Yayasan Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Hakikat Perjalanan Nabi Musa

KALIMULLAH merupakan gelar dari Nabi MUSA. Musa adalah nabi yang paling banyak disebut nama dan kisahnya dalam al Qur’an. Lebih dari 125 nama Musa tercantum di dalamnya. Tentu kita bertanya kenapa Allah mengistimewakan Musa dari nabi-nabi yang lain?, dan kenapa kisah nabi Musa merupakan kisah yang terbanyak disebut dalam al Quran?.

Allah telah melimpahkan kasih sayang kepada nabi Musa dari mulai lahirnya dan selalu mendapat pengawasan-Nya. Allah berfirman dalam QS. Thaha " Yaitu: "Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku[916]; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku,". (Qs. Thaahaa 20:39)

[916]. Maksudnya: setiap orang yang memandang Nabi Musa a.s. akan merasa kasih sayang kepadanya.

TAREKAT
Suatu hari Nabi Musa. berpidato di hadapan kaumnya yaitu Bani Israil. Nabi Musa menyampaikan nasihat yang melunakkan hati dan membuat air mata bercucuran. Musa diberi kemampuan untuk menjelaskan dan dikaruniai dengan ilmu yang banyak. Setelah Nabi Musa menyelesaikan khutbahnya, dia diikuti oleh seorang laki-laki yang meninggalkan tempat perkumpulan. Laki-laki ini bertanya kepada Nabi Musa As., “Apakah di bumi ini terdapat orang yang lebih pandai darimu?” Nabi Musa As. menjawab, “Tidak.”

Tuhan memberinya kitab Taurat yang berisikan cahaya dan petunjuk. Tuhan juga yang mengajarkannya banyak ilmu. Akan tetapi, seberapapun tingginya ilmu seorang hamba, dia haruslah tetap bertawadhu kepada Tuhannya. Jika dia ditanya dengan pertanyaan seperti itu, semestinya dia menjawab, “Wallahu a’lam.” Seberapa pun ilmu yang dimiliki oleh seseorang tetaplah tidak ada bandingannya dibandingkan dengan ilmunya Allah Swt.

Allah mengingatkan Musa yang tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Allah mewahyukan kepadanya, “…. ada yang lebih alim darimu. Aku mempunyai seorang hamba di tempat bertemunya dua laut. Dia memiliki ilmu yang tidak kamu miliki.”

Lantas Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?”. Tuhanpun menjawab," Apabila kamu ingin bertemu hambaKu yang lebih pandai dari kamu maka dia tempatnya ada di Majma'al Bahroin itu adapun caranya yaitu kamu harus pergi kesana, tetapi bawahlah ikan yang telah mati(ikan laut) dan ikan itu kamu tempatkan dalam kepis(tempat ikan) dan jika sampai pada suatu tempat ikan tersebut menghilangdari tempatnya karena hidup kembali, maka disitulah tempatnya hambaKu yang lebih pandai dari kamu". Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang shalih itu. Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut.

"Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya,' aku tidak akan berhenti (berjalan), sebelum sampai ke Majma'al Bahroin (pertemuan dua lautan) atau aku akan berjalan sampai bertahun­tahun''. (Q.S Al Kahfi Ayat 60).

Musa kemudiannya menunaikan perintah Allah itu dengan membawa ikan mati di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan muridnya , Yusya bin Nun.

Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut. Yusya` tertegun memperhatikan kebesaran Allah menghidupkan semula ikan yang telah mati itu.

Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya' tertidur dan ketika terjaga, beliau lupa untuk menceritakannya kepada Musa Mereka kemudiannya meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya, Nabi Musa berkata kepada Yusya` “Bawalah ke mari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (Surah Al-Kahfi : 62)

”Yusya’ berkata kepada Nabi Musa,“Tahukah guru bahwa ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak lain yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu kembali masuk kedalam laut itu dengan cara yang amat aneh.” (Surah Al-Kahfi : 63)

Musa segera teringat sesuatu, bahwa mereka sebenarnya sudah menemukan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang dicarinya tersebut. Kini, kedua-dua mereka berbalik arah untuk kembali ke tempat tersebut yaitu di batu yang menjadi tempat persinggahan mereka sebelumnya, tempat bertemunya dua buah lautan. Musa berkata, “Itulah tempat yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (Surah Al-Kahfi : 64)

 

Hakekat
Dua lautan itu yang disebut lautan makna (bahr al ma’na) perlambang alam tidak kasat mata (alam ghaib), dan lautan jisim (bahr al ajsam) perlambang alam kasat mata (alam asy-syahadat). Ini bukanlah perjalanan manusia biasa tetapi perjalanan rohani yang berlangsung dalam diri Nabi Musa sendiri.

Jika Nabi Musa As waktu itu melihat ikan tersebut dari tempatnya berdiri yaitu di wilayah perbatasan dua lautan, maka akan terlihat ikan itu berenang dalam alamnya yaitu lautan, dan sang ikan dapat melihat segala sesuatu didalam lautan, kecuali air. Maknanya adalah ikan hidup dalam air, sekaligus dalam tubuhnya ada air, tapi ia tidak bisa melihat air, dan tidak sadar jika dirinya hidup dalam air. Itulah sebabnya ikan tidak bisa hidup tanpa air yang meliputi bagian luar dan bagian dalam tubuhnya, dimanapun ikan berada ia selalu diliputi air yang tak bisa dilihatnya.

Sedang apabila ikan melihat Nabi musa maka ikan itu melihat bahwa Nabi Musa didalam dunia yang diliputi udara kosong dan Nabi Musa AS akan merasakan hal sama seperti apa yang ikan tersebut rasakan.

Sesungguhnya pemuda (al-fata) yang mendampingi Nabi Musa dan yang membawakan bekal makanan adalah perlambang dari terbukanya pintu alam tidak kasat mata dan sesungguhnya dibalik keberadaan pemuda itu tersembunyi hakikat sang Pembuka ( al-Fattah ). Sebab hijab ghaib yang menyelubungi manusia dari Kebenaran Sejati tidak akan bisa dibuka tanpa kehendak-Nya, itu sebabnya saat Nabi Musa bertemu dengan Khidir , pemuda itu tidak disebut-sebut lagi karena sejatinya merupakan perlambang keterbukaan hijab ghaib.”

Adapun bekal makanan berupa ikan adalah perlambang pahala perbuatan baik, yang hanya berguna untuk bekal menuju ke Taman Surgawi (al-jannah). Namun bagi pencari Kebenaran Sejati pahala perbuatan baik itu justru mempertebal gumpalan kabut penutup hati ,itu kenapa sebabnya sang pemuda mengaku dibuat lupa oleh setan hingga ikan bekalnya masuk ke dalam lautan.

Andaikata saat itu Nabi Musa AS memerintahkan si pemuda untuk mencari bekal lain, apalagi sampai memburu bekal ikan yang telah masuk kelaut, niscaya Nabi Musa AS dan si pemuda tentu akan masuk lautan jisim kembali dan setan berhasil memperdaya Nabi Musa AS. Justru Nabi Musa berkata pada saat ikan melompat ke laut bahwa itulah yang dicarinya sehingga tersingkapnya gumpalan kabut dari kesadaran Nabi Musa AS saat itulah purnama rohani zawa’id berkilau dan dapat melihat Khidir , hamba yang dilimpahi rahmat dan kasih sayang yang memancar dari citra ar-rahman dan ar-rahim dan ilmu Ilahi yang memancar dari Sang Pengetahuan ( al-alim ).

Sebenarnya Nabi Khidir adalah tidak lain dan tidak bukan adalah Ar-Roh al idlafi, cahaya hijau terang yang tersembunyi di dalam diri manusia , “ sang penuntun “ anak keturunan Adam AS kejalan kebenaran sejati (al Haqq) Dia sang mursyid Yang Maha Menunjuki. Sesungguhnya perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati penuh diliputi tanda kebesaran Ilahi yang hanya bisa diungkapkan dalam bahasa perlambang, dan setiap manusia akan mengalami pengalaman yang berbeda sesuai dengan pemahamannya dalam menangkap kebenaran demi kebenaran.

Dalam kisah Musa dan Khidhir, Allah hendak menunjukkan pada kita risalah pematangan rohani kekasih-Nya, Nabi Musa . Agar nabi yang diistimewakan dan cemerlang kecerdasan otaknya itu juga menjadi hamba yang cemerlang kecerdasan batinnya hingga ia pun (seperti halnya Nabi Khidir ) cekatan memahami suatu tindakan, peristiwa, dan segenap kenyataan hidup yang terbentang di depan mata.
Tuhan mengajarkan kepada Musa kenyataan rutin dalam hidup sehari-hari, dengan bahasa batin, bahasa hati, bahasa jiwa bukan dengan bahasa mulut atau bahasa lisan yang bisa memutar balikan kata kata.

 

Intisari
1. Pelajaran yang bisa kita petik adalah apabila kita ingin mencapai kehidupan yang benar­benar beruntung disisi Tuhan, sesuai tujuan manusia hidup maka mesti mempertemukan  dua lautan ILMU. Yang kedua ilmu itu sangat jelas batas­batasnya, yaitu Ilmu tata lahir yang disebut Ilmu Syariat dan yang kedua Ilmu tata bathin, yaitu dikenal dengan nama Ilmu hakikat. Dengan menggabungkan  kedua Ilmu itu dalam hidup kita maka kita akan menjadi benar­benar  hidup. Hidup yang hakiki. Hidup sejati.

2. Apabila manusia hanya menguasai satu ilmu saja (ilmu tata lahir), yang ada akan menjadikan sombong, merasa paling hebat, paling kaya, dsb.

3. Wajib bagi setiap manusia untuk melaksanakan "perjalanan, pencarian" agar memahami maksud dan tujuan dari adanya dia didunia.

4. Untuk mendapatkan Ilmu Syariat mesti belajar kepada para ahli syariat dan untuk belajar Ilmu Hakikat, maka mestilah belajar pada Ahli Hakikat. Inilah sesungguhnya  symbol Nabi Musa sebagai Ahli Ilmu Tata Lahir, dan Nabi Khidir adalah symbol Ahli Ilmu Bathin, ILmu hakikat, Ilmu yang tersembunyi.

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait