Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Jati diri

“ Kenali dirimu maka kamu akan mengenali Tuhanmu “

 
Kata – kata ini sering kita dengar dan mungkin sering kita ucapkan, dalam bahasa asingnya adalah “be your self”.  Akan tetapi sangat jarang orang yang mampu mengerti, kemudian menjalankan proses ini, apalagi untuk memahaminya!. Karena hanya orang-orang yang berhati luas dan ulet saja yang akan mampu hingga mencapai “hakekat” dari kata bijak tersebut.

Suatu hari di satu padepokan “Spiritual” seorang pembimbing menerima tamu. Tamu tersebut menyampaikan niatnya, “agar pembimbing ini menerima dia sebagai “jama’ah baru” atau “bimbingan baru” dalam pencarian jati diri. Tamu ini memiliki keyakinan apabila dia mengenal  hingga memahami siapa dirinya sebenarnya (jati diri), maka secara otomatis dia juga akan memahami tugas-tugasnya di dunia.

Tamu ini bercerita kalau dia telah berjalan mencari jati diri semenjak kelas 3 SMA, saat ini dia telah berumur 30 Thn. Dari satu padepokan ke padepokan, bertanya dari orang muda hingga tua, dari orang jahat hingga orang bijak, akan tetapi semua jawaban yang diberikan belum melegakan hatinya. Dia juga berjanji “ apabila ada orang yang mampu menunjukkan jalan bahkan hingga berkenan untuk membimbingnya sampai tujuan”, maka dia akan berguru kepada orang tersebut”. 

Mendengar hal itu, pembimbing spiritual yang didepannya hanya tersenyum hingga bertanya kepada tamu itu “ dari pengalaman perjalanan yang sudah lama dilakukan…menurut mas…siapakah diri mas sebenarnya ?”, dengan lantang tamu itu menjawab “ aku adalah prabu….(redaksi)…”, “kenapa kok anda begitu yakin?” tanya pembimbing. “ Dari jawaban yang saya dapat dan saya simpulkan dari perjalanan saya, baik itu dari bertanya kepada para orang bijak ataupun dari perenungan saya sendiri!”, jawab tamu.

Dengan suara yang lembut pembimbing memerintahkan tamu itu untuk berlari mengelilingi padepokan sebanyak 1 keliling, walaupun dengan sedikit kebingunan dan ragu, tamu itu berlari sesuai arahan dari pembimbing. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, tamu menghampiri pembimbing untuk melaporkan kalau dia telah selesai menjalankan perintah pembimbing. Pembimbing bertanya “sudahkah mengerti mas?”, dengan kebingungan tamu menjawab “ belum!”. Pembimbing memerintahkan untuk berlari kembali. Hal itu berulang hingga 3x.

Kemudian pembimbing menancapkan tongkatnya di tengah pelataran padepokan, saat itu matahari mulai menggelincir ke arah barat. Sehingga bayangan tongkat berada di sebelah timur. Pembimbing bertanya kepada tamu “mana raja yang mas akui sebagai diri mas?, kalau andaikan mas ini raja…mana mau saya perintahkan untuk berlari mengelilingi padepokan saya selama 3x!”, kemudian pembimbing bertanya lagi “ sudahkan mengerti dan memahaminya?”, “belum!” jawab tamu. 

“Tongkat ini adalah mas sekarang ini, arah barat yang ada mataharinya adalah masa depan sedangkan bayangan dari tongkat adalah raja yang mas sebutkan, berarti itu adalah masa lalu”, kemudian pembimbing bertanya lagi “mas ada di mana sekarang?”, dengan suara pelan tamu menjawab “masa sekarang”. Berarti jati diri mas adalah seperti sosok yang saya lihat sekarang dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mendengar jawaban itu tamu langsung duduk, menangis dan mengikrarkan dirinya untuk menjadi bimbingan dari pembimbing spiritual tersebut.

Dengan mengambil intisari dari cerita perjalanan spiritual si tamu, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa yang disebut dengan “be your self” , “jati diri”, hingga menuju “ Kenali dirimu maka kamu akan mengenali Tuhanmu “ adalah saat kita  menyadari segala kekurangan dan kelebihan yang ada didalam diri kita (eling), maka saat itulah kita menyadari tentang siapa kita (sadar) dan secara otomatis kita akan mengenali Tuhan , karena akan selalu bersyukur dalam segala keadaan (waspada), sehingga dalam kehidupan sehari-hari akan bisa dan mampu menjalankan “Hidup Yang Baik Dengan Cara Yang Betul”. Tuhan akan selalu menjadi cermin untuk setiap langkahnya.

Orang yang telah mengenali dirinya sendiri dalam setiap gerak langkahnya akan selalu bersyukur. Tuhan berfirman dalam Surat ar-Rahman ayat 13 ; "maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? "

Dan di jelaskan Tuhan dalam QS. Luqman ayat 31 ; " Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaa)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur".

Dari kedua Surat tersebut Tuhan ingin menunjukkan bahwa ni’mat yang Tuhan berikan kepada manusia itu tidak bisa diingkari keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya.

Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi ni’mat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran itu; mereka mendustakannya!

Maka ni’mat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan! Kita telah diberikan nikmat sehat , bergelimang kenikmatan,  sukses dalam sekolah dan karir.

Tuhan berfirman : "Apabila kamu menghitung nikmat Allah ( yang diberikan kepadamu ) maka engkau tidak akan mampu (karena terlalu banyak)".

Sehingga bagi setiap Manusia yang telah memahami siapa dirinya dan siapa Tuhannya….dalam setiap praktek hidupnya akan menjadi manusia yang “ Rahmatan Lil alamin” atau “ Hamemayu Hayuning Buwono “, dimana kedua bahasa tersebut mengandung makna “Merahmati seluruh alam” bukan satu golongan saja. Yang pada akhirnya orang  tersebut menjadi orang yang sebenarnya “Islam”, yaitu orang yang diterima oleh seluruh alam semesta.

Intisari :
1. Jati diri adalah Kita (perseorangan) mengerti, memahami dan mensyukuri segala kelebihan dan kekurangan yang telah diberikan oleh Tuhan. Sehingga memiliki keyakinan penuh untuk selalu berbuat yang terbaik pada seluruh alam semesta. Tuhan selalu tercermin di dalam setiap detak jantung, tarikan nafas hingga gerak tubuh.

2. Untuk mengerti hingga memahami segala sesuatu tentang diri, kita harus berjalan ( mengalami secara jiwa dan raga) secara langsung, tidak hanya sekedar membaca buku-buku pedoman kebaikan ataupun mendengar dari orang-orang yang bijak.

3. Dalam kita menyampaikan sesuatu hal yang baik pada orang lain kita harus mengikuti pola pandang, pola sikap dari orang yang bertanya kepada kita, seperti yang di contohkan diatas, sehingga orang yang bertanya benar-benar faham dan yakin. Kebanyakan dari "penyampai" langsung potong kompas (..tertulis dikitab ini, yang bunyi ayatnya begini.....), sehingga bagi orang yang mulai terbuka fikirannya menjadi "kuncup" lagi (dogmatis).

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait