Yayasan Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Notonegoro

Sri Aji Joyoboyo, Raja kediri telah memberikan prediksi tentang Indonesia di masa yang akan datang. Salah satunya mengenai siapakah pemimpin-pemimpin besar yang akan membawa perubahan tentang negeri ini.  NOTO NEGORO, itulah liturgi nama dari pemimpin yang akan membawa indonesia memasuki catatan dunia.         

Agar kita memiliki pandangan yang sempurna mengenai makna dari NOTO NEGORO, marilah kita cermati dengan menggunakan kedua mata kita. Mata kanan melambangkan mata ‘syariat’, yaitu berkenaan dengan ‘lahiriah’ dan mati kiri, yaitu pengupasan melalui makna atau ‘Hakikat’ dari NOTO NEGORO itu sendiri.         

Tiap manusia dituntut untuk memaknai / memandang segala sesuatu harus dari dua sisi agar didapatkan ‘esensi’ sebenarnya. Hal ini secara tersurat dan tersirat tertuang dalam Surat Yasin dan Adz Dzaariyaat sebagai berikut dibawah ini ; “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.  (QS. Yaasiin 36 : 36)

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”. (QS. Adz Dzaariyaat 51 : 49)

A.      MAKNA HAKIKAT NOTO NEGORO
Makna sebenarnya adalah bahwa pemimpin indonesia harus  bisa dan mampu  “NOTO NEGORO” (Menata Negara). Hal ini memiliki artian yang sangat luas, beberapa adalah sebagai berikut :

1.      Pemimpin harus berjiwa besar
Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.         

Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuno yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14.

Indonesia lahir karena perbedaan tersebut. Sehingga pemimpin indonesia harus mengerti dan memahami baik arti hingga prakteknya dalam memimpin bangsa ini. Pemimpin yang berjiwa besar dalam prakteknya tidaklah “EGO” dengan keinginannya sendiri. Pemimpin atau Raja adalah pelayan bagi rakyatnya. Dia menyadari penuh bahwa dia dari rakyat, mengabdi untuk rakyat serta nantinya akan kembali kepada rakyat. Maka dari itu, dalam jangka jayabaya disebutkan sebagai Raja tanpa mahkota atau seorang pemimpin yang merakyat. (Baca : Satrio Piningit)

2.     Pemimpin Indonesia harus memiliki jiwa “Bela Bangsa” yang tinggi
Salah satu cara agar memiliki jiwa bela bangsa adalah dengan di didik di kawah candra dimuka. Kawah candra dimuka sendiri memiliki dua artian ;

Pertama, sebagai tempat pendadaran olah keprajuritan. Diharapkan setelah selesai menjalani pendadaran di kawah ini, memiliki jiwa seperti Gathotkaca. Otot kawat balung wesi sumsum timah. Yang artinya sosok ini berjiwa tangguh, tanggap, tanggon dan trengginas. Dan memiliki mental jiwa bela bangsa yang kuat dan kokoh.

Selain sebagai tempat olah keprajuritan, kawah candra dimuka juga berarti “tempaan hidup” , sehingga menjadikan setiap manusia secara otomatis memiliki jiwa kebangsaan yang luar biasa. Seperti saat zaman penjajahan. Secara otomatis masyarakat saat itu memiliki jiwa bela bangsa yang kuat.
Bentukan dari hal ini disebut dengan Nasionalis. (Baca Satrio Piningit)

Kedua, sesuai artian candra dimuka adalah sinar rembulan, maka sosok pemimpin kedepan haruslah sudah matang dalam dunia spiritual. Dia harus menjalani sendiri. Dia tidak hanya memahami dunia “syariat atau tatanan wujud” saja, akan tetapi hingga mencapai tataran insal kamil/manusia pilihan. Bentukan dari proses ini disebut dengan Spiritualis.         

Cinta akan bangsanya bisa dimiliki oleh seluruh warga negara indonesia yang baik dan hal tersebut “hukumnya adalah wajib”. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Akan tetapi untuk “bela bangsa” belum tentu dimiliki oleh seluruh warga, sebab “Jiwa Bela Bangsa” identik dengan “konsep / sistem” atau lebih  spesifiknya disebut dengan “Taktik dan Strategi”.

Sehingga untuk menjadi Pemimpin bangsa indonesia tidak hanya dia sebagai seorang spiritualis atau hanya sebagai seorang nasionalis saja. Akan tetapi kedua hal ini harus ada, saling melengkapi. Harapannya apabila kedua hal ini berada di satu sosok manusia, maka manusia tersebut layak untuk naik menjadi pemimpin bangsa indonesia. Sehingga layak lah dia disebut sebagai “ Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu”. Seorang Ksatria / prajurit yang menjalankan kepemimpinannya dengan berlandaskan jiwa yang baik karena selalu diterangi oleh petunjuk-petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga untuk mendapatkan pemimpin yang berwatak NOTO NEGORO haruslah melalui dua tempaan seperti tersebut diatas.

B.      MAKNA SYARIAT (WUJUD) NOTO NEGORO
Negara indonesia pernah dipimpin oleh beberapa orang presiden, walaupun begitu baru dua orang presiden yang masuk dalam liturgi NOTO NEGORO. Berikut adalah nama-nama yang telah memimpin negara Indonesia.

Presiden Ke-1
1.      Soekarno. (18 Agustus 1945 - 19 Desember 1948)
2.      Syafruddin Prawiranegara. (19 Desember 1948 - 13 Juli 1949)
3.      Soekarno. (13 Juli 1949 - 27 Desember 1949)
4.      Assaat (Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI). (27 Desember 1949 - 15 Agustus 1950)
5.      Soekarno. (15 Agustus 1950 - 1 Desember 1956 )
(1 Desember 1956 - 22 Februari 1967)

Presiden Ke-2
6.      Soeharto.   (22 Februari 1967 - 27 Maret 1968)
(27 Maret 1968 - 24 Maret 1973)
(24 Maret 1973 - 23 Maret 1978)
(23 Maret 1978 - 11 Maret 1983)
(11 Maret 1983 - 11 Maret 1988)
(11 Maret 1988 - 11 Maret 1993)
(11 Maret 1993 - 10 Maret 1998)
(10 Maret 1998 - 21 Mei 1998)

Presiden Ke-3
7.      Bacharuddin Jusuf Habibie. (21 Mei 1998 - 20 Oktober 1999)

Presiden Ke-4
8.      Abdurrahman Wahid. (20 Oktober 1999 - 23 Juli 2001)

Presiden Ke-5
9.      Megawati Soekarnoputri. (23 Juli 2001 - 20 Oktober 2004)

Presiden Ke-6
10.    Susilo Bambang Yudhoyono
(20 Oktober 2004 - 20 Oktober 2009)
(20 Oktober 2009 - 20 Oktober 2014)

Pembahasan
Presiden ke-1, Ir.Soekarno
Soekarno adalah sosok nasionalis juga spriritualis. Sehingga namanya masuk dalam liturgi NO. Ir. Soekarno atau yang biasa dipanggil Bung Karno yang lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dengan Ida Ayu Nyoman Rai. Ayah Soekarno adalah seorang guru. Raden Soekemi bertemu dengan Ida Ayu ketika dia mengajar di Sekolah Dasar Pribumi Singaraja, Bali.         

Soekarno hanya menghabiskan sedikit masa kecilnya dengan orangtuanya hingga akhirnya dia tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur. Soekarno pertama kali bersekolah di Tulung Agung hingga akhirnya dia ikut kedua orangtuanya pindah ke Mojokerto.         

Di Mojokerto, ayahnya memasukan Soekarno ke Eerste Inlandse School. Di tahun 1911, Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS). Setelah lulus pada tahun 1915, Soekarno melanjutkan pendidikannya di HBS, Surabaya, Jawa Timur. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para tokoh dari Sarekat Islam, organisasi yang kala itu dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto yang juga memberi tumpangan ketika Soekarno tinggal di Surabaya.         

Dari sinilah, rasa nasionalisme dari dalam diri Soekarno terus menggelora. Di tahun berikutnya, Soekarno mulai aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Darmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian Soekarno ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918.         

Di tahun 1920 seusai tamat dari HBS, Soekarno melanjutkan studinya ke Technische Hoge School  (sekarang berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung) di Bandung dan mengambil jurusan teknik sipil. Saat bersekolah di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto. Melalui Haji Sanusi, Soekarno berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.         

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang diinspirasi dari Indonesische Studie Club (dipimpin oleh Dr Soetomo). Algemene Studie Club  merupakan cikal bakal berdirinya Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927.         

Bulan Desember 1929, Soekarno ditangkap oleh Belanda dan dipenjara di Penjara Banceuy karena aktivitasnya di PNI. Pada tahun 1930, Soekarno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Dari dalam penjara inilah, Soekarno membuat pledoi yang fenomenal, Indonesia Menggugat.         

Soekarno dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931. Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI.         

Soekarno kembali ditangkap oleh Belanda pada bulan Agustus 1933 dan diasingkan ke Flores. Karena jauhnya tempat pengasingan, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional lainnya. Namun semangat Soekarno tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan. Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu. Soekarno baru benar-benar bebas setelah masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.         

Di awal kependudukannya, Jepang tidak terlalu memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia hingga akhirnya sekitar tahun 1943 Jepang menyadari betapa pentingnya para tokoh ini. Jepang mulai memanfaatkan tokoh pergerakan Indonesia dimana salah satunya adalah Soekarno untuk menarik perhatian penduduk Indonesia terhadap propaganda Jepang. Akhirnya tokoh-tokoh nasional ini mulai bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk dapat mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang tetap melakukan gerakan perlawanan seperti Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.

Soekarno sendiri mulai aktif mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, di antaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar-dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan.         

Pada bulan Agustus 1945, Soekarno diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara ke Dalat, Vietnam. Marsekal Terauchi menyatakan bahwa sudah saatnya Indonesia merdekan dan segala urusan proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah tanggung jawab rakyat Indonesia sendiri. Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Para tokoh pemuda dari PETA menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena pada saat itu di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan.         

Ini disebabkan karena Jepang telah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan beberapa tokoh lainnya menolak tuntutan ini dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Pada akhirnya,Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional lainnya mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Berdasarkan sidang yang diadakan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) panitia kecil untuk upacara proklamasi yang terdiri dari delapan orang resmi dibentuk.         

Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya. Teks proklamasi secara langsung dibacakan oleh Soekarno yang semenjak pagi telah memenuhi halaman rumahnya di Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dikukuhkan oleh KNIP.

Kemerdekaan yang telah didapatkan ini tidak langsung bisa dinikmati karena di tahun-tahun berikutnya masih ada sekutu yang secara terang-terangan tidak mengakui kemerdekaan Indonesia dan bahkan berusaha untuk kembali menjajah Indonesia. Gencaran senjata dari pihak sekutu tak lantas membuat rakyat Indonesia menyerah, seperti yang terjadi di Surabaya ketika pasukan Belanda yang dipimpin oleh Brigadir Jendral A.W.S Mallaby berusaha untuk kembali menyerang Indonesia.         

Rakyat Indonesia di Surabaya dengan gigihnya terus berjuang untuk tetap mempertahankan kemerdekaan hingga akhirnya Brigadir Jendral AWS Mallaby tewas dan pemerintah Belanda menarik pasukannya kembali. Perang seperti ini tidak hanya terjadi di Surabaya tapi juga hampir di setiap kota. Republik Indonesia secara resmi mengadukan agresi militer Belanda ke PBB karena agresi militer tersebut dinilai telah melanggar suatu perjanjian Internasional, yaitu Persetujuan Linggajati.         

Walaupun telah dilaporkan ke PBB, Belanda tetap saja melakukan agresinya. Atas permintaan India dan Australia, pada 31 Juli 1947 masalah agresi militer yang dilancarkan Belanda dimasukkan ke dalam agenda rapat Dewan Keamanan PBB, di mana kemudian dikeluarkan Resolusi No 27 tanggal 1 Agustus 1947, yang isinya menyerukan agar konflik bersenjata dihentikan.  

Atas tekanan Dewan Keamanan PBB, pada tanggal 15 Agustus 1947, Pemerintah Belanda akhirnya menyatakan akan menerima resolusi Dewan Keamanan untuk menghentikan pertempuran. Pada 17 Agustus 1947, Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda menerima Resolusi Dewan Keamanan untuk melakukan gencatan senjata dan pada 25 Agustus 1947 Dewan Keamanan membentuk suatu komite yang akan menjadi penengah konflik antara Indonesia dan Belanda.         

Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno kembali diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali diubah menjadi Republik Indonesia dimana Ir Soekarno menjadi Presiden dan Mohammad Hatta menjadi wakilnya.         

Pemberontakan G30S/PKI melahirkan krisis politik hebat di Indonesia. Massa dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan aksi demonstrasi dan menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) yang salah satu isinya meminta agar PKI dibubarkan. Namun, Soekarno menolak untuk membubarkan PKI karena menilai bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan pandangan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme).         

Sikap Soekarno yang menolak membubarkan PKI kemudian melemahkan posisinya dalam politik. Lima bulan kemudian, dikeluarkanlah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang ditandatangani oleh Soekarno dimana isinya merupakan perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan yang perlu guna menjaga keamanan pemerintahan dan keselamatan pribadi presiden.         

Surat tersebut lalu digunakan oleh Soeharto yang telah diangkat menjadi Panglima Angkatan Darat untuk membubarkan PKI dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang. MPRS pun mengeluarkan dua Ketetapannya, yaitu TAP No IX/1966 tentang pengukuhan Supersemar menjadi TAP MPRS dan TAP No XV/1966 yang memberikan jaminan kepada Soeharto sebagai pemegang Supersemar untuk setiap saat bisa menjadi presiden apabila presiden sebelumnya berhalangan.         

Pada 22 Juni 1966, Soekarno membacakan pidato pertanggungjawabannya mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S. Pidato pertanggungjawaban ini ditolak oleh MPRS hingga akhirnya pada 20 Februari 1967 Soekarno menandatangani Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka.         

Hari Minggu, 21 Juni 1970 Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta. Presiden Soekarno disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan kemudian dimakamkan di Blitar, Jawa Timur berdekatan dengan makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.         

Ir Soekarno adalah seorang sosok pahlawan yang sejati. Dia tidak hanya diakui berjasa bagi bangsanya sendiri tapi juga memberikan pengabdiannya untuk kedamaian di dunia. Semua sepakat bahwa Ir Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Ir Soekarno adalah bapak bangsa yang tidak akan tergantikan.         

Selain sebagai seorang nasionalis sukarno adalah sebagai sosok spiritualis. Pernah beliau melaksanakan “tapa ngeli” (bertapa dengan melarutkan diri) dilaut. Dengan menggunakan gedebok pisang beliau melarutkan diri mulai dari Banyuwangi hingga terdampar di Jepara. Saat ditemukan oleh “orang sepuh” kaki beliau sudah ditumbuhi oleh “tri tip”. Soekarno minta tolong ke “orang sepuh” tersebut untuk mengantarkannya kembali ke istana negara. Setelah sampai di Istana sebagai hadiah terima kasih, Soekarno memberikan Tanah di daerah Jepara. Itu adalah salah satu “lelaku” yang dijalankan oleh Presiden pertama RI dari sekian banyak olah spiritual yang beliau laksanakan. Maka dari itu Beliau masuk dalam Liturgi NOTO NEGORO dengan menduduki huruf awal, yaitu NO.

Presiden Ke-2, Soeharto
Cara Soeharto  memilih menteri-menterinya
Soeharto  memiliki dua ujung tombak untuk menyaring calon menteri yakni, Pimpinan Operasi Khusus (OPSUS) Ali Murtopo dan Kepala Badan Koordinasi Intelejen Negara (BAKIN), Yoga Sugama. Jika suatu saat Soeharto  membutuhkan menteri dari daftar itu, OPSUS dan BAKIN ditugaskan untuk mengecek dengan cepat dan sangat rahasia dalam hitungan hari, tanpa hiruk pikuk, informasi tentang seseorang yang akan direkrut menjadi menteri.

"Misalkan tentang siapa teman tidur-sekasurnya (suami/istri), siapa sedulur-seumur (saudara dekat), siapa teman bergaulnya, apa saja hobbynya, bagaimana riwayat perjuangannya terutama rasa setia kawan-loyalitas kepada pimpinan dan senior, bagaimana sikap hidup dan kepribadiannya terutama kejujuran dan kapasitas pribadinya. Bagaimana pandangan hidup dan rekam jejaknya terhadap harta, tahta dan wanita/pria,"         

Menurut Ali Murtopo, Pak harto memiliki feeling dan mata batin yang kuat terhadap seseorang. Berdasarkan laporan intelijen dan feeling tersebut, semuanya diproses secara tertutup, dan Pak Harto mengambil kata akhir serta memutuskan sendiri pilihannya.

Hal ini menunjukkan pak Harto ingin betul-betul mengenal secara mendalam dan yakin mengenai orang-orang yang akan berada di dekatnya untuk membantu mengelola negara.

Suharto lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921, dari keluarga. Karirnya diawali sebagai karyawan di sebuah bank pedesaan, walau tidak lama. Dia sempat juga menjadi buruh dan kemudian menempuh karir militer pertama kali sebagai prajurit KNIL yang berada di bawah kesatuan tentara penjajah Belanda. Saat Jepang masuk di tahun 1942, Suharto bergabung dengan PETA. Ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan, Soeharto bergabung dengan TKR.

Olah spiritual pak harto
Sebagai orang Jawa, Soeharto pun sadar untuk mencapai sebuah puncak pimpinan kekuasaan tidak hanya bermodal kekuatan militer dan kelihaian strategi politik, 'lelaku' pun dia jalani untuk memperkuat keyakinannya. Sebagai pemimpin atau raja, Soeharto ingin meraih derajat tertinggi yakni 'Sabda Panditha Ratu'.Artinya segala perintah dan keinginannya adalah perintah yang tidak bisa dibantah lagi oleh siapapun. Untuk bisa bisa mencapai tingkat tersebut Soeharto, harus menjalin hubungan yang harmonis dengan alam dan leluhur demi langgengnya kekuasaannya.         

Ritual mistis yang dijalani Soeharto adalah bersemedi atau bertapa di tempat-tempat keramat atau wingit. Gunung Lawu jadi tempat favorit Soeharto. Gunung Lawu memang merupakan salah satu pusat kekuatan mistik di Jawa. Selain itu, salah satu ritual yang dilakukannya adalah merendam diri di pertemuan dua sungai atau dalam kepercayaan Jawa disebut tapa kungkum. Bertapa jenis ini dipercaya tidak hanya berefek secara mistis, tetapi berpengaruh bagi ketahanan tubuh pelakunya.         

Tempat-tempat yang sering digunakan kungkum Soeharto adalah Petilasan, Panembahan Senopati di Dlepih, Tirtomulyo, Wonogiri. Tempat tersebut sering dikunjungi Soeharto hingga menjelang menjabat presiden. Sedangkan di saat menjabat sebagai Pangdam Dipenogoro, tempat kungkum-nya di Kaligarang, Semarang. Setelah menjadi presiden pun, Soeharto sering melakukan ritual itu, lokasi yang dipilih adalah sebuah tempat di Bogor. Di antaranya Padepokan Gunung Jambe Pitu, Padepokan Langlang Buana di Gunung Srandil Cilacap, dan makam Pangeran Purbaya di Desa Maguwaharjo, Berbah, Sleman.
Soeharto telah menggariskan sejarahnya sendiri dengan tinta perjuangan, rekayasa, strategi dan laku prihatin.

Presiden Ke-3, Bacharuddin Jusuf Habibie
Prof. DR. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936; umur 77 tahun) adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Jabatannya digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih sebagai presiden pada 20 Oktober 1999 oleh MPR hasil Pemilu 1999. Dengan menjabat selama 2 bulan dan 7 hari sebagai wakil presiden, dan 1 tahun dan 5 bulan sebagai presiden, Habibie merupakan Wakil Presiden dan juga Presiden Indonesia dengan masa jabatan terpendek.

Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Alwi Abdul Jalil Habibie adalah keturunan bugis (sulawesi selatan) yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1908 di Gorontalo dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo lahir di Yogyakarta 10 November 1911. Ibunda R.A. Tuti Marini Puspowardojo adalah anak seorang spesialis mata di Yogya, dan ayahnya yang bernama Puspowardjojo bertugas sebagai pemilik sekolah. B.J. Habibie adalah salah satu anak dari tujuh orang bersaudara.         

B.J. Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962, dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie.         

Sebelumnya ia pernah menimba ilmu di SMAK Dago. Ia belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung tahun 1954. Pada 1955-1965 ia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingenieur pada 1960 dan gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.         

Habibie pernah bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, sehingga mencapai puncak karier sebagai seorang wakil presiden bidang teknologi. Pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Suharto.       

Setelah ia turun dari jabatannya sebagai presiden, ia lebih banyak tinggal di Jerman daripada di Indonesia. Tetapi ketika era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, ia kembali aktif sebagai penasehat presiden untuk mengawal proses demokratisasi di Indonesia lewat organisasi yang didirikannya Habibie Center.

Presiden Ke-4, Gus dur
Kiai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun) adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999.         

Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid dimulai pada 20 Oktober 1999 dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR. Abdurrahman Wahid adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).         

Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus, namun kalender yang digunakan untuk menandai hari kelahirannya adalah kalender Islam yang berarti ia lahir pada 4 Sya'ban, sama dengan 7 September 1940.      

Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti "Sang Penakluk". Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas".         

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Saudaranya adalah Salahuddin Wahid dan Lily Wahid. Ia menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri: Alisa, Yenny, Anita, dan Inayah.

Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa ia memiliki darah Tionghoa. Abdurrahman Wahid mengaku bahwa ia adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.

Olah spiritual Gus dur
Sebagai seorang yang beragam islam, Gus dur menjalankan syariat islamnya dengan kuat. Turunnya Gus Dur dari tampuk pimpinan diyakini banyak orang karena banyak kekecewaan “poros tengah” yang dipimpin oleh amien rais dalam pemerintahannya. Pada akhir November, 151 anggota DPR menandatangani petisi yang meminta pemakzulan Gus Dur. 23 Juli 2001, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri.         

Secara pandangan mata biasa turunnya Gus Dur adalah seperti tersebut diatas. Akan tetapi berbeda pandangan bagi kaum spiritualis. Turunnya Gus Dur karena telah melakukan kesalahan fatal terkait penggunaan “Harta Amanah”. Singkat cerita, Gus Dur pernah “Mengangkat Harta Amanah” dengan dibantu oleh tiga (3) orang spiritualis. Janji awal pengangkatan adalah bahwa harta tersebut akan digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Janji tinggalah janji, setelah “terangkat” harta itu malah digunakan untuk pribadi. Bahkan untuk ke-3 spiritualis yang membantunya pun tidak dibagi. Dimana salah satunya sakit karena terkena pukulan gaib didalam.         

Karena tidak sesuai janji, maka dukungan “dalam” untuk Gus Dur ditarik semua oleh para sepuh. Dan sebagai wujud “DAM atau HUKUMAN” Beliau dipermalukan. Keluar dari istana menggunakan celana Pendek. Hal ini adalah hal yang memalukan bagi bangsa indonesia. Seorang “Raja” mempermalukan dirinya sendiri dengan keluar istana dengan memakai celana pendek.

Presiden Ke-5, Megawati Soekarnoputri
Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri atau umumnya lebih dikenal sebagai Megawati Soekarnoputri atau biasa disapa dengan panggilan "Mbak Mega" (lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947) adalah Presiden Indonesia yang kelima yang menjabat sejak 23 Juli 2001 — 20 Oktober 2004. Ia merupakan presiden wanita Indonesia pertama dan anak dari presiden Indonesia pertama, Soekarno, yang kemudian mengikuti jejak ayahnya menjadi Presiden Indonesia. Pada 20 September 2004, ia kalah oleh Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pemilu Presiden 2004 putaran yang kedua.

Ia menjadi presiden setelah MPR mengadakan Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Sidang Istimewa MPR ini diadakan dalam menanggapi langkah Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang membekukan lembaga MPR/DPR dan Partai Golkar. Ia dilantik pada 23 Juli 2001. Sebelumnya dari tahun 1999–2001, ia menjabat Wakil Presiden pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).         

Megawati juga merupakan ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sejak memisahkan diri dari Partai Demokrasi Indonesia pada tahun 1999.         

Pada waktu Soekarno diasingkan ke pulau Bangka, Fatmawati melahirkan seorang bayi yang dinamai Megawati Soekarno Putri, pada tanggal 23 Januari 1947 di kampung Ledok Ratmakan, tepi barat Kali Code.  Setelah kemerdekaan Indonesia, Megawati lalu dibesarkan dalam suasana kemewahan di Istana Merdeka.         

Dia pernah menuntut ilmu di Universitas Padjadjaran di Bandung (tidak sampai lulus) dalam bidang pertanian, selain juga pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (juga tidak sampai lulus).         

Suami pertamanya adalah Letnan Satu (Penerbang) Surindro Supjarso[4], seorang pilot pesawat AURI dan perwira pertama di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) Republik Indonesia.Anak pertamanya, Mohammad Rizki Pratama. Ketika Mega sedang mengandung anak keduanya (Mohammad Prananda), Surindro mengalami kecelakaan pesawat yang merenggut nyawanya. Pesawat Skyvan T-701 yang dikendalikannya terempas di laut sekitar perairan pulau Biak, Irian Jaya, pada tanggal 22 Januari 1970. "Letnan Satu (Penerbang)" itu, beserta tujuh orang awak pesawatnya, hilang tak diketahui rimbanya dan hanya tersisa serpihan puing-puing tubuh pesawat yang ditemukan tersebar berserakan di laut sekitar perairan tersebut.         

Megawati kemudian menikah untuk kali ke dua dengan pengusaha asal Mesir, yang juga seorang Diplomat Mesir yang kala itu sedang bertugas di Jakarta, yang bernama Hassan Gamal Ahmad Hasan. Namun, pernikahan Mega yang kedua kali ini tak berlangsung lama, hanya bertahan tiga bulan, sebab pernikahan Megawati dengan Hassan (suami kedua Mega) menjadi sorotan Media Massa dengan alasan bahwa waktu itu Megawati masih terikat perkawinan yang sah dengan Surindro, suami pertamanya dan pada saat itu belum ada keputusan yang pasti dari pemerintah, dalam hal ini adalah Markas Besar (Mabes) TNI-AU, mengenai nasib suami pertamanya itu yang jenazahnya sampai sekarang tak berhasil ditemukan.         

Kebahagiaan dan kedamaian hidup rumah tangga Megawati Soekarnoputri baru benar-benar terjalin dan dirasakan setelah ia menikah dengan Moh. Taufiq Kiemas, rekannya sesama aktivis diGerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dulu, yang juga menjadi salah seorang penggerak Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Suami ketiga Mega, Taufiq Kiemas, selain aktif di GMNI, ia juga bergabung dengan "Inti Pembina Jiwa Revolusi", yaitu suatu organisasi yang menegakkan ajaran "Soekarno". Taufiq Kiemas menikahi Mega pada akhir Maret 1973. Pesta pernikahan mereka ini berlangsung sederhana di "Panti Perwira", Jakarta Pusat. Dari pasangan ini, maka lahirlah Puan Maharani, yang merupakan anak ketiga dari Megawati Soekarnoputri dan adalah anak pertama Taufiq Kiemas satu-satunya.

Olah Spiritual
Tidak banyak diketahui bagai mana olah spiritual dari Megawati. Dalam Pandangan Spiritual, Megawati naik karena tidak ada lagi orang yang pantas naik saat itu. Yang menjadi pendukung beliau naik walaupun sebentar adalah Brawijaya 5 atau salah satu sebutan namanya adalah “Telunjuk Satu”. Brawijaya 5 pun saat itu menyampaikan hal ini kepada Megawati.

Presiden Ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono
Jend. TNI (Purn.) Dr. H.Susilo Bambang Yudhoyono GCB AC (lahir di Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur, Indonesia, 9 September 1949; umur 64 tahun) adalah Presiden Indonesia ke-6 yang menjabat sejak 20 Oktober 2004. Ia, bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, terpilih dalam Pemilu Presiden 2004. Ia berhasil melanjutkan pemerintahannya untuk periode kedua dengan kembali memenangkan Pemilu Presiden 2009, kali ini bersama Wakil Presiden Boediono. Sehingga, sejak era reformasi dimulai, Susilo Bambang Yudhoyono merupakan Presiden Indonesia pertama yang menyelesaikan masa kepresidenan selama 5 tahun dan berhasil terpilih kembali untuk periode kedua.         

Yudhoyono yang dipanggil "Sus" oleh orangtuanya dan populer dengan panggilan "SBY", melewatkan sebagian masa kecil dan remajanya di Pacitan. Ia merupakan seorang pensiunan militer. Selama di militer ia lebih dikenal sebagai Bambang Yudhoyono. Karier militernya terhenti ketika ia diangkat Presiden Abdurrahman Wahid sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada tahun 1999 dan tampil sebagai salah seorang pendiri Partai Demokrat. Pangkat terakhir Susilo Bambang Yudhoyono adalah Jenderal TNI sebelum pensiun pada 25 September 2000. Pada Pemilu Presiden 2004, keunggulan suaranya dari Presiden Megawati Soekarnoputri membuatnya menjadi presiden pertama yang terpilih melalui pemilihan langsung oleh rakyat Indonesia. Hal ini dimungkinkan setelah melalui amandemen UUD 1945.

Dalam kehidupan pribadinya, Ia menikah dengan Kristiani Herrawati yang merupakan anak perempuan ketiga Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo(alm), komandan RPKAD (kini Kopassus) yang turut membantu menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965. Dari pernikahan mereka lahir dua anak lelaki, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (lahir 1978) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lahir 1980).

Olah Spiritual
Ada dua kiai yang setia menopang di belakang SBY. Pertama, kiai misterius asal Banten yang tidak pernah mau disebut namanya sampai sekarang. Ciri-cirinya, usia masih muda, berpenampilan sederhana seperti bukan kiai, dan tinggal di sebuah gunung di Banten yang lokasinya berdekatan dengan Alm Mbah Dimyati (ulama karismatik Banten).         

Hingga sekarang, kiai ini masih terus membimbing SBY dari jarak jauh. Kedua, KH. Nashihin (40), dari Pati, Jawa Tengah yang juga penasihat Jam’iyah Ahlit Thariqah Mu’tabarah Indonesia (JATMI). Beliau penasihat spiritual Pak SBY sejak menjadi Menko Polkam. Dia pula yang menyarankan Pak SBY mendirikan Partai Demokrat kemudian diminta mencalonkan diri sebagai capres 2004.         

Laku spiritual yang dijalankan Pak SBY adalah melakukan ziarah ke makam para wali, seperti Kyai Kholil Bangkalan Madura, Maulana Hasanudin Banten, Sunan Gunung Djati Cirebon, Habib Husein Alaydrus Luar Batang Jakarta Utara dan lain-lain. Perjalanan spiritual tersebut setidaknya menjadikan Pak SBY punya keyakinan dan spirit batin yang tinggi.

C.      Pembahasan Dan Analisa
Sebelum menjadi negara, indonesia di zaman dahulu adalah berupa kerajaan-kerajaan. Pada setiap kerajaan terdapat satu pemimpin yang disebut dengan Raja. Raja-raja yang terpilih adalah orang yang “pilih tanding”, baik itu dalam dunia spiritual yang saat itu disebut dengan “kesaktian” dan juga cerdas dalam ilmu tata negara.         

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memahami dan menghargai sejarah. Sehingga apabila kita ingin menjadi bangsa yang besar, tentunya untuk pemimpin kedepan akan mengambil referensi ini. Harus sebagai seorang spiritual dan juga sebagai seorang nasionalis.

Presiden ke-1, Soekarno masuk dalam Liturgi NOTO NEGORO dengan akhiran huruf nama beliau NO. Seperti telah dijelaskan diatas, beliau selain dikenal sebagai seorang Nasionalis juga sebagai seorang spiritualis (Melakukan prosesi lelaku sendiri).

Presiden ke-2, Soeharto Masuk dalam Liturgi NOTO NEGORO dengan akhiran nama beliau TO. Semenjak kecil beliau telah melakukan olah spiritual dengan bimbingan orang tua. Setelah masuk militer bahkan setelah menjadi Presiden beliau masih melakukan olah spiritual dengan bimbingan guru-guru spiritual yang mumpuni. Selain itu beliau adalah sosok Nasionalis yang luar biasa. Salah satu contoh disaat beliau menjabat, Indonesia menjadi satu kekuatan militer yang ditakuti diwilayah Asia.

Presiden Ke-3, Bacharuddin Jusuf Habibie tidaklah termasuk dalam Liturgi NOTO NEGORO. Hal ini dapat dilihat dari susunan huruf namanya. Beliau seorang Tekhnokrat yang Nasionalis. Sosok Habibie hanya dimunculkan sebagai sosok presiden sebagai pengisi kekosongan jabatan Presiden. Sisi Spiritual yang dijalani sendiri seperti raja-raja yang suka lelaku tidak ditemukan pada beliau.

Presiden Ke-4, Abdurrahman Wahid pun tidak termasuk dalam Liturgi NOTO NEGORO. Hal ini dapat dilihat dari susunan huruf namanya. Selain itu beliau adalah seorang ulama yang masuk ranah politik karena keadaan negara saat itu. Secara umum, peran dan fungsi beliau sebagai ulama biasa disebut dengan amar ma’ruf nahi munkar. Sedang rincian tugas ulama adalah: pertama, mendidik umat di bidang agama dan lainnya. Kedua, melakukan kontrol terhadap masyarakat. Ketiga, memecahkan problem yang terjadi di masyarakat. Keempat, menjadi agen perubahan sosial. Semua tugas ini melekat pada diri tiap ulama dan dijalankan sepanjang hidupnya, meski jalur yang ditempuh berbeda.

Memimpin negara sangatlah beda dengan memimpin umat. Negara terdiri dari masyarakat majemuk, sedangkan umat cenderung satu faham, sehingga mudah untuk dikendalikan. Hal ini tampak dari kebijakan-kebijakan yang “nyeleh” dan aneh-aneh. Sehingga akhirnya beliau  dimazhulkan.

Presiden Ke-5, Megawati Soekarno Putri juga tidak masuk dalam liturgi NOTO NEGORO. Hal ini tampak pada huruf penyusun nama beliau. Selain itu beliau hanya sebagai sosok Nasionalis saja. Sosok beliau dimunculkan hanya sebagai pengisi kekosongan jabatan Presiden RI, sama seperti pada BJ. Habibie dan Gus Dur.

Presiden ke-6, Soesilo Bambang Yudhoyono juga tidak termasuk liturgi NOTO NEGORO. Memang banyak kalangan yang meyakini bahwa beliau masuk dalam liturgi tersebut karena nama beliau berakhiran NO. Kenapa dalam tulisan ini beliau tidak termasuk, berikut alasan-alasan yang mendasarinya :

1.      Beliau memang salah seorang prajurit terbaik yang dimiliki oleh bangsa ini dengan bukti segudang penghargaan yang didapatkan, namun beliau bukanlah sebagai seorang yang menjalani spiritual sendiri. Beliau banyak didukung oleh orang luar, dalam hal ini adalah orang-orang spiriualis. Dan perjalanan lelakunya pun hanya mengunjungi Maqam-maqam wali besar.

2.      Liturgi pemimpin tertulis NOTO (spasi) NEGORO. Huruf NO diambil dari akhiran huruf nama presiden pertama. Kemudian huruf TO diambil juga dari akhiran huruf dari nama presiden kedua. Hal ini mengandung arti bahwa masa beliau akan berakhir dengan tidak baik (kudeta / penurunan paksa) sesuai pengambilan huruf nama akhir beliau dengan digulingkan. Karena saat disambungkan dengan kata berikutnya NEGORO. Dalam bahasa jawa arti NEGORO selain Negara juga berarti Tebanglah / Potonglah.

Secara fakta : Pak Soekarno diturunkan oleh Pak Harto. Presiden kedua ini pun diturunkan oleh mahasiswa (tikus pithi : Jangka jayabaya) yang kemudian dalam elit politik terbentuklah poros tengah. Kemudian poros tengah memilih Gus Dur. Setelah beberapa lama memimpin, poros tengah juga yang menurunkan Gus Dur yang kemudian digantikan oleh Megawati. Setelah diadakan Pemilu pada putaran kedua SBY mengalahkan Megawati yang untuk kemudian SBY menjabat sebagai presiden yang ke enam RI. Megawati merasa kecewa karena dikalahkan oleh anak buahnya sendiri. Karena saat Megawati menjabat sebagai Presiden RI yang ke lima, SBY sebagai salah satu menterinya.

Berdasarkan suhu politik saat ini, ada kemungkinan SBY pun akan diturunkan secara paksa di masa jabatannya yang kedua ini. Hal ini terjadi karena banyak kalangan yang merasa dirugikan dengan berbagai kebijakkan beliau serta sepak terjangnya dalam penanganan internal dalam negeri. Salah satunya adalah Bencana Alam.

 

D.      KESIMPULAN
1.      Presiden RI yang masuk dalam Liturgi NOTONEGORO barulah dua sosok. Soekarno dan Soeharto.

2.      BJ. Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY berada dalam masa tunggu sebelum munculnya sosok terpilih tersebut. Hal ini disimbolkan dengan Spasi.

3.      Sosok Pemimpin yang ditunggu namanya haruslah diawali dengan huruf NA, kemudian GA, dan RA. Kenapa harus namanya harus diawali dengan huruf NA, bukan diakhiri dengan huruf NA?, sebab dia akan membawa dunia baru (tertulis dalam ramalan Nostradamus).

Mengawali atau melangkah dengan langkah baru. Laksana nama yang awal NA. Sesuai jangka Jayabaya, bahwa sosok yang tersembunyi inilah yang bisa membawa perubahan yang signifikan untuk kemajuan Indonesia. Aplikasi dalam tataran dunia kenegaraan adalah Dia membawa Sistem Pemerintahan Baru, Sistem Tata Negara yang Baru yang sesuai aspirasi masyarakat.

 

E.      SARAN
1.      Memilih pemimpin, bukanlah perkara biasa. Ini adalah perkara yang sangat penting, karena menyangkut kehidupan banyak orang untuk waktu yang lama. Untuk memilih pemimpin, mencari yang terbaik di antara yang baik-baik, juga bukanlah perkara mudah. Diperlukan pemahaman yang mendalam, dibutuhkan kearifan yang tinggi. Karena itulah, maka di dalam konsep kehidupan, pendapat orang awam dan orang bodoh dalam hal memilih pemimpin haruslah diabaikan. Mengapa? Karena orang awam tidak memahami masalah, dan orang bodoh cenderung melukai dirinya sendiri.

2.      Untuk menjadi pemimpin haruslah siap Jiwa dan Raga. Untuk menyiapkan jiwa agar menjadi jiwa yang baik dan tangguh, seorang pemimpin haruslah menempa jiwanya dengan keras. Dia harus lelaku sendiri. Kenapa? Sebelum naik tahta pangeran-pangeran dizaman dahulu bertapa, menyepi dan merenung agar mendapatan “Wahyu Keprabon”. Baru setelahnya naik. Karena dengan menerima “Wahyu Keprabon” dipastikan dalam pemerintahan akan makmur sejahtera. Wahyu ini datangnya dari Tuhan, tentunya Tuhan akan “memayungi” kekuasanan pemimpin tersebut.

3.      Indonesia penuh dengan kearifan lokal, yang salah satunya berupa Kitab-kitab tua. Baik itu terkait ramalan prediksi indonesia kedepan ataupun kitab yang berisikan tatanegara. Jangan lupa akan hal ini. Jangan karena “Ego sesaat”, “Ego Golongan” apa yang sudah tertuliskan hasil olah spiritual para leluhur kita lupakan. Yang seharusnya tidak dipilih karena “EGO” tersebut di  naikkan. Karena kalau sudah begitu, restu leluhur tidak ada, sehingga indonesia masuk lagi dalam masa tunggu. Sampai kapan kita sebagai masyarakat mampu menunggu kedatangan sang Ratu Adil? (Baca : Satrio Piningit ) 

JAYALAH INDONESIA

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait