Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Khitan dan Keislaman

Gambar gua dari Mesir Purba tentang sunat, pada dinding dalam Temple of Khonspekhrod, sekitar 1360 SM.

 
Khitan
Bagi orangtua yang dikaruniai anak laki-laki, Khitan (sirkumsisi) tidak hanya dimaksudkan sekadar memotong kulup, tetapi memiliki makna lebih daripada hanya memotong kulup. Khitan adalah identitas kefitrahan. Dalam bahasa lain, khitan disebut dengan sunat/sunatan, yang bermakna tuntunan agama atau ajaran Nabi. Dalam bahasa lain, khitan juga disebut selam. Kata ini berdekatan dengan istilah kata Islam atau istislam, yang berarti identitas Islam atau tanda penyerahan diri pada Tuhan.         

Lebih daripada itu, tradisi khitan bermakna meniti dan melestarikan jejak langkah Nabi Ibrahim. Selain itu, dunia kesehatan modern sekarang ini, khitan terbukti memberikan manfaat yang luar biasa, antara lain :

# Menjaga kebersihan #
Khitan membuat pria lebih mudah membersihkan organ intimnya. Kebersihan organ intim tentu bisa melindungi pria dari berbagai penyakit menular yang mematikan.

# Mencegah infeksi #
Sebenarnya risiko serangan infeksi saluran kemih pada pria tidak begitu tinggi ketimbang wanita. Namun infeksi lebih mudah menyerang pria yang organ intimnya tidak dikhitan.

# Mencegah penyakit #
Pria yang sudah dikhitan memiliki risiko rendah untuk terkena penyakit menular seksual, salah satunya adalah HIV. Namun tetap saja, seks dengan pengaman tetap dianjurkan meski sudah berkhitan.

# Mencegah inflamasi #
Bagian ujung organ intim pria merupakan tempat tumbuhnya banyak bakteri. Jika tidak dikhitan, pria berisiko menderita inflamasi yang berujung pada berbagai masalah kesehatan.

# Mencegah kanker #
Terakhir dan tidak kalah penting, manfaat khitan bagi kesehatan pria adalah mencegah kanker. Bahkan pria yang berkhitan juga membantu pasangan menurunkan risiko kanker serviks.

 
Dalam beberapa riwayat tertulis bahwa Nabi Ibrahim mendapatkan titah berkhitan pada saat berumur 80 tahun. Begitu menerima titah, deklarator "agama yang lurus" ini bersegera melakukan khitan. Riwayat hadits menyatakan beliau berkhitan di suatu tempat bernama Qaddum. Qaddum adalah suatu daerah di wilayah Suriah. Tetapi ada sebagian ulama yang mengartikan Qaddum bukan sebagai suatu tempat, namun nama suatu alat yang digunakan oleh tukang kayu. Qaddum diartikan kapak. Nabi Ibrahim berkhitan dengan kapak.

Nabi Ibrahim lalu menetapkan ajaran ini pada anak-anak keturunannya. Putera beliau, Nabi Ismail, beliau khitan kala berumur 13 tahun, sedang Nabi Ishaq beliau khitan kala berumur 7 hari. Dan Nabi Muhammad SAW., yang merupakan anak keturunan Nabi Ibrahim, menurut satu riwayat, begitu lahir telah dalam kondisi berkhitan.         

Khitan bisa kita lakukan pada anak ketika berumur 13 tahun, ketika masih bayi umur 7 hari, ketika umur 10 tahun, atau kapan pun, namun, khitan haruslah telah dilakukan menjelang anak laki-laki kita memasuki masa akil baligh. Sahabat Ibnu Abbas yang dikhitan pada umur 13 tahun menyatakan, “Mereka (generasi sahabat) tidak mengkhitankan anak laki-laki sehingga menjelang akil baligh.” Artinya, menjelang umur akil baligh, anak laki-laki mereka lazimnya telah dikhitan. Pakar tafsir Al-Qur’an generasi pertama ini menyatakan, “Orang tidak khitan tidak diterima shalatnya dan tidak boleh dimakan sesembelihannya.”         

Di balik khitan pada dasarnya ada makna agung, yaitu anak diingatkan, didekatkan, dan dilekatkan dengan millah Nabi Ibrahim. Dan millah Nabi Ibrahim tiada lain adalah agama Islam. Beliau sosok yang hanif (lurus), muslim, dan bukan termasuk orang-orang musyrik. Dalam tradisi Arab, orang yang khitan disebut hanif. Kedudukan khitan bagi anak tak ubahnya baiat, ikrar, peresmian, pelantikan, sumpah pengukuhan, dan janji kesetiaan untuk memeluk agama Islam sepanjang nyawa dikandung badan.

Selain itu, fakta empiris menunjukkan bahwa tradisi agama Islam ini secara medis berfungsi melindungi anak dari radang pada batang penis, melindungi anak dari radang saluran kencing, melindungi anak dari penyakit kelamin, memberikan perlindungan dari penyakit kanker, dan sebagainya.

Tradisi Walimah Khitan
Atas dasar ini, momentum khitan bila dirayakan tentu tidak ada masalah, baik, sebagai ekspresi syukur, membuat senang anak, membahagiakan tetangga, anak-anak, dan kaum masakin, serta perjamuan dan kedermawanan. Bukan suatu kemubadziran. Sejak berabad-abad silam telah dikenal istilah walimah khitan, yang disebut dengan “al-ghadirah”, sebagaimana walimah pernikahan (walimatul urs) dan aqiqah. Secara terang dalil dianjurkannya walimah khitan bisa dilihat dalam Adabul Mufrad karya Al-Bukhari bab ke-596.

Hukum Khitan
Hukumnya wajib  bagi  laki-laki  dan  sunnah  bagi  wanita. Penyebab perbedaan di antara keduanya adalah: bahwa khitan bagi laki-laki mengandung mashlahat (kebaikan) yang kembali kepada salah satu syarat sah shalat dan dalam bersuci (thaharah). Karena bila tetap kulup (tidak dikhitan), apabila air kencing keluar dari lobang ujung  zakar  (kemaluan  lelaki)  niscaya  ada  yang  tertinggal  dan  berkumpul  di kulup  dan  menjadi  penyebab  penyakit,  bisa  jadi  infeksi  atau  radang  (di kemaluan),  atau  setiap  kali  ia  bergerak  keluarlah  kotoran  darinya,  maka  ia menjadi najis karena hal itu.         

Adapun wanita, kesudahan faedahnya adalah mengurangi syahwatnya. Ini adalah tuntutan kesempurnaan dan bukan dari sisi menghilangkan penyakit. Para ulama menyebutkan syarat kewajiban khitan bahwa ia tidak merasa khawatir terhadap  dirinya. Jika ia merasa khawatir terhadap dirinya dari kebinasaan atau  sakit,maka ia tidak wajib, karena kewajiban  menjadi tidak wajib bila tidak mampu, atau takut binasa atau bahaya.

 Dalil wajib khitan bagi laki-laki
Khitan merupakan bagian dari syariat Islam. Khitan dalam agam Islam termasuk bagian dari  fitrah. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Fitrah itu ada lima perkara : khitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis “  (H.R Muslim 257).  

 

Yang dimaksud dengan fitrah adalah sunnah yang merupakan ajaran agama para Nabi. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, Fitrah ada dua jenis ;

Fitrah Pertama adalah fitrah yang berkaitan dengan hati, yaitu ma’rifatullah (mengenal Allah) dan mencintai-Nya serta mengutamakan-Nya lebih dari yang selain-Nya.

Fitrah Kedua yaitu fitrah amaliyyah, yaitu fitrah yang disebutkan dalam hadits di atas. Fitrah jenis yang pertama menyucikan ruh dan membersihkan hati sedangkan fitrah yang kedua menyucikan badan. Keduanya saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Yang utama dan pokok dari fitrah badan adalah khitan”

Pertama, disebutkan dalam banyak hadits bahwa Nabi  menyuruh orang yang masuk Islam agar berkhitan, dan asal perintah adalah menunjukkan wajib.  

Hadist Nabi Muhammad : “Buanglah darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah.”  (H.R Abu Dawud 356, dihasankan oleh Syaikh Al Albani  dalam Al Irwa’ 79)

 

Kedua, khitan adalah perbedaan di antara muslim dan yang lain. Mereka  berkata:  khitan  adalah  ciri  khas,  apabila merupakan  ciri  khas,  maka  hukumnya  wajib  karena  wajib  membedakan  di antara  kafir  dan  muslim,  dan  karena  ini  diharamkan menyerupai  orang  kafir, berdasarkan sabda Nabi :

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari mereka."

Ketiga, khitan adalah memotong salah satu anggota tubuh, dan memotong salah satu anggota tubuh hukumnya haram, dan yang haram tidak dibolehkan kecuali untuk sesuatu yang wajib. Maka atas dasar ini khitan hukumnya wajib.

Keempat, sesungguhnya khitan dilaksanakan oleh wali anak yatim, hal itu merupakan  tindakan  melewati  batas  terhadapnya  dan  terhadap  hartanya, karena  ia  akan  memberi  upah  kepada  tukang  khitan.  Jika  tidak  wajib  tentu tidak boleh melakukan tindakan melewati batas terhadap badannya.

Kelima, Diperbolehkan membuka aurat pada saat khitan, padahal membuka aurat sesuatu yang dilarang. Ini menujukkan bahwa khitan hukumnya wajib, karena tidak diperbolehkan melakukan sesuatu yang dilarang kecuali untuk sesuatu yang sangat kuat hukumnya.

Keenam, Khitan menjaga tubuh dari najis yang merupakan syarat sah shalat. Apabila tidak dikhitan, maka sisa air kencing akan tertahan pada kulup yang menutupi kepala penis. Khitan adalah memotong kulup yang menutupi kepala penis sehingga tidak ada lagi sisa air kencing yang tertahan. Dengan demikian, khitan menjadikan tubuh bebas dari najis. [3]

Semua  dalil  secara  riwayat  dan  teori  ini  menunjukkan  wajibnya  khitan terhadap laki-laki. Adapun wanita, terhadap kewajiban perlu ditinjau lebih jauh, maka  pendapat  yang  paling  nampak  bahwa  hukumnya  wajib  bagi  laki-laki bukan bagi wanita. Dan ada hadit dha'if yang berbunyi:
"Khitan sunnah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi wanita."

Pertanyaan: apakah khitan merupakan syarat sah masuk Islam?
Jawaban:  Segala  puji  hanya  bagi  Allah   semata.  Adapun sesudah itu: khitan termasuk sunnah fithrah bagi laki-laki dan wanita. Sepantasnya bagi para da'i agar membiarkan persoalan khitan (tidak membahas) saat berdakwah kepada orang-orang kafir untuk masuk Islam –apabila hal itu dipandang bisa menyebabkan dia lari  dari  Islam-.  Sesungguhnya  Islam  dan  ibadah  sah  tanpa  berkhitan.  Dan setelah Islam menetap di hatinya, ia akan merasa disyari'atkannya khitan.

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait