Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Jalan aslim menuju gerbang ma'rifat

" APABILA TUHAN MEMBUKAKAN BAGIMU JALAN UNTUK MAKRIFAT, MAKA JANGAN HIRAUKAN TENTANG AMALMU YANG MASIH SEDIKIT KERANA ALLAH SWT TIDAK MEMBUKA JALAN TADI MELAINKAN DIA BERKEHENDAK MEMPERKENALKAN DIRI-NYA  KEPADA KAMU "


 Pengertian amal, Qada’ dan Qadar, tadbir dan ikhtiar, doa dan janji Allah swt,  semuanya itu mendidik rohani agar melihat ke dalam diri betapa kecilnya apa yang datang dari seorang hamba dan sebaliknya betapa besar apa yang dikurniakan oleh Allah swt.

Rohani yang terdidik begini akan membentuk sikap beramal tanpa melihat kepada amalan itu tapi sebaliknya melihat amalan itu sebagai kurniaan Allah swt yang wajib disyukuri. Orang yang terdidik seperti ini tidak lagi membuat tuntutan kepada Allah swt tetapi membuka hati nuraninya untuk menerima taufik dan hidayat daripada Allah swt.

Orang berpikiran jernih akan menuju kepada kesucian hati dan akan mudah menerima pancaran Nur Sir.  Mata hatinya akan melihat kepada hakikat bahwa Allah swt, Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Suci dan Maha Tinggi tidak mungkin ditemui dan dikenali kecuali jika Dia ingin ditemui dan dikenali. Tidak ada ilmu dan amal yang mampu menyampaikan seseorang kepada Allah swt. Allah swt hanya dikenali apabila Dia memperkenalkan  ‘diri-Nya’. Penemuan kepada hakikat bahwa “tidak ada jalan yang terhulur kepada gerbang  makrifat” merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu.

Karena “pengertian” itu tidak ada dalam Ilmu apapun. Ilmu tidak mampu menelurkan pengertian itu. Apabila mengetahui dan mengakui bahwa “tidak ada jalan atau tangga yang dapat mencapai Allah swt” maka seseorang itu tidak lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apa lagi kepada ilmu dan amal orang lain. Bila sampai di sini seseorang itu tidak ada pilihan lagi melainkan menyerah sepenuhnya kepada Allah swt.

Ada orang yang mengetuk pintu gerbang makrifat dengan doanya. Jika pintu itu tidak terbuka maka semangatnya akan menurun, hingga akhirnya membawa kepada berputus asa. Ada pula orang yang berpegang dengan janji Allah swt bahwa Dia akan membuka jalan-Nya kepada hamba-Nya yang berjuang pada jalan-Nya. Kuatlah dia beramal agar dia lebih layak untuk menerima kurniaan Allah swt sebagaimana janji-Nya. Dia menggunakan kekuatan amalannya untuk mengetuk pintu gerbang makrifat. Bila pintu tersebut tidak terbuka juga maka dia akan berasa ragu-ragu.

Dalam perjalanan mencari makrifat, seseorang tidak terlepas daripada kemungkinan menjadi ragu-ragu, lemah semangat dan berputus asa.  Hal itu menandakan dia masih bersandar kepada sesuatu selain Allah swt. Hamba tidak ada pilihan kecuali berserah kepada Allah swt, hanya Dia yang memiliki kuasa Mutlak dalam menentukan siapakah antara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali Diri-Nya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Allah swt. Menyerahkan diri atau Aslim kepada Allah swt itulah yang dapat membawa kehadapan pintu gerbang makrifat. Hanya para hamba yang sampai di perhentian aslim ini yang berkemungkinan menerima kurniaan makrifat.

Allah swt menyampaikan hamba-Nya di sini adalah tanda bahwa si hamba tersebut dipersiapkan untuk menemui-Nya. Aslim adalah makam tertinggi untuk menghampiri Allah swt. Seseorang yang sampai kepada makam ini haruslah terus membenamkan dirinya ke dalam lautan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amal yang dimilikinya. Sekiranya Allah swt kehendaki dari makam inilah hamba diangkat ke Hadrat-Nya.

Jalan Aslim menuju pintu gerbang makrifat pada umumnya terbagi kepada dua;
1. Jalan orang yang mencari dan
2. Jalan orang yang dicari.

Penjelasan :
1. Orang yang mencari akan melalui jalan di mana dia kuat melakukan mujahadah (perjuangan/usaha), Berjuang melawan godaan hawa nafsu, kuat melakukan amal ibadat dan gemar menuntut ilmu. Zahirnya sibuk melaksanakan tuntutan syariat dan batinnya memperteguhkan iman. Dipelajarinya tarekat tasauf, mengenal sifat-sifat yang tercela dan berusaha mengikiskannya daripada dirinya. Kemudian diisikan dengan sifat-sifat yang terpuji. Dipelajarinya perjalanan nafsu dan melatihkan dirinya agar semakin lepas dari nafsunya itu agar menjadi bertambah suci hingga meningkat ke tahap yang diredai Allah swt. Inilah orang yang dimaksudkan Allah swt dalam firman-Nya :

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik" ( QS. Al 'Ankabuut 29 : 69 )

"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya".[1565] ( QS. Al Insyiqaaq 84 : 6 )


[1565]. Maksudnya: manusia di dunia ini baik disadarinya atau tidak adalah dalam perjalanan kepada Tuhannya. Dan tidak dapat tidak dia akan menemui Tuhannya untuk menerima pembalasan-Nya dari perbuatannya yang buruk maupun yang baik.

Orang yang bermujahadah pada jalan Allah swt dengan cara menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang dituntut, memperbanyakkan ibadat, berzikir, menyucikan hati, maka Allah swt menunjukkan jalan dengan memberikan taufik dan hidayat sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri kepada Allah swt tanpa ragu-ragu dan ridha dengan aturan/perlakuan Allah swt. Dia akan dibawa kedekat pintu gerbang makrifat dan hanya Allah swt saja yang menentukan apakah orang tadi akan dibawa ke Hadrat-Nya ataupun tidak, dikurniakan makrifat ataupun tidak.


2. Golongan orang yang dicari menempuh jalan yang berbeda daripada golongan yang mencari. Orang yang dicari tidak cenderung untuk menuntut ilmu atau beramal dengan tekun. Dia hidup selaku orang awam tanpa kesungguhan bermujahadah. Tetapi, Allah swt telah menentukan satu kedudukan kerohanian kepadanya, maka takdir akan menyeretnya sampai ke kedudukan yang telah ditentukan itu. Orang dalam golongan ini biasanya berhadapan dengan sesuatu peristiwa yang dengan serta-merta membawa perubahan kepada hidupnya. Perubahan sikap dan kelakuan berlaku secara mendadak. Kejadian yang menimpanya selalu berbentuk ujian yang memutuskan hubungannya dengan sesuatu yang menjadi penghalang antaranya dengan Allah swt.

Semisalnya dia seorang raja yang beban kerajaannya menyebabkan dia tidak mampu mendekati Allah swt, maka Allah swt mencabut kerajaan itu daripadanya. Terlepaslah dia daripada beban tersebut dan saat itu juga timbul satu keinsafan di dalam hatinya, yang membuatnya menyerahkan diri kepada Allah swt dengan sepenuh hatinya. Sekiranya dia seorang hartawan takdir akan memupuskan hartanya sehingga dia tidak ada tempat bergantung kecuali Tuhan sendiri. Sekiranya dia berkedudukan tinggi, takdir mencabut kedudukan tersebut dan ikut tercabut kemuliaan yang dimilikinya dan digantikan pula dengan kehinaan sehingga dia tidak ada tempat untuk dituju lagi kecuali kepada Allah swt.

Orang dalam golongan ke dua ini dihalang oleh takdir daripada menerima bantuan daripada makhluk. Sehingga mereka berputus asa terhadap makhluk. Lalu mereka kembali dengan penuh kerendahan hati kepada Allah swt dan timbullah dalam hatinya suasana penyerahan atau aslim yang benar-benar terhadap Allah swt.

Penyerahan yang tidak mengharapkan apa-apa daripada makhluk menjadikan mereka ridha dengan apa saja takdir dan perlakuan Allah swt. Suasana begini membuat mereka sampai dengan cepat ke perhentian pintu gerbang makrifat walaupun ilmu dan amal mereka masih sedikit. Orang yang berjalan dengan kendaraan bala bencana dan tetap dalam istiqamah (ridha dalam perlakuan Allah swt) akan lebih cepat sampai ke pintu gerbang kema’rifatan.

Abu Hurairah r.a menceritakan, yang beliau dengar Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya : Allah berfirman: “ Apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman kemudian dia tidak mengeluh kepada pengunjung-pengunjungnya maka Aku lepaskan dia dari belenggu-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari yang dahulu dan dia boleh memperbaharui amalnya sebab yang lalu telah diampuni semua”.

Amal kebaikan dan ilmunya tidak mampu membawanya kepada kedudukan kerohanian yang telah ditentukan Allah swt, lalu Allah swt dengan rahmat-Nya mengenakan ujian bala bencana yang menariknya dengan cepat kepada kedudukan berhampiran dengan Allah swt. 

Akhir kata … semoga kita semua diberikan taufik dan hidayah-Nya untuk memperoleh pengertian-pengertian seperti ini meskipun tidak sekarang.  Sehingga kita benar-benar mengerti makna dari Hakikat berMa’rifatullah.
Jadi ternyata ber-MAKRIFATULLAH bukan sekedar “ngelmu-ngelmuan dan atau berharap dari amal-amalan"Jalan tertinggi dalam makam berma’rifatullah adalah “bersabar dalam perjuangan dengan segala Ujian-ujian (perlakuan-Nya)” – yang sering kita dengan sebutan RIDHA.

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait