Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Hubungan Tuhan dan Jiwa

Jika tuhan itu Esa dan ia ada didalam diri kita semua dan jika kita harus mencarinya di dalam tubuh kita, maka jalan yang menuju ketempat tujuan itu, yaitu Rumah kita, haruslah Satu.         

Kita bahkan tidak dapat membayangkan bahwa bagi umat Kristen ada satu jalan yang menuju ke Rumah Tuhan dan bagi umat Hindu atau sikh atau Islam ada jalan lain yang menuju kepada-Nya.         

Mungkin saja ada perbedaan di dalam cara penafsiran kita, pengertian kita, tetapi jalan yang menuju kepada-Nya tidak mungkin ada dua jika kita mencari Dia di dalam, kita akan menemukan jalan yang sama, yaitu jalan Suara dan Cahaya.         

Tetapi, jika kita mencari-Nya di luar, maka kita akan melihat bahwa semua orang mempunyai jalannya masing masing yang barangkali tidak akan sampai kemana mana.         

Tetapi, pikiran sendiri takluk di bawah kekuasaan indra. Apapun yang diinginkan oleh indra, pikiran patuh kepadanya dan mengikuti iramanya. Dan perbuatan apapun yang dilakukan pikiran di bawah pengaruh indra, jiwa yang sesungguhnya murni dan tak ternoda itu harus memetik buahnya dan menderita akibatnya.

Suami berkata kepada jiwa :
Wahai jiwa, engkau merana, itu aku tau.
Engkau telah menderita sejak engkau berpisah dari
Sabda dan berteman dengan pikiran
Karena bergaul dengan pikiran yang liar,
Engkau tetap terikat kepada tubuh
Dan terperangkap oleh kenikmatan indrawi.

Para suci mengetahui benar keadaan kita yang menyedikan. Mereka tau bahwa kita hidup di alam impian. Karena itu mereka datang untuk mengungkapkan penderitaan dunia yang sebenarnya, mereka mengatakan bahwa ini semua adalah permainnan tuhan, bahwa Ia telah menciptakan segala sesuatu.         

Permainan ini dipentaskan diatas panggung impian yang sama sekali tidak nyata, namun demikian, kita terjun ke dalam sandiwara ini dan karena kita melupakan asal usul kita yang sebenarnya, maka kita mengira bahwa dunia ini adalah rumah kita, dan kita saling menjerit, menangis dan tertawa.
Tetapi bila, suatu utang karma kita untuk hidup ini telah lunas, kita berpisah seperti para penyewa rumah penginapan. Kita berpisah satu dengan yang lain setelah menginap untuk waktu yang singkat dan tidak mempunyai hubungan yang kekal dengan siapapun.

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu". (QS. Al Hadiid 57 : 20)
.

HUBUNGAN PIKIRAN DAN INDRA
Para suci mengatakan bahwa pikiran adalah perintah terbesar pada jalan pengenalan akan Tuhan. Ia bersifat mementingkan diri sendiri menyukai kesenangan dan ia licik. Ia lupa bahwa kehadirannya di dunia ini hanyalah seperti buih yang dapat pecah setiap saat, dan bahwa tubuh yang membungkusnya akirnya akan musnah.         

Kecendrungannya untuk keluar dan turun telah mengikatnya kapada benda benda duniawi yang fana. Semua perbuatannya yang baik maupun yang buruk hanya mengakibatkan jiwa terus menerus mengalami kelahiran dan kematian (inkar nasi).         

Pikiran adalah musuh yang paling mematikan, namun ia adalah pelayan yang paling berguna. Bila ia sedang liar dan tak terkendalikan dan dibina secara benar, maka kemampuannya tak mengenal batas. Untuk melangkah menuju pembebasan, disarankan agar kita berani “mengubah pikiran, dari musuh menjadi teman”.         

Agar dapat menguasai, kita harus mempelajari sifatnya. Secara gegabah dan nekad, pikiran ingin mengalami dan menikmati segala sesuatu. Tetapi, tidak ada satupun yang dapat memuaskan ketamakannya. Perolehan berupa harta dan kekuasaan akan menimbulkan keinginan yang tak ada habisnya.         

Semua milik kita menjadi tuan kita dan bukannya budak kita. Semua nafsu itu lambat laun membelengu kita dengan rantai yang kuat dan mengikat kita kepada hal-hal duniawi yang rendah dan mengeraskan hati kita. Meskipun pikiran menyukai kesenangan, tidak ada satu kesenanganpun yang dapat memuaskannya untuk selama lamanya. Ia akan melepaskan yang satu setelah ia lihat atau memperoleh kesenangan lain yang lebih baik.           

Karena itu, selama ia tidak menemukan sesuatu yang jauh melebihi kesenangan yang telah ia punyai, maka ia tidak dapat melepaskannya. Jika tidak, ia harus melepaskannya dahulu sebelum ia melekat kepada sesuatu yang lain, maka ia akan memberontak dan melawan, kemudian akan kembali lagi kepada kesenangan dan kenikmatan dengan kekuatan ganda.         

Keinginan dan idaman kita tak ada habisnya, dan kita harus datang kembali ke dunia ini untuk memenuhinya, bahkan sebelum kita meninggalkan tubuh yang satu, tubuh yang lain sudah siap menanti kita. Pada saat kita hampir bebas dari belengu yang satu, belengu yang lain yang lebih erat sudah mengikat kita.         

Kita terus menerus digiring oleh malaikatul maut yang tak terlihat itu. Penderitaan apa saja yang tidak kita alami, arus dan pusaran apa saja yang kita tidak hadapi, gelumbang dasyat apa saja yang tidak menerjang kita, amukan topan dan badai apa saja yang harus kita hadapi, dan setiap rantai kehidupan kita yang berikutnya adalah lebih kuat dari pada rantai yang sebelumnya. Kasadaran akan kapalsuan sandiwara ini hanya akan datang pada saat kita bangkit – pada saat kematian kita. Pada saat maut menjemput kita, segala sesuatu di dunia ini – teman dan keluarga, harta dan benda, nama dan kemasyuran, kekayaan dan kepercayaan – akan ditinggalkan.         

Setelah itu barulah kita sadar bahwa waktu kita telah kita sia-siakan di dalam maya, nyaitu berusaha untuk memiliki sesuatu yang tidak dapat menganggap maya ini sebagai realitas utama. Kita terus menerus merasa sedih da tidak bahagia, karena jiwa kita yang terpisah dari ( Tuhan ) selalu rindu akan sumbernya.         

Para suci selalu mengatakan bahwa didunia tidak ada kesenangan dan ke bahagiaan yang kekal. Dari pada berusaha untuk mencarinya di luar, mereka mengatakan bahwa kita harus berusaha untuk mencari ketenangan dan kebahagiaan itu di dalam diri kita sendiri. Yang akan menjadi penolong sejati kita, pemelihara sejati kita, bukanlah kecintaan akan yang pana, melainkan kecintaan akan yang kekal, karena hanya itu sajalah yang akan memberikan ketenangan yang abadi, di sini maupun di sana. 

 

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka[468]. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (QS. AL-An’aam 6 : 32)

[468]. Maksudnya: kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya sebentar dan tidak kekal. Janganlah orang terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat.

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait