yang tengah  muntah-muntah dengan   lidahnya   yang   menjulur  hingga  ke  kakinya. Dari  mulutnya keluar  nanah  dan  darah  yang  menggumpal-gurnpal. Kemudian disuapinya dengan daging dari  api,  serta  digantung secara  sungsang. Kepalanya   di posisi bawah  sedangkan  kakinya berada  di atas.  Dan di bawahnya ada  api yang  menyala-nyala, la menyeru-nyeru dengan tangisannya yang  sangat memilukan; suaranya  begitu  ramai  menyayat. Hamba   pun   bertanya    kepada   Malaikat Zabaniyah, Apakah   dosa dari orang  itu‘? Malaikat menyahut,  Mereka   itulah  yang  telah   melakukan aborsi.

Sebagian yang  hamba   lihat lehernya  tergantung  pada  rantai   dari api yang menyala-nyala, dan hamba bertanya  lagi kepada  Malaikat Zabaniyah,  Apa  dosanya  orang  itu?‘ ‗Orang  itu  tidaklah  sekali-kali mau mengambil  air   untuk, sembahyang  ketika   hidupnya  di  dalam   dunia‘, ujar Malaikat Zabaniyah."

Seluruh   persendian   hamba   pun   lemah   dan   letih   rasanya.  Tubuh hamba pun bergemetar, karena  kedahsyatan  dan ketakutan  hamba menyaksikan  azab   Allah Ta‘ala tersebut,   ya   Nabi  Isa   Ruhullah. Lalu hamba  pun  bertanya  kepada   Malaikat Zabaniyah,  Siapa   yang  mandi dan siapa  pula yang  meminum air  sungai tersebut? "Dijawab   oleh Malaikat Zabaniyah,   Hai  orang  durhaka  yang  celaka, adapun   yang   mandi  dan   minum air   sungai  itu   adalah orang-orang yang disiksa  di  dalam   neraka.

"Ya  Nabi  Isa  Ruhullah, hamba  lihat di  dalam  neraka   itu  beribu-ribu selokan   dari   api neraka,   dan   dari  selokan tersebut   terdapat    beribu-ribu rumah;  dari   satu   rumah,  terdapat    beribu-ribu pintunya;   dan   dari satu pintunya, terdapat   beribu-ribu bilik  dan   beribu-ribu bangku;  dan  dari satu bangku  terdapat    beribu-ribu ambalan;   dan   dari satu   ambalan,   terdapat beribu-ribu hamparan   dan  bantal   dan  beribu ribu  azab   Allah  Ta‘ala; dan seluruh  siksaa tersebut,  berasal  dari api juga.

Nabi   Isa   Ruhullah,  hamba  lihat di  dalam   neraka    itu   ada   mahligai dari  api dan  pada  satu  mahligainya terdapat beribu-ribu pintu,  dan  pada satu   pintu  terdapat   beribu-ribu bilik  dan   bangku;   dan   dari   satu   bangku terdapat  beribu-ribu hamparan   dan   bantal.    Bahwasanya   pada   tiap-tiap barang  tersebut, kainnya  berasal  dari api neraka.

"Ya  Nabi Isa  Ruhullah, hamba  lihat di dalam  neraka  itu  ada bermacam-macam binatang,   ada   yang  seperti  gajah , kuda,  singa,  keledai, kalajengking,  lipan,  burung, babi,  anjing,  dan  kucing. Seluruhnya  berasal  dari api  yang bermacam-macam. Sesungguhnya  seluruh  binatang   tersebut kerjanya  adalah  untuk  menyiksa penghuni neraka.

"Sesudah   hamba   merasakan    dan   melihat berbagai   macam   siksaan neraka,  hamba  dibawa  oleh malaikat Zabaniyah ke atas bukit yang bernama  bukit Sakuna.  Sampai  ke atas   bukit tersebut dapat   ditempuh oleh manusia biasa  adalah selama  70.000   tahun.  Dan terdapat   70.000   tempat pemberhentian.  Terdapat   pula  70.000   macam  siksa  di tempat   itu,  ya  Nabi Isa  Ruhullah.

"Di  bukit Sakuna   terdapat   70.000   malaikat  yang   pekerjaannya adalah  menghancurkan tembaga,  timah, dan besi sebagai bahan  untuk menyiksa orang  yang  tidak   mau  menuruti  akan   perintah  Allah  Ta‘ala dan Rasul  Nya,  juga menyiksai hamba  di  bukit  itu  Hamba  rasakan   tidak   ada sesuatu  pun yang  menyamai azab  tersebut.

"Ya   Nabi  Isa   Ruhullah,  seluruh  siksaan   yang   ada   di  dalam   dunia, tidak  ada   satu   pun  yang  sama   dengan siksaaan   yang  ada   di  akhirat.  Di bukit  itu  hamba  lihat dan  hamba dengar, penuh dengan ular  dan kalajengking,  dan binatang-binatang buas  isinya.

Ucap  Raja  Jumjumah, "Ya  Nabi Isa  Ruhullah, adalah  bermacam- macam  siksaan  yang  hamba  lihat yang  tidak mungkin habis  hamba ceritakan  kepada tuanku mengenai siksaan itu.  Setelah  selesai hamba menjalani  siksaan-siksaan, maka  datanglah  seorang  malaikat untuk menyampaikan amanat   dari Allah kepada  Malaikat Zabaniyah  bahwa  Allah Ta‘ala telah  mengampuni dosaku.  Allah Ta‘ala telah menganugerahi kasihnya.   Penyiksaan   kepadaku   dilakukan   karena    perintah   Allah   semata. Dan  kini aku  telah   diampuni oleh  Allah  Ta‘ala terhadap   seluruh dosaku."

Nabi Isa  berbicara,  "Hai  Raja  Jumjumah, berbahagialah  tuan   telah begitu  besar  dianugerahi Allah  SWT  telah   melepaskan  azab.   Sesungguhnya segala  perbuatan  jika  tidak  benar  niatnya,  maka  sembahyang dan ibadahnya   pun tidak akan  memberinya manfaat apapun.

"Hai   Raja    Jumjumah,  ceritakanlah    oleh  Tuan   seluruh  siksaan   yang telah  dialami kepada  orang-orang agar mereka menjadi takut  dan  bertobat setelah  mendengarkannya."

Kata   Raja   Jumjumah, "Ya  Nabi  Isa  ruhullah, tidaklah hamba  dapat merasakan   penderitaan   lagi,   dan   tidaklah pula dapat   menceritakan  lagi mengenai  siksaan   siksaan   dan   azab   Allah  Ta‘ala. Karena  tuan   adalah Ruhullah,  hamba   mohonkan  kepada   Allah  SWT   agar   dapat   hidup kembali dan   masuk  ke  dalam   perut   ibu  hamba supaya dapat berbakti   ke  hadirat Tuhan   RobbulArsyil  Azim,  maka   semoga dapat   terlepas   dari  siksaan  yang telah hamba rasakan, dan hamba telah melihatnya juga. Akan tetapi terhadap   kerajaan   hamba,  janganlah   tuan   mohonkan hamba  untuk  kembali lagi berkuasa."

Setelah   Nabi  Isa  Ruhullah mendengar permohonan tersebut,  ia  segera mengambil segengggam tanah.   Kemudian dibasuhkanlah kepada  kepala tengkorak  dan  ditutupnya  dengan  kain  putih. Selanjutnya,  Nabi Isa  melaksanakan  sholat dua rakaat.  Lalu berdo‘a kepada   Allah  agar   keinginan dari  Raja   Jumjumah dapat   terkabul.   Allah SWT   pun  mengabulkan  permohonan  Rasul-Nya itu.

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

 

Link Terkait