Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Makrifatullah

Awal Beragama Adalah Mengenal Tuhannya

Nabi Muhammad dalam hadistnya mengatakan "awal beragama adalah makrifat (mengenal) kepada Allah". Arti mengenal berbeda dengan hanya sekedar Tahu. Kalau Mengenal sudah pasti tahu, sedangkan tahu belum tentu mengenal. Sebagian besar manusia “mengaku“ mengenal Tuhan, sebenarnya mereka hanya Tahu. Sebagai contoh saat ada pertanyaan “ siapa Tuhanmu ? “ dan jawabannya pasti beragam “ Allah, Yesus, Hyang Widi, dsb”. Hal ini kebanyakan dari manusia hanya Tahu Salah satu dari Nama Tuhan, belum mengerti siapa Tuhan Sebenarnya. (Baca : Hakekat Iman)

Nabi Muhammad pernah menyampaikan “ Belajarlah Hingga Ke Negeri Cina”. Orang muslim hanya memaknai betapa pentingnya belajar, akan tetapi harapan dari Nabi dengan hadistnya yang ingin ditekankan selain dari nilai pentingnya belajar adalah adalah agar semua manusia belajar, mencari, memahami dan akhirnya mengenal siapa Tuhannya, sehingga saat beribadah menghadap Tuhan, para manusia mengerti siapakah yang sedang di SEMBAH.

 **** KALAU USUL JANGAN ASAL, KALAU ASAL JANGAN USUL **** 

Apabila manusia tidak mengenal Tuhannya, mana mungkin manusia bisa yakin dengan apa yang dilakukannya. Hal ini seperti Seorang pemburu yang membidik ribuan burung, dimana sang pemburu tidak tahu burung mana yang akan dia bidik. Kalaupun dia berani memanah…adanya kesia-siaan.

Nabi Muhammad menyampaikan “Siapa yang melihat kepada sesuatu, tidak dilihatnya Allah didalamNya, maka penglihatannya itu batal dan sia-sia belaka”.

Abu Bakar Siddik  "Tidak Aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah Ta’ala terlebih dahulu”.

Usman Ibnu Affan “Tidak aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah segalanya".

Umar Ibnu Khattaf “Tidak aku lihat sesuatu, hanya aku lihat Allah Ta’ala kemudiannya“.

Ali Bin Abi Talib “Tidak aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah Ta’ala di dalamnya”. “Tidak diperkenankan Ibadahnya seseorang apabila belum melihat-Nya, karena yang ada hanya kesia-sian”.

Dalam satu hadistnya, Nabi Muhammad  menyampaikan “Siapa mengenal dirinya maka mengenal ia akan TuhanNya”. Dalam hadist yang lain adalah sebagai berikut  “Maka barang siapa mengenal dirinya binasa, niscaya dikenalnya Tuhannya kekal”.

Nabi dan para sahabat telah menghimbau secara tidak langsung kepada kita semua untuk “berjalan” mencari, tidak hanya menerima “matang” atau instan. Hal-hal yang instan tentunya semua orang memahami belum tentu menyehatkan, belum tentu baik!. “Itu kan Nabi, Itu kan para sahabat, Itukan para Waliullah”, “ Kita beda?!, kita kan manusia biasa”. Itu adalah sedikit jawaban dari orang-orang yang menutup dirinya dengan cahaya Tuhan

Tuhan memerintahkan secara jelas untuk menjadi islam secara kaffah (menyeluruh) dalam Q.S Al Baqarah "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu". (Qs. Al Baqarah 2 : 208)

 ".......dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan............", Jadi bagi manusia yang tidak mau "berjalan" untuk mencari hingga mengenal Tuhan....maka manusia tersebut mengikuti langkahnya syetan.

Di dalam Islam setiap pemeluknya terdapat dua pilar sebagai penyangga keyakinannya, Rukun Islam & Rukun Iman. Dalam Rukun Islam yang pertama adalah Mengucapkan dua kalimat sahadat, " Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah". Rukun Iman yang pertama " Percaya kepada Allah".

"Bagaimana Manusia BERSAKSI kalau manusia itu sendiri belum PERCAYA, bagaimana PERCAYA kalau belum MELIHAT"

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Al Mujaadilah 58:11)

Tuhan tidak akan memberikan ilmu apabila orang tersebut hanya diam dengan tidak ada usaha untuk mencarinya. Semua Nabi, dan utusan Tuhan semua melaksanakan perjalanan "pencarian" dengan "lelaku" dan metode masing-masing sesuai zamannya. Dengan sekian banyak riwayat yang kita terima, sudah seharusnya kita mengikuti apa yang dijalankan oleh para pendahulu kita agar kita menjadi "Haqul Yaqin".

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.(QS. Az Zumar 39:9)

Nabi menyampaikan dalam hadistnya "Perbedaan derajat kemuliaan seseorang yang beramal ibadah berdasarkan ilmu dengan seseorang yang hanya sekedar beribadah saja (tanpa ilmu) sama dengan perbedaan derajat kemuliaanku (kata Nabi) dengan derajat seseorang yang paling hina dari antara kamu!".

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait