Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Makna mengabdi pada Tuhan

Tugas Manusia di Dunia
Untuk apakah manusia diciptakan Tuhan di dunia ini ? Menurut Al-Qur’an Tuhan berfirman :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariyaat 51:56)

Keutamaan dalam beribadah adalah tafakur
Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa tafakkaruu fiiLlahi, berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah”. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas ini menurut Syaikh Nashiruddin Al-Bani dalam kitab Shahihul Jami’ish Shaghir dan Silsilahtu Ahadits Ash-Shahihah berderajat hasan.

Hadits itu berbicara tentang salah satu ciri khas manusia yang membedakannya dari makhluk yang lain, bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir. Dengan kemampuan itulah manusia bisa meraih berbagai kemajuan, kemanfaatan, dan kebaikan. Namun, sejarah juga mencatat bahwa tidak sedikit manusia mengalami kesesatan dan kebinasaan akibat berpikir.
Berdasarkan hadist diatas dapatlah disimpulkan bahwa arti dari tafakur adalah berfikir tentang ciptaan Allah.

"Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya". (QS.Yusuf 12:105)

Bertafakur ke atas ciptaan Allah mengandungi banyak manfaat. Yang terbesar dari manfaat itu adalah, ia menyadarkan kita tentang Sang Pencipta. Apabila kita mengenaliNya, kita akan menaatiNya, dan apabila kita menaatiNya, kita akan meraih kejayaan dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat kelak.
   
Miqdad adalah salah seorang sahabat dekat Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib as. Suatu ketika, beliau mendengar salah seorang sahabat Rasulullah saw berkata bahawa beliau mendengar Rasulullah saw bersabda, “Bertafakur satu jam lebih utama dari beribadah selama setahun”. Beliau (Miqdad) juga mendengar dari seorang sahabat yang lain yang berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah saw bersabda, “Bertafakur satu jam lebih utama dari beribadah selama tujuh tahun”. Beliau (Miqdad) juga mendengar dari seorang lagi sahabat yang berkata bahawa beliau mendengar Rasululllah saw bersabda, “Bertafakur satu jam lebih utama dari beribadah selama tujuhpuluh tahun”.

Miqdad lalu mendatangi Rasulullah SAW dan memberitahu Baginda saaw tentang tiga versi hadis yang beliau dengar dari tiga orang sahabat itu tadi. Rasulullah saaw memberitahunya bahawa ketiga tiga hadis tersebut benar. Untuk membuktikan kebenarannya, Rasulullah saaw memanggil ketiga-tiga orang sahabat itu tadi.

Baginda saw bertanya kepada sahabat yang pertama, “Bagaimana engkau bertafakur?”. Sahabat itu menjawab, “Allah berfirman di dalam kitabNya;

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. ” (QS Ali Imran:191).

Aku juga memikirkan tentang kejadian langit dan bumi”. Lalu Rasulullah saw bersabda, “Satu jam dari tafakurmu adalah lebih utama dari ibadah selama satu tahun”.

Baginda saw lalu bertanya pada sahabat yang kedua tentang tafakurnya. Sahabat itu menjawab, “Aku memikir dan merenungkan tentang kematian dan ketakutan hari Qiamat”. Rasulullah saaw lalu bersabda, “Satu jam dari tafakurmu itu lebih utama dari ibadah selama tujuh tahun”.

Baginda saw lalu bertanya kepada sahabat yang ketiga akan tafakurnya. Sahabat itu menjawab, “Aku membayangkan akan api neraka dan azab serta kepedihannya”. Lalu Rasulullah saw bersabda, “Satu jam dari tafakurmu itu lebih utama dari ibadah selama tujuhpuluh tahun” [Tafsir Ruhul Bayan]

Imam Jaafar as Shadiq as berkata, “Shalat dan puasa yang lama tempohnya bukanlah ibadah, namun lamanya bertafakur itulah ibadah sebenar” [Al Kafi]

Imam Jaafar as Shadiq as juga berkata, “Ibu Abu Dzar pernah ditanya tentang ibadahnya Abu Dzar. Beliau menjawab, “Beliau akan mengasingkan dirinya dari orang ramai dan bertafakur” [Bihar al Anwar]
Tafakur lainnya adalah berfikir sebelum kita membuat sesuatu tindakan. Kita harus memikirkan hasil dan akibat dari setiap tindakan yang bakal kita ambil itu.

Seorang sahabat Rasulullah saw mengadu pada Baginda saw, “Aku sering mengalami kerugian di dalam perusahaanku. Aku sering ditipu. Apakah yang perlu aku lakukan ya Rasulullah saw?”Baginda saw menjawab, “Di dalam setiap urusan perusahaanmu yang engkau khawatir ditipu, tetapkanlah kepada mereka yang engkau berurusan itu tempoh selama tiga hari pembatalan urus niaga. Dengan cara ini, jika engkau tertimpa kesusahan, engkau bisa mendapatkan kembali uangmu”.

Rasulullah saw kemudian bersabda lagi, “Ketahuilah bahwa kesabaran dan tafakur itu datang dari Allah, sedang tergesa-gesa itu adalah dari syaitan. Ambillah pelajaranmu dari seekor anjing! Ketika engkau melemparkan kepadanya sepotong roti, ia tidak segera memakannya, ia terlebih dahulu menciumnya, dan andai ia dapati itu sesuai dengan seleranya, barulah ia memakannya. Seperti itulah engkau harus perbuat (yakni dengan mempertimbangkan buruk dan baik akan apa yang engkau akan lakukan dan tidak terus melakukannya).

Dengan akal dan kebijaksanaanmu, engkau jauh lebih baik dari seekor anjing, maka berfikir dan bertafakurlah sebelum engkau melakukan sesuatu pekerjaan itu”

KEUTAMAAN TAFAKUR
1. Allah memuji orang-orang yang senantiasa bertafakur dan berdzikir dalam setiap situasi dan kondisi dengan menceritakannya secara khusus dalam Al-Qur’an di surat Ali Imran ayat 190-191. Sa’id Hawa dalam Al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil Anfus halaman 93 berkata, “Dari ayat ini kita memahami bahwa kemampuan akal tidak akan terwujud kecuali dengan perpaduan antara dzikir dan pikir pada diri manusia. Apabila kita mengetahui bahwa kesempurnaan akal berarti kesempurnaan seorang manusia, maka kita bisa memahami peran penting dzikir dan pikir dalam menyucikan jiwa manusia. Oleh karena itu, para ahli suluk yang berupaya mendekatkan diri kepada Allah senantiasa memadukan antara dzikir dan pikir di awal perjalanannya menuju Allah. Sebagai contoh, di saat bertafakur tentang berbagai hal, mereka mengiringinya dengan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.”

2. Tafakur termasuk amal yang terbaik dan bisa mengungguli ibadah. Ada atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban berbunyi, “Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.” Kenapa begitu? Karena, berpikir bisa memberi manfaat-manfaat yang tidak bisa dihasilkan oleh suatu ibadah yang dilakukan selama setahun. Abu Darda’ seorang sahabat yang terkenal sangat abid pernah ditanya tentang amalan yang paling utama, ia menjawab, “Tafakur.” Dengan tafakur seseorang bisa memahami sesuatu hingga hakikat, dan mengerti manfaat dari yang membahayakan. Dengan tafakur, kita bisa melihat potensi bahaya hawa nafsu yang tersembunyi di dalam diri kita, mengetahui tipu daya setan, dan menyadari bujuk rayu duniawi.


3. Tafakur bisa mengantarkan kita kepada kemuliaan dunia dan akhirat. Ka’ab bin Malik berkata, “Barangsiapa menghendaki kemuliaan akhirat, maka hendaknyalah ia memperbanyak tafakur.” Hatim menambahkan, “Dengan merenungi perumpamaan, bertambahlah ilmu pengetahuan; dengan mengingat-ingat nikmat Allah, bertambahlah kecintaan kepadaNya; dan dengan bertafakur, bertambahlah ketakwaan kepadaNya.” Imam Syafi’i menegaskan, “Milikilah kepandaian berbicara dengan banyak berdiam, dan milikilah kepandaian dalam mengambil keputusan dengan berpikir”. (lihat Mau’idhatul Mu’minin)

4. Tafakur adalah pangkal segala kebaikan. Ibnul Qayyim berkata, “Berpikir akan membuahkan pengetahuan, pengetahuan akan melahirkan perubahan keadaan yang terjadi pada hati, perubahan keadaan hati akan melahirkan kehendak, kehendak akan melahirkan amal perbuatan". Jadi, berpikir adalah asas dan kunci semua kebaikan. Hal ini bisa menunjukkan kepadamu keutamaan dan kemuliaan tafakur, dan bahwasanya tafakur termasuk amalan hati yang paling utama dan bermanfaat sampai-sampai dikatakan, ‘Tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah setahun’. Tafakur bisa mengubah dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari hal-hal yang dibenci Allah menuju hal-hal yang dicintaiNya, dari ambisi dan keserakahan menuju zuhud dan qana’ah, dari penjara dunia menuju keluasan akhirat, dari kesempitan kejahilan menuju bentangan ilmu pengetahuan, dari penyakit syahwat dan cinta kepada dunia menuju kesembuhan ruhani dan pendekatan diri kepada Allah, dari bencana buta, tuli, dan bisu menuju nikmat penglihatan, pendengaran, dan pemahaman tentang Allah, dan dari berbagai penyakit syubhat menuju keyakinan yang menyejukkan hati dan keimanan yang menentramkan.” (Miftah Daris Sa’adah: 226).

BUAH TAFAKUR
1. Kita akan mengetahui hikmah dan tujuan penciptaan semua makhluk di langit dan bumi sehingga menambah keimanan dan rasa syukur.

"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya". (QS. Ar-Ruum 30:8)

2. Kita bisa membedakan mana yang bermanfaat sehingga bersemangat untuk meraihnya, mana yang berbahaya hingga berusaha mengindarinya.

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. (Al-Baqarah: 219)

3. Kita bisa memiliki keyakinan yang kuat mengenai sesuatu, dan menghindari diri dari sikap ikut-ikutan terhadap opini yang berkembang.

Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras[1244]. (QS. Saba' 34:46)

[1244]. Berdua-dua atau sendiri-sendiri maksudnya ialah bahwa dalam menghadap kepada Allah, kemudian merenungkan keadaan Muhammad s.a.w. itu sebaiknya dilakukan dalam keadaan suasana tenang dan ini tidak dapat dilakukan dalam keadaan beramai-ramai.

4. Kita bisa memperhatikan hak-hak diri kita untuk mendapatkan kebaikan, sehingga tidak hanya berusaha memperbaiki orang lain dan lupa pada diri sendiri.

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?" (QS. Al-Baqarah 2:44)

5. Kita bisa memahami bahwa akhirat itu lebih utama, dan dunia hanya sarana untuk membangun kebahagiaan akhirat.

"Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul), dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?" (QS. Yusuf 12:109)

 

"Dan apa saja[1130] yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah ke- nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?" (QS-Qashash 28:60)
[1130]. Maksudnya: hal-hal yang berhubungan dengan duniawi seperti, pangkat kekayaan keturunan dan sebagainya.

6. Kita bisa menghindari diri dari kebinasaan yang pernah menimpa orang-orang sebelum kita.

"Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu". (QS. Muhammad 47:10)

7.      Bisa menghindari diri dari siksa neraka karena bia memahami dan mengamalkan ajaran agama dan meninggalkan kemaksiatan dan dosa-dosa, terutama syirik.

"Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS.Al-Mulk 67: 10)

"Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka Apakah kamu tidak memahami?" (QS. Al-Anbiyaa’21:67)

 

BATASAN TAFAKUR
Imam Al-Ghazali berkata, “Ketahuilah bahwa semua yang ada di alam semesta, selain Allah, adalah ciptaan dan karya Allah Ta’ala. Setiap atom dan partikel, apapun memiliki keajaiban dan keunikan yang menunjukkan kebijaksanaan, kekuasaan, dan keagungan Allah Ta’ala. Mendata semuanya adalah sesuatu yang mustahil, karena seandainya lautan adalah tinta untuk menuliskan semua itu niscaya akan habis sebelum menuliskan sepersepuluhnya saja dari semua ciptaan dan karya-Nya.”

Jadi, tafakur adalah ibadah yang bebas dan terlepas dari ikatan segala sesuatu kecuali satu ikatan saja, yaitu tafakur mengenai Dzat Allah.
Saat bertafakur sebenarnya seorang muslim sedang berusaha meningkatkan ketaatan, menghentikan kemaksiatan, menghancurkan sifat-sifat destruktif dan menumbuhkembangkan sifat-sifat konstruktif yang ada dalam dirinya. Berhasil tidaknya hal itu dicapai sangat dipengaruhi banyak faktor, di antaranya:
a. Kedalaman ilmu.
b. Konsentrasi pikiran.
c. Kondisi emosional dan rasional.
d. Faktor lingkungan.
e. Tingkat pengetahuan tentang objek tafakur.
f. Teladan dan pergaulan.
g. Esensi sesuatu.
h. Faktor kebiasaan.


KENAPA KITA DILARANG TAFAKKUR MENGENAI DZAT ALLAH SWT.?
Setidaknya ada dua alasan, yaitu:
1.  Kita tidak akan sanggup menjangkau kadar keagunganNya.
Allah swt. tidak terikat ruang dan waktu. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagi Tuhanmu tidak ada malam, tidak pula siang. Cahaya seluruh langit dan bumi berasal dari cahaya wajah-Nya, dan Dia-lah cahaya langit dan bumi. Pada hari kiamat, ketika Allah datang untuk memberikan keputusan bumi akan tenang oleh cahayaNya”.

"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat". (QS. Asy-syuuraa 42:11)

 

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui". (QS. Al-An’am 6:103)

Ibnu Abbas berkata, “Dzat Allah terhalang oleh tirai sifat-sifat-Nya, dan sifat-sifat-Nya terhalang oleh tirai karya-karya-Nya. Bagaimana kamu bisa membayangkan keindahan Dzat yang ditutupi dengan sifat-sifat kesempurnaan dan diselimunti oleh sifat-sifat keagungan dan kebesaran.”
2.      Kita akan terjerumus dalam kesesatan dan kebinasan.
Memberlakukan hukum Sang Khalik terhadap makhluk ini adalah sikap ghulluw (berlebihan). Itulah yang terjadi di kalangan kaum Rafidhah terhadap Ali r.a. Sebaliknya, memberlakukan hukum makhluk terhadap Sang Khalik ini sikap taqshir. Perbuatan ini dilakukan oleh aliran sesat musyabihhah yang mengatakan Allah memiliki wajah yang sama dengan makhluk, kaki yang sama dengan kaki makhluk, dan seterusnya. Semoga kita bisa terselamatkan dari kesesatan yang seperti ini. Amiin.

Bertafakur satu jam lamanya adalah lebih baik dari pada beribadah selama satu tahun.

Sebaik-baiknya Ibadah adalah bertafakur tentang Alloh dan kekuasaan-Nya.

Tafakur merupakan kunci untuk membuka pintu Ma’rifat dan mempelajari Rohani yang tersembunyi.

Arti ibadah
Ketahuilah bahwa bebas dari kesibukan lain demi tenggelamnya dalam ibadah, dapat terjadi bila memiliki waktu yang luang dan hati yang masih kosong . Hal ini merupakan salah satu hal amat penting dalam ibadah, yang tanpa hal ini, kehadiran hati tidak mungkin terjadi, dan ibadah yang dilakukan tanpa kehadiran hati tidak ada nilainya.

Yang membuat hati hadir itu ada dua. Yang pertama adalah memiliki waktu yang luang dan hati yang masih belum disibukan oleh apapun. Sedangkan yang ke dua adalah membuat hati memahami penting ibadah, yang dimaksud waktu luang’ adalah kita harus menyisihkan waktu kita khusus untuk Ibadah di mana kita harus mencurahkan diri semata-mata untuk ibadah tanpa di ganggu pemikiran atau kesibukan lain. Sebagai contohnya adalah Orang yang saleh selalu memperhatikan waktu waktu ibadahnya dalam keadaan apapun.

Secara bahasa ibadah berarti tunduk dan taat. Sedangkan menurut istilah, ibadah berarti segala perkataan dan perbuatan yang dicintai serta diridhai Allah swt, baik yg bersifat lahir (nampak) maupun bathin (tersembunyi).

Mengabdi Pada Tuhan
Dengan mengetahui, memahami dan kemudian menjalankan apa yang tertuang pada definisi ibadah diatas maka itulah yng disebut dengan mengabdi pada Tuhan.

Untuk lebih jelasnya cara beribadah yang untuk kemudian menjadi pengabdian kita pada Tuhan dapat dibagi mnjadi tiga tahapan, sebagai berikut : 
Tahap I. Bekerjalah Untuk-KU
Engkau harus mengerti bahwa pekerjaan apapun yang kau lakukan di dunia ini hal itu telah terkait dengan tuhan karena Dia adalah penguasa tertinggi di Dunia.

"Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". (QS. Al Insaan 76:30)

Tahap II. Semata-mata Demi AKU
Apapun yang kau kerjakan tidak kau lakukan untuk kebaikan untuk dirimu sendiri. Siapakah engkau sebenarnya ?
Tuhan berkata : “Akulah yang bersinar dalam dirimu” kata Aku ini timbul dari yang Esa, dari ROH itu sendiri.
“Apapun yang kau lakukan, lakukanlah bagi kepuasan-Ku, demi Aku.
Kerjakanlah semua atas nama-KU.
Bertindaklah sebagai alat-Ku, sadarlah bahwa semua yang kau lakukan hanyalah demi Aku. Disini kata “Milik-Ku atau “Aku” menunjukan ROH, bukan badan Jasmani.


Tahap III. Berbaktilah Hanya Kepada-KU
Engkau harus mengerti petunjuk ini.
Bakti adalah pernyataan taqwa.
Emosi yang dinamakan taqwa memancar dari ROH.
Taqwa yang sebenarnya berarti bakti, adalah sebutan untuk ROH.
Prinsip taqwa yang memancar dari lubuk hati ini harus menjiwai setiap perbuatan, perkataan dan pikiran.
Hal ini akan terjadi bila engkau beranggapan bahwa segala sesuatu yang kau lakukan, katakana dan pikirkan, hanya kau perbuat untuk menyenangkan Tuhan saja.
Tidur, makan dan berbagai kegiatan dalam kehidupan sahari-hari kau lakukan karena cintakapada Aku dan Aku timbul dari ROH.  

"Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam". (QS.Al-An’aam 6:162)

“Nilai rahasia kebaikan seorang Hamba berada di tangan TUHAN, bukan bergantung pada hitungan amalan versi kita sendiri/manusia.

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait