Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Hakikat Syahadat (1)

Rukun Islam Dalam Perspektif Hakikat
(Hakikat Syahadat - Bag.1)

Oleh : Bocah Angon

1. Pembuka
Banyak dari umat islam pernah mendengar slogan " jadilah islam secara kaffah." Apakah beragama itu harus "kaffah"? "Kaffah" itu artinya adalah menyeluruh. Jawaban yang harus diberikan adalah “Wajib”. Kenapa?, satu alasan yang pasti adalah agar kita, yang mengaku sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan sebagai manusia yang beragama mampu dan bisa memahami orang lain. Kenapa demikian?,  Karena setiap agama memberikan tuntunan untuk menjadi manusia yang baik.

Dengan manusia menjadi “kaffah” tentunya dalam memahami ajaran yang dianutnya akan menjadikannya menjadi manusia yang “universal”. Manusia yang tidak hanya memahami apa yang dianut olehnya akan tetapi juga memahami apa yang di yakini oleh orang lain. Sehingga orang tersebut tidak termasuk golongan orang-orang yang “picik”. Orang yang picik adalah orang yang mengikuti keinginan dirinya sendiri tanpa memperhatikan apa yang diinginkan orang lain.

"Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (QS. Yunus 10 : 99)

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. Yunus 10 : 100)

 
Islam dibangun di atas lima dasar, yaitu Rukun Islam. Ibarat sebuah rumah, Rukun Islam merupakan tiang-tiang atau penyangga bangunan keislaman seseorang. Di dalamnya tercakup hukum-hukum Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. “Sesungguhnya Islam itu dibangun atas lima perkara: bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah dan puasa di buIan Ramadhan” (HR. Bukhari Muslim).         

Rukun Islam merupakan landasan operasional dari Rukun Iman. Belum cukup dikatakan beriman hanya dengan mengerjakan Rukun Islam tanpa ada upaya untuk menegakkannya.  Menegakkannya adalah dengan cara menjalankan yang termaktub dalam rukun iman ataupun rukun islam.

Akan tetapi apabila menjalankan tanpa tahu esensi terkandungnya (makna sebenarnya) tentunya apa yang dilakukan menjadi sebuah  kesiasiaan.

Syahadat adalah persaksian manusia saat masih dialam RUH hingga DUNIA terhadap eksistensi Tuhan

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS. Al A'raaf 7 : 172 )

Seseorang yang telah menyatakan Laa ilaaha ilallaah berarti telah siap bertarung melawan segala bentuk ilah di luar Allah di dalam kehidupannya. Allah menegaskan hal tersebut dalam salah satu firman-NYA ;

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al 'Ankabuut 29 : 2)

Makna terkandung dengan “melawan segala bentuk ilah diluar Allah” adalah melawan apapun yang membuat “ilah” kita berubah, baik yang secara kasat mata kelihatan ataupun tidak. Secara kasat mata, seperti : Harta, Tahta, dan wanita. Secara tidak kelihatan seperti sifat kesombongan, keangkuhan, dsb.         

Banyak orang “mengaku” berTuhan, akan tetapi dalam tindakkannya sama sekali tidak mencerminkan kalau orang tersebut berTuhan, seperti membikin keonaran atas nama agama, Korupsi, kerusakan, dll.         

Saat “ditempa” oleh Tuhan mengeluh bahkan menghujat Tuhan, sebagai contoh “Kejam sekali engkau Tuhan, telah memberikan ujian dan cobaan segini berat, bencana alam, hutang, kesengsaraan, dll”.  Hal ini secara jelas menegaskan, bahwa Tuhan dari orang tersebut adalah uang, harta, tahta, wanita, dll.         

Selain itu, apabila kita melakukan kilas balik terhadap sejarah perkembangan agama dunia hingga nama-nama besar pembawanya, tidak pernah beliau-beliau mengajarkan kekerasan. Bahkan lebih jauh lagi apabila kita lihat didalam kitab-kitab suci masing-masing agama tidak pernah memerintahkan untuk “memusuhi” dan bahkan “menghancurkan” orang yang berbeda iman. Semuanya menganjurkan untuk menjadi manusia yang bermanfaat terhadap sesama dan alam semesta.         

Tapi kenapa fakta yang terjadi sekarang ini adalah saat ada perbedaan khususnya tentang keyakinan, dipastikan yang terjadi adalah penghancuran atau pengrusakan. Sehingga hal ini akan menimbulkan pertanyaaan yang baru, antara lain adalah “apakah agama yang di anut oleh manusia yang melakukan penghancuran, pengrusakan adalah agama yang benar?”, “apakah Tuhan dalam berfirman tidak jelas, sehingga dalam prakteknya manusia menjadi salah kaprah?”, “apakah yang salah manusianya?”, atau “bahkan kesemua pertanyaan diatas benar semua?”           

kadang kita terlalu cepat ‘memagari diri’ dari istilah-istilah yang kita anggap tidak berada dalam domain yang sama dengan agama kita. Terlalu cepat ‘mengkafirkan’. Bukan mengkafirkan orang lain, tapi mengkafirkan bahasa (lain). Dengan memagari diri seperti ini, apalagi dengan didahului prasangka, maka dengan sendirinya kita akan semakin sulit saja memahami hikmah kebenaran yang Dia tebarkan di mana-mana.

Padahal, dalam Qur’an pun Allah menjelaskan bahwa keberagaman adalah tanda dari-Nya juga.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Ar Ruum 30 : 22)

Dengan beberapa bahasan diatas, dan dengan izin Tuhan kami beranikan diri untuk menulis hal ini, dengan harapan kita memahami dan meyakini segala hal yang telah digariskan Tuhan untuk manusia. Sehingga dalam menjalani hidup ini kita, manusia, sebagai “Utusan-NYA” mampu menjalankan Tugas dan Tanggung Jawab sebagai khalifah, sebagai manusia pilihan guna merakhmati seluruh alam.

         

Walaupun bahasan tentang “RUKUN ISLAM DALAM PERSPEKTIF DUNIA HAKIKAT” dikupas dalam kupasan islami, akan tetapi makna terkandung dari kupasan ini tidak hanya untuk orang yang beragama islam saja, akan tetapi untuk semua umat manusia yang sedang berjalan dalam memahami kebesaran Tuhan. Sekaligus untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang islam sendiri yang dilontarkan oleh rekan-rekan “perjalanan” , baik itu dari rekan-rekan islam ataupun rekan-rekan yang mengambil jalan berbeda.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Sura’ An-Nahl 16 : 125)

[845]. Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz Dzaariyaat 51 : 55)

2. Derajat Orang Berilmu
Tidurnya orang yang berilmu lebih ditakuti daripada sholatnya orang yang tidak berilmu, Imam Syafi’i pernah berkata: menuntut ilmu lebih afdhol daripada shalat nafil (shalat tahajjud)

Allah berfirman :” Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu? Hanyalah orang yang berakal yang bisa mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar 39 : 9)

Imam Bukhari berkata: “Ilmu itu sebelum berkata dan beramal”         

Tentu saja tidak akan pernah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu sebagaimana tidak sama pula orang yang hidup dengan orang yang mati, yang mendengar dengan yang tuli, dan orang yang melihat dengan orang yang buta.

Ilmu adalah cahaya yang bisa dijadikan petunjuk oleh manusia sehingga mereka bisa keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Ilmu menjadi penyebab diangkatnya derajat orang-orang yang dikehendaki oleh Allah dari kalangan hamba-Nya. ”Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadalah 58 : 11).         

Seorang hamba sejati adalah orang yang beribadah kepada Allah atas dasar ilmu dan telah jelasnya kebenaran baginya.”Katakanlah ! Inilah jalanku yang lurus, aku mengajak manusia kepada Allah atas dasar ilmu yang aku lakukan beserta pengikutku. Maha Suci Allah dan aku bukanlah termasuk orang musyrik.” (QS. Yusuf 12 : 108).

Seorang manusia yang bersuci dan dia tahu bahwa dia berada dia atas cara bersuci yang sesuai dengan hukum syariat, apakah orang ini sama dengan orang yang bersuci hanya karena dia melihat cara bersuci bapaknya atau ibunya ? Manakah yang lebih sempurna dalam melakukan ibadah diantara keduanya ?

Dengan ilmu seseorang beribadah kepada Allah berdasarkan bashirah, maka hatinya akan selalu terpaut dengan ibadah dan hatinyapun akan terterangi dengan ibadah itu sehingga dia melakukannya berdasarkan hal itu dan menganggap bahwa hal itu sebagai ibadah dan bukan hanya sebagai adat (kebiasaan).

Beberapa keutamaan ilmu
Pertama :
Ilmu adalah warisan para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dirham ataupun dinar, yang mereka wariskan hanya ilmu, maka barang siapa yang telah mengambil ilmu maka berarti dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para nabi.

Kedua :
Ilmu itu abadi sedangkan harta adalah fana (akan rusak). Contohnya adalah Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dia termasuk sahabat yang faqir sehingga dia sering terjatuh mirip pingsan karena menahan lapar. Dan –Demi Allah- saya bertanya kepada kalian apakah nama Abu Hurairah selalu disebut di kalangan manusia pada zaman kita sekarang atau tidak ? Ya, namanya banyak disebut sehingga Abu Hurairah mendapatkan pahala dari pemanfaatan hadis-hadisnya, karena ilmu akan abadi sedangkan harta akan rusak . Maka Engkau hai para penuntut ilmu wajib memegang teguh ilmu. Di dalam suatu hadis Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam menyatakan  ” Apabila anak Adam mati maka putuslah segala amalnya kecuali tiga. Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih yang mendoakan otang tuanya.”

Ketiga :
Pemilik ilmu tidak merasa lelah dalam penjaga ilmu. Apabila Allah memberi rizki kepadamu berupa ilmu, maka tempat ilmu itu adalah di dalam hati yang tidak membutuhkan peti, kunci, atau yang lainnya. Dia akan terpelihara di dalam hati dan terjaga di dalam jiwa dan dalam waktu yang bersamaan diapun menjagamu karena dia akan memeliharamu dari bahaya atas izin Allah. Maka ilmu itu akan menjagamu sedangkan harta engkaulah yang harus menjaganya yang harus engkau simpan di peti-peti yang terkunci, sekalipun demikian hatimu tetap tidak tenang.

Keempat :
Dengan ilmu manusia bisa menjadi para saksi atas kebenaran. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu[188] (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali 'Imran 3 : 18)

[188]. Ayat ini untuk menjelaskan martabat orang-orang berilmu.

Engkau menjadi orang yang bersaksi bagi Allah bahwa tiada sesembahan yang sebenarnya kecuali Dia beserta para malaikat yang menyaksikan keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kelima :
Ahli ilmu termasuk salah seorang dari dua golongan ulil amri. yang wajib ditaati berdasarkan perintah Allah. “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri diantara kalian…..”(QS. An Nisa 4 : 59).         
Ulil amri disini mencakup ulil amri dari kalangan para penguasa dan para hakim, ulama dan para penuntut ilmu. Maka wewenang ahli ilmu adalan menjelaskan syariat Allah dan mengajak manusia untuk melaksanakannya sedangkan wewenang penguasa adalah menerapkan syariat Allah dan mewajibkan manusia untuk melaksanakannya.

Keenam :
Ahli ilmu adalah orang yang melaksanakan perintah Allah Ta’ala sampai hari kiamat. Yang menjadi dalil tentang hal itu adalah hadis Muawiyah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa dia berkata : Saya mendengar Rosul Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda “ Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah akan membuat orang itu faham tentang agamanya. Saya hanyalah Qosim dan Allah Maha Pemberi. Dan di kalangan ummat ini akan selalu ada sekelompok orang yang selalu tegak di atas perintah Allah, mereka tidak akan dimadharatkan oleh orang-orang yang munyelisihi mereka sehingga datang urusan Allah.” (HR. Bukhari).

Imam Ahmad telah berkata tentang kelompok ini :” Bila mereka bukan ahli hadis maka saya tidak tahu lagi siapa mereka itu.”

Al Qadhi Iyyadh Rahimahullah berkata :” Maksud Imam Ahmad adalah ahli sunnah dan orang yang meyakini madzhab ahli hadis.”

Ketujuh :
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam tidak pernah memotivasi seseorang agar iri kepada orang lain tentang suatu nikmat yang Allah berikan kecuali dua macam nikmat :
1)      Mencari ilmu dan mengamalkannya.
2)      Pedagang yang menjadikan hartanya sebagai alat untuk memperjuangkan Islam.

Sebuah hadis dari Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda ” Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal : seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu dia habiskan hartanya itu untuk membela kebenaran. Dan seseorang yang dibeli ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya.”

Kedelapan :
Diterangkan dalam sebuah hadis yang dikeluarkan oleh Bukhari dari Abu Musa Al Asy’ary Radhiyallahu ‘Anhu dari nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam , beliau bersabda ”Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah telah mengutus aku dengan membawa keduanya adalah seperti hujan yang menimpa bumi,maka diantara bumi itu ada tanah yang baik (gembur) yang menyerap air dan menumbuhkan tumbuhan dan rumput yang banyak. Ada pula tanah yang keras yang bisa menahan air, lalu Allah memberi manfaat kepada manusia dari tanah itu,mereka minum dan bercocok tanam. Hujan pun menimpa tanah yang lain yaitu Qii’aan yang tidak bisa menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput. Demikianlah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan bisa memberi manfaat dari apa yang Allah telah mengutusku dengan membawa ajaran ini , lalu dia mengetahui dan mengajarkannya, dan perumpamaan orang yang tidak mau mengangkat kepalanya untuk hal itu dan orang yang tidak mau menerima petunjuk dari Allah yang aku diutus dengan membawa petunjuk itu.”

Kesembilan :
Ilmu adalah jalan menuju surga. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hadis Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :” Dan barang siapa yang menelusuri jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga..”

Kesepuluh :
Diterangkan dalam sebuah hadis Muawiyah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata : Telah berkata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam ” Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuat orang itu faham tentang agamanya”. Artinya Allah akan menjadikan orang itu faqih tentang agama Allah Azza Wajalla. Dan faqih tentang agama Allah bukanlah maksudnya memahami hukum-hukum amaliyah tertentu menurut ahli ilmu berdasarkan ilmu fiqih saja akan tetapi maksudnya adalah : ilmu tauhid dan ushuluddin dan apa-apa yang berkaitan dengan syariat Allah Azza Wajalla.
Seandainya tidak ada keterangan dari kitab dan sunnah kecuali hadis ini saja tentang keutamaan ilmu, maka inipun sudah sempurna dalan memberikan dorongan untuk mencari ilmu syariat dan pemahaman terhadapnya.

Kesebelas :
Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan hidup seorang hamba, maka diapun akan mengetahui bagaimana beribadah kepada Rabbnya dan bagaimana cara bergaul dengan sesama hamba-Nya, maka jalan hidupnya akan selalu berada di atas ilmu dan bashirah.

Kedua belas :
Orang yang berilmu adalah cahaya yang menerangi manusia dalam urusan agama dan dunia mereka. Tidaklah samar dalam ingatan kebanyakan manusia tentang orang yang telah membunuh 99 orang dari kalangan Bani Israil lalu dia bertanya tentang orang yang paling berilmu dimuka bumi lalu dia ditunjukkan kepada seorang abid (ahli ibadah) lalu dia bertanya apakah dia bisa tobat ? Sio abid menganggap dosanya terlalu besar sehingga dia menjawab : Tidak ! Lalu dibunuhnya si abid tadi sehingga genap 100 orang, lalu dia pergi ke seorang alim (orang yang berilmu) lalu dia bertanya kepadanya maka si alim menjawab bahwa dia bisa tobat dan tidak ada yang bisa menghalangi antara dia dengan tobatnya, lalu dia menunjuki orang itu ke satu negeri yang penduduknya salih agar dia datang ke negeri itu, lalu diapun pergi, tapi di tengah jalan maut menjemput. Kisah ini amat masyhur.

Perhatianlah perbedaan antara seorang alim dan seorang jahil.

Ketiga belas :
Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat ahli ilmu di akhirat dan di dunia. Adapun di akhirat maka Allah mengangkat derajat mereka sesuai dengan da’wah dan amal yang mereka lakukan. Sedangkan di dunia Allah akan mengangkat mereka di kalangan hamba-Nya sesuai pula dengan amal mereka. Allah berfirman ”Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara dan yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadalah : 11).

3. Tahapan Perjalanan Menuju Tuhan
Seperti yang telah diketahui dalam dunia spiritual islam terbagi dalam 4 (empat) tingkatan. Tingkatan tersebut adalah Syariat, Tarikat, Hakekat dan Makrifat. Dalam tiap tingkat tentunya mengandung arti dan makna masing-masing.         

Sebelum masuk dalam bahasan inti sesuai judul, maka kita kupas dulu makna tiap tingkat tersebut dalam dunia hakikat atau makna. Hal ini dilakukan agar apa yang akan dibahas selanjutnya mengalir sesuai makna hakekat (makna sebenarnya). Dalam dunia olah spiritual khususnya perjalanan menuju Tuhan disimbolkan dengan buah kelapa ataupun jari tangan. Hal ini menggambarkan segala sesuatu yang terhampar di alam semesta ini adalah sebuah perlambang bagi manusia (hubungan makro kosmos dan mikro kosmos) dan alam semesta dengan segala isinya adalah merupakan “guru” yang baik.

3.1  Syariat
Tingkat pertama adalah syariat. Dalam tingkat ini ibarat “kulit luar kelapa” (red jawa : Sepet), tebal, banyak serat dan rapat. Syariat ketat dengan aturan-aturan dan hukum, seperti aturan dan hukum dalam beribadah, aturan dan hukum perkawinan, dll. Disimbolkan juga dengan jari kelingking.

Gambar 1. Kulit Kelapa (tebal dengan serat yang rapat) sebagai simbolisasi dari tingkat pertama (syariat)

3.2  Tarikat
Tingkat kedua disebut dengan Tarikat. Tingkat ini “keras” laksana “batok kelapa”, karena penuh dengan ritual, seperti shalat, mengaji, puasa, dzikir, dll. Pada tahap ini disimbolkan dengan jari manis. Hal ini mengisyaratkan apabila seorang spiritualis meyakini dengan salah satu metode (shalat, puasa, dzikir, bertapa, semedi, dll), maka dia akan mendapatkan ketenangan.

Gambar 2. Batok Kelapa bertekstur Keras, sebagai perlambang tingkat pencapaian yang penuh dengan ritual 

2.3 Hakekat
Tingkat ketiga adalah Hakekat. Pada tingkat ini laksana “daging kelapa”, terlalu tua tidak enak apabila dimakan, terlalu muda juga tidak enak. Pada tahap ini seorang spiritualis dituntut untuk mampu dan bisa “seimbang”.

Gambar 3. "Enak dan tidaknya daging kelapa" sebagai perlambang tingkat Hakekat

Gambar 4. Simbol Keseimbangan

Seperti jari tengah, dari kelima jari dia paling tinggi dengan posisi ditengah-tengah. Apabila pada tahap ini seorang spiritualis “tidak bisa seimbang”, maka manusia yang sampai pada tahap ini akan merasa tinggi hati, sombong. Karena merasa paling pintar, paling “sakti”, dll. Sehingga saat di posisi inilah penentuan bagi sang spiritualis, apakah dia bisa melanjut ke tahap berikutnya atau berhenti pada tingkat tersebut atau bahkan akan jatuh kebawah.

Gambar 5. Simbolisasi Orang Yang Tinggi Hati, Sehingga Selalu Melecehkan sesama

 
3.4   Makrifat
Tingkat keempat adalah Makrifat. Pada Tahap ini disimbolkan dengan “kesegaran air kelapa”. Setelah menginjak tahap ini, seorang spiritualis akan selalu merasakan “kesegaran” dalam setiap gerak dan langkahnya. Laksana meminum air dari kelapa, kesegarannya merasuk kedalam jiwa dan raga.

Gambar 6. Kesegaran air kelapa sebagai hasil dari sebuah pencapaian pada tingkat makrifat


 "Pada tahap ini kebenaran sejati akan terkuat. Seperti jari telunjuk yang mampu menunjukkan mana yang salah dan mana yang benar"

Gambar 7. Jari telunjuk sebagai simbol orang yang telah sampai pada maqam Makrifat, dia mampu menunjukkan kebenaran sejati (salah satu makna dari gerakan-sholat)

 
Dikarenakan kebenaran yang disampaikannya adalah “kebenaran sejati”, maka sering orang menanggapi “kebenaran sejati” itu dengan ketidak kepercayaan, bahkan orang yang telah sampai pada tahap ini sering disebut sebagai orang gila, orang sesat bahkan kafir. Karena apa yang disampaikannya banyak yang tidak diterima oleh pemikiran dan faham yang dianut oleh khalayak ramai.

Sebagai contoh adalah perjalanan Musa untuk belajar kepada Khidir. Nabi khidir menyampaikan pelajarannya dengan “Rasa”, sedangkan Nabi musa menerima pelajaran tersebut dengan menggunakan “Logika”. Sehingga singkat  cerita Nabi Musa selalu bertanya dan komplaint dengan hal-hal yang dilakukan oleh Khidir. Sehingga gagalah musa dalam belajar kepada Khidir. (baca : Perjalanan Nabi Musa & Kisah Nabi Khidir)

3.5  Manusia Sejati
Banyak kalangan yang meyakini setelah manusia sampai pada tingkat keempat berarti selesai sudah tugasnya didunia. Apakah memang demikian? Jawabannya adalah Belum!!!!.

Merujuk pada tujuan Tuhan dengan menciptakan dan menurunkan manusia sebagai khalifahnya adalah untuk merakhmati seluruh alam, sehingga tingkat keempat (Makrifat) merupakan sebagai “garis start/awal” bagi manusia untuk menjalankan misi dari Tuhan, Merahmati Seluruh Alam atau Hamemayu Hayuning Bawano dan bukan sebagai garis akhir / garis finish.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS.Al-Anbiya’21 : 107)

Agar “diri pribadi” mampu melaksanakan misi dari Tuhan seperti tersebut diatas, hal yang mendasar adalah manusia tersebut harus benar-benar faham dan mengerti akan siapa yang menciptakannya, dari mana kita berasal, kemudian memahami “diri pribadi” dengan tugas yang diembannya hingga kemana akan kembali, ke surga atau neraka atau kembali pada Tuhan. (baca : Sangkan Paraning Dumadi).

Untuk menjadi manusia sejati, yaitu manusia yang faham dan mengerti akan maksud Tuhan dengan menurunkan manusia ke muka bumi tentunya ada banyak hal yang harus ditempuh. Salah satunya dengan cara olah spiritual seperti yang telah dilakukan oleh Para Nabi, Wali serta kekasih Tuhan yang lain. (Sholat Daim)

Hal ini digambarkan seperti perjalanan Nabi Muhammad. Nabi mengenal Tuhannya dulu baru bersyariat atau bermasyarakat (baca :  Awal Beragama adalah Mengenal Tuhannya). Di tanah jawa juga ada seorang wali yang melakukan proses spiritual seperti Nabi Muhammad, beliau mendapatkan gelar sebagai wali glausul alam, yaitu Sunan Kalijaga. Proses pencapaiannya sama, yaitu dengan mengenal Tuhannya dulu baru bermasyarakat. (baca : Sangkan Paraning Dumadi).

Apakah kita mengakui bahwa Nabi Muhammad sebagai Panutan???!, kalau memang jawabannya adalah YA!!!, kenapa kita tidak melakukan perjalanan seperti beliau?!!!!. Laksana mengidolakan artis, apapun yang dipakai hingga tingkah polah dari artis tersebut  pasti diikuti oleh fansnya. Untuk itu tanyakan pada diri sendiri “ Apakah saya mengidolakan nabi Muhammad apa tidak?”

Karena tingkat keempat merupakan garis awal “praktek lapangan” maka harus naik lagi ke peringkat kelima. Tingkat terakhir adalah tingkat kelima, dimana manusia telah melewati tingkat pertama hingga tingkat keempat dan apabila mampu “menggulungnya”, maka dia menjadi manusia sempurna yang disebut dengan “insan kamil / Muhammad / Manusia Sejati”, yang disimbolkan dengan jempol tangan.

Gambar 8. Simbol bagi manusia yang mampu menggulung seluruh tahapan  dalam proses mengenal Tuhan

Setelah seorang manusia mencapai tingkat ini tugasnya adalah menyampaikan “cahaya” kepada siapa saja, tanpa memandang agama, asal, suku, bangsa bahkan strata atau status sosial. Namun apabila “diri pribadi” manusia yang sudah dalam tingkat ini, dan dia tidak menjalankan hal tersebut, maka dia akan “dihinakan”, baik itu oleh manusia bahkan oleh Tuhan dengan disimbolkan dengan jari jempol tangan yang dibalik.

Maka, SEBENARNYA PADA TINGKAT KELIMA INILAH TINGKATAN YANG PALING BERAT bagi manusia dalam menjalankan “TITAH” Tuhan sebagai Khalifah didunia ini.

Gambar 9. Jari jempol terbalik sebagai Simbol dari seorang spiritualis yang “jatuh

| -1- | -2- | -3- |

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait