Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Hakikat agama, islam dan agama islam

Hampir sebagaian besar umat islam bahkan mungkin seluruh penduduk bumi ini memiliki pendapat yang sama tentang kalimat “islam”, yaitu saat disebut kalimat islam, pasti semua akan menjawab “agama islam dengan pembawanya adalah Nabi Muhammad”. Ternyata “agama, islam dan agama islam” ini memiliki arti dan makna yang berbeda.
         
Selain itu, sering kita mendengar dalam salah satu agama menyebutkan bahwa seluruh nabi, mulai dari nabi adam hingga nabi Muhammad beragama islam. Klaim dari salah satu agama yang langsung kita sebut saja sebagai klaim dari agama islam ini ternyata menimbulkan efek ganda. Untuk yang memang beragama islam efek baiknya adalah semakin yakin dengan agama yang dianutnya, namun efek yang tidak baik menimbulkan “kesombongan” sehingga mencela agama yang lain sebagai agama yang tidak sempurna, “usang” dan masih banyak lagi. Efek ganda inipun berlaku untuk yang beragama selain islam.
         
Sebagai contoh kongkretnya sekarang banyak didunia cyber (internet) tumbuh bak jamur dimusim penghujan milis-milis atau forum diskusi keagamaan, baik itu antar agama ataupun lintas agama. Yang menyedihkan adalah “obrolan” yang termuat bukannya saling membuka diri untuk menemukan titik temu yang berupa sebuah jawaban, akan tetapi “obrolan” yang termuat berisi cacian, makian, saling merasa benar. “miris” sekali memang, mereka mengaku sebagai orang beragama akan tetapi kenyataan “praktek” lapangannya tidak mencerminkan sebagai orang yang beragama. Kenapa demikian?????
         
Apabila semua manusia menjawab akan pertanyaan tersebut, tentunya seluruh buku yang ada di bumi ini tidak akan sanggup menuliskan jawabannya, karena semua orang akan menjawab sesuai dengan apa yang diketahuinya (sesuai sudut pandang masing-masing).
         
Dengan beberapa alasan yang telah tersebut diatas, kami mencoba memposisikan diri “duduk ditengah”, agar tulisan yang kami buat ini mampu difahami dengan baik oleh semua umat manusia. Pendekatan yang kami lakukan dalam penulisan ini adalah pendekatan ke universalan islam dengan berbagai informasi yang tertuang dalam media massa serta pengalaman-pengalaman “orang-orang sepuh” yang kami dapatkan saat bertatap muka dengan beliau-beliau semua.

1. Agama Di Dunia
Diperkirakan agama yang ada saat ini adalah berjumlah ± 4.200 agama. Sebuah jajak pendapat global 2012 melaporkan bahwa 59% dari populasi dunia adalah beragama, dan 36% tidak beragama, termasuk 13% yang ateis, dengan penurunan 9 persen pada keyakinan agama dari tahun 2005. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa rata-rata wanita lebih religius daripada laki-laki. Beberapa orang mengikuti beberapa agama atau beberapa prinsip-prinsip agama pada saat yang sama, terlepas dari apakah atau tidak prinsip-prinsip agama mereka mengikuti tradisional yang memungkinkan untuk terjadi unsur sinkretisme.

Gambar 1. Simbolisasi dari beberapa agama


Agama yang berkembang saat ini adalah produk sejarah yang berasal dari pertentangan politik (schism) di antara pengikut-pengikutnya. Hal ini dijelaskan dalam Al-Baqarah 2 :213

 “ Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”. (QS. AL Baqarah 2 : 213)


Berikut adalah beberapa agama besar yang ada dengan sekelumit keterangannya ;
a. Hindu Lahir tahun 1800 SM
Hindu adalah gabungan agama bangsa Arya dengan budaya India, saat Bangsa Arya menjajah India dan mendudukinya tahun 1500 SM. Tuhan yang dipercayai adalah Brahman, yang merupakan pencipta yang energynya meliputi seluruh alam. Ada sekitar 33 sampai jutaan dewa Hindu, tapi yang terkenal sebagai perwakilan dari Brahman cuma 3: Brahma (Pencipta), Vishnu (Pemelihara), Shiva (Pemusnah).

Di peradaban lembah Sungai Sindhu, bangsa Arya dan bangsa Indus melakukan kawin campur dan melahirkan 4 buku Veda: Rig Veda, Yajur Veda, Sama Veda, Atharva Veda.

b. Dharma
Siddharta Gautama adalah putra seorang raja. Saat sedang berjalan-jalan ke luar istana ia melihat 4 hal yang menyentuh hatinya: orang tua, orang sakit, orang mati, orang mulia. Ia mulai berpikir bahwa tak ada gunanya ia duduk diam sebagai putra raja sedangkan ia juga tetap akan tua, sakit, dan mati, sementara orang mulia yang dilihatnya tampak tak terpengaruh dengan itu semua. Maka ia meninggalkan istana dan keluarganya untuk mulai mencari obat mati.

Mula-mula ia belajar dari Rishi Uddaka Ramaputra tapi ia masih belum puas, lalu ia belajar dari Rishi Alara Kalama, juga belum menemukan yang ia cari. Dalam usahanya menemukan kebenaran, fisiknya mengurus hingga saat ia hampir mati, seorang anak menyuguhkan bubur susu sehingga ia sehat kembali. Saat  beristirahat sejenak dari meditasinya yang gagal, terdengar suara wanita bernyanyi di seberang sungai, “senar yang terlalu pelan tak akan menghasilkan lagu. Senar yang terlalu keras akan menghentikan lagu”. Ia lalu berpikir bahwa selama ini usahanya terlalu keras sehingga merusak tubuhnya sendiri. Ia lalu ingat masa kecilnya saat ia duduk di bawah pohon jambu lalu ia otomatis terbawa bermeditasi. Mungkin ia terlalu berpegang pada sesuatu, karena itu ia gagal. Ia lalu pergi mencari tempat lain yang lebih cocok untuk meditasi, lalu ia menjumpai sebuah tempat di samping Sungai Yamuna, yang ditumbuhi Pohon Bodhi. Pohon ini pertamakali tumbuh di dunia saat tahun kelahirannya.

Ia lalu bermeditasi di bawah pohon itu, tanpa mengikuti lagi petunjuk gurunya tapi menyesuaikan dengan gaya meditasi yang ditemukannya waktu kecil.
Sesudah duduk selama 45 hari di bawah pohon Bodhi, ia lalu menembus Jhana 8, dan menjadi Tercerahkan (Buddha).

Saat ia hendak moksha, Brahma Sahampati muncul di depannya lalu mengingatkan bahwa ia harus mengikuti perannya sebagai Sammasambuddha (Buddha pemimpin) untuk mengajarkan pada dunia apa yang ia ketahui agar semua ikut terbebas, sebagaimana janjinya dulu di kehidupan sebelumnya. Karena itu Buddha mulai menyebarkan ajarannya. Ceramahnya yang pertama adalah: “4 Kebenaran Mulia” (hidup membawa penderitaan, penderitaan disebabkan keinginan, manusia mampu bebas dari keinginan, keinginan dihapus dengan 8 ruas jalan mulia).

Sesudah ia mati, ajarannya dibukukan dengan nama Tipitaka (Vinaya, Sutta, Abhidhamma). Dua praktek dharma yang diajarkannya, Samatha dan Vipassana, terkenal ke seluruh dunia sebagai solusi efektif untuk menenangkan pikiran. Buddha mati, tapi ia tak hidup untuk mati sekali lagi. Obat mati betul-betul sudah ditemukannya. Ia berhasil dalam pencariannya.

c. Yahudi (Lahir tahun 2000 SM)
Asvathama atau Ibrahim diperintahkan Dewa El Shaddai untuk meninggalkan Mesopotamia untuk menduduki tanah Kanaan. Cucu Asvathama, Yakub, punya 12 anak. Dari 12 anak inilah suku-suku bangsa Israel mendapat nama mereka. Kata Yahudi/Jew berasal dari suku terkuat Israel, yaitu Yehuda.

Saat Musa menerima wahyu kenabiannya dari Dewa Yahweh, bangsa Israel sedang diperbudak bangsa Mesir. Dewa Yahweh berkata pada Musa, “aku yang dulu muncul sebagai El Shaddai di depan Ibrahim”. Musa datang ke Firaun yang berkuasa dan meminta agar bangsa Israel dilepaskan. Mulanya Firaun menolak, tapi sesudah Tuhan menjatuhkan 10 wabah ke negara itu, Firaun mengabulkannya.

Selama 40 tahun Musa bersama bangsa Israel mengembara sebelum mencapai tanah yang dijanjikan. Dewa Yahweh lalu menurunkan 10 Perintah Dewa untuk bangsa Israel, untuk dilaksanakan sebagai undang-undang negara.

Sesudah bangsa Israel mencapai tanah yang dijanjikan, yaitu Palestina, mereka mengangkat raja pertama untuk mengatur mereka, yaitu Saul. Saul lalu digantikan Daud, dan Daud digantikan Solomon, raja terkaya sepanjang sejarah bumi. Daud sendiri adalah raja yang paling dicintai bangsa Israel. Ia menulis banyak Mazmur untuk pelengkap buku resmi Yahudi. Salomo lalu berinisiatif untuk mendirikan rumah pemujaan/Beit HaMikdash untuk Dewa Yahweh. Ini menjadi kuil Yahudi pertama dimana di dalamnya disimpan dua loh batu 10 Perintah Dewa.
Buku resmi Yahudi bernama Tenakh: Torah (hukum), Nevi’im (nabi-nabi), Ketuvim (sastra).

d. Kristen
Agama Kristen bermula dari kelahiran Yesus Kristus sebagai tokoh utama agama ini. Yesus lahir di kota Betlehem yang terletak di Palestina sekitar tahun 4-8 SM, pada masa kekuasaan raja Herodes. Sesudah pulang dari menuntut ilmu di India, selama 3 tahun Yesus berceramah dan berbuat mukjizat pada banyak orang, bersama keduabelas temannya. Yesus yang semakin populer dibenci oleh orang-orang Farisi, yang kemudian berkomplot untuk menyalibkan Yesus. Yesus di salib pada umur 33 tahun, tapi menurut manuskrip yang ditemukan di India, ia berhasil lari ke India sesudah bangkit dari pingsannya.

Saat itu, kepercayaan yang berkembang di Romawi adalah paganisme, namun dengan gencarnya para rasul menyebarkan ajaran Kristen, perlahan agama ini mulai berkembang jumlahnya, sehingga pemerintah Romawi semakin terancam oleh keberadaan agama Kristen. Romawi pun berusaha menekan, dan bahkan melarang agama Kristen, karena umat Kristen saat itu tidak mau menyembah Kaisar, dan hal ini menyulitkan kekuasaan Romawi. Selain itu, paganisme dan ramalan-ramalan yang sejak zaman Republik sudah dipakai sebagai alat-alat propaganda dan pembenaran segala tingkah laku penguasa atau alasan kegagalan penguasa, sudah tidak efektif lagi dengan keberadaan agama Kristen. Maka, di masa-masa ini, banyak umat Kristen yang dibunuh sebagai usaha pemerintah Romawi untuk menumpas agama Kristen. Penyebar utama agama Kristen pada masa itu adalah Rasul Paulus, yang paling gencar menyebarkan ajaran Kristen ke berbagai pelosok dunia.

Pada masa inilah, datang masa-masa kegelapan (192-284), mulai dari Kaisar Commodus hingga Kaisar Diocletian. Pada masa inilah orang-orang masa itu kehilangan kepercayaan terhadap konsep balas jasa langsung yang dianut di Paganisme, sehingga agama Kristen pun semakin diminati. Hingga akhirnya pada tahun 313, Kaisar Konstantinus melegalkan agama Kristen dan bahkan minta untuk dipermandikan, dan 80 tahun setelahnya, Kaisar Theodosius melarang segala bentuk paganisme dan menetapkan agama Kristen sebagai agama negara. Buku resmi: Injil.

e. Islam
Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah sahadat (”dua kalimat persaksian”), yaitu “Laa ilaha ilallah, Muhammadar Rasulullah”__yang berarti “Tiada Tuhan yang pantas disembah selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah”. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, berarti ia sudah dapat dianggap sebagai seorang Muslim atau mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya). Buku resmi: Quran dan Hadist.

f. Sikh
Agama ini berkembang terutamanya pada abad 16 dan 17 di India. Kata Sikh berarti “murid” atau “pelajar”. Kepercayaan-kepercayaan utama dalam Sikh adalah:
1) Percaya dalam satu Tuhan yang pantheistik. Kalimat pembuka dalam naskah-naskah Sikh hanya sepanjang dua kata, dan mencerminkan kepercayaan dasar seluruh umat yang taat pada ajaran-ajaran dalam Sikh: Ek Onkar (Satu Tuhan).
2) Ajaran Sepuluh Guru Sikh (serta para cendekiawan Muslim dan Hindu yang diterima) dapat ditemukan dalam Guru Granth Sahib.

Sikh dipengaruhi pergerakan perubahan dalam agama Hindu (misalnya Bhakti, monism, metafisika Weda, guru ideal, dan bhajan) serta Islam Sufi. Agama ini berangkat dari adat-adat sosial dan struktur dalam agama Hindu dan Islam (contohnya sistem kasta dan purdah). Filsafat dalam Sikh bercirikan logika, keseluruhan (bersifat komprehensif), dan pendekatan yang sederhana terhadap masalah-masalah spiritual maupun material. Teologinya penuh kesederhanaan. Dalam etika Sikh, tidak ada konflik antara tugas pribadi terhadap tubuh sendiri dengan masyarakat.

Sikh berasal dari daerah Punjab di India, namun kini pengikutnya juga dapat ditemukan di berbagai penjuru dunia yang mempunyai komunitas India. Di Asia Tenggara, umat Sikh banyak ditemukan di Malaysia dan Singapura. Umat Sikh dapat dikenali melalui namanya yang kebanyakan diakhiri Singh untuk pria dan Kaur untuk wanita.

g. Confucianism
Ajaran Konfusianisme atau Kong Hu Cu (juga: Kong Fu Tze atau Konfusius) dalam bahasa Tionghoa, istilah aslinya adalah Rujiao yang berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur. Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia dengan menjaga hubungan antara manusia di langit dengan manusia di bumi dengan baik. Penganutnya diajar supaya tetap mengingat nenek moyang seolah-olah mereka hadir di dunia ini. Ajaran ini merupakan susunan falsafah dan etika yang mengajar bagaimana manusia bertingkah laku.
         
Ajaran ini dikembangkan oleh muridnya Mensius ke seluruh Tiongkok dengan beberapa perubahan. Kong Hu Cu disembah sebagai seorang dewa dan falsafahnya menjadi agama baru, meskipun dia sebenarnya adalah manusia biasa. Pengagungan yang luar biasa akan Kong Hu Cu telah mengubah falsafahnya menjadi sebuah agama dengan diadakannya perayaan-perayaan tertentu untuk mengenang Kong Hu Cu.

h.      Taoism.      Taoisme juga diejakan Daoisme, diprakarsai oleh Laozi sejak akhir Zaman Chunqiu. Taoisme merupakan ajaran Laozi yang berasaskan Daode Jing. Pengikut Laozi yang terkenal adalah Zhuangzi yang merupakan tokoh penulis kitab yang judul Zhuangzi.

Kemasyhuran beliau luas tersebar sehingga kenalan Kong Hu Cu. Menurut catatan Zhuangzi, Kong Hu Cu pernah berjumpa dengan Laozi untuk meminta ajar akan kesopanan, tapi akhirnya Konghucu menjadi iri dengan popularitas Laotze. Sama dengan Dalai Lhama yang menjadi iri pada Master Lu Shengyen saat dipertemukan bersama dalam acara diskusi buddhism. Sebagai orang yang tajam perasaannya akibat latihannya, terpaksalah Master Lu Sheng Yen berkata pada penonton, “jangan tanya ke saya saja dong, tanya juga Dalai Lhama.” Tertawalah para hadirin, sebagian tertawa karena merasa itu humor, dan sebagian lagi mentertawakan Dalai Lhama.

 i. Zoroastrianism. 
Zoroastrianism adalah sebuah agama dan ajaran filosofi yang didasari oleh ajaran nabi Zarathustra. Zoroastrianisme dahulu kala adalah sebuah agama yang dominan dianut di daerah Iran, disebarkan pertama kali di Balkh, sebuah kota di utara Afganistan. Sampai tahun 2007, jumlah penganut Zoroastrianisme telah menurun banyak, dan diperkirakan tinggal berjumlah 200.000. Akan tetapi, beberapa sumber telah mengoreksi perkiraan tersebut dan menyatakan bahwa jumlah penganutnya masih mencapai 2 juta orang.

Menurut beberapa cerita, ajaran ibadahnya (shalat) lalu diadopsi oleh Muhammad ke dalam Islam. Hal ini perlu pendalaman lebih lanjut.

j. Shinto
Shinto (secara harafiah bermakna “jalan/jalur dewa”) adalah sebuah agama yang berasal dari Jepang. Dari masa Restorasi Meiji hingga akhir Perang Dunia II, Shinto adalah agama resmi di Jepang.

Agama Shinto melibatkan penyembahan kami, yang bisa diterjemahkan sebagai dewa, roh alam, atau sekedar kehadiran spiritual. Sebagian kami berasal dari daerah setempat dan bisa dianggap sebagai roh yang mewakili daerah tersebut, namun kami lainnya mewakili benda-benda dan proses alami utama, misalnya Amaterasu, sang dewi matahari.

Setelah Perang Dunia II, Shinto kehilangan statusnya sebagai agama resmi; sebagian ajaran dan kegiatan Shinto yang sebelumnya dianggap penting pada masa perang ditinggalkan dan tidak lagi diajarkan. Sebagian lagi tetap bertahan, namun telah kehilangan konotasi keagamaannya, misalnya omikuji (semacam undian untuk menebak keberuntungan).

k. Bahai
Agama Bahai dimulai di Iran pada abad 19. Pendirinya bernama Bahaullah. Pada awal abad kedua puluh satu, jumlah penganut Bahai sekitar enam juta orang yang berdiam di lebih dari dua ratus negeri di seluruh dunia.

Dalam ajaran Bahai, sejarah keagamaan dipandang sebagai suatu proses pendidikan bagi umat manusia melalui para utusan Tuhan, yang disebut para “Perwujudan Tuhan”. Bahaullah dianggap sebagai Perwujudan Tuhan yang terbaru. Dia mengaku sebagai pendidik Ilahi yang telah dijanjikan bagi semua umat dan yang dinubuatkan dalam agama Kristen, Islam, Buddha, dan agama-agama lainnya. Dia menyatakan bahwa misinya adalah untuk meletakkan pondasi bagi persatuan seluruh dunia, serta memulai suatu zaman perdamaian dan keadilan, yang dipercayai umat Bahai pasti akan datang.

Mendasari ajaran Bahai adalah asas-asas keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan umat manusia. Pengaruh dari asas-asas hakiki ini dapat dilihat pada semua ajaran kerohanian dan sosial lainnya dalam agama Bahai.

l. Vama
 

Gambar 2. Sesajian di Candi Parikesit, dataran tinggi DiengJawa Tengah, pada tahun 1880-an (gambar dari majalah Eigen Haard)


Enam agama besar yang paling banyak dianut di Indonesia, yaitu: agama Islam, Kristen (Protestan) dan Katolik, Hindu, Buddha, danKhonghucu. Sebelumnya, pemerintah Indonesia pernah melarang pemeluk Konghucu melaksanakan agamanya secara terbuka. Namun, melalui Keppress No. 6/2000, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut larangan tersebut. Tetapi sampai kini masih banyak penganut ajaran agama Konghucu yang mengalami diskriminasi dari pejabat-pejabat pemerintah. Ada juga penganut agama Yahudi, Saintologi,Raelianisme dan lain-lainnya, meskipun jumlahnya termasuk sedikit.

Menurut Penetapan Presiden (Penpres) No.1/PNPS/1965 junto Undang-undang No.5/1969 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan agama dalam penjelasannya pasal demi pasal dijelaskan bahwa Agama-agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Meskipun demikian bukan berarti agama-agama dan kepercayaan lain tidak boleh tumbuh dan berkembang di Indonesia. Bahkan pemerintah berkewajiban mendorong dan membantu perkembangan agama-agama tersebut.
         
Tidak ada istilah agama yang diakui dan tidak diakui atau agama resmi dan tidak resmi di Indonesia, kesalahan persepsi ini terjadi karena adanya SK (Surat Keputusan) Menteri Dalam Negeri pada tahun 1974 tentang pengisian kolom agama pada KTP yang hanya menyatakan kelima agama tersebut. SK tersebut kemudian dianulir pada masa Presiden Abdurrahman Wahid karena dianggap bertentangan dengan Pasal 29 Undang-undang Dasar 1945 tentang Kebebasan beragama dan Hak Asasi Manusia.
Selain itu, pada masa pemerintahan Orde Baru juga dikenal Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang ditujukan kepada sebagian orang yang percaya akan keberadaan Tuhan, tetapi bukan pemeluk salah satu dari agama mayoritas. 

3. Pengertian Agama
3.1 Terminologi  Agama
Secara istilah (terminologi),  Agama Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti "tradisi". Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan bereligi, seseorang mengikat dirinya kepadaTuhan.

Menurut filolog Max Müller, akar kata bahasa Inggris "religion", yang dalam bahasa Latin religio, awalnya digunakan untuk yang berarti hanya "takut akan Tuhan atau dewa-dewa, merenungkan hati-hati tentang hal-hal ilahi, kesalehan" (kemudian selanjutnya Cicero menurunkan menjadi berarti "ketekunan" ). Max Müller menandai banyak budaya lain di seluruh dunia, termasuk Mesir, Persia, dan India, sebagai bagian yang memiliki struktur kekuasaan yang sama pada saat ini dalam sejarah. Apa yang disebut agama kuno hari ini, mereka akan hanya disebut sebagai "hukum".

Tidak ada setara yang tepat dari "agama" dalam bahasa Ibrani, dan Yudaisme tidak membedakan secara jelas antara, identitas keagamaan nasional, ras, atau etnis. Salah satu konsep pusat adalah "halakha" , kadang-kadang diterjemahkan sebagai "hukum" ",yang memandu praktek keagamaan dan keyakinan dan banyak aspek kehidupan sehari-hari.
Penggunaan istilah-istilah lain, seperti ketaatan kepada Allah atau Islam yang juga didasarkan pada sejarah tertentu dan kosakata.

3.2  Etimologi agama
Berdasarkan ilmu bahasa (Etimologi), Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta yang menurut sebahagian pendapat terdiri dari suku kata A dan Gama. A berarti tidak dan Gama berarti pergi, jadi agama berarti tidak pergi, tetap ditempat, diwariasi secara turun temurun (Harun Nasution). Sedang menurut pendapat lain ”agama” akar katanya “Gam” yang apabila diberi awalan a dan akhiran a (menjadi a-gam-a) yang berarti jalan menuju (Sidi Gazalba). Sedangkan pendapat lain, ada yang mengatakan bahwa agama tidak kacau yang mengandung arti agama merupakan tuntunan yang dapat membebaskan manusia dari kekacauan (chaos), (Moh.Syafaat).

Sehingga dapat diambil suatu pengertian bahwa Agama adalah suatu tuntunan hidup yang termaktub dalam suatu teks yang berbentuk dalam kitab suci yang bersifat tetap berlaku terus menerus karena diwarisi secara turun temurun (Nasikun, 1984 : 4).

Kata Religie berasal berasal dari bahasa Latin dan di dalam Ensiklopedi Umum dirumuskan bahwa Religion (pengertian luas) adalah penerimaan atas tata aturan daripada kekuatan – kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia, yaitu Tuhan.

4. Agama Islam
4.1 Definisi Muslim
Sebutan “muslim” sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya pada saat acara keagaman berlangsung. Tapi adakah yang memaham arti dan makna dari sebutan itu?, dan adakah hubungannya dengan definisi islam sendiri?. Marilah kita bahas terkait sebutan “muslim” tersebut.

Arti muslim secara makna adalah orang yang berserah diri”, dan artian secara istilah adalah orang yang beragama islam. Artian muslim  secara universal adalah orang yang total berserah diri kepada Tuhan. 
Penggunaan istilah “Muslim” dimulai pada masa Nabi Ibrahim, seperti tertuang pada ayat berikut :

“ Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong”. (QS. Al Hajj 22 : 78)

4.2  Definisi Islam
Secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Sebagaimana firman Allah SWT,

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al Baqarah 2:112).

Menurut Hammudah, kata “Islam” berasal dari akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim) yang berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan ketundukkan. Dalam pengertian religius, menurut Abdalati, Islam berarti “penyerahan diri kepada kehendak Tuhan dan ketundukkan atas hukum-Nya” (Submission to the Will of God and obedience to His Law).

Hubungan antara pengertian asli dan pengertian religius dari kata Islam adalah erat dan jelas. Hanya melalui penyerahan diri kepada kehendak Tuhan dan ketundukkan atas hukum-Nya, maka seseorang dapat mencapai kedamaian sejati dan menikmati kesucian abadi.

 “ Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan” (QS. Ali ‘Imran 3 : 83)

4.3 Definisi Ad Dien
Menurut Prof. K.H.M.Taib Thahir Abd.Muin mengatakan bahwa kata – kata “Ad Dien” itu berasal dari bahasa Arab yang artinya “Adat Kebiasaan, tingkah laku, taat keadaan politik dan pikiran”.

Kalau kita membuka Al-Qur’an, kata – kata Ad Dien banyak ditemukan dengan pengertian yang berbeda – beda, misalnya :

a. Ad Dien dalam arti qiyamat atau pembalasan

“Yang menguasai[4] di Hari Pembalasan[5]” (QS. Al Faatihah 1 : 4).

[4] Maalik (Yang Menguasai) dengan memanjangkan mim,ia berarti: pemilik. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.
[5] Yaumiddin (Hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dan sebagainya.

“dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi” (QS. Adz Dzaariyaat 51 : 6) 

“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” (QS. Al Infithaar 82 : 17)

 

b. Ad Dien yang menunjukkan penyembahan/Ibadah

“Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan." Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)” (QS. Al A'raaf 7 : 29) 

“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”.(QS.Az Zumar 39 : 2)

 c. Ad Dien yang menunjukkan Undang –Undang/Hukum

“Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui”. (QS. Yusuf 12 : 76)

d. Ad Dien yang menunjukkan patuh/taat

“Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?” (QS. An-Nahl 16 : 52)

e. Ad Dien yang menunjukkan Agama
Ayat yang menunjukkan Ad Dien adalah sangat banyak, yang beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan[525], tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”.(QS.Al An'aam 6 : 159)

[525]. Maksudnya: ialah golongan yang amat fanatik kepada pemimpin-pemimpinnya. 

“(keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya”. (QS.Ali 'Imran 3 : 11)

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Maa'idah 5 : 3)

4.4    Dienul Islam
4.4.1 Dienul Islam Menurut Al Qur’an
a.     Dienul Hak

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi” (QS. Al Fath 48 : 28)

 b. Dienul Hanif

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah 98 : 5)

c. Dinullah

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”. (QS. Ali 'Imran 3 : 83)

4.4.2  Dienul Islam Menurut hadist
Islam menurut hadits adalah:
a. Syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji
b. Tidak marah
c. Kedamaian
d. Keheningan
e. Keadilan
f.  Akhlak yang mulia

Dari etimologi terminologi bahasa Arab, etimologi Al-Quran, terminologi Al-Quran, dan terminologi hadist, maka terlihat bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang datang dari Tuhan (dienullah) yang mana ajaran tersebut bersifat benar, lurus, komprehensif, integral, menyelamatkan, mulia dan sempurna.

Apabila Dien dan Islam digabung maka terbentuklah Dienul Islam. Dienul Islam dapat didefinisikan sebagai ajaran yang diturunkan kepada Muhammad (sebagai diri pribadi / manusia sejati) (Baca : Hakekat Rukun Islam dan Isra’ Mi’raj Dalam Makna) untuk dijadikan sebuah sistem kehidupan, supaya manusia yang berserah diri kepada-NYA selamat di dunia dan di akhirat.

Karena keintegralannya maka untuk orang-orang yang beriman diwajibkan untuk memasuki sistem tersebut (Dienul Islam) secara keseluruhan/kaffah atau tidak sebagaian-sebagaian, dan apabila sengaja untuk mengambil sebagiannya saja, maka otomatis tidak ada Islam bagi dia.

Hal inilah yang harus dipahami oleh umat Islam, bahwa Dien Islam yang Allah ridhai berbeda dengan Agama Islam yang sekarang dipahami.

5.      Hakikat Islam dan Agama Islam
Artian muslim  secara universal adalah orang yang total berserah diri kepada Tuhan. Berserah diri seperti apa?

Ridho terhadap semua petunjuk Tuhan, Baik dalam kitab yang tertulis ataupun yang tersirat dengan cara memperhatikan dan mentaati semua petunjuk dan menjauhi segala larangan-NYA serta bersyukur dalam keadaan apapun.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim 14 : 7)


“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.”(QS. Luqman 31: 22) 

Dalam satu hadist yang diriwayatkan oleh HR. Abu Daud dan At-Turmuzi dinyatakan bahwa Siapa yang tidak mensyukuri manusia maka dia tidak mensyukuri Allah.(HR. Abu Daud dan At-Turmuzi).

Hadis ini antara lain berarti bahwa siapa yang tidak pandai berterimakasih (bersyukur) atas kebaikan manusia maka dia pun tidak akan pandai mensyukuri Allah karena kebaikan orang lain yang diterimanya itu bersumber dari Allah juga.

Seorang “YANG SUDAH MUSLIM” atau “MANUSIA YANG TELAH BERSERAH DIRI” adalah manusia yang tidak ada rasa was-was dalam dirinya, khawatir ataupun kecewa. Yang ada adalah ucapan dengan penuh RASA SYUKUR ‘alhamdulillah / Puji Tuhan / Om Swastyastu’ atau dengan penuh RASA IKHLAS “innalillahi wainna ilaihi rojiun / Semua berasal dan akan kembali pada Tuhan”.

“ (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS, AL-Baqarah, 2: 112)

Bagi orang yang berserah diri, ia tidak akan mengeluh atau protes kepada TUHAN atas ketentuan yang ditetapkan padanya. Tindakan yang dilakukannya hanya semata-mata karena TUHAN.

Dia berlaku baik bukan sebagai balasan karena orang telah berlaku baik kepadanya, tetapi kebaikan itu dilakukannya semata-mata karena Tuhan memerintahkan manusia untuk berbuat kebajikan. Pandangan batinnya telanjang sebagaimana adanya (tidak ada buruk sangka).Lirikannya tanpa disertai emosi. Jiwanya tidak terguncangkan oleh adanya stimulan, baik yang berasal dari dalam jiwanya sendiri, maupun yang berasal dari lingkungannya. Dia dapat merasakan KAYA TANPA HARTA, SAKTI TANPA ILMU. Semua itu hanya dapat terjadi jika kita sudah mampu menjadikan TAAT sebagai senjata untuk melawan nafsu buruk/himbauan syetan.

Dalam hadits riwayat Muslim dan Ahmad, Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ditangan-Nya, tidaklah Allah menetapkan satu ketetapan bagi seorang mukmin melainkan hal itu baik baginya, dan yang demikian itu hanya bagi seorang mukmin.”

“Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.”  (QS. Ar Rum 30 : 5)

“(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Rum 30 : 6)

 Janji Tuhan dalam al-Quran bagi orang yang berserah diri:

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Thalaaq 65: 3)

Dalam hadits yang diriwayatakan oleh Imam Akhmad, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah dan Ibnu Hiban, Rasulullah saw, bersabda:
“Jika kalian berserah diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, niscaya Dia menjamin rezekimu sebagaimana Dia menjamin kebutuhan burung yang terbang di waktu pagi dengan perut kosong, dan pulang di waktu sore dengan perut kenyang”.

Nabi Ibrahim as, pernah bersabda: Salah satu sebab aku menjadi kekasih Allah adalah karena aku tidak pernah merisaukan sesuatu yang telah ditanggung oleh Allah.”

Orang akan mudah berserah diri, bila ia haqul yakin bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan awal. Kehidupan yang amat singkat. Kehidupan yang penuh dengan kesenangan yang menipu.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-HAdid 57 : 20).

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Al Baqarah 2 : 216)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa' 21 : 35)

“Janganlah kamu mati, melainkan baik sangka kepada Allah Aja wa jalla. “ HR MUSLIM

Wahai orang yang beriman, janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepada Allah.

Dari kupasan diatas dapatlah disimpulkan bahwa setelah manusia berserah diri pada Tuhan maka dia akan menjadi “MUSLIM”, setelah itu akan menjadi “ISLAM”. Menjadi orang yang selamat, baik didunia dan akhirat. Hal ini digambarkan sebagai berikut :

Agama adalah metode, cara, jalan
Muslim adalah proses pencapaian
Islam adalah tujuan akhir
         
Sehingga agama adalah hanya sebagai sebuah jalan. Semua kembali pada manusianya.  Kenapa demikian?, karena tidak ada jaminan bahwa setelah masuk dalam agama tertentu, manusia tersebut akan menjadi orang yang berserah diri pada Tuhan-NYA, semua tergantung dari diri manusia masing-masing. 

Agama hanyalah sebuah jalan. Jalan untuk apa?, jalan agar manusia memiliki jiwa yang tenang. Karena Tuhan hanya menerima jiwa-jiwa yang tenang. 

“Hai jiwa yang tenang.” (QS. Al Fajr 89 : 27)


“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. Al Fajr 89 : 28)

“Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,” (QS. Al Fajr 89 : 29)

Baru setelah memahami maksud dari kupasan tentang hakikat agama, muslim, islam dan agama islam, maka ayat ini baru berlaku :
“……Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu….. “ (QS. AL Maa’idah 5 : 3)

Penjelasan ayat Al Maa’idah diatas adalah bukan islam sebagai agama seperti yang telah ada sekarang, akan tetapi sebagai jalan / cara / metode untuk menjadi manusia yang berserah diri pada Tuhan.

Sehingga akan timbul pertanyaan baru, “apakah manusia dari agama lain seperti budha, khonghucu, kristen, katolik, hindu dll adalah islam ?”, jawabnya adalah “YA”, asalkan dia adalah manusia yang total berserah diri pada SANG MAHA KUASA.

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait