Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Makrifat

Siraman Air Hidup
Kandjeng Pangeran Karyanagoro, 2005

Ma’rifat artinya mengetahui, mengenal atau juga bisa disebut pengetahuan, dan dalam arti umum ialah ilmu atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Dalam kajian ilmu tasawuf “Ma’rifat” adalah “mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan”.

Lewat hati sanubarinya, seorang sufi dapat melihat Tuhan. Dan kondisi seperti itu (Ma’rifat) diungkapkan para sufi dengan menyatakan “Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, maka kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah”.

Kondisi Ma’rifat dijelaskan dalam Ensiklopedi Islam bahwa Ma’rifat merupakan cermin. Jika seorang sufi melihat ke cermin, maka yang akan dilihatnya hanya Allah SWT. Artinya bahwa yang dilihat Orang Arif sewaktu tidur maupun bangun hanya Allah . Dengan ungkapan ini terlihat begitu dekatnya seorang sufi dengan Tuhannya, dan kondisi Ma’rifat ini mengisyaratkan bahwa Ma’rifat adalah anugerah dari Tuhan.

Tuhanlah yang berkenan memberikan pengetahuan langsung dengan mengenugerahkan kemampuan kepada orang yang dikehendaki untuk menerima Ma’rifat. Ma’rifat merupakan cahaya yang memancar ke dalam hati, menguasai yang ada dalam diri manusia dengan sinarnya yang menyilaukan. Sekiranya Ma’rifat mengambil bentuk materi, semua orang yang melihat akan mati karena tak tahan melihat kecantikan serta keindahannya, dan semua cahaya akan menjadi gelap di samping cahaya keindahannya yang gilang gemilang.

Sufi pertama yang menonjolkan konsep Ma’rifat dalam tasawufnya adalah Zunnun al-Misri (Mesir, 180 H / 796 M – 246 H / 860 M). Ia disebut “Zunnun” yang artinya “Yang empunya ikan Nun”, karena pada suatu hari dalam pengembaraannya dari satu tempat ke tempat lain ia menumpang sebuah kapal saudagar kaya. Tiba-tiba saudagar itu kehilangan sebuah permata yang sangat berharga dan Zunnun dituduh sebagai pencurinya. Ia kemudian disiksa dan dianiaya serta dipaksa untuk mengembalikan permata yang dicurinya. Saat tersiksa dan teraniaya itu Zunnun menengadahkan kepalanya ke langit sambil berseru: ”Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Tahu”. Pada waktu itu secara tiba-tiba muncullah ribuan ekor ikan Nun besar ke permukaan air mendekati kapal sambil membawa permata di mulut masing-masing. Zunnun mengambil sebuah permata dan menyerahkannya kepada saudagar tersebut.

Dalam pandangan umum Zunnun sering memperlihatkan sikap dan perilaku yang aneh-aneh dan sulit dipahami masyarakat umum. Karena itulah ia pernah dituduh melakukan Bid’ah sehingga ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diadili di hadapan Khalifah al-Mutawakkil (Khalifah Abbasiyah, memerintah tahun 232 H / 847 M – 247 H / 861 M). Zunnun dipenjara selama 40 hari. Selama di dalam penjara, saudara perempuan Zunnun setiap hari mengirimkan sepotong roti, namun setelah dibebaskan, di kamarnya masih didapati 40 potong roti yang masih utuh.

Menurut Abu Bakar al-Kalabazi (W. 380 H / 990 M) dalam al-Ta’aruf li Mazahib Ahl at Tasawwuf (Pengenalan terhadap mazhab-mazhab Ahli Tasawuf), Zunnun telah sampai pada tingkat Ma’rifat yaitu maqam tertinggi dalam Tasawwuf setelah menempuh jalan panjang melewati maqam-maqam: Taubat, Zuhud, Faqir, Sabar, Tawakal, Ridha dan Cinta atau Mahabbah. Kalau Ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dengan hati sanubari, maka Zunnun telah mencapainya. Maka, ketika ditanya tentang bagaimana Ma’rifat itu diperoleh ia menjawab : “Araftu rabbi bi rabbi walau la rabbi lama araftu rabbi”. (Aku mengetahui Tuhanku karena Tuhanku, dan sekiranya tidak karena Tuhanku, niscaya aku tidak akan mengetahui Tuhanku). Kata-kata Zunnun ini sangat populer dalam kajian ilmu Tasawwuf.

Zunnun mengetahui bahwa Ma’rifat yang dicapainya bukan semata-mata hasil usahanya sebagai sufi, melainkan lebih merupakan anugerah yang dilimpahkan Tuhan bagi dirinya. Ma’rifah tidak dapat diperoleh melalui pemikiran dan penalaran akal, tetapi bergantung pada kehendak dan rahmat Tuhan. Ma’rifat adalah pemberian Tuhan kepada Sufi yang sanggup menerimanya.

Selanjutnya ketika mengungkapkan tokoh Zunnun Ensiklopedi Islam menjelaskan bahwa Zunnun membagi Ma’rifat ke dalam tiga tingkatan yaitu:
1. Tingkat awam. Orang awam mengenal dan mengetahui Tuhan melalui ucapan Syahadat.
2. Tingkat Ulama. Para Ulama, cerdik – pandai mengenal dan mengetahui Tuhan berdasarkan logika dan penalaran akal.
3. Tingkat Sufi. Para Sufi mengetahui Tuhan melalui hati sanubari.

Ma’rifat yang sesungguhnya adalah Ma’rifat dalam tingkatan Sufi, sedangkan Ma’rifat pada tingkat awam dan tingkat ulama lebih tepat disebut ilmu. Zunnun membedakan antara ilmu dan Ma’rifat.

Ciri-ciri orang ‘Arif atau orang yang telah sampai kepada Ma’rifat adalah
1. Cahaya Ma’rifatnya yang berupa ketaqwaan tidak pernah padam dalam dirinya.
2. Tidak meyakini hakikat kebenaran suatu ilmu yang menghapuskan atau membatalkan Zahirnya.
3. Banyaknya nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya tidak membuatnya lupa dan melanggar aturan Tuhan.

Dijelaskan bahwa akhlaq Sufi tidak ubahnya dengan akhlaq Tuhan. Ia baik dan lemah lembut serta senantiasa berusaha agar seluruh sikap dan perilakunya mencerminkan sifat-sifat Tuhan.

Namun demikian untuk mencapai tingkat ini tidaklah mudah meskipun selintas dapat dipahami bahwa Ma’rifat didapat dengan ikhlas beribadah dan sungguh-sungguh mencintai dan mengenal Tuhan, sehingga Allah SWT berkenan menyingkap tabir dari pandangan Sufi untuk menerima cahaya yang dipancarkan, yang pada akhirnya Sufi dapat melihat keindahan dan keesaan-Nya. Jalan yang dilalui seorang Sufi tidaklah mulus dan mudah. Sulit sekali untuk pindah dari satu maqam ke maqam yang lain.Untuk itu seorang Sufi memang harus melakukan usaha yang berat dan waktu yang panjang, bahkan kadang-kadang ia masih harus tinggal bertahun-tahun di satu maqam.

Dalam pada itu Ma’rifatpun harus dicapai melalui proses yang terus-menerus. Semakin banyak seorang Sufi mencapai Ma’rifat, semakin banyak yang diketahui tentang rahasia-rahasia Tuhan, meskipun demikian tidak mungkin Ma’rifatullah menjadi sempurna, karena manusia sungguh amat terbatas, sementara Tuhan tidak terbatas. Karena itu al-Junaid al-Baghdadi, seorang tokoh Sufi modern berkomentar tentang keterbatasan manusia dengan mengatakan “Cangkir teh takkan mungkin menampung semua air laut”.

Faham Ma’rifat yang dikemukakan oleh Zunnun Al-Misri dapat diterima al-Ghazali sehingga paham ini mendapat pengakuan Ahlussunah wal Jama’ah. Al-Ghazali sebagai figur yang berpengaruh di kalangan Ahlussunah wal Jama’ah diakui dapat menjadikan Tasawwuf diterima kaum syari’at. Sebelumnya para ulama memandang Tasawuf seperti yang diajarkan al-Bustami (W. 261 H / 874 M) dan al-Hallaj (244 – 309 H / 858 – 922 M) khususnya menyimpang dengan paham Hulul / Ittihad / penyatuan yang dalam pemahaman “Kejawen” dikenal dengan “Manunggaling Kawulo Gusti”.

Hakikat
Dalam Tasawuf hakikat adalah imbangan kata syariat yang identik dengan aspek kerohanian dalam ajaran Islam. Untuk merintis jalan mencapai hakikat seseorang harus memulai dengan aspek moral yang dibarengi aspek ibadah. Bila kedua aspek ini diamalkan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan akan dapat meningkatkan kondisi mental seseorang dari tingkat rendah secara bertahap ke tingkat yang lebih tinggi. Pada posisi tertinggi Tuhan akan menerangi hati sanubarinya dengan nur-Nya, sehingga ia betul-betul dapat dekat dengan Tuhan, mengenal Tuhan dan melihat-Nya dengan mata hatinya.

Di kalangan Sufi orang yang telah mencapai tingkatan ini disebut ahli hakikat. Kalau dihubungkan dengan Tuhan, hakikat adalah sifat-sifat Allah SWT, sedangkan Zat Allah disebut al-Haqq. Sufi yang dikenal dengan faham hakikat adalah Abu Yazid al-Bustami dan al-Hallaj yang pernah menyatakan “Ana al-Haqq”.

Pembicaraan mengenai masalah ini tentu tidak bisa dilepaskan dari konsep Ittihad, Hulul dan Tawhid yang dalam pemahaman selintas dapat diartikan sebagai penyatuan makhluk dan Khalik. Para ulama Syari’at dalam Islam memandang konsep ini bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu sebagaimana diketahui al-Hallaj mati dibunuh karena mempunyai faham Hulul dan seperti di Jawa Syekh Siti Jenar juga mengalami hal serupa. Kaum Sufi yang mempunyai faham ini kelihatannya merasa takut untuk membicarakan Ittihad, Hulul dan Tawhid. Karena itulah uraian tentang hal ini hanya dijumpai dalam karangan-karangan modern dan tulisan-tulisan para Orientalis.

Ittihad adalah satu tingkatan dalam Tasawuf ketika seorang Sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan. Saat itulah terjadi penyatuan antara yang mencintai dan yang dicintai. Dalam kondisi Ittihad seperti inilah satu sama lain dapat memanggil Ya Ana (wahai aku). Meskipun yang terlihat hanya satu wujud pada hakekatnya terdapat dua wujud yang berbeda.

Adapun Hulul berarti menempati atau mengambil tempat. Dalam Tasawuf, Hulul berarti suatu keadaan (hal) yang dicapai seorang Sufi ketika aspek an-nasut (sifat kemanusiaan) Allah bersatu dengan aspek al-Lahut (sifat ketuhanan) yang ada pada manusia. Hulul merupakan salah satu bentuk kebersatuan antara Allah dan manusia. Kondisi ini dapat terjadi apabila manusia dapat mencapai Fana’ dengan menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan yang dimilikinya sehingga yang tersisa hanyalah sifat-sifat ketuhanannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Harun Nasution bahwa sebelum seorang Sufi dapat bersatu dengan Tuhan ia harus lebih dahulu menghancurkan dirinya.

Selama ia belum dapat menghancurkan dirinya, yaitu selama ia masih sadar akan dirinya, ia tak akan dapat bersatu dengan Tuhan. Penghancuran diri ini dalam Tasawuf disebut Fana’.

Penghancuran diri dalam Fana’ ini senantiasa diiringi dengan Baqa’ yang berarti tetap atau terus hidup. Fana’ dan Baqa’ merupakan dua sisi mata uang atau kembar dua sebagaimana penjelasan Sufi “Jika kejahilan (kebodohan) seseorang hilang yang akan tinggal ialah pengetahuan”.

Pada saat seorang Sufi telah mencapai hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia dalam arti tidak disadarinya maka yang akan tinggal hanyalah wujud rohaninya dan ketika itulah ia dapat bersatu dengan Tuhan. Dalam kajian Tasawuf, Abu Yazid al-Bustamilah (W. 874 M) yang dipandang sebagai Sufi pertama yang memunculkan faham Fana’ dan Baqa’.

Faham tersebut tersimpul dalam kata-katanya “Aku tahu pada Tuhan melalui diriku, hingga aku hancur, kemudian aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya, maka akupun hidup”. Selanjutnya ia pun mengungkapkan “Ia membuat aku gila pada diriku sehingga aku mati, kemudian Ia membuat aku gila pada-Nya, dan akupun hidup…….Aku berkata Gila pada diriku adalah kehancuran dan gila pada-Mu adalah kelanjutan hidup”.

Sementara Abu Yazid al-Bustami telah melewati tingkat tersebut dan mencapai Fana’ dan Baqa’ seterusnya Ittihad, bersatu dengan Tuhan. Dalam keadaan Hulul seorang Sufi dapat mengeluarkan kata-kata yang aneh dalam pendengaran awam, seperti yang diucapkan oleh al-Hallaj: “Ana al-Haqq (Aku adalah Yang Maha Benar)”. Dalam istilah Sufi ungkapan-ungkapan seperti ini disebut Syatahat. Munculnya istilah seperti ini disebabkan oleh rasa cinta yang berlimpah. Menurut faham Hulul al-Hallaj, sebenarnyalah yang mengeluarkan kata-kata tersebut bukan roh al-Hallaj, melainkan unsur an-nasut Allah yang sedang mengambil tempat bersatu dengan unsur al-lahut al-Hallaj. Bukan pula pada Zat Allah, melainkan unsur an-nasut-Nya yang mengambil tempat pada unsur lahut manusia. Hal ini terlihat dari ungkapan syairnya: “Aku adalah Rahasia Tuhan Yang Maha Benar, dan bukanlah yang Maha Benar itu Aku, Aku hanya satu dari yang benar, bedakanlah antara kami atau aku dan Dia Yang Maha Benar”.

Dalam Hulul proses kemanunggalan Allah dan manusia itu adalah Allah turun mengisi dan memasuki serta mengambil tempat pada tubuh-tubuh manusia yang Ia pilih, sedangkan dalam Ittihad roh manusia naik (Mi’raj), lebur manunggal di alam Ketuhanan.

Dalam mencari ridhoNya, para sufi menggunakan jalan yang bermacam-macam. Baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dengan melalui kearifan, kecintaan dan tapa brata.

Wahdatul Wujud
Sejarah mencatat, pada akhir abad ke-8, muncul aliran Wahdatul Wujud, suatu faham tentang segala wujud yang pada dasarnya bersumber satu. Allah Ta’ala. Allah yang menjadikan sesuatu dan Dialah a’in dari segala sesuatu. Wujud alam adalah a’in wujud Allah, Allah adalah hakikat alam. Pada hakikatnya, tidak ada perbedaan antara wujud qadim dengan wujud baru yang disebut dengan makhluk. Dengan kata lain, perbedaan yang kita lihat hanya pada rupa atau ragam dari hakikat yang Esa. Sebab alam beserta manusia merupakan aspek lahir dari suatu hakikat batin yang tunggal. Tuhan Seru Sekalian Alam.

Faham wahdatul wujud mencapai puncaknya pada akhir abad ke-12. Muhyidin Ibn Arabi, seorang sufi kelahiran Murcia, kota kecil di Spanyol pada 17 Ramadhan 560 H atau 28 Juli 1165 M adalah salah seorang tokoh utamanya pada zamannya. Dalam bukunya yang berjudul Fusus al-Hikam yang ditulis pada 627 H atau 1229 M tersurat dengan jelas uraian tentang faham Pantheisme (seluruh kosmos adalah Tuhan), terjadinya alam semesta, dan ke-insan-kamil-an. Di mana faham ini muncul dan berkembang berdasarkan perenungan fakir filsafat dan zaud (perasaan) tasauf.

Faham ini kemudian berkembang ke luar jazirah Arab, terutama berkembang ke Tanah India yang dipelopori oleh Muhammad Ibn Fadillah, salah seorang tokoh sufi kelahitan Gujarat (…-1629M). Di dalam karangannya, kitab Tuhfah, beliau mengajukan konsep Martabat Tujuh sebagai sarana penelaahan tentang hubungan manusia dengan Tuhannya. Menurut Muhammad Ibn Fadillah, Allah yang bersifat gaib bisa dikenal sesudah bertajjali melalui tujuh martabat atau sebanyak tujuh tingkatan, sehingga tercipta alam semesta dengan segala isinya. Pengertian tajjali berarti kebenaran yang diperlihatkan Allah melalui penyinaran atau penurunan — di mana konsep ini lahir dari suatu ajaran dalam filsafat yang disebut monisme. Yaitu suatu faham yang memandang bahwa alam semesta beserta manusia adalah aspek lahir dari satu hakikat tunggal. Allah Ta’ala.

Dr. Simuh dalam Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, Suatu Studi Terhadap Serat Wirid Hidayat Jati menyatakan; “Konsep ajaran martabat tujuh mengenai penciptaan alam manusia melalui tajjalinya Tuhan sebanyak tujuh tingkatan jelas tidak bersumber dari Al Qur’an. Sebab dalam Islam tak dikenal konsep bertajjali. Islam mengajarkan tentang proses Tuhan dalam penciptaan makhluknya dengan Alijad Minal Adam, berasal dari tidak ada menjadi ada.”

Selanjutnya, konsep martabat tujuh di Jawa dimulai sesudah keruntuhan Majapahit dan digantikan dengan kerajaan Demak Bintara yang menguasai Pulau Jawa. Sedangkan awal perkembangannya, ajaran martabat tujuh di Jawa berasal dari konsep martabat tujuh yang berkembang di Tanah Aceh — terutama yang dikembangkan oleh Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai (…-1630) dan Abdul Rauf (1617-1690).

Lebih lanjut ditambahkan; “Ajaran Syamsudin Pasai dan Abdul Rauf kelihatan besar pengaruhnya dalam perkembangan kepustakaan Islam Kejawen. Pengaruh Abdul Rauf berkembang melalui penyebaran ajaran tarekat Syatariyah yang disebarkan oleh Abdul Muhyi (murid Abdul Rauf) di tanah Priangan. Ajaran tarekat Syatariyah segera menyebar ke Cirebon dan Tegal. Dari Tegal muncul gubahan Serat Tuhfah dalam bahasa Jawa dengan sekar macapat yang ditulis sekitar tahun 1680.”

Sedangkan Buya Hamka mengemukakan bahwa faham Wahddatul Al-Wujud yang melahirkan ajaran Martabat Tujuh muncul karena tak dibedakan atau dipisahkan antara asyik dengan masyuknya. Dan apabila ke-Ilahi-an telah menjelma di badan dirinya, maka tidaklah kehendak dirinya yang berlaku, melainkan kehendak Allah.

Dr. Simuh pun kembali menambahkan, dalam ajaran martabat tujuh, Tuhan menampakkan DiriNya setelah bertajjali dalam tujuh di mana ketujuh tingkatan tersebut dibagi dalam dua wujud. Yakni tiga aspek batin dan empat aspek lahir. “Tiga aspek batin terdiri dari Martabat Ahadiyah (kesatuan mutlak), Martabat Wahdah (kesatuan yang mengandung kejamakan secara ijmal keseluruhan), dan Martabat Wahadiyah (kesatuan dalam kejamakan secara terperinci dan batas-batas setiap sesuatu). Sedangkan aspek lahir terdiri Alam Arwah (alam nyawa dalam wujud jamak), Alam Mitsal (kesatuan dalam kejamakan secara ijmal), Alam Ajsam (alam segala tubuh, kesatuan dalam kejamakan secara terperinci dan batas-batasnya) dan Insan Kamil (bentuk kesempurnaan manusia).

Menanggapi hal ini, Buya Hamka mengutip dari karya Ibnu Arabi yang berjudul Al-Futuhat al-Makkiya fi Marifa Asrar al-Malakiya (589 H atau 1201 M), bahwa tajjalinya Allah Ta’ala yang pertama adalah dalam alam Uluhiyah. kemudian dari alam Uluhiyah mengalir alam Jabarut, Malakut, Mitsal, Ajsam, Arwah dan Insan Kamil — di mana yang dimaksud dengan alam Uluhiyah adalah alam yang terjadi dengan perintah Allah tanpa perantara.

Martabat Pertama, Ahadiyah
Martabat pertama adalah Martabat Ahadiyah yang diungkapkan sebagai Martabat Lata’ayyun, atau al-Ama (tingkatan yang tidak diketahui). Disebut juga Al-Tanazzulat li ‘l-Dhat (dari alam kegelapan menuju alam terang), al-Bath (alam murni), al-Dhat (alam zat), al-Lahut (alam ketuhanan), al-Sirf (alam keutamaan), al-Dhat al-Mutlaq (zat kemutlakan), al-Bayad al-Mutlaq (kesucian yang mutlak), Kunh al-Dhat (asal terbuntuknya zat), Makiyyah al-Makiyyah (inti dari segala zat), Majhul al N’at (zat yang tak dapat disifati), Ghayb al Ghuyub (gaib dari segala yang gaib), Wujud al-Mahad (wujud yang mutlak).

Dan berikut adalah nukilan dari terjemahan tingkat pertama yang disebut Martabat Ahadiyah dalam Suluk Sujinah dan Serat Wirid Hidayat Jati.

Suluk Sujinah
Ada pengetahuan perihal tingkatan dalam kehidupan manusia, yang diceritakan dengan ajalollah dan dikenal dengan sebutan martabat tujuh, diawali dengan kegaiban. Zat yang membawa pengetahuan tentang Diri-Nya, dan tanpa membeberkan tentang kenyataan (fisik), Keadaannya kosong namun dasarnya ada. Tapi dalam martabat ini belum berkehendak. Martabat Akadiyah disebut juga dengan Sarikul Adham. Awal dari segala awal. Dalam alam ahadiyah dimulai dengan aksara La dan bersemayam ila. Itulah kekosongan pertama dari empat bentuk kekosongan. Kedua bernama Maslub. Ketiga adalah Tahlil, dan keempat Tasbeh. Maslub bermakna belum adanya bentuk atau wujud roh atau jiwa. Tak berbentuk badan atau wujud lainnya.Tahlil berarti tak bermula dan tak berakhir. Sedangkan Tasbeh bermakna Tuhan Maha Suci dan Tunggal. Tuhan tak mendua atau bertiga. Tak ada Pangeran lain kecuali Allah yang disembah dan dipuja, yang asih pada makhluknya.

Serat Wiirid Hidayat Jati
Sajaratul Yakin tumbuh dalam alam adam makdum yang sunyi senyap azali abadi, artinya pohon kehidupan yang berada dalam ruang hampa yang sunyi senyap selamanya, belum ada sesuatu pun, adalah hakikat Zat Mutlak yang qadim. Zat yang pasti terdahulu, yaitu zat atma, yang menjadi wahana alam Ahadiyah.

Di dalam Suluk Sujinah, tingkat pertama disebut dengan alam Ahadiyah, yaitu alam tentang tingkat keesaan-Nya. Keesaan-Nya agung, dan bukan obyek dari pengetahuan khusus mana pun dan karena itu tidak dapat dicapai oleh makhluk apa pun. Hanya Allah yang mengetahui diri-Nya dan keesaan-Nya.

Dalam keesaan-Nya tak ada sesuatu pun yang menguasai dan mengetahui kecuali diri-Nya. Firmannya adalah diri-Nya sendiri, begitu pun malaikat-Nya dan nabi-Nya. Allah dalam tingkatan ini berada pada kondisi al-Kamal, yaitu, dalam kesempurnaan-Nya.

Hakikat-Nya, keesaan-Nya adalah tempat berkumpulnya seluruh keragaman dan tenggelam atau lenyap dalam kesatuan-Nya. Dalam alam Ahadiyah keragaman dan kejamakan tersebut tidak dapat dipertentangkan dengan gagasan metafisis tentang tahapan atau tingkatan eksistensi.

Dalam tingkatan ini, Allah berada dalam kondisi Ghayb al-Ghuyub, yaitu, keberadaan-Nya yang gaib. Tuhan tak dapat diindrawi. Sebab Allah tidak membeberkan tentang kenyataan yang fisik. Allah dalam keadaan yang tak berujud, yang tak dapat dideteksi oleh manusia atau para wali, nabi, bahkan para malaikat terdekat-Nya. Sebab Ia masih dalam kesendirian-Nya. Allah belum menguraikan atau menciptakan sesuatu. Di dalam derajat ini, semua sifat umum kumpul melebur di dalam diri-Nya. Perbedaan sifat pun ada dalam kesatuan-Nya.

Tuhan dalam alam pertama disebut juga al-Unsur Adam, Allah adalah unsur yang pertama, dan tak ada makhluk-makhluk lainnya yang mendahului. Diri-Nya adalah unsur yang terdahulu yang bersifat agung. Zat-Nya adalah substansi universal dan hakikat-Nya yang tak dapat dipahami. Dalam sifat adam-Nya, hakikat-Nya tak dapat dipahami. Sebab awalnya adalah Ada dalam ketiadaan. Dan ketiadaan-Nya adalah hakikat yang tak terlukiskan dan tak dapat dimengerti oleh siapa pun. Hakikatnya di luar segala perumpamaan dan citraan yang memungkinkan.

Selanjutnya, alam Ahadiyah terbagi dalam empat tingkatan. Tahap pertama dikenal dengan kata La yang bersemayam di dalam kata illa. La dan illa adalah dua kata yang manunggal, karena setiap realitas-realitas hanya merupakan refleksi dari realitas-realitas Allah. La dan illamenunjukan pada asal segala sesuatu yaitu dalam ketiadaan-Nya, diri-Nya Ada. Sedangkan pengertian illa juga menunjukan pada kembali sesuatu dalam kesatuan-Nya yang bersifat keabadian.

Jika memperhatikan tatanan ontologis, bila diterapkan La dan illa akan mengisyaratkan pemisahan antara ada Ilahi dan para makhluknya. Dengan demikian, Ad-Nya pertama menjadi tabu bagi adanya yang kedua. Pengetian La dan illa dalam masyarakat sufi memiliki tiga makna. Pertama, adalah tiada Tuhan melainkan Allah. Kedua adalah tiada Ma’bud melainkan Allah dan ketiga tiada maujud melainkan Allah. Pengertian pertama mengacu pada keberadaan pada kekuasaan-Nya. Yaitu penegasan tiada Tuhan yang pantas menjadi penguasa selain Allah yang Esa. Pengertian kedua, Allah adalah Zat yang wajib disembah sebab Allah bersifat disembah. Tiada penguasa yang wajib disembah selain Allah, Zat yang Maha Suci. Sedangkan pengertian ketiga, Allah adalah awal segala yang berwujud. Sebab Zat-Nya adalah wujud yang pertama dan tak berakhir.

Ketiga pengertian tersebut di atas adalah suatu kesatuan yang tak dapat dikaji secara terpisah. Sebab, segala bentuk yang maujud ini pada hakikatnya sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah Allah. Jadi, kalau yang ada ini semuanya dikatakan ada, artinya ada dalam Allah. Inilah konsep dasar dari Widhatul al-Wujud. Sementara, tingkatan kedua dari alam Ahadiyah adalah Nafi Uslub, yaitu, tingkat ketiadaan-Nya yang ada. Dalam ketiadaan-Nya, Allah tak dapat digambarkan atau dilukiskan oleh siapa pun. Allah dalam keadaan Al-Ama, yaitu, tingkatan yang tak dapat diketahui. Allah dalam tingkatan ini hanya mempunyai hubungan murni dalam hakikat dan tanpa bentuk. Sedang tingkatan yang ketiga dalam alam Ahadiyah adalah Tahlil. Pengertian Tahlil berarti kondisi Tuhan yang bermakna La illa illaha. Tahlil pun bermakna suatu kondisi pemujaan Allah dengan pengucapan syahadat tentang persaksian akan keberadaan-Nya.

Dalam kalimah Syahadah yang diucapkan dengan niat bulat dan mengakui bahwa Allah berkuasa sendirian, tidak menghendaki pertolongan dari siapa pun, ia suci dan kaya. Kalimah Syahadah adalah kalimat yang wajib bagi pemeluk Islam, di mana intinya adalah pengakuan akan adanya Allah yang menjadi pemimpin kehidupan, di samping itu, adanya pengakuan rasul Allah. Yaitu Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya.

Selanjutnya, tingkat empat adalah Ahadiyah Tasbih, yang bermakna kemahaluasan Allah. Tingkatan ini berintikan kalimat Subhhanallah, artinya, maha suci Allah dan mengingatkan serta menunjukan seluruh keyakinan untuk selalu mempersucikan-Nya.

Sedang pada Serat Wirid Hidayat Jati, ajaran pertamanya dikenal dengan sebutan Sajaratul Yakin. Yaitu sebagai lambang pohon kehidupan yang dalam bahasa Jawa disebut denganKajeng Sejati dan memiki makna pengertian tentang kehidupan atau hayyu.

Hayyu berarti atma, jiwa atau ruh. Dalam Sajaratul Yakin Allah adalah Wujud al-Sirf, kondisi wujud yang utama. Atma-Nya belum tersifati, namun ruh-Nya adalah al-Lahut (bersifat ke-ilahi-an). Ia merupakan hakikat zat mutlak dan qadim, yaitu, asal zat dari segala zat yang bersifat abadi. Zat-Nya tak ada dalam penguraian. Segala penguraian-Nya adalah bersifat negatif. Sebab Allah bersifat Makiyyah al Makiyyah, yaitu, inti dari segala zat yang ada di kemudian hari. Atmanya adalah esa dari yang tak teruraikan dan diuraikan.

Zat ruh-Nya sesungguhnya adalah zat yang bersifat esa. Ruh itulah sejatinya Tuhan Yang Mahasuci. Ruh-Nya adalah subyek absolut, di mana benda yang termasuk subyek individu hanyalah obyektivisasi-obyektivisasi ilusi. Sebab Allah adalah Kunh al-Dhat, asalnya zat terbentuk.

Di dalam kitabnya Daqiqul Akbar, Imam Abdurahman menuliskan, pada awal permulaan Allah menciptakan sebatang pohon kayu bercabang empat. Pohon kayu tersebut dikenal dengan Syajaratul Yakin. Dan Syajaratul Yakin tercipta dalam alam kesunyian yang bersifat qadim dan azali. Pengertian sunyi di sini bukan bermakna tak adanya sesuatu. Namun bermakna belum terciptanya alam, kecuali tajjali-Nya yang pertama dalam bentuk Syajaratul Yakin. Sedangkan pengertian qadim dan azali adalah wujud dari sifat-Nya yang terawal dan tak berakhir. Zat-Nya adalah terdahulu, tak ada sesuatu pun yang mendahului dan tak ada akhir karena masa.

Syajaratul yakin afdalah awal sifat-Nya. Dalam pohon kehidupan sifat-Nya yang menonjol adalah tentang hidup — hidup (al-Hayat) adalah sifat wajib yang ada pada Diri-Nya. Sebab sifat al-Hayat adalah qadim dan azali. Al-Hayat dalam segala martabat-Nya menjadi pangkal bagi segala macam kenyataan yang lahir dan kekal. karena hidup atau hayyu atau atma adalah subyek yang absolut, maka, hakikat atma atau hidup adalah mutlak yang qadim. Dan Allah adalah zat pertama dan sumber dari hidup itu sendiri. Diri-Nya adalah kekal bersamaan dengan kekalnya zat kehidupan.

Keduanya adalah ada dalam kemanunggalan. Zat-Nya yang al-Hayat adalah sumber munculnya perkara-perkara sifat wajib-Nya. Yaitu, ilmu, iradat, kalam dan baqa. Artinya, karena adanya ruh atau hayyu (al-Hayat), maka, muncul ilmu (pengetahuan). Timbulnya pengetahuan (al-ilm)menciptakan atau mengalirnya kehendak (iradat), dan firman-Nya. Dan ketiga sifat-Nya adalah kekal, baqa.

Pengetahuan Marifat
Landasan utama kesempurnaan setiap individu ataupun suatu komunitas terletak pada kualitas ma’rifat (pengetahuan) dan pola fikir mereka. Kesempurnaan tersebut tidak mungkin terealisasi secara utuh tanpa didukung kualitas pengetahuan yang tinggi.

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan pengetahuan. Pesan Islam tentang pentingnya peningkatan intelektual dan keilmuan akan banyak kita dapati di berbagai rujukan tradisional yang tidak terhitung jumlahnya. Sebagai contoh, hadis yang berbunyi,: “Tafakur sesaat lebih utama dibanding ibadah tiga puluh tahun.”

Sedemikian tinggi nilai ma’rifat di mata Islam, sehingga ia dikategorikan sebagai paling mulianya ibadah, yang jika dibandingkan dengan ibadah sekian puluh tahun lamanya dan tanpa didasari ilmu dan ma’rifat, maka ia jauh lebih baik dari pada ibadah tersebut.

Allah swt dalam al-Quran menjelaskan bahwa salah satu fungsi diutusnya rasul adalah untuk meningkatkan kualitas keilmuan dan pola fikir manusia, ” ..dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah ..” (Q.S. Jum’ah : 2).

Dalam pandangan Islam, kualitas sebuah perbuatan bisa diukur dari tingkat ma’rifat si pelakunya. Jika pelaku tidak melandasi perbuatannya dengan pengetahuan atau ma’rifat, perbuatannya itu tidak bernilai sama sekali. Dengan kata lain, tingkat kualitas suatu tindakan ditentukan sesuai dengan derajat ma’rifat pelakunya. Semakin tinggi derajat ma’rifat seseorang, semakin tinggi pula kualitas perbuatannya, meskipun perbuatan itu secara lahiriah nampak remeh, sebagaimana yang ditegaskan dalam riwayat “Tidurnya orang alim adalah ibadah”.

Di sisi lain, penekanan Islam dalam pengutamaan kualitas ibadah dibanding kuantitasnya sangat mencolok, seperti yang kita amati dari ayat 2 surat Al-Mulk “… supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya… “

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah swt lebih menekankan amal yang terbaik, bukan yang terbanyak. Jelas bahwa amal terbaik adalah amal yang dilandasi dengan ma’rifat.

Imam Abu Ja’far a.s. bersabda, “Wahai anakku! Ketahuilah bahwasanya derajat syiah (pengikut) kita akan sesuai dengan kadar ma’rifat mereka karena aku pernah melihat di dalam “Kitab Ali” (Mushaf Ali) tertulis bahwa nilai kesempurnaan seseorang ditentukan oleh kadar ma’rifat-nya” (Ma’ani al-Akhbar).

Tentu saja, riwayat ini sama sekali tidak bertentangan dengan ayat yang mengatakan, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu” (Q.S. Al-Hujurat : 13) karena kalau ditelusuri lebih dalam lagi kita akan ketahui bahwa ketakwaan diperoleh berkat amal saleh dan amal saleh sendiri tidak akan lahir kecuali dari sumber keimanan, sedangkan keimanan ini mustahil dicapai tanpa landasannya, yaitu ma’rifat.

Ringkasnya, ketakwaan tidak mungkin didapati kecuali dengan ilmu dan ma’rifat. Di samping itu, kemuliaan manusia yang dinilai dengan ketakwaannya, juga dinilai dengan sumber ketakwaannya tersebut; yaitu ma’rifat.

Maka, betapa besar perhatian dan penekanan ajaran Islam terhadap nilai ilmu dan ma’rifat, sebagaimana yang ditegaskan firman Allah swt dalam hadis qudsi berikut ini: “Aku ibarat harta yang terpendam, maka Aku senang untuk diketahui. Oleh karena itu, Kuciptakan makhluk agar diriku diketahui” (Bihar al-Anwar).

Penciptaan makhluk yang ada di alam semesta ini, khususnya manusia yang memiliki berbagai potensi, adalah untuk ber-ma’rifat kepada Allah yang merupakan tujuan utama penciptaan. Imam Ja’far Shadiq a.s. dengan menukil riwayat dari kakek beliau, Imam Ali Zaenal Abidin a.s. menafsirkan kata “al-Ibadah” yang tercantum dalam ayat “Tidaklah Kucipta-kan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Q.S Al-hujarat : 13), bersabda, “Wahai para manusia! Sesung-guhnya Allah swt tidak menciptakan hamba-hamba-Nya kecuali untuk mengenal (ber-ma’rifat) kepada-Nya” (Biharul Anwar).

Jelas, dilihat dari sisi definisi, ibadah berbeda dengan ma’rifat. Namun, jika kita lihat hubungan keduanya, maka kita akan dapat menilai eratnya hubungan itu, karena bagaimana mungkin kita akan beribadah kepada Zat yang tidak kita kenal, dan mungkinkah kita merasa sudah mengenal Zat Mahasempurna, yang selayaknya disembah dan harus kita tuju untuk kesempurnaan jiwa kita, sementara kita tidak melakukan ibadah kepada-Nya, padahal kita tahu bahwa kesempurnaan jiwa mustahil dicapai tanpa ibadah.

Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah membuka khutbah pertamanya dengan ucapan, “Awal agama adalah mengenal-Nya” Maka, awal yang harus diraih seorang hamba dalam ber-ma’rifat adalah pengetahuan tentang penciptanya yang melahirkan suatu keyakinan. Ia tidak akan mencapai suatu keyakinan tanpa pengetahuan.

Lawan ma’rifat adalah taqlid. Kata ini berarti mengikuti ucapan seseorang tanpa landasan argumen. Maka, taqlid tidak dikategorikan sebagai ilmu. Ia sama sekali tidak akan meniscayakan keyakinan.

Sehubungan dengan ma’rifatullah dalam pandangan Islam, khususnya mazhab Ahlul Bayt, setiap manusia harus meyakini keberadaan Allah swt dengan berbagai konsekuensi ketuhanan-Nya, karena keyakinan tidak mungkin muncul tanpa landasan ilmu dan argumen. Oleh karena itu, Islam melarang taqlid dalam masalah ini.

Tentu saja, manusia tidak mungkin ber-ma’rifat dan mengenal Zat Allah SWT haqqu ma’rifatih (secara utuh dan sempurna), sebagaimana yang dibuktikan oleh akal. Karena, bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas (makhluk) dapat mengetahui dan menjangkau zat yang tidak terbatas (al-Khaliq) dari berbagai sisi-Nya. Oleh sebab itu, rasul sebagai makhluk yang paling sempurna pernah bersabda dalam penggalan munajatnya, “Wahai Tu-hanku, diriku takkan pernah mengetahui-Mu sebagaimana mestinya.“

Hal ini tidak berarti kita bebas dari kewajiban mengenalnya, Imam Ali a.s. pernah menegaskan,“Allah swt tidak menyingkapkan hakikat sifat-Nya kepada akal, kendati Dia pun tidak menggugurkan kewajibannya untuk mengenal diri-Nya” (Nahjul Balaghah).

Setiap ilmu dan ma’rifat, khususnya ma’rifatullah, yang dimiliki oleh setiap individu ataupun suatu komunitas sangat berpengaruh pada perilaku moral dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kita bisa bandingkan mereka yang meyakini pandangan dunia Ilahi dengan mereka yang menganut pandangan dunia materialis. Kelompok kedua ini menganggap bahwa kehidupan manusia tidak memiliki kepastian dan kejelasan tujuan yang harus ditempuh, anggapan yang bermuara dari keyakinan bahwa kebermulaan alam ini dari shudfah (kebetulan), sehingga mereka melihat bahwa kematian merupakan titik akhir dari kehidupan dan manusia menjadi tiada hanya dengan kematian. Kematian itu akan menghadang setiap orang tanpa pandang bulu, zalim maupun adil, berbudi luhur maupun tercela.

Maka, ketika anggapan-anggapan tersebut menjadi dasar pengetahuan, sekaligus menjadi dasar keyakinan, mereka hidup sebagai hedonis yang selalu berlomba untuk mencari segala bentuk kenikmatan duniawi dan menganggapnya sebagai kesempurnaan sejati yang harus dicari oleh setiap orang, sebelum ajal mencengkeram mereka. Menurut mereka, tidak ada sesuatu yang lebih sakral dibanding kenikmatan hidup ini, dan nilai-nilai moral seseorang akan terus berubah seiring dengan perubahan situasi dan kondisi dunia dengan berbagai atributnya, sehingga standar etika mereka adalah segala hal yang berkaitan dengan prinsip materialisme dan hedonisme.

Berbeda dengan pandangan agama samawi, khususnya Islam. Bertolak dari prinsip tauhid3 muncullah keyakinan-keyakinan, seperti adanya tujuan-tujuan pasti yang tak pernah sia-sia di balik penciptaan alam semesta ini, termasuk penciptaan manusia, sebagaimana firman Allah SWT, “Apakah engkau menyangka bahwa telah kami ciptakan dirimu (manusia) dengan kesia-siaan, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (Q.S. Al-Mu’minun : 115)

Oleh karena itu, kematian menurut mereka bukanlah akhir dari kehidupan. Sebaliknya, ia lebih merupakan gerbang awal dari kehidupan abadi. Maka, suatu keniscayaan bagi Allah swt Zat yang Maha adil dan Maha tahu akan setiap gerak perilaku makhluk-Nya, untuk menjadikan suatu alam selain alam dunia ini sebagai tempat pertanggung-jawaban atas setiap perbuatan manusia selama masa hidupnya di dunia.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa hanya Allah swt satu-satunya Zat yang Mutlak dari berbagai sifat kesempurnaan, sehingga jika kita dapati kebaikan dan keindahan di alam fana ini, maka itu merupakan bentuk manifestasi penjelmaan) kebaikan dan keindahan-Nya.

Yang dimaksud dengan “manusia sempurna” adalah suatu derajat di mana manusia telah mampu mencapai bentuk penjelmaan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya, sekaligus berhasil menjauhkan diri dari berbagai sifat yang harus dijauhkan dari sifat-sifat Allah swt. Hal inilah yang selalu dianjurkan oleh Rasul dalam sabda beliau: “Berakhlaklah dengan akhlak Allah”.

Dalam konteks ibadah sehari-hari, kita selalu dianjurkan berniat untuk taqarrub, yaitu mendekatkan diri kepada-Nya. Taqarub di sini mengisyaratkan pada tasyabbuh (penyerupaan diri dengan sifat-sifatNya). Semakin bertambah kualitas dan kuantitas manisfestasi sifat-sifat kesempurnaan Ilahi dalam diri asyiq (seorang pecinta Tuhan), niscaya ia semakin dekat dengan ma’syuq-nya (kekasih), begitu pula sebaliknya. Jika manifestasi itu minim dan pudar, atau bahkan tidak ada sama sekali, ia akan selalu jauh dari penciptanya.

Berbicara tentang penyerupaan sudah menjadi hal yang wajar bagi seseorang mencintai sesuatu. Ia akan selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang mengingatkan dirinya kepada kekasihnya seperti; meniru gaya hidup, mencintai apa yang dicintai kekasihnya dan seterusnya. Begitu juga jika ia membenci sesuatu, maka ia selalu berusaha untuk melupakan dan menjauhkan diri dari apa yang ia benci. Demikian pula yang dialami oleh pecinta Ilahi.

Perlu ditekankan bahwa jauh-dekatnya seorang hamba kepada Tuhannya bukan berupa jarak materi, tapi merupakan tingkat manifestasi sifat-sifat Ilahi pada diri hamba tersebut, karena kesempurnaan Ilahi tidak teratas, sementara manusia diliputi oleh berbagai macam keterbatasan. Oleh sebab itu, perjalanan untuk liqa’ (bertemu) dengan Allah swt pun tidak berbatas.

Untuk sampai dan bertemu dengan Tuhannya, para salik akan melalui banyak rintangan, berupa hijab (tabir-tabir penghalang) yang harus ia singkirkan untuk sampai pada tujuan yang dia rindukan. itu semua perlu usaha optimal, baik berupa pengetahuan yang bersifat teoritis ataupun aplikatif nyata. Karena, tanpa pengetahuan yang maksimal, suluk seorang hamba tidak akan bisa terwujud. Bekal ilmu seorang salik yang terbatas akan menjauhkan diri dari tujuannya. Imam Shadiq a.s. bersabda, “Seorang pelaku perbuatan tanpa landasan pengetahuan ibarat berjalan di luar jalur yang akan ditempuh. Semakin cepat ia bergerak, tidak akan menambah (cepat sampai tujuan), akan tetapi malah semakin menjauh (dari tujuan).” (Ushul al-Kafi)

Kegagalan perjalanan seorang hamba dalam mencapai tujuannya disebabkan oleh bekal pengetahuan yang tidak cukup, karena pengetahuan yang minim menyebabkan kerancuan memilah baik dari buruk, keyakinan yang benar dari yang salah, juga niat yang tulus dari yang tercemar oleh syirik atau bisikan setan; memperdaya dan menipu dengan berbagai angan dan khayalan, sehingga menerjang apa yang harus dihindari dan meninggalkan apa yang harus dilakukan. Maka, bagaimana mungkin seorang hamba yang rindu bertemu dengan kekasih sejatinya dan mendapatkan keridhoan-Nya, sementara ia menempuh jalan yang tidak diridhai, bahkan dibenci oleh sang kekasih.

Seperti yang telah kita ketahui ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah. Ilmu tidak akan memberi manfaat apapun bila tidak diamalkan. Allah swt berfirman dalam surat Al-Jatsiah ayat 23, “Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya.” Ayat ini menjelaskan bahwa ilmu tidak menjamin orang untuk mendapatkan hidayah (petunjuk). Sedangkan penyesatan yang dilakukan oleh Allah swt terhadap orang yang berilmu tadi, hanya karena ketaatan mereka kepada hawa nafsu dan ketidaksesuaian amal mereka dengan pengetahuannya.

Allamah Thabatha’i r.a. dalam tafsir al-Mizan dalam mengomentari ayat di atas menjelaskan bahwa pertemuan ilmu –tentang jalan yang harus ditempuh– dengan kesesatan bukan suatu kemustahilan. Bukankah Allah swt berfirman, “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka sungguh meyakini kebenarannya”. (an-Naml:14)..

Tidak ada konsekuensi antara ilmu dan hidayah atau antara kejahilan dan kesesatan. Akan tetapi, petunjuk (hidayah) merupakan penjelmaan ilmu di mana si empunya (alim) selalu komitmen dengan ilmunya, namun jika tidak, maka kesesatan akan menimpanya walaupun ia berilmu.

Dalam kehidupannya, terkadang manusia melupakan apa yang disebut dengan maslahat universal yang harus ia raih, sehingga ia lebih mengedepankan maslahat semu di depan matanya dibanding maslahat jangka panjang yang hakiki. Dalam meraih hal semu tersebut tak jarang ia menggunakan dengan cara-cara yang bertentangan dengan perintah Allah dan lebih mengikuti hawa nafsunya, “Terangkan kepadaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya.” (Q.S. Al-furqan : 43).

Oleh karena itu, dalam menuju kesempurnaan abadi dan maslahat hakiki, selain diperlukannya ma’rifat sebagai pondasinya, juga tarbiyah yang dalam bahasa al-Quran disebut tazkiyah (penyucian diri) sebagai salah satu fungsi diutusnya rasul, “Yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkannya ..” (Q.S. Al-jum’ah : 2). Tazkiyah inilah sebagai pilar utama dari tegaknya bangunan kesem-purnaan jiwa manusia.

Baqa-bi-Allah
Baqa-bi-Allah, Peringkat tertinggi dlm kesempurnaan manusia dan tdk terdapat di manapun dlm spiritual yang lain.

Baqa-bi-Allah adalah peringkat tertinggi dalam kesempurnaan manusia dan tidak terdapat di mana pun dalam sistem spiritual yang lain. Ianya adalah pengembalian kepada diri asal seseorang sesudah diperkenalkan secara penuh dengan Yang Esa. Dengan kata lain, ianya adalah pengembalian kepada ketenangan (Sahv) sesudah keasyikan lebur-diri (Sukr ). Dalam rajah pada halaman terawal, peringkat Baqa-bi-Allah akan tercapai sesudah perjalanan ADB dilalui, dan seseorang salik akan kembali ke titik B (iaitu kembali kepada keindividuannya). Perjalanan pada titik A adalah yang paling panjang. Ianya tidak berkesudahan, kerana Yang Maha Esa itu tidak berkesudahan juga. Makin dalam kita memasuki Zat Allah, semakin tinggi pula darjat kesempurnaan, dan bertambah kencang pula perjalanan turun (Baqa). Pada darjat yang tertinggilah dari fana, iaitu di titik A, kita akan dianugerahkan sifat-sifat Allah atau layak dengan sifat-sifatNya dan memolehkankan mendengar dengan PendengaranNya dan melihat dengan PenglihatanNya seperti yang dinyatakan dalam Hadith Nabi terdahulu. Setelah dianugerahkan sifat-sifat tersebut, salik tadi layak menjadi Khalifah Allah dan kembali sebagai Insan-ul-Kamil untuk mengambil bahagian dalam hal-ehwal duniawi dan memimpin yang lain ke matlamat yang sama. Sekembalinya kepada keindividuannya di titik B, ianya tidak sama seperti diri dahulunya.

Pada permulaan perjalanan ia seorang novis (yang belum berpengalaman). Kini ianya seorang Insan Kamil (manusia sempurna). Pada peringkat ini ia memainkan dua peranan. Ia berada pada masa yang sama dalam Fani-fi-Allah (berserta Allah) dan baqi-bi-Allah (berasingan dengan Allah). Ia menggabungkan dirinya serentak dalam kedua-kedua keadaan penyatuan dan berasingan dengan Allah. Hal ini seolah-olahnya bertentangan kepada mereka yang kurang pengalaman; tetapi sebenarnya, tidak sedemikian. Terdapat dua aspek atau sudut pandangan kehidupan manusia, Haqiqat (Spiritual) dan (fizikal). Oleh kerana manusia adalah gabungan jasad dan ruh, ianya hidup dalam alam spiritual dan fizikal secara serentak.

Allah berfirman dalam Al-Quran “Kami adalah dekat dengan manusia daripada urat lehernya sendiri”.

Malangnya manusia tidak sedar tentang asal-usulnya iaitu dari Ilahi dan penghidupan selanjutnya berserta Allah sehingga ia melalui proses pembersihan (tazkiyah-al-nafs) dalam perjalanan spiritual (suluk-ila-Allah), seperti yang telah dihuraikan sebelum ini. Setelah menamatkan perjalanan spiritual dan kembali kepada keadaan pelbagaian/majmuk dari Yang Esa sahajalah maka Haqiqi dan Majazi atau aspek Ketuhanan dan kemanusiaannya akan disedari. Peringkat ini dikenali dalam istilah Sufi sebagai Jame-iyyat yang bermaksud penggabungan kedua-dua Fana-fi-Allah dan Baqa-bi-Allah.

NEOPLATONISME ADALAH SEPARUH PERJALANAN
Baqa-bi-Allah adalah lebih tinggi dari Neoplatonisme. Menurut Plotinus sebagaimana terdapat dalam kitabnya “Enneads”, peringkat yang tertinggi ialah fana yang beliau namakan “Kembali kepada Ketuhanan”. Beliau berkata, “Pengembalian menyimpulkan seluruh kewajiban manusia.” Ini adalah fana yang tidak berkesudahan atau bersemadi dalam Dzat Allah. Kita tidak mempunyai maklumat tentang Neoplatonisme. Sekiranya dapat dikesan, ianya adalah separuh perjalanan sahaja menurut Sufisme. Ia disamakan dengan kesenyapan (Quietism ), pertapaan (Asceticism ) dan mengasingkan diri daripada keduniaan (Renunciation ). Tidak hairanlah kalau di Barat, sistem-sistem mistik sering dicaci kerana sifatnya yang menolak hal-hal duniawi.

Dua peringkat Sufisme berbanding dengan Satu dalam sistem-sistem mistik lain

Perjalanan spiritual dalam Islam mempunyai dua fasa/peringkat, berlainan dengan perjalanan satu fasa/peringkat sebagaimana yang terdapat dalam agama Kristian, Hindu, Buddha, Yahudi Cabbalaisme dan Hasidisme di mana matlamat terakhir adalah fana (bersemadi dalam Dzat Allah).

Dalam Islam fasa/peringkat pertama bersifat intoxication yang menghasilkan kesenyapan dan pertapaan, sementara fasa/peringkat kedua bersifat aktiviti dan penglibatan sepenuhnya dalam kehidupan duniawi.

Sebenarnya, kehidupan selepas tamat perjalanan spiritual (suluk ) adalah lebih aktif, bermakna dan nyata daripada sebelumnya. Kini salik telah bebas daripada cengkaman sifat kehaiwanan (nafsu ammarah ) dan telah dianugerah pula dengan sifat-sifat Ketuhanan (takhalluq-bi-akhlaq Allah ). Kini ia melihat melalui pandangan Ilahi, mendengar melalui pendengaran Ilahi dan melakukan setiap sesuatu dengan Kuasa Ilahi. Ianya kini menjadi lebih jujur, lebih ikhlas, lebih baik hati daripada dahulunya, dan lebih simpati terhadap manusia serta berkemampuan untuk memikul tugas-tugas yang lebih mulia dan pengorbanan yang lebih besar. Ia bukan lagi menjadi beban kepada masyarakat tidak seperti Pertapa Barat , Yogi Hindu, atau Sami Buddha. Sebaliknya ia adalah insan yang paling berharga kepada masyarakat. Sumbangannya yang paling tinggi lagi mulia kepada masyarakat adalah kebolehannya untuk membimbing orang lain menuju ke matlamat yang sama berdasarkan pengalaman yang dialaminya dan Nur-Ilahi yang diperolehinya.

Satu keistimewaan Baqa-bi-Allah-nya, di samping aktiviti duniawi, adalah ia sentiasa memperbaiki kedudukannya dengan terus mendekati Allah. Badai yang bergelombang dalam hatinya sebegitu hebat sehingga ia tidak pernah puas pada mana-mana peringkat apa jua pun dalam mendekati Allah. Lebih tinggi ia meningkat, maka bertambah pula ia terpesona. Ia mengembara dari satu peringkat ke satu peringkat dan masih mendapati peringkat-peringkat yang tidak terhitung. Namun perjalanan tidak akan berakhir, walaupun ia meneruskan perjalanannya sehingga kekekalan (eternity). Lebih jauh ia mengembara, maka lebih hebat keindahan mendekatiNya. Dengan cara ini ia terus melalui beberapa peringkat fana yang tidak ada akhirnya, namun badai cinta dalam hatinya begitu besar sehingga kehausannya tidak pernah puas dan ia tetap menyeru dan memohon lagi berulang-ulang kali (hal min mazid ). “Seorang Qalandar * yang lebih tinggi dari penyatuan.”

Dialog Isra mikraj merupakan fase yang cukup menentukan dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad. Apa makna isra dan mikraj bagi perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat yang beliau idamkan?

Bisa digambarkan suasana psikologis Nabi Muhammad sebelum isra mikraj?

Kalau kembali ke Sirah Nabi, sebelum isra mikraj itu telah terjadi berbagai peristiwa yang sangat menegangkan atau memberatkan secara psikologis bagi kehidupan Nabi. Sebelum tahun ke-10 kenabian, Nabi baru saja terbebas dari boikot orang-orang kafir Quraisy. Dari pelbagai peristiwa itu, Nabi terinspirasi untuk mencari lahan baru guna mengembangkan nilai-nilai Islam.

Seperti apa boikot masa itu?
Boikot ekonomi. Dalam bahasa sekarang: embargo ekonomi. Memang, sejak dulu sektor ekonomi merupakan sarana yang penting bagi keberlangsungan suatu umat. Nah dari situ kita tahu, pada masa itu Nabi telah coba mendatangi orang-orang Thaif, tapi sambutan mereka tidak menguntungkan. Di tengah berbagai tekanan itulah Allah membuka jalan bagi Nabi supaya perjuangannya berhasil. Karena itu di dalam Alqur’an dikatakan, “Maha suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dari masjidil haram menuju masjidil aqsha yang telah telah diberkati sekelilingnya.” Itulah ayat yang berkenaan dengan isra.

Sementara soal mikraj tercantum di dalam surah an-Najm. Dari ayat 13 sudah dijelaskan bahwa Nabi semakin dekat dan bertambah dekat dengan Tuhan, bahkan jarak kedekatannya ibarat dua busur panah atau kurang. Ketika Nabi begitu dekat, maka Allah sendiri yang mengajarinya cara hidup. Hanya saja, tafsiran yang ada selama ini secara umum menegaskan bahwa yang datang untuk mengajarkan Nabi itu adalah malaikat Jibril. Kalimat `allamahu syadîdul quwâ di situ diidentifikasi sebagai Jibril. Padahal artinya lebih umum, yaitu “Ia dituntun oleh Yang Mahakuat”. Kata “Yang Mahakuat” itu bisa bermakna Allah sendiri.

Jadi yang mengajari Nabi Muhammad di situ adalah sosok Yang Makakuat atau Allah. Dan keterangan itu selaras dengan ayat lain di surah ar-Rahman, yang menerangkan bahwa sosok yang mengajarkan Alqur’an itu adalah Allah sendiri. Dengan tafsir begini, yang disebut mikraj dapat diartikan sebagai “posisi yang dicapai seorang hamba dalam proses mendekatkan dirinya kepada Tuhan, sehingga tersingkap baginya semua rahasia kehidupan”.

Apakah tekanan-tekanan psikologis dalam hidup itu sendiri yang membuat spiritualitas atau kedekatan Nabi dengan Tuhan begitu tak berjarak?

Tidak harus begitu. Karena begitu seseorang berada dalam himpitan hidup, dia akan menghadapi dua kemungkinan. Pertama, orang itu akan bangkit, dan kedua ia malah akan berputus asa. Nah, pada kasus Nabi yang sedari awal sudah punya visi, telah menyiapkan diri, serta sudah pula mengamalkan iqra’ (merenungkan hidup, Red) ketika menerima wahyu pertama kali, himpitan hidup justru mendorongnya untuk semakin taqarrub atau mendekatkan diri pada Allah. Kasus ini berbeda dengan orang yang tidak memiliki misi dan visi dalam hidup. Jadi hidup memang harus dituntun oleh sebuah misi.

Jadi dalam konteks ini, isra mikraj bukan sekadar rekreasi. Selama ini, kata isrâ secara harfiah selalu diterjemahkan dengan “perjalanan di malam hari”. Padahal, kata isrâ’ itu sendiri, kalau dirujuk ke kata dasar Arabnya bisa bermakna “sebuah pencarian”. Kata sâriyah yang satu dasar kata dengan isrâ’ berarti pencarian. Jadi isrâ’ di sini bisa berarti “proses pencarian yang akan melepaskan diri seseorang dari kegelapan hidup”.

Tapi mengapa proses pencarian itu harus melewati Yerussalem? Apa artinya?

Sebenarnya tidak ada petunjuk harfiah dalam Alquran yang menerangkan bahwa masjidil haram yang dimaksud adalah yang ada di Mekah, dan masjidil aqsha di situ adalah yang berada di Yerussalem. Kata masjid ketika ayat itu turun, belum lagi terwujud secara fisik. Jadi pengertian masjidil haram di situ sebenarnya lebih bisa dipahami secara makrifat, bukan harfiah. Yang sudah ada dalam fakta sejarah waktu itu adalah Kakbah, bukan masjidil haram. Dan secara urutan sejarah, masjid yang pertama dibangun Nabi adalah Masjid Quba’ setelah beliau hijrah ke Madinah.

Jadi apa makna masjidil haram dan masjidil aqsha di situ?
Karena masjidil haram dan masjidil aqsha secara fisikal belum ada, kita perlu selidiki lebih lanjut apa yang dimaksud dengan keberangkatan nabi dari masjidil haram ke masjidil aqsha di dalam ayat itu. Konon, sebelum itu Nabi pernah didatangi Jibril, lalu dadanya dibelah dan hatinya dibersihkan. Artinya, sebuah perjalanan untuk keluar dari kegelapan haruslah lebih dahulu terbebas dari segala macam perilaku haram lewat pensucian diri. Makanya di redaksi ayat itu disebut masjidil haram.

Lalu kenapa dibawa ke masjidil aqsha? Supaya beliau dapat memahami berkat Tuhan yang ada di sekelilingnya. Makna masjidil aqsha di situ secara umum bermakna masjid yang amat jauh. Kita tahu, secara bahasa, kata masjid itu bisa berarti “setiap lahan dan setiap jengkal tanah yang bisa digunakan untuk bersujud”. Makanya ada istilah kullu ardlin masjidun, atau setiap jengkal tanah dapat dijadikan tempat bersujud.

Ini artinya, di mana saja kita berada, kita harus bisa tetap bersujud pada Tuhan. Namun supaya orang bisa bersujud sedalam-dalamnya—sebagai makna simbolik masjidil aqsha—seseorang harus berangkat dari masjidil haram, atau proses pensucian diri, perilaku, dan alam pikirannya. Kalau pikiran kita hanya dipenuhi kekeruhan, sentimen dan kedengkian, kita tidak akan bisaisrâ’.
Nah, selama ini isra’ mikraj itu hanya kita kenang sebagai kisah yang hanya dialami secara pribadi oleh Nabi Muhammad. Padahal, sebagaimana dikatakan Alquran: “Laqad kâna lakum fî rasûlilLâh uswatun asanah.” Jadi, apa-apa yang dialami Nabi itu adalah teladan mulia. Jadi makna isrâ’ mikraj itu bagian dari teladan, bukan hanya kisah.

Apa yang bisa diteladani dari kisah itu?
Pertama-tama, kita harus bisa isra. Artinya, kita harus bisa ber-takhallî, atau menyingkirkan hal-hal negatif yang ada dalam diri kita. Tahapan ini dilambangkan lewat proses dibersihkannya hati Nabi. Lalu dari situ kita berangkat menuju tempat persujudan yang lebih jauh, karena di situ kita akan naik. Sebab istilah mi`râj berasal dari kata `araja yang berarti naik atau meninggi. Artinya, kita dituntut untuk naik peringkat dalam soal kecerdasan dan spiritualitas. Berarti Anda tidak terlalu tertarik dengan polemik apakah isra mikraj itu terjadi dengan jasad atau jiwa saja, atau dengan keduanya (jasadan wa rûan)?

Bagi saya tidak terlalu penting apakah isra mikraj itu berkaitan dengan jasad, dengan ruh saja, atau dengan keduanya. Yang penting bagi saya adalah makna apa yang bisa kita terapkan di dalam hidup ini dari teladan kisah itu. Misalnya dalam kisah itu digambarkan bahwa setelah mikraj, Nabi sempat bertatap muka dengan Tuhan di sidratul muntahâ, tempat di mana Jibril sendiri tidak bisa menempuhnya. Dari situ saya menangkap bahwa hakikat spiritualitas kemanusiaan itu melampaui spiritualitas malaikat yang selama kita anggap paling tinggi sekalipun.

Jadi dari spiritualitas itu, kita bisa sampai dan menjejekkan kaki di alam yang sudah tidak terlampaui lagi oleh makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Dari situ kita bisa bertatap muka dan berdialog langsung dengan Yang Mahamutlak. Makanya, di dalam Alquran surah an-Nûr dikatakan bahwa Allah itu al-Haqqul Mubîn. Jadi, Tuhan itu sebenarnya kebenaran (al-Haq)yang nyata atau al-mubîn. Jadi Dia tidak sekadar ghaib. Tuhan itu Kebenaran yang Nyata; bukan semata-mata dalam keyakinan Ia ada, tapi juga dalam bentuk Eksistensi yang bisa kita tatap, kita pandang.

Anda menyebut Tuhan sebagai Kebenaran yang Nyata. Namun, tentu tak gampang mengenali Kebenaran yang Nyata itu. Bagaimana proses utuk sampai pada Kebenaran itu kalau berteladan dari kisah isra mikraj?

Kalau kita berteladan dari perjalanan Nabi untuk meraih kebenaran, pertama-tama kita harus prihatin terhadap segenap keburukan, keresahan, dan kerusuhan yang ada dalam masyarakat. Kita harus prihatin, bukan bangga. Kalau di masyarakat banyak kemiskinan, kriminalitas, dan lain sebagainya, kita harus prihatin. Berangkat dari kondisi itulah kita bisa membersihkan diri. Makanya, jauh sebelum isra mikraj, Nabi sudah membiasakan diri ber-tahannuts atau merenung di Gua Hira’. Perenungan itu bertujuan untuk melakukan peninjauan ulang atas kenyataan hidup.

Jadi, pertama-tama kita harus melakukan cek dan ricek atas kenyataan hidup. Dari situlah keprihatinan timbul, upaya untuk menyantuni orang-orang lemah bersemi. Ayat-ayat Alquran yang awal-awal banyak sekali yang berbicara soal itu. Jadi kita disuruh memperhatikan orang-orang lemah, anak yatim yang kurang mendapat kasih sayang, dan sebagainya. Setelah mampu memperjuangkan itu, itulah pertanda bahwa hati kita akan semakin mantap menatap kebenaran. Kalau hanya prihatin, belum mengamalkan apa yang perlu, kita belum merealisasikan kebenaran.

Apa komentar Anda tentang kisah populer soal perundingan alot Nabi menyangkut jumlah salat?

Sebenarnya kita tidak boleh telalu terpancing soal detail dialog itu. Kita seharusnya melihat fungsi salatnya saja. Mungkin yang perlu ditanya: mengapa perundingan itu begitu alotnya? Kita tahu, tujuan pokok salat sebagaimana disebutkan Alquran adalah untuk mencegah kehidupan yang penuh kekejian dan kemungkaran. Untuk mencapai tujuan itu, perlu upaya tersendiri. Dengan semata-mata menjalankan salat, orang tidak otomatis terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Tujuan lain salat kalau merujuk Alquran adalah untuk berzikir kepada Allah; wa aqîmus shalât lidzikrî. Tapi zikir di situ tidak boleh juga dimaknai sekadar mengingat. Kalau hanya mengingat kata-kata (lafaz Allah) saja, anak kecil pun bisa melakukannya. Jadi kata “mengingat” di sini bisa bermakna “mengingat kebenaran yang sudah dirasakan, ditatap, atau yang telah dihayati”.

Artinya, salat itu medium umat Islam untuk mikraj, atau meningkatkan spiritualitas?

Betul. Makanya ada hadis yang berbunyi ”as-shalâtu mi`râjul mu’minîn” (salat itu adalah mikrajnya kaum beriman, Red). Jadi, selain ada mikraj besar atau akbar, ada juga mikraj kecil atau ashghar, yaitu salat kita sehari-hari. Jadi, kita tidak hanya diminta menjalankan salat, tapi juga menegakkannya. Di dalam Alquran soal itu sudah disebutkan panjang lebar. Konsekuensi “menegakkan salat” itu termasuk menyantuni fakir miskin, anak yatim, menjaga kemaluan, dan lain sebagainya. Dalam bahasa ringkasnya, semua itu disebut tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar,mencegah yang keji lagi munkar.

Jadi isi menghindar dari yang keji dan mungkar itubanyak sekali. Kesalahan kita selama ini, salat hanya dimaknai mengerjakan salat itu sendiri lengkap dengan rukun-rukunnya. Kalau hanya mengerjakan, jangan heran kalau Allah juga pernah menyebut orang-orang yang salat bisa celaka. Fa wailun lil mushallîn atau celakalah orang-orang yang mengerjakan salat, kata Allah. Kalau sekadar mengerjakan salat, pasti tidak ada aspek jelas yang dituju. Makanya dalam hadis dikatakan: “Orang yang rajin salat tetapi tidak mampu menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar, akan menjauhkan dirinya dari Tuhan.”

Setelah Nabi menerima perintah salat sebagai upaya mencapai ketinggian spiritualitas, ia kembali turun ke bumi. Apa maknanya?

Itu artinya, ketika kita sudah sampai di sidratul muntahâ, kita sudah sampai pada posisi yang sangat enak. Posisi itu tidak akan dicapai segenap makhluk lain kecuali manusia. Namun,sidratul muntahâ itu bukan tempat di mana manusia bisa menjalankan misi hidup. Makanya ada proses nuzûl atau turun ke bumi dalam kisah Nabi. Setelah datang lagi ke bumi, Nabi langsung melaksanakan tindak sosial, mengupayakan perdamaian, kemudian merancang proses hijrah (transformasi sosial, Red).

Jadi, hijrah itu adalah buah dari mikraj. Kalau seseorang tidak pernah mikraj, maka tidak akan ada tahapan hijrah. Jadi kedua hal itu berurutan. Dan setelah peristiwa mikraj, Nabi terus diminta hijrah. Setelah hijrah, ia diminta berjihad. Jadi isra, mikraj, hijrah, dan jihad itu bergandengan. Selama ini kita salah memaknai hijrah, salah pula memaknai jihad.

Anda menyebut rangkai peristiwa yang beruntun; tahun-tahun kesedihan, isra mikraj, hijrah dari satu keadaan ke keadaan lain, lalu jihad. Tampaknya, fase-fase itu berlangsung lewat tuntunan spiritual dari Tuhan langsung. Apa memang seperti itu proses pembangunan masyarakat?

Ya. Suatu masyarakat tidak akan bisa melakukan suatu perjalanan tanpa rambu atau marka jalan yang hendak dituju. Kalau semua itu tidak dibeberkan lebih dahulu, tidak akan terjadi kemajuan transformasi sosial. Jadi itu merupakan suatu struktur yang telah berurut. Kalau kita mau jadi seorang profesor, kita harus betul-betul sekolah, berupaya mencapai tahapan-tahapannya. Kalau ingin kaya, modal finansial saja tidak akan memadai, tapi juga perlu kerja keras, keahlian, dan punya strategi. Nah, semua itu sebenarnya baru bisa dibeber setelah manusia itu pernah mikraj. Sebab setelah mikraj, seseorang akan mengalami ketenangan batin yang luar biasa. Di saat batin telah tenang itulah kita baru bisa melihat persoalan dengan jernih.

Tapi kenyataannya, ada saja orang sukses tanpa menapaki proses-proses spiritual. Bagaimana menjelaskan perkecualian itu?
Itu sangat terkait dengan persepsi kita tentang sukses. Apa sih yang disebut sukses? Kita tidak bisa menilai sukses hanya ketika seseorang telah mendapat segebok materi. Kalau itu yang jadi ukuran, tidak akan ada orang kaya yang ingin bunuh diri. Kenyataannya, banyak orang kaya yang malah putus asa. Kita tahu bagaimana kondisi Elvis Presley ketika dia berada di puncak ketenarannya. Dia malah putus asa dan banyak minum obat tidur. Jadi kalau hanya melihat ukuran materi, kita tidak bisa menyebutnya sukses. Sebab, orang sukses tentu tak perlu putus asa. Jadi, spiritualitas bukan hanya selalu perlu, tapimerupakan bagian pokok dari kehidupan.

Jadi ringkasnya apa makna isra’ mikraj untuk kita saat ini?

Di dalam kisah isra mikraj ada satu pesan yang maha tinggi nilainya, yaitu perjumpaan para nabi lain dengan Nabi Muhammad. Konon Nabi Muhammad menjadi imam salat mereka. Apa arti kisah simbolik itu? Sebagai umat Nabi terakhir yang sudah mempelajari persoalan umat nabi-nabi sebelumnya, kita tentu akan menghadapi persoalan sebanyak yang pernah dihadapi nabi-nabi sebelumnya. Karena itu kita diperintahkan untuk beriman bukan hanya pada seorang Rasul (Nabi Muhamad saja), tapi ‘âmantu bilLâhi wa malâikatihi wa kutubihi wa rusulihi (beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya, Red). Dengan mengimani semua rasul, kita bisa mengambil hikmah. Salah satu pesan penting isra’ mikraj juga adalah agar kita bisa mengambil hikmah dari ajaran berbagai rasul sebelum Nabi Muhammad. Dengan begitu, kita bisa bertindak lebih arif.

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait