Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Martabat Nafsu

Firman Allah "Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya"

Hadis Qudsi,firmanNya "Sesungguhnya manusia itu rahsiaKu dan Akulah yang menjadi rahsianya. Dan rahsia itu sifatKu dan sifatKu tiada lain, Aku lah jua"

Mengenai soal makrifat pula Allah berfirman dalam hadis Qudsi "Akulah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku ingin supaya dikenali(dimakrifati), maka Aku jadikan alam ini, maka mereka makrifat kepadaKu"              

FirmanNya lagi: 
"Sesungguhnya Allah memrintahkan kamu (manusia) memulangkan amanah kepada yang berhak (Allah)" 

Jadi taraf kemuliaan sesorang hamba Allah itu adalah bergantung sejauh mana taraf makrifatnya kepada Allah. Sekiranya kita mampu mencapai tahap sebenar-benar makrifat jadilah kita sebaik-baik makhluk sebagaimana firmanNya:  "Sesungguhnya yang beriman dan beramal soleh, mereka itu adalah sebaik baik makhluk" 

Tapi sebaliknya sekiranya kita gagal untuk mengembalikan amanah untuk makrifat maka jadilah kita sebagai mana yang di firmankan olehNya : "Kemudian Kami kembalikan dia di tempat yang serendah-rendahnya" 

Dan firmanNya lagi:  "Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk"  Baik buruknya manusia adalah bergantung kepada tahap-tahap kesucian batinnya atau nafsunya

Nafsu mempunyai dua pengertian:
Pertama, suatu pengertian yang meliputi segala tabiat-tabiat: spt. marah, nafsu berahi dan syahwat serta semua yang keji seperti hasad dengki, riak, dendam, sum'ah dan sebagainya. Nafsu ini ada juga pada binatang. Sabda Rasulullah s.a.w,  "Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau".

Kedua, Makna yang kedua adalah berkaitan kejadian "latifah rabbaniyyah' iaitu sesuatu yang batin yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar sebaliknya ia adalah melibatkan soal-soal kerohanian. Jenis-jenis nafsu-nafsu tersebut adalah : Amarah , Lawammah, Mulhammah, Mutmainah, Radhiah dan Mardhiah. 

Martabat Nafsu Amarah
Amarah adalah martabat nafsu yang paling rendah dan kotor di sisi Allah. Segala yang lahir darinya adalah tindakan kejahatan yang penuh dengan perlakuan mazmumah (kejahatan/keburukan). Pada tahap ini hati nurani tidak akan mampu untuk memancarkan sinarnya kerana hijab-hijab dosa yang melekat tebal, lapisan lampu makrifat benar-benar terkunci. Dan tidak ada usaha untuk mencari jalan menyucikannya. Kerana itulah hatinya terus kotor dan diselaputi oleh pelbagai penyakit.

Firman Allah:
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya" , "Sesungguhnya nafsu amarah itu sentiasa menyuruh manusia berbuat keji(mungkar)", "Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus)"

Dalam kehidupan seharian segala hukum haram, halal-haram, perintah dan larangan tidak pernah di ambil peduli. Tidak ada penyesalan, malah kadang-kadang bangga berbuat jahat. Contohnya dia berbangga dapat merusakkan anak “perawan” orang, bangga dengan kehidupan sombong, minum, berjudi, pergaulan bebas malah lebih dari orang barat. Bagi mereka pada peringkat nafsu ini, konsep hidupnya adalah sekali, jadi masa mudalah untuk berbuat sepuas-puasnya tanpa mengenal batas-batas. Baik jahat adalah sama saja di sisinya tanpa ada perasaan untuk menyesal. Malah kadang-kadang saat berbuat jahat seolah-olah terdapat perasaan lega dan puas.

Allah berfirman, "Tidaklah engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsunya (amarah) menjadi Tuhan dan dia disesatkan oleh Allah kerana Allah mengetahui (kejahatan hatinya) lalu Allah mengunci mati pendengarannya (telinga batin) dan hatinya dan penglihatannya (mata hatinya) diletak penutup."

Manusia pada peringkat nafsu amarah ini bergembira bila menerima nikmat tetapi berdukacita dan mengeluh bila tertimpa kesusahan.  Firman Allah "Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah akibat kesalahan tangan mereka sendiri, lantas mereka berputus asa."

Jelasnya pada peringkat ini segala tindak tanduknya adalah menuju dan mengikut apa kehendak syaitan yang mana telah dikuasai sepenuhnya olehnya(Syaitan). Rupa boleh manusia, tapi hati dikuasai syaitan. 

Pada peringkat ini, manusia itu tak akan terima nasihat. Dilaksanakan peneguran macam manapun, dia tetap tak akan berubah kecuali diberi hidayah oleh-Nya. 

Mereka tidak pernah takut pada Allah dan hari pembalasan. Malah meremehkan. Mengejek dan mencemooh. Mereka tidak pernah peduli dengan ancaman Allah seperti:  "Akan dicampakkan ke dalam neraka jahanam dari golongan jin dan manusia yang mempunyai hati tidak memperhatikan, mempunyai mata tidak melihat, mempunyai telinga tidak mendengar. Mereka itu adalah binatang malah lebih hina dari binatang karena mereka termasuk di dalam golongan yang lalai".

Mereka suka mencela orang lain, memperbodohkan kelemahan orang lain dan melihat dirinya sendiri serba sempurna. Mereka tidak pernah menyandarkan hasil usahanya kepada Allah. Mereka fikir apa saja kesuksesan mereka adalah hasil titik peluh diri sendiri.  Jiwa mereka pada tahap ini adalah kosong dan hubungan dirinya dengan Allah boleh dikatakan tidak wujud.

Dalam konteks penerimaan ilmu, orang yang bernafsu amarah hanya berupaya menerima ilmu diperingkat ilmu Qalam. Terutamanya yang mementingkan soal-soal lahiriah dunia saja. Tak ada minat kepada pelajaran agama dan hari akhirat. Pada peringkat ini tidak ada peluang sama sekali untuk menerima ghaib dan ilmu syahadah selagi hatinya kotor dan tidak disucikan dengan pembersihan zikrillah yang mempunyai wasilah bai'ah dengan Rasulullah s.a.w.

Untuk membebaskan diri dari cengkaman nafsu ini hendaklah menemukan jalan wasilah ilmu Rasulullah s.a.w dengan menerima petunjuk dari ahli zakir yaitu guru mursyid yang dapat memberikan petuah-petuah penyucian diri dan penyucian jiwa yang mempunyai mata rantai dengan Rasulullah s.a.w.  Sabda Rasulullah s.a.w: "Tiap sesuatu ada alat penyucinya dan yang menyuci hati ialah zikir kepada Allah "

Pada tahap amarah ini kalau berzikirpun hanya dibibir saja tanpa meresap ke dalam jiwa. Amarah tidak mengenal siapapun, malah ahli kitab sekalipun walaupun ada kelulusan Azhar, walupun berserban dan berjubah. Amarah tidak pernah takut dengan itu semua malah lagi senang ia menyerang. Yang ia takut hanyalah zikrillah. 

Sabda Rasulullah s.a.w: 
"Sesungguhnya syaitan itu telah menaruh belalainya pada hati manusia, maka apabila manusia itu berzikir kepada Allah, maka mundurlah syaitan dan apabila ia lupa, maka syaitan itu menelan hatinya" 

Martabat Lawwamah  
Nafsu lawwamah ialah nafsu yang selalu mengkritik diri sendiri bila berlaku suatu kejahatan dosa atas dirinya. Hal ini lebih baik sedikit dari nafsu amarah. Kerana ia tidak puas atas dirinya yang melakukan kejahatan lalu mencela dan mencerca dirinya sendiri. Bila buat khilap dia lebih cepat sadar dan terus kritik dirinya sendiri. Perasaan ini sebenarnya timbul dari sudut hatinya sendiri saat berbuat dosa, secara otomatis terbitlah semacam bisikan dilubuk hatinya. Inilah yang di katakan lawwamah. Bisikan hati seseorang akan melarang dirinya melakukan sesuatu yang keji timbul secara spontan. Cepat rasa bersalah pada Allah Rasulullah atas keterlanjurannya. Dia ibarat taufik dan hidayah Allah untuk memimpinnya kembali dari kesesatan dan kesalahan kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Rasulullah s.a.w bersabda:

"Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan menjadikan untuknya penasihat dari hatinya sendiri" 

"Barangsiapa yang hatinya menjadi penasihat baginya, maka Allah akan menjadi pelinding ke atasnya." 

 

Tapi bila seseorang itu meningkat ke martabat nafsu lawwamah tapi tidak mematuhi isyarat lawwamah yang memancar di hatinya, maka lama-kelamaan isyarat ini akan padam dan lenyap. Hingga jatuhlah kembali pada tahap nafsu amarah kembali. Sebab itu kadang-kadang kita lihat, sebentar baik, seketika berbuat jahat lagi. Ini di sebabkan oleh keadaan nafsunya yang berubah-ubah.  


Firman Allah : 
"Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti (suruhan jahat) mereka setelah datang ilmu (isyarat lawwa-mah) kepadamu, sesungguhnya kamu termasuk dalam golongan orang-orang yang zalim" 

"Sesungguhnya petunjuk Allah ialah petunjuk yang sebenarnya.Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan (jahat dan keji) mereka , setelah ilmu diperolehi (datang kepadamu) maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu". 

Pada tahap lawwamah ini masih lagi bergelimang dengan sifat-sifat mazmumah tapi jumlahnya mulai berkurang sedikit. Keinsafan memancar. Sekiranya dia terus mematuhi isyarat lawwamah yang ada, sedikit demi sedikit sifat-sifat keji dapat dihapuskan. Pada peringkat ini dia banyak meneliti diri sendiri dan merenung segala kesilapan yang lampau. Bila perasaan menyesal datang, orang-orang pada peringkat sangat mudah mengeluarkan air mata penyesalan.

Kerap menangis dalam solat, atau bila sendirian, sewaktu berzikir, bersolawat. Air matanya bukanlah disengajakan tetapi berlaku secara spontan. Inilah dikatakan sebagai tangisan diri. Pada peringkat ini mula banyak mengkaji dan meneliti alam dan kejadian. Malah sentiasa membandingkan sesuatu dengan dirinya. Mereka juga menjadi gila untuk beribadat dan cenderung kepada perbincangan berkaitan soal mengenal diri dan berkaitan dengan agama. Perubahan ini bias jadi terjun ke alam tasauf.  
Rasulullah s.a.w bersabda: 

"Bahawasanya orang-orang mukmin itu perhatiannya pada solat, puasa dan ibadat dan orang munafik itu perhatiannya lebih kepada makanan dan minuman seperti halnya binatang" 

"Sedikit taufik adalah lebih baik dari banyak berfikir dan berfikir perkara duniawi itu mendaruratkan dan sebaliknya berfikir perkara agama pasti mendatangkan kegembiraan" 

Pada tahap ini sudah lebih mementingkan akhirat daripada dunia.  Namun begitu, walau bila dibandingkan dengan amarah ia lebih tinggi sedikit, namun sekali-sekali ia tidak terlepas juga dari jatuh kedalam jurang dosa dan kejahatan. Imannya masih belum kuat. Namun ia cepat sedar dan cepat beristigfar minta ampun kepada Allah.  Firman Allah, "Aku bersumpah dengan nafsu lawwamah" , Sebagai contoh kalau tertinggal sembahyang terdapat perasaan kecut hati dan cepat menyesal.

Antara sifat nafsu lawwamah adalah: 
1. Mencela diri sendiri 
2. Bertafakur dan berfikir 
3. Membuat kebajikan kerana ria 
4. Kagum pada diri sendiri yakni 'ujub 
5. Membuat sesuatu dengan sum'ah -agar dipuji 
6. Takjub pada diri sendiri, Sesiapa yang merasa berdegup di hati,  sifat seperti di atas, maka orang ini masih berada pada tahap nafsu lawwamah seperti terdapat pada kebanyakan orang awam .

Harus terus-menerus berzikir untuk menembus dan menyucikan sisa-sisa karat hati. Zikir pada peringkat nafsu ini masih lagi dibibir tetapi kadang-kadang sudah mulai meresap masuk ke lubuk hati tapi dalam keadaan yang tidak istiqamah. Pada peringkat ini memang sudah timbul gila beribadat sehingga kadang-kadang merasa dirinya ringan dan melayang, kadang-kadang macam hilang dirinya. Rasa semacam semut berderau diseluruh tubuhnya terutama pada bahagian tulang belakang dan tangannya. Keadaan beginilah menimbulkan keasyikan yang muncul dengan amalan zikir dan ibadat lain.  

Pada pringkat ini sudah menerima sedikit ilham hasil dari zauk dan kadang-kadang mengalami mimpi yang perlu ditafsir kembali oleh guru. Bila secara terus menerus menerima bimbingan dari guru,  Insyaallah nafsunya lawwa-mah ini akan meningkat kepada tahap seterusnya. 

 

Martabat Mulhamah      
Nafsu ini lebih baik dari amarah dan lawwa-mah. Nafsu mulhamah ini ialah nafsu yang sudah menerima latihan beberapa proses kesucian dari sifat-sifat hati yang tercemar melalui latihan sufi/tariqat/amalan guru lainnya yang mempunyai sanad dari Rasulullah s.a.w. Kesucian hatinya telah menyebabkan segala pikiran kotor atau was-was yang disebabkan oleh syaitan telah dapat dibuang dan diganti dengan ilham dari Allah. 

Firman Allah: 
"Demi nafsu (manusia) dan yang menjadikannya (Allah) lalu diilhamkan Allah kepadanya mana yang buruk dan mana yang baik, sesungguhnya dapat kemenanganlah orang yang menyucinya (nafsu) dan rugilah (celakalah) orang yang mengotorkannya(nafsu)  , Maqam nafsu ini juga dikenali dengan nafsu samiah”.

Pada pringkat ini amalan baiknya sudah mengatasi amalan kejahatannya. Sifat mazmumah telah diganti dengan mahmudah. Sikap beribadat telah tebal dan amalan guru terus diamalkan dengan lebih tekun lagi.

Pada penyesalan pada peringakat lawwamah tadi bersemayam di dalam jiwa. Isyarat lawwamah sentiasa subur. Sesungguhnya taubat orang peringkat mulhamah ini adalah "taubatan nasuha" . Bukan saaj di mulut tetapi hakiki.  Dalam kehidupan sudah terbina satu sikap yang baik, tabah menghadapi cobaan dan bila difikiran terlintas sesuatu yang ke arah maksiat, mereka langsung memohon kepada perlindungan dari Allah. 

Firman Allah: 
"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa , bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketiak itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan."

Sabda Rasulullah S.a.w: 
"Barangsiapa yang merasa gembira dengan kebaikannya dan merasa susah (gelisah) dengan kejahatan yang dilakukan, maka itu orang-orang mukmin"

Zikir pada tahap ini telah meresap kedalam lubuk hatinya bukan sekadar dibibir saja. Meraka sudah menerima hakikat nikmat zikir dan zauk. Bila disebut nama Allah rindunya sangat besar, mengalir dengan kecang darahnya dan gementar tubuhnya tanpa disengajakan.
 
Firman Allah: 
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu, bagi mereka apabila sahaja disebut nama Allah, niscaya gementarlah seluruh hati mereka" .

Perasaan ini terus menjalar sehingga bertemu kekasihnya.  Antara sifat-sifat yang bernafsu mulhamah: 
1. Sifat-sifat ketenangan,lapang dada dan tidak putus asa. 
2. Tak sayangkan harta 
3. Qanaah. 
4. Berilmu laduni 
5. Merendah diri/ tawwadu' 
6. Taubat hakiki 
7. Sabar hakiki 
8. Tahan ujian dan menanggung kesusahan

Mereka pada tahap ini mulai masuk ke maqam wali yakni kerapkali mulai mencapai fana yang menghasilkan rasa makrifat dan hakikat (syuhud) tetapi belum teguh dan kemungkinan untuk kembali kepada sifat yang tidak baik masih ada. Kebanyakan orang cepat terhijab pada masa ini kerana terlalu asyik dengan anugerah Allah padahal itu hanyalah ujian semata-mata. 

Dalam konteks ilmu pula mereka bukan saja menguasai ilmu qalam malah sudah dapat menguasai ilmu ghaib melalui tiga cara laduni yaitu nur, cara tajalli dan cara laduni di peringakat sir. Yang dimaksudkan dengan laduni peringkat sir ialah menerusi telinga batin yang terletak ditengah-tengah kepala yang biasanya dipanggil bahagian tanaffas. Suara yang diterima amat jelas sekali. Tak ubah seperti mendengar suara telefon. Pada masa yang sama pendengaran zahir tetap tidak terganggu walaupun masa menerima laduni sir itu ada kawan yang sedang berbicara.

Biasanya suara ghaib itu adalah waliyulah atau ambia yang merupaka guru-guru ghaib yang bertugas mengajar ilmu ghaib pada mereka yang diperingkat mulhamah. Tapi perlu ingat guru murysid zahir kita tetap guru. Malah Guru mursyid kita sebenarnya telah berkomunikasi terlebih dahulu dengan guru-guru ghaib ini.

Oleh sebab itu kalau tak ada murysid kita akan terpedaya dengan syaitan dan jin yang menyamar. Pembukaan telinga batin ini pada awalnya berlaku seakan suatu bisikan suara yang dapat diterima dalam anak telinga, dimana pada permulaannya merasa berdesing. Kemudian barulah dapat dengar jelas. 

Zikir tetap meningkat. Pada peringkat inilah Allah berfirman:  
"Orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir kepada Allah.Ingatlah hanya dengan berzikir kepada Allah sahajalah hati menjadi tenteram".  

 

Martabat Mutmainah   
Inilah peringkat/martabat nafsu yang pertama yang benar-benar diridhai Allah. Yang layak masuk syurga Allah. Maknanya siapa sampai pada maqam ini bererti syurga tetap terjamin, InsyaAllah. Hakikat inilah yang difirmankan Allah, "Wahai orang yang berjiwa / bernafsu mutmainnah, pulanglah kepangkuan Tuhanmu dalam keadaan ridhai meredhai olehNya dan masuklah ke dalam golongan HAMBAKU dan masuklah ke dalam syurgaKU".

Pada peringkat ini jiwa mutmainnah merasakan ketenangan hidup yang hakiki yang tidak dibuat-buat. Tidak ada lagi perasaan gelisah. Semuanya lahir dari tauhidnya yang tinggi dan mendalam. Tauhid yang sejati dan hakiki. Tidak ada lagi perbedaan senang dengan susah, baginya sama saja. Pada maqam inilah permulaan mendapat darajat wali kecil. 
Antara sifat-sifat maqam ini adalah: 
1. Taqwa yang benar. 
2. Arif 
3. Syukur yang benar 
4. Tawakkal yang hakiki 
5. Kuat beribadat 
6. Ridha dengan ketentuan Allah 
7. Murah hati dan sering bersedekah. 
8. Dan lain-lain sifat mulia yang tidak dibuat-buat.

Pada maqam ini biasanya(walaupun tidak semestinya), akan muncul keramat-keramat/keanehan yang luar biasa serta mendapat ilmu dengan tanpa susah payah belajar, sebab sudah dapat menerima rahasia-rahasia dari LaulMahfuz. Adanya sifat lidah masin. Apa yang keluar dari mulut bukan sembarangan lagi bahkan menerusi yang dipanggil sebagai 'inkisaf'. Mereka sudah menguasai ilmu peringkat nur, tajalli, sir dan juga sirussir, iaitu lebih tinggi dari maqam mulhamah. Yang dikatakan menerusi sirussir ialah cara penerimaan dengan telinga dan mata batin. Kalau mulhammah tadi baru terbuka dengan telinga batin tanpa mata batin. Dengan mata batin inilah dia berupaya melihat sesuatu yang ghaib yang tak mampu dilihat oleh mata biasa kita. Malah dapat melihat sesuatu yang akan berlaku pada masa akan datang.

Dengan izin Tuhan, maka seorang pembimbing akan melihat kebelakang tentang sejarah hidup kita. Yang mana bila ada kesalahan akan diberikan bimbingan untuk membetulkannya.

Perlu dingat pada peringkat ini dia tidak terganggu penglihatan dan pendengaran. Melalui penerimaan sirussir ini dia berupaya melihat alam barzakh, menjelajahi alam alam malakut. Keyakinan mereka sudah pada tahap ainul yakin dan haqqul yakin. 

Fana dalam kondisi ini mulai berlaku,  yang dikenal dengan "fana qalbi" yaitu merupakan penafian diri ataupun menafikan maujud dirinya dan diisbatkan kepada wujudnya Allah semata-mata. Inilah peringkat LAA MAUJUD ILLALLAH. Keadaan inilah yang digambarkan Allah:  "Semua yang ada adalah fana (tiada wujud hakikinya).Dan yang kekal(baqa) itu adalah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan" , Namun fana qalbi ini tidaklah kekal.

 

Martabat Radhiah         
Maqam ini dinamakan radhiah kerana perasaan keridhaan pada segala ketentuan dan hukuman Allah. Pada maqam ini sudah tidak ada rasa takut dengan pada bala’ Allah dan selalu gembira dengan nikmatNya. Apapun yang penting Allah ridha. Seperti sakit, orang dalam peringkat ini tidak memerlukan obat. Baginya sakit yang diterimanya adalah nikmat, dengan sakit tersebut dia merasa dekat dengan Tuhan. Dunia sudah dipandang kecil.

Firman Allah: 
"Sesungguhnya wali-wali Allah itu tak rasa ketakutan dan tak pernah rasa kerungsingan di atas mereka".  Ini kerana nur syhuhud sudah sebati dalam jiwa mereka. Alam sekeliling seperti cermin yang boleh mereka melihat Allah setiap ketika. Ini adalah maqam musyahadah tahap ihsan seperti hadis Rasulullah s.a.w: "Hendaklah kamu menyembah Allah sebagaimana kamu melihatNya..."  Ini adalah maqam wali dalam martabat khawas.

Pada masa inilah apa yang diisyaratkan oleh rasulullah s.a.w, "Perhatikanlah akan firasat orang mukmin, bahwasanya orang-orang mukmin itu melihat dengan Nur Allah". 

Pada tahap radhiah ini ,ia melihat melalui basyirahnya, merenung dengan kasyafnya , bertindak melalui perintah ilmu laduninya.Mulutnya dan doanya sangat mustajab. 'Barang dipinta barang jadi"          

Orang dimaqam ini kadang-kadang perbuatannya menyalahi syariat. Percakapan kadang-kadang menyinggung orang biasa yang tak faham yang dikeluarkan tanpa sengaja. Masih lagi mengalami fana qalbi, tapi tidak menentu. Hidupnya ibarat dimabuk gelora cinta seolah terapung bersama-sama Allah. Hanya memandang dan menyaksikan sesuatu bahwa tiada suatu yang wujud di dunia ini melainkan wajah Allah semata-mata, "Di mana saja kamu menghadap, maka disitulah wajah Allah”. Itu yang terjadi pada Al Junaid, “Tiada apa dalam jubahku, melainkan Allah”. 

Mereka sudah memandang yang banyak kepada satu. Keadaan inilah akan menimbulkan fitnah, malah kadang-kadang orang akan anggap gila. Inilah maqam Ana'al Haq-Mansur Al-Hallaj. 

Zikir pada peringkat ini adalah secara 'khafi' yang telah meliputi seluruh anggota zahir dan batinnya. Pada peringkat inilah kulit berzikir, daging berzikir, tulang berzikir, malah semuanya berzikir. Darah Al-Hallaj membentuk tulisan Allah lalu keluar zikir, malah kematian wali-wali seperti Tok Ku Paloh, masih lagi terdengar zikir di dadanya.

Kadang-kadang mereka dijemput menjelajah alam ghaib kubra yang diluar akal manusia. Malah mereka di ajar ilmu tinggi yang lebih canggih dari manusia biasa yang dicapai oleh zaman moden ini.

Mereka berhubungan secara langsung dengan para rasul, nabi, ambia dan waliyullah yang lain.
Sifat-sifatnya: 
1. Ikhlas 
2. Warak 
3. Zahid 
4. Dan lain-lain lagi yang baik yang ada pada maqam sebelum ini.

Martabat Mardiah 
Pada peringkat ini segala yang keluar darinya semuanya telah diridhai Allah. Perilakunya, kata-katanya, diamnya semuanya dengan keridaan dan keizinan Allah. Akan keluar keramat yang luar biasa. Mereka sudah menanam ingatan pada Allah diteras lubuk hati mereka menerusi cara "khafi-filkhafi", maknanya secara penyaksiaan 'basitiah' yaitu penyaksian sifat ma'ani Allah yang nyata dan dizahirkan oleh diriNya sendiri.

Af'al diri mereka sudah dinafi dan diisbahkan secara langsung kepada af'al Allah semata-mata. Jiwa mereka betul-betul kuat, ingatan mereka terhadap Allah tidak sesaatpun berpisah darinya. Penyaksiaan terhadap hak sifat Allah jelas baginya sehingga hilang dirinya nya sendiri.

Inilah dinyatakan sebagai Abu Yazib Bistami: "Subha Inni.." ,"Pandanglah yang satu pada yang banyak"          

Peringkat ini sudah tenggelam dalam fana baqabillah. Pada peringkat inilah orang lebih suka mengasingkan diri, tidak suka bergaul lagi dengan makhluk. Mereka mempunyai kesedaran dua alam sekaligus. Zahir dan batin.
Firman Allah, "Apa yang di sisi kamu itu pasti lenyap dan apa yang ada di sisi Allah tetap kekal".

Sabda Rasulullah s.a.w: 
"Apabila kamu sekalian melihat seseorang mukmin itu pendiam dan tenang, maka dekatilah ia. Sesungguhnya dia akan mengajar kamu hikmah" 

Menyentuh tentang zikirnya, zikirnya adalah zikir rahasia, tidak lagi ada lafaz dengan lidah maupun hati, tapi seluruh anggota zahir dan batin mengucapkan dengan zikir rahsia yang didengar oleh telinga batin di maqam tanaffas. Zikirnya tidak pernah terganggu dengan alam zahir walaupun dia tengah bercakap atau buat apa sahajapun. 

Firman Allah: 
"Orang-orang berzikir kepada Allah sambil berdiri, sambil duduk dan dalam keadaan berbaring..." 

Bagi mereka di maqam ini setiap perbuatan, perkataan, penglihatan dan apa sahaja adalah zikir.

Pada tahap ini mempunyai kekeramatan yang amat luar biasa. Namun biasanya jarang sekali memamerkan kelebihannya. Dari segi ilmu, mereka sudah memperolehi ilmu semua peringkat sebelum ini iaitu nur, tajalli, sir, sirussir malah ditambah lagi dengan cara tawasul/yaitu secara nyata dengan ambia dan waliyullah atau lebih sering disebut dengan "Khawa Fulkhawaf". Berlaku tanpa sengaja dan tanpa dapat dikontrol (diminta, diharapkan, dll).

Sifat-sifatnya: 
1. Ridha dan rela dengan apa-apa pemberian Allah 
2. Lemah lembut pergaulannya 
3. Elok dan tingginya budi 
4. Lain-lain sifat terpuji maqam sebelum ini.

 

Martabat Kamaliah 
Maqam ini adalah tertinggi. Maqam ini digelar sebagai "baqa billah", Kamil Mukamil", Al Insan kamil kerana ia dapat mennjadikan satu antara zahir dan batin, yakni ruh dan hatinya kekal kepada Allah tetapi zahir tubuh kasarnya tetap dengan manusia. Hati mereka kekal dengan Allah dimanapun dan kapanpun, tidur atau jaga sentiasa mereka bermusyahadah kepada Allah. Ini adalah maqam khawas al khawas. Semua gerak-gerik merupakan ibadah. Harta, berak, kencing mereka, tidur mereka dan sebagainya. 

Ilmu mereka adalah seperti yang dinyatakan oleh Imam Ghazali, ilham dan ilmu mukasyafah yang diterima nya semuanya datang dari Allah.

Sumber rujukan : 
Al-Hikam 
Ihya Ulumudin 
Rahasia Mengenal Diri
Mengenal Diri Dan Wali Allah
Awarif al Ma'arif
Mengenal Ilmu Tasauf 
Siapa Wali 

Risalatul Qusyairiah 
Sirrul Asrar 
Perkembangan Tasauf dari Abab ke Abab 
Al-Quran dan Al Hadis 

Dan lain-lain 
Serta pengalaman bersama dan petunjuk ajar Mursyid Tercinta

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait