Yayasan Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Proxy War dan pengaruhnya terhadap keutuhan NKRI

1.      Pendahuluan
Presiden Soekarno pernah mengingatkan bangsa ini, bahwa kelak dimasa depan Indonesia akan menjadi "Mercusuar". Penafsiran dari bangsa indonesia terhadap apa yang disampaikan Presiden pertama Indonesia dari semenjak didengungkan pertama kali hingga saat ini adalah bahwa Indonesia akan menjadi negara besar layaknya Mercusuar, besar, kokoh, menjulang tinggi dan dapat terlihat dari jauh. Penafsiran seperti ini sesungguhnya adalah sebuah kekeliruan yang besar dan untuk tidak di amin-kan terus-menerus. Kenapa demikian?

Seperti diketahui bersama bahwa Presiden Soekarno adalah seorang spiritual yang mumpuni. Sehingga apa yang disebutkan tentang Indonesia dimasa depan sesungguhnya adalah sebuah sanepan/perlambang, yaitu sebagai sebuah "Peringatan" dan sekarang sudah terjadi. Antar kampung bahkan antar Rukun Tetangga (RT) saling serang, angka kriminalitas meningkat sebagai akibat dari buruknya perekonomian, pungli yang dilaksanakan oleh pejabat, tindakan premanisme. Anarkisme dalam penyampaian pendapat (demo) yang dilakukan atas nama golongan/agama. Perang antar suku. Adanya otonomi daerah, yang sesungguhnya hal inilah sebagai salah satu pemicu adanya ego sektoral. Sebagai contoh saat nelayan jakarta mencari ikan di perairan lampung. Karena merasa perairannya dimasukin oleh nelayan luar, maka mereka melakukan pengrusakan, pembakaran bahkan penenggelaman. Bahkan beberapa waktu lalu terjadinya "pemalakan" terhadap nelayan jakarta yang dilakukan oleh oknum nelayan lampung. Hal ini terjadi hampir diseluruh wilayah perairan Indonesia.

Dalam lingkup tatanegara terjadi hal yang lebih "extrem", yaitu terjadinya perubahan UUD 45 melalui beberapa kali amandemen. Yang ternyata dilakukan hanya untuk melindungi kepentingan-kepentingan tertentu. Banyak muncul undang-undang yang mana diketahui hanya berpihak untuk kepentingan tertentu.Bahkan terjadinya pembatasan wewenang terhadap sebuah institusi.

Dari beberapa contoh kecil diatas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa negara Indonesia ini sudah menjadi Mercusuar seperti yang dikatakan oleh Presiden RI yang pertama.

Indonesia memiliki nama besar di dunia dengan segala perannya, baik secara person/pribadi ataupun institusi yaitu sebagai sebuah negara. Namun faktanya seperti isi/dalam dari sebuah mercusuar, keropos,penuh lawa-lawa (sarang laba-laba), pengab, tak terurus seperti beberapa contoh diatas. Hal ini pun telah tertulis dalam ramalan jayabaya dalam kitab musarar jayabaya berikut ini ;

21.    Bojode ingkang negara, Narendra pisah lan abdi, Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram.
*        Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri (Otonomi Daerah). Kemudian berganti zaman Kutila (Reformasi). Rajanya Kara Murka (pemimpin yang saling balas dendam). Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan).

22.    Nakoda melu wasesa, Kaduk bandha sugih wani, Sarjana sirep sadaya, Wong cilik kawelas asih, Mah omah bosah-basih, Katarajang marga agung, Panji loro dyan sirna, Nuli Rara ngangsu sami, Randha loro nututi pijer tetukar.
*        Nakhoda (Orang asing) ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak) tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer tetukar(pemimpin yang selalu diikuti/diintai oleh wanita tua untuk menggantikannya).

24.    Dene pajege wong ndesa, Akeh warninira sami, Lawan pajeg mundak-mundak, Yen panen datan maregi, Wuwuh suda ing bumi, Wong dursila saya ndarung, Akeh dadi durjana, Wong gedhe atine jail, Mundhak tahun mundhak bilaining praja.
*        Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. orang jahat makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.

25.    Kukum lan yuda nagara, Pan nora na kang nglabeti, Salin-salin kang parentah, Aretu patraping adil, Kang bener-bener kontit, Kang bandhol-bandhol pan tulus, Kang lurus-lurus rampas, Setan mindha wahyu sami, Akeh lali mring Gusti miwah wong tuwa.
*        Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.

26.    Ilang kawiranganingdyah, Sawab ingsun den suguhi, Mring ki Ajar Gunung Padang, Arupa endang sawiji, Samana den etangi, Jaman sewu pitung atus, Pitung puluh pan iya, Wiwit prang tan na ngaberi, Nuli ana lamate negara rengka.
*        Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.

 

2.      Proxy War
Proxy War adalah istilah yang merujuk pada konflik di antara dua negara, di mana negara tersebut tidak serta-merta terlibat langsung dalam peperangan karena melibatkan 'proxy' atau kaki tangan.

Perang ini merupakan bagian dari modus perang asimetrik, sehingga berbeda jenis dengan perang konvensional. Perang asimetrik bersifat irregular dan tak dibatasi oleh besaran kekuatan tempur atau luasan daerah pertempuran.

Perang proxy memanfaatkan perselisihan eksternal atau pihak ketiga untuk menyerang kepentingan atau kepemilikan teritorial lawannya.

Proxy war sangat berbahaya bagi Indonesia karena negara lain yang memiliki kepentingan terhadap Indonesia tidak langsung berhadapan, dikarenakan menggunakan “tangan lain”. Perang dilaksanakan dengan pemikiran, sudah tidak lagi menggunakan peralatan tempur dan yang paling berbahaya bagi Indonesia adalah cuci otak yang membelokkan pemahaman terhadap ideologi negara.

“Proxy war tidak melalui kekuatan militer, tetapi perang melalui berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik melalui politik, melalui ekonomi, sosial budaya, termasuk hukum.

Proxy war merupakan sebuah konfrontasi antar dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan mengurangi risiko konflik langsung yang berisiko pada kehancuran fatal.

Dalam proxy war, tidak bisa terlihat siapa lawan dan siapa kawan. “Dilakukan non state actor, tetapi dikendalikan pasti oleh sebuah negara”.

Melalui proxy war, pelemahan dan penghancuran dilakukan melalui berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara secara masif dan terus-menerus, dengan tanpa kita sadari.

Indikasi proxy war di Indonesia, antara lain adalah gerakan separatis dan gerakan radikal kanan/kiri, demonstrasi massa anarkis, demonstrasi atas nama agama/golongan tertentu, kecintaan akan ideologi pancasila sudah pudar dengan ditunjukkan beberapa oknum/kelompok tertentu yang ingin mendirikan negara dengan asas agama tertentu, sistem regulasi dan perdagangan yang merugikan, peredaran narkoba, pemberitaan media yang provokatif, tawuran pelajar, bentrok antar kelompok, serta penyebaran pornografi, seks bebas, dan gerakan LGBT.

Hal ini terjadi karena banyak negara yang ingin menguasai sumber daya alam Indonesia. Alasannya sudah jelas, bahwa Indonesia memiliki kesuburan tanah yang luar biasa, posisi geografis yang sangat strategis, serta memiliki kekayan alam hayati dan non hayati yang luar biasa.

Secara global, saat ini dunia mengalami ancaman over population. World Population Balance, yaitu  bahwa idealnya bumi sekarang ini dihuni oleh 3-4 miliar manusia saja. Namun Ironisnya, jumlah penduduk yang menjejali globe saat ini sudah lebih dari 7 miliar. Paradoks di atas berdampak munculnya konflik baru pada tahun-tahun mendatang seiring me-nipisnya cadangan minyak di perut bumi.

Penelitian British Petroleum (BP), 2011, menyimpulkan minyak dunia akan habis pada 2056. Perubahan geopolitik akan terjadi menjelang krisis minyak, di mana konflik dunia yang sekarang berputar-putar di Timur Tengah (negara-negara kaya minyak) akan bergeser ke kawasan equator yang kaya sumber pangan, di mana Indonesia berada di dalam zona khatulistiwa.

Sebagai contoh nyata tentang Proxy War adalah adanya Konflik di Lebanon yang memunculkan Hizbullah sebagai kekuatan militer di luar negara merupakan proxy war yang dikendalikan oleh Arab Saudi (plus Amerika Serikat dan negaranegara Arab beraliran Sunni) di Timur Tengah. Dalam hal ini Saudi dan koalisi mendukung pemerintah Lebanon. Sementara Hizbullah yang beraliran Syiah disokong penuh oleh Iran (dan terkadang Rusia, yang memiliki kepentingan menghambat pengaruh AS di kawasan itu). Dalam konteks yang lain, proxy war tidak selalu melibatkan kekuatan militer tradisional, melainkan juga politik, program bantuan, budaya, dan cyber yang tak kalah berbahaya meski tanpa letusan senjata.

3. Perlawanan terhadap Proxy War
Agar dampak dari proxy war tidak meluas bahkan bisa menumpasnya adalah dengan mengembalikan jati diri sebagai bangsa yang berbhineka tunggal Ika dan berkearifan lokal. Bangsa yang terbentuk dari berbagai suku, agama, ras dan golongan.

Tentunya upaya ini harus dilakukan oleh semua pihak dengan melihat kepentingan secara luas dan mengesampingkan kepentingan pribadi ataupun golongan.

4.      Sudut Pandang
Zaman semakin maju dengan segala konsekwensinya, yang mana tidak akan bisa ditarik mundur kembali. Yang bisa kita lakukan adalan mencegah/meminimalisir dampak yang tidak baik terhadap bangsa ini. Hal ini bisa terwujud melalui kebersamaan, militansi, memiliki kemauan keras untuk maju, dan sering berkomunikasi.

a.      Menghidupkan Kembali Kearifan Lokal
Kenapa hal ini harus dihidupkan?, apakah kearifan lokal sudah mati?, dengan melihat fakta yang ada, maka jawaban yang tepat adalah sedang “sekarat”. Banyak kearifan lokal yang pelan-pelan ditinggalkan karena bahasa “bid’ah, sesat dan kafir”. Padahal kearifan lokal ini terbentuk sebagai wujud perkembangan budaya yang merekatkan, merukunkan serta ajang silahturahmi antar warga. Sebagai contoh acara bersih desa yang diadakan tiap bulan muharam/suro. Seluruh warga berkumpul dengan membawa “nasi berkat” masing-masing dan mengadakan do’a bersama sebagai wujud rasa syukur dan permohonan pada Tuhan untuk keselamatan dan keberkahan di tahun mendatang. Setelah selesai warga makan “nasi berkat” yang dibawa orang lain.
Dari acara selamat bersih desa ini terwujud kebersamaan, saling mengerti keadaan yang lain (memakan nasi berkat orang lain), silahturahmi dan penghambaan pada Tuhan Y.M.E.

Seperti dikatakan sebelumnya bahwa Indonesai terbentuk dari berbagai komponen bangsa, baik suku, ras, agama dan golongan. Yang mana masing-masing memiliki kearifan lokal.

b.      Dibutuhkannya Pemuka Agama Dengan Kwalifikasi “Sepuh”
Sepuh disini buka berarti tua (bahasa jawa), namun benar-benar memahami akan ajaran yang dianut. “Sekarat”nya point (a) diatas salah satunya karena hal ini. Sekarang ini banyak pemuka agama, sebagai contoh sisi islam yang diangkat sebagai ustad hanya gara-gara hafal beberapa ayat ataupun hadist. Sehingga sering dalam memberikan ceramah menimbulkan pergolakan dalam masyarakat.

Beberapa waktu kebelakang untuk menjadi pemuka agama, sebutan dulu adalah Kyai, tidak cukup hanya hafal akan Al Qur’an dan Hadist ataupun telah selesai belajar dari sebuah pondok pesantren. Mereka selalu melakukan perjalanan “urip”, yaitu melaksanakan tirakat, lelaku dan perjalanan spiritual ke banyak tempat. Tujuannya hanya satu agar menjadi seorang yang bijak dengan didasari Al Qur’an dan Hadist. Mereka pun tidak berharap dipanggil pak Kyai. Karena atas dasar perjuangannya untuk orang banyak, maka warga memberikan gelar Pak Kyai, atau dalam artian sekarang adalah yang dituakan. Di pagi hari mereka bekerja seperti yang lain, kemudian di malam hari barulah memberikan wejangan-wejangan.

Sementara untuk dimasa sekarang, ustad sebagai sumber mata pencaharian. Sehingga disinyalir bahwa apa yang disampaikan sesuai dengan apa yang di minta oleh peserta/panitia. Tidak murni ajaran kebenaran (terjadi ke-berpihak-an).

Sebagai contoh konkretnya adalah dalam khotbah sholat jum’at sering mengkafirkan sesama manusia karena berbeda keyakinan. Padahal Tuhan mengatakan bahwa semua manusia dihadapan-NYA sama, dan yang membedakannya adalah ketaqwaannya.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujuraat 49:13)

Rasulullah juga pernah bersabda :
"Manusia itu sama seperti gigi-gigi sisir, tidak ada kelebihan bagi orang Arab, kecuali karena taqwanya."

Dan untuk menjadikan manusia bijaksana, Tuhan pun menurunkan agama Islam dari permulaan adanya alam semesta ini, hanya sebutannya yang berbeda. Kenapa semua agama yang ada sekarang (kristen, hindu, budha, konghucu, dll) ini disebut juga Islam?, yaitu karena semua ajaran tersebut semuanya bertujuan membimbing manusia agar selamat (islam).

Begitu banyak manusia diciptakan dari masa-kemasa. Hal ini tentunya membawa budaya yang berbeda pula, termasuk kepercayaan/ keyakinan yang sekarang ini disebut dengan agama. Semua golongan mengaku paling benar, sehingga mudah sekali menyebut golongan lain sesat atau meng-kafirkan golongan yang tidak sama dengan kita. Padahal semua orang meyakini bahwa Tuhan adalah pengasih dan penyayang. Timbul pertanyaan, " Bagaimana orang yang mengaku memiliki Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang dalam praktek tindakannya tidak mencerminkan hal tersebut?". Padahal kita tahu bahwa pelangi dikatakan indah karena memiliki warna yang berlainan.

 
Jawaban kenapa Tuhan menciptakan manusia menjadi beberapa golongan termasuk agama yang dianut dapat kita temukan dalam Serat Dharmogandul bait-bait terakhir, seperti yang dituliskan sebagai berikut :

Darmagandhul matur maneh, nyuwun têrange, manusa ing dunya wujude mung lanang lan wadon, dadine kok banjur warna-warna, ana Jawa, ‘Arab, Walanda lan Cina. Dene  sastrane  kok  uga  beda-beda.  Iku  maune  kêpriye,  dalah  têgêse  sarta  cacahing aksarane kok uga beda-beda. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae?

* Darmagandhul bertanya lagi. Manusia didunia hanya berwujud lelaki dan perempuan, akan tetapi mengapa jadinya bermacam-macam bentuk, ada Jawa, Arab, Belanda dan China. Mengapa pula agamanya berbeda. Mengapa tidak diberikan satu ajaran saja?

Kyai Kalamwadi banjur nêrangake, yen kabeh-kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. Mula aksarane digawe beda-beda, supaya para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu Kawruh, amarga manusa diparingi wahyu kaelingan, bisa mêthik woh Kawruh lan woh Budi, pamêthike sapira sagaduke. Gusti Allah uga iyasa sastra, nanging sastrane nglimputi ing jêro, lan manut wujud, iya iku kang diarani sastra urip, manusa ora bisa anggayuh, sanadyan para Auliya sarta para Nabi ênggone nggayuh iya mung sagaduke. Woh wit Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud, dicorek ana ing dluwang, nganggo mangsi supaya wong bisa wêruh, mula jênênge dalwang, têgêse mêtu wangune, mangsi têgêse mangsit, dadi yen dalwang ditrapi mangsi, mêsthi banjur mêdal wangune, mangsit mangan kawruh, mula jênêng kalam, amarga kawruhe anggawa alam.

* Kyai Kalamwadi lantas menjelaskan. Semua adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Oleh karena ajaran dibuat berbeda-beda, dimaksudkan agar seluruh manusia bisa terpicu menemukan buah pohon Kesadaran dan buah pohon Pengetahuan. Dengan sarana kecerdasan yang diberikan, sampai dimana mampu memetik buah Pengentahuan dan buah Kesadaran. Ketahuilah, Gusti Allah telah menciptakan sastra yang gaib, disebut sastra Hidup. Manusia jarang yang bisa memahaminya, walaupun para Auliya maupun para  Nabi  tetap  saja memahami  sebatas  yang  mereka  bisa.  Segala  buah  pohon Pengetahuan dan buah pohon Kesadaran diwujudkan dalam tulisan, diguratkan diatas DALWANG (kertas) dengan MANGSI (tinta) agar bisa terlihat wujudnya. Tempat mengguratkan tinta itu disebut DALWANG, karena disana sebagai sarana me-DAL WANG-ngune (Keluar  wewujudannya), MANGSIT (Memicu)  manusia agar  memakan buah pohon Pengetahuan (mendapat Pemahaman/Pengertian sebelum mendapatkan buah pohon Budi atau Kesadaran : Damar Shashangka). Alat tulisnya dinamakan KALAM, sebab buah pengetahuan yang tergurat disana bagaikan ucapan alam.

Sastra warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa, iku wajib dipangan, supaya sugih pangrêten lan kaelingan, mung wong kang ora ngrêti sastra paringe Gusti Allah, mêsthi ora mangêrti marang wangsit.

* Segala macam sastra/ajaran pemberian Yang Maha Kuasa, wajib dimakan (dipelajari), agar kaya pengertian dan kaya pemahaman, hanya manusia yang  tidak memahami sastra/ajaran pemberian  Gusti  Allah  tidak  akan  memahami WANGSIT (Pengetahuan Rahasia).

Bagaimana bila manusia/pemimpin/pemuka agama tidak bisa menjalankan firman Tuhan tersebut diatas?, Sesungguhnya manusia yang tidak bisa mengambil pelajaran dari segala perbedaan adalah manusia yang merugi.

MANUSIA Yang SeBURUK-BURUK Makhluk adalah :
a.       MANUSIA yang berperilaku lebih sesat melebihi dari binatang ternak, Karena PANCA INDERAnya Tidak Digunakan Untuk Mempelajari, Memahami Dan Melaksanakan Perintah Tuhan. 

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.(QS. Al A'raaf 7:179)


“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli[604] yang tidak mengerti apa-apapun”.(QS. Al Anfaal 8:22)

[604]. Maksudnya: manusia yang paling buruk di sisi Allah ialah yang tidak mau mendengar, menuturkan dan memahami kebenaran.

b.      Melakukan Perbuatan Yang DiMURKAI ALLAH Karena Tidak Menggunakan AKALnya

Orang beriman bisa dibenci Allah bila:
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash Shaff 61:2-3)

Jangan ikut-ikutan bila tidak tahu dasar hukumnya:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al Israa' 17:36)

Bila Tidak mempergunakan akal, maka dimurkai Allah

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya”. (QS. Yunus 10:100).



Bila paham kitab dapat hikmah tidak boleh cari pengikut (pemuja) tapi harus tetap mengajarkan dan mempelajari kitab

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani[208], karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. (QS. Ali 'Imran 3:79)

[208]. Rabbani ialah orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah s.w.t.

Demikianlah, sedikit sumbangsih pemikiran. Bila ada kesalahan penulisan ataupun pengungkapan kata-kata yang menyinggung pribadi, kelompok ataupun golongan mohon dibukanya pintu maaf yang selebar-lebarnya. Hal ini kami lakukan semata-mata demi besarnya bangsa yang kita cintai bersama ini.

JAYALAH INDONESIA

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait