Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Isra' mi'raj dalam pandangan hakekat (1)

Pembuka

Salam sejahtera, Puji syukur tulisan terkait “kupasan” makna hakekat peristiwa isra’ dan mi’raj telah selesai. Kami ucapkan terima kasih kepada berbagai narasumber yang  telah memberikan saran dan masukan dan para sepuh yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

Tulisan ini diambil dari berbagai sumber dan diadakan sedikit perubahan redaksional   (penambahan   dan   pengurangan)   serta disusun atas dasar pemahaman dan pengalaman spiritual dari kami. Hal  ini  kami lakukan  karena  keterbatasan dari  kami,  akan  tetapi semuanya semata-mata demi kecintaan kita bersama terhadap alam semesta ini. Harapan terakhirnya adalah agar jiwa kita selalu terjaga, selalu bersih dan dalam praktek sehari-harinya mampu menjadi manusia yang memberikan manfaat bagi seluruh alam.

Tulisan ini, dalam satu pembahasan akan kami kupas dalam dua sisi  yang berbeda,  syariat  (wujud)  dan  Hakekat  (esensi).  Sesuai Firman dari Tuhan bahwa segala sesuatu diciptakan berpasang- pasangan, hingga  organ penyusun  tubuh  manusia  selalu berpasangan. Tulisan ini laksana kedua mata manusia, mata kanan dan  mata  kiri.  Dimana  keduanya  memandang  pada  sudut  yang berbeda namun fokus pada satu tujuan.

Urgensitas renungan Isra’ Mi’raj sufistik bagi manusia sekarang adalah karena adanya berbagai tindakan amoral yang bergelimang di kanan-kiri kita, mulai dari penindasan masyarakat miskin, kebejadan sebagian pemerintah yang dengan seenaknya “mengambil” duit rakyat,  hingga  penyakit-penyakit sosial  lain,  kiranya  sudah  cukup dijadikan bukti betapa semakin surutnya budi pekerti manusia modern. Sementara di  sisi lain “bayangan fatamorgana kesalehan umat Islam” bertumbuh subur. Banyak orang yang mengenakan jubah, berjenggot, berudeng-udeng ala Rasulillah Saw. mondar mandir bawa tasbih, tapi hati mereka tak sesaleh pakaiannya. Mungkin orang-orang seperti inilah yang pernah disaksikan oleh Syaikh Abu Bashir pada abad ke-2 Hijriyah.

Al-Kisah, suatu ketika pada musim haji Abu Bashir berada di Masjid al-Haram, ia terpesona menyaksikan ribuan orang bergerak thawaf mengelilingi Ka’bah, seraya mendengarkan gemuruh tahlil, tasbih, dan takbir dari mulut mereka. Saat pertama kali melihat, Abu Bashir membayangkan, betapa beruntungnya orang-orang itu, mereka telah mendapat panggilan Tuhan, tentunya mereka semua akan  mendapat pahala  dan  ampunan-Nya. Imam Ja’far  al-Shadiq, tokoh  spiritual  yang  terkenal  dan  salah  satu  ulama besar  dari keluarga Rasulullah Saw. begitu menyaksikan kekaguman Abu Bashir, ia langsung berkata, “Inginkah aku tunjukkan kepadamu siapa sebenarnya mereka?”, lalu Imam Ja’far menyuruh Abu Bashir menutup matanya. Kemudian Imam Ja’far mengusap wajahnya. Ketika membuka lagi matanya, Abu Bashir terkejut. Di sekitar Ka’bah, ia melihat banyak sekali binatang dalam berbagai jenisnya, ada yang mendengus,   melolong,   dan  menggaung. Imam  Ja’far berkata, “Betapa banyaknya lolongan dan gaungan dan betapa sedikitnya orang  yang  benar-benar berhaji.”  Bagian luar  mereka  saleh,  tapi hatinya busuk menjijikan.

Imam al-Ghazali sendiri ketika shalat, hanya gara-gara memikirkan persoalan menstruasi, dimata adiknya, Ahmad al- Ghazali, terlihat berlumuran darah. Entah kita tidak bisa membayangkan, anatomi wakil rakyat yang korupsi dan orang yang jual-beli agama demi mempertahankan status quo dimata para ‘Arif billah.

Di tengah-tengah “realitas kusut” ini telah tiba hari besar umat Islam,  hari  dimana  Nabi  diIsra’-Mi’rajkan oleh  Sang  pemilik  jagat raya. Ini tentunya momen terbaik bagi umat Islam untuk membersihkan dimensi spiritualnya yang selama ini terendap oleh lumpur-lumpur “kejahiliahan.”

Merayakan Isra’ Mi’raj dengan cara memaksa diri untuk menggapai satu maqam ke  maqam yang lain, menggapai maqam taubat untuk sampai ke wara’, dari wara’ ke zuhud, zuhud ke fakir, dilanjutkan maqam sabar, tawakkal dan ridla hingga tergapailah jalinan intim dengan Tuhan sebagaimana yang telah disusun secara apik oleh para sufi, tentu merupakan keharusan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Perlu ditegaskan di sini, bahwa berusaha berada di satu maqam ke maqam lain yang berarti “nyufi” (menjalankan ajaran tasawuf) bukan berarti bertolak dengan profesi, tapi malah memberikan motivasi  kepada  pelakunya  untuk  selalu  dinamis.  Di  sepanjang sejarah bisa dibuktikan misalnya Umar Ibn Abdul Aziz, beliau pelaku ajaran tasawuf berprofesi sebagai pemimpin Negara yang sangat sukses. Junaid al-Baghdadi, ahli tasawuf, beliau menjadi pengusaha botol.

Abu Sa’id al-Kharraz, sufi, berprofesi sebagai pengusaha konveksi. Al-Hallaj, sufi, syaikh al-Akbar, juga sukses sebagai pengusaha tenun. Hal ini membuktikan bahwa tasawuf sama sekali bukan sebagai faktor yang menjadikan umat Islam tertinggal, kolot dan terbelakang, tapi malah sebaliknya. Karena ber-Isra’ Mi’raj dengan  menjalankan  ajaran  taubat,  seseorang  akan  menyadari bahwa  selama  ini  dirinya  telah  berbuat  angkara  murka  terhadap sesama, menindas masyarakat pinggiran dan lain-lain. Dengan menanamkan sifat wara’, zuhud, fakir, sabar dan yang lainnya, seseorang akan tercegah dari tindakan mencuri, merampok, korupsi dan terhindar dari budaya hedonisme dan konsumerisme yang kian hari terus menggerus masyarakat.

Dengan demikian Isra’ Mi’raj tidak hanya dimonopoli oleh Nabi Muhammad Saw., Abu Yazid al-Busthami, al-Hallaj, Ibn ‘Arabi, syekh siti jenar, tapi manusia modern juga bisa ber-Isra’ Mi’raj, naik ke langit untuk bertemu dengan Tuhan.

Atas  bantuan  dari  segala  fihak  kami  ucapkan  terima  kasih. Saran dan kritik kami harapkan. Semoga cita-cita kita bersama, mewujudkan  masyarakat  Indonesia  yang  berkecerdasan  spiritual yang baik dan mewujudkan Indonesia menjadi MERCUBUANA segera terlaksana.

***Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridho’i perjalanan kita semua.

Terima kasih. Wassalam***

 

BAB I

URGENSI PEMAKNAAN PERISTIWA ISRA’ Mi’RAJ DALAM PANDANGAN HAKEKAT

 

Peristiwa Isra’ Mi’raj dipercaya oleh hampir sebagian besar umat islam sebagai peristiwa penting, dimana Nabi Muhammad dengan naik buroq dengan diiringi oleh malaikat Jibril dan Mikail melaksanakan perjalanan dari masjidil haram menuju masjidil aqsa dan kemudian terbang kelangit ke-7 menuju sidratul Muntaha untuk menerima perintah sholat Lima waktu. Bagaimana tinjauan peristiwa ini dari kacamata Hakekat. 

A. DASAR DALAM AL QUR’AN
1. ISRA’
“ Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[847] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Israa 17:1)

[847]. Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.

       

2. MI’RAJ
“Allah berfirman : “Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.  dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya[1429]. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha[1430]. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal,  (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar “. ( QS. An Najm 53:1-18)

[1429]. Ayat 4-11 menggambarkan peristiwa turunnya wahyu yang pertama di gua Hira.
[1430]. Sidratul Muntaha adalah tempat yang paling tinggi, di atas langit ke-7, yang telah dikunjungi Nabi ketika Mi'raj.

 

B. URGENSI AL QUR’AN DITURUNKAN DALAM BAHASA ARAB
1. Sosial Kultural
Kemukjizatan seorang nabi musti memiliki keterkaitan erat atau hubungan dialektis dengan realitas sosial yang berkembang di tengah-tengah lingkungan yang ditempatinya.

Nabi Musa diberi mukjizat tongkat yang bisa berubah menjadi seekor ular manakala ilmu sihir menjadi ilmu yang nge-trend di tengah masyarakat sekelilingnya.

Nabi Isa diberi mukjizat mampu menyembuhkan penyakit buta dan kusta ketika mayoritas para “anak zaman” yang semasa dengannya menguasai ilmu kedokteran.

Nabi Muhammad Saw diberi kemukjizatan berupa al-Qur’an manakala masyarakat di sekitarnya memiliki kecakapan berbahasa.  Di sinilah, al-Qur’an tidak saja menemukan efektifitasnya, tetapi juga signifikasinya, di tengah kehidupan sosial masyarakat Arab. 

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS Ali 'Imran 3:164)

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS Ibrahim 14 : 4)

“ Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka[1334]. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh." ( QS Fushshilat 41 : 44)

[1334]. Yang dimaksud suatu kegelapan bagi mereka ialah tidak memberi petunjuk bagi mereka. 

2. Budaya 
Bagi masyarakat Arab pra Islam puisi merupakan sarana yang paling penting untuk menyebarkan informasi. Jika dibandingkan dengan zaman modern, puisi di tengah masyarakat Jahiliyah telah menjadi semacam “media massa” yang menginformasikan segala yang terjadi di sekeliling mereka. Informasi disampaikan secara lisan, dan di-transmisi-kan—dengan meminjam istilah bahasa Jawa--melalui cara “tutur tinular”. Oleh karena itu, tak heran jika puisi memiliki pengaruh yang sangat kuat di dalam memori masyarakat Arab melebihi kekuatan sihir.

Karena puisi merupakan sesuatu yang istimewa di tengah masyarakat Arab, maka begitu pula dengan para penggubah puisi (penyair). Di mata masyarakat umum, penyair (syâ’ir) menjadi orang-orang yang terpandang dan dihormati. Mereka menyandang status sosial tinggi layaknya para ilmuwan. Arti kata syi’r (puisi) sendiri dalam bahasa Arab adalah ilmu (al-ilm); syâ’ir (penyair) berarti al-âlim (seorang yang berpengetahuan). Dalam sebuah riwayat dinyatakan: 
“Diceritakan dari al-Ashmu’i, dari Abî Umar bin al-Alâ’, ia berkata: menurut masyarakat Arab kedudukan para penyair di zaman Jahiliyah sama dengan kedudukan nabi-nabi umat manusia. Mereka disebut penyair (asy-syâ’ir): yang berarti al-âlim (orang yang berpengetahuan) dan al-hakîm (orang yang bijaksana).”

Di tengah satu suku, kemunculan seorang penyair dianggap sebagai suatu peristiwa penting luar biasa yang harus dirayakan melalui suatu perayaan khusus. Bahkan menjadi aset dan sekaligus sebagai lambang kejayaan. Pandangan yang berlebihan terhadap penyair seperti ini kadang mendorong masyarakat jatuh pada tindakan pentakdisan. Oleh karena itu, tak jarang dari mereka mengharuskan bersuci (berwudlu) sebelum membaca suatu puisi.
Bahasa Arab merupakan salah satu rumpun bahasa Semit. Yaitu, bahasa bangsa Arab Purba yang banyak dikenal, yang mendiami jazirah Arab.

 

C. URGENSI PEMAKNAAN PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ DALAM PANDANGAN HAKEKAT

1. Al Qur’an Merupakan Sastra Tinggi
Umar bin Khattab, salah seorang sahabat dekat nabi dan khalifah kedua, pernah menyatakan bahwa “Arab adalah materi Islam.” Pengertian Arab dalam pernyataan ini mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat Arab saat Islam diturunkan, baik sosial, ekonomi, budaya dan politik.

Sehingga sangat jelaslah bahwa al Qur’an ini merupakan sastra tinggi dengan multi tafsir. Apabila kita hanya sekedar membaca hingga mengartikan bahasa arab yang tertulis di dalam al qur’an, maka yang kita baca adalah ayat itu hanya berlaku pada jaman itu  (sosial, ekonomi, budaya dan politk) saat itu. 

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya..” (QS Yusuf  12:2) Maksud ayat ini adalah agar mudah memahami adalah karena satu bahasa dan jaman.            

“Sekiranya diturunkan bukan dalam bahasa Arab, maka orang-orang yang berbahasa Arab yang sangat berstrata tidak akan beriman kepadanya. Allah Swt berfirman “ Dan kalau Al Quran itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan Arab, lalu ia membacakannya kepada mereka (orang-orang kafir); niscaya mereka tidak akan beriman kepadanya. (QS Asy Syu'araa' 26:198-199)

Kaum Arab mengetahui betapa didalamnya terdapat keindahan bahasa yang tinggi, serta kefasihan nya dan penjelasan nya yang menakjubkan. Tidak ada satu pun dari manusia yang sanggup membuat dan menandinginya. Seandainya saja mereka tidak membangkang dan sombong, niscaya mereka telah menjadi orang - orang yang mendapat hidayah, tetapi kesombongan telah menghalangi mereka dari Islam dan menghalangi mereka dari beriman.

Berikut ini beberapa contoh orang yang tergerak hatinya dengan ketinggian sastra Al-Qur'an dan tercatat dari pengungkapan mereka dibeberapa kesempatan yang berbeda tentang nya, pengakuan mereka akan ketinggian bahasa al-Qur'an, keindahan penjelasan nya serta luasnya cakupan nya.

Abu Sufyan, Al-Akhnas dan Abu Jahl yang Mencuri Bacaan Al-Qur'an Tatkala Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam shalat di rumahnya di Mekkah dan sedang membaca al-Qur'an, maka tiba - tiba datang Abu Sufyan bin Harb (sebelum dia masuk Islam), Al-Akhnas bin Syuraik dan Abu Jahl bin Hisyam untuk menguping Al-Qur'an dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, maka masing - masing dari mereka mengambil posisi untuk duduk disisi rumah beliau, sedangkan satu sama lain dari mereka tidak saling mengetahui, hingga tatkala fajar menyingsing setiap dari mereka pun bergegas untuk kembali kerumahnya masing - masing. Namun tatkala hendak beranjak pulang, dipertengahan jalan, mereka saling bertemu.

Mereka pun saling mencela satu sama lain nya dan saling berkata : "Jangan kalian ulangi lagi karena seandainya orang - orang rendahan mengetahui kalian, maka sungguh kalian telah melukai hati mereka." lalu mereka pun pulang.

Pada malam yang kedua, kembalillah setiap dari mereka ke tempat semula untuk mencuri bacaan dan mendengar al-Qur'an, lalu mereka bermalam disitu untuk mendengarkan Al-Qur'an, hingga ketika fajar menyingsing, mereka pun bergegas pergi dan bertemu lagi, maka satu sama lain saling berkata kepada yang lain nya sebagaimana yang mereka katakan pada pertemuan sebelumnya, kemudian mereka pulang.

Terulang hal itu lagi pada malam ketiganya lalu mereka berkata, sekarang kita tidak akan berpisah sebelum kita membuat perjanjian untuk tidak kembali lagi mendengarkan Al-Qur'an. Maka mereka pun saling berjanji untuk tidak kembali lagi kemudian mereka pulang kerumah.

Pada pagi hari keesokan hari nya, pergilah Al-Akhnas bin Syuraik ke rumah Abu Sufyan dan berkata : "Wahai Abu Hanzhalah -kunyah lain dari abu sufyan-, apa pendapatmu terhadap apa yang telah engkau dengar dari Muhammad?"
Lalu dijawab : "Wahai Abu Tsa'labah demi Allah, sungguh aku telah mendengar sesuatu yang aku mengerti dan pahami maksudnya."

Maka Al-Akhnas berkata : "Demi Allah, aku juga berpendapat yang sama dengan mu." Kemudian dia (Al-Akhnas) keluar menemui Abu Jahl dirumahnya dan berkata kepadanya, "Wahai Abu Hakam -kunyah lain Abu Jahl- apa pendapatmu terhadap apa yang telah engkau dengar dari Muhammad?"

Lalu Abu Jahl berkata : "Apa yang aku dengar? Kami berpecah belah dengan keturunan Abdul Manaf, padahal dahulu apabila mereka memberi makan, maka kami pun memberi makan, mereka memberi jaminan, maka kami pun memberi jaminan. Mereka memberi, maka kami pun memberi juga, hingga tatkala kami beriringan sewaktu berkendaraan, maka kami pun pada waktu laksana dua pasang kerbau laut, hingga tatkala akhirnya mereka berkata : "Sesungguhnya nabi yang diberi wahyu dari langit berasal dari keturunan kami, maka kapankah kita dapat sama seperti mereka?" Demi Allah sekali - laki aku tidak akan beriman kepadanya juga tidak akan membenarkan nya." Maka bangkitlah Al-Akhnas darinya lalu pergi meninggalkan Abu Jahl.

        

2. Al-Qur’an Diturunkan Dalam Tujuh Huruf
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Jibril membacakan Al-Qur’an untuk ku dengan satu huruf, lalu aku memintanya (tambahan). Aku terus meminta tambahan, dia pun memberiku tambahan hingga tujuh huruf.” [Shahih Al-Bukhari no 4991 dan juga no 3219]

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :“Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan yang mana mudah bagi kalian.” [Shahih Al-Bukhari Hadits no 2419, 4992, 5041, 6936 dan 7550]
Makna Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf  adalah :

a. Tujuh macam bahasa dari bahasa – bahasa Arab mengenai satu makna. Dengan pengertian jika bahasa mereka berbeda – beda (lafaz) dalam mengungkapkan satu makna, maka Al-Qur’an pun diturunkan dengan sejumlah lafaz sesuai dengan ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu itu. Dan jika tidak terdapat perbedaan, maka Al-Qur’an hanya mendatangkan satu lafaz.

b. “Tujuh huruf yang dengan nya Al-Qur’an diturunkan adalah tujuh dialek bahasa dalam satu huruf dan satu kata karena perbedaan lafazh nya tetapi makna nya sama. 

Umat Islam disuruh untuk menghafal Al-Qur’an dan diberi kebebasan untuk memilih dalam bacaan dan hafalan nya salah satu huruf dari ketujuh huruf itu sesuai dengan keinginan nya sebagaimana yang diperintahkan. Namun pada masa Utsman bin Affan keadaan menuntut agar bacaan itu ditetapkan dengan satu huruf saja, karena dikhawatirkan akan timbul fitnah. Kemudian hal ini diterima secara bulat oleh umat Islam.

c. Yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh sisi bahasa; yaitu berupa amr (perintah),nahyu (larangan), halal, haram, muhkam, mutaysabih, dan matsal(perumpamaan). Maka bisa dijawab bahwa zhahir (makna yang nampak) dalam hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah suatu kalimat yang dibaca dengan dua, tiga sampai tujuh model bacaan dalam rangka memberikan kelonggaran bagi ummat ini. Dan satu perbuatan atau benda tidak mungkin menjadi halal atau haram dalam satu ayat, dan makna kelonggaran bukan dalam hal mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram dan juga bukan dengan merubah sesuatu dari maknanya yang disebutkan.

d. Bahwa tujuh huruf yang dimaksud adalah tujuh macam bahasa dari bahasa – bahasa Arab dalam mengungkapkan satu makna yang sama.

Adapun dalil nya adalah :
Pertama : Hadits Abu Bakrah yang menyebutkan bahwasanya Jibril berkata : “Hai Muhammad, bacalah Al-Qur’an dengan satu huruf.” Lalu Mikail berkata : “Tambahkanlah.” Jibril berkata lagi : “Dengan dua huruf” Jibril terus menambahnya hingga sampai dengan enam atau tujuh huruf. Lalu ia berkata : “Semua itu obat penawar yang memadai, selama ayat azab tidak ditutup dengan ayat rahmat, dan ayat rahmat tidak ditutup dengan ayat azab.

Imam Ibnu Abdil Baar berkata : “Maksud hadits ini hanyalah sebagai contoh mengenai huruf - huruf yang dengan nya Al-Qur’an diturunkan. Ketujuh huruf itu mempunyai makna yang sama pengertian nya. Tetapi berbeda bunyi ucapan nya. Dan tidak satupun diantaranya yang mempunyai makna atau sisi – sisi yang saling berlawanan, seperti rahmat yang merupakan lawan dari azab.”

Kedua : Dari Busr bin Said, ia berkata : “Abu Juhaim Al-Anshari mendapatkan berita bahwa dua orang lelaki berselisih tentang sesuatu ayat Al-Qur’an. Yang satu mengatakan, ayat itu diterima dari Rasulullah, dan yang lain pun mengatakan demikian. Lalu kedua nya datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menanyakan hal tersebut. Maka beliau bersabda : “Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka janganlah kamu saling berdebat tentang Al-Qur’an. Karena perdebatan mengenainya merupakan suatu kekufuran.”

 

D. Kesimpulan
Berdasarkan beberapa dalil baik dari Al Qur’an ataupun Hadist yang telah dikemukakan diatas, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa baik itu Al Qur’an ataupun Hadist merupakan sastra tinggi yang difirmankan atau diriwayatkan dengan menggunakan bahasa yang berlapis. Sehingga agar didapatkan “kandungan” yang sebenarnya dari Al Qur’an atau Hadist haruslah dikupas dalam ranah pandangan HAKEKAT.

| -1- | -2- | -3- | -4- | -5- | -6- | -7- | -8- | -9- | -10- | -11- | -12- | -13- |

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait