Yayasan Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Satrio piningit, Imam Mahdi dan Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu (1)

Oleh :Bocah Angon

Bab I
siapakah Satrio Piningit?

Tulisan ini merupakan merupakan kajian dalam persepsi spiritual yang dipadukan dari karya warisan leluhur nusantara, yaitu : Syair Joyoboyo, Serat Musarar Joyoboyo, Ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong, Serat Kalatidha R.Ng. Ronggowarsito, Serat Darmo Gandhul, dan Wangsit Siliwangi serta Ramalan Nostradamus.

Semuanya dikumpulan dan ditafsirkan (dari berbagai sumber) dan  disarikan serta disusun berdasarkan pengalaman spiritual dari kami dalam menelisik siapakah Satrio Piningit yang kemudian muncul sebagai Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu atau Imam Mahdi. Semoga bermanfaat dan mampu memberikan semangat bagi seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan Indonesia menjadi MERCUBUANA. Mohon maaf apabila kami tidak menyebutkan satu-persatu sumber dari tulisan ini.

Dalam mengungkapkan tulisan ini kami berusaha memaparkan dengan gaya bahasa yang sesederhana mungkin, agar mudah dipahami bagi semua pembaca dari segenap lapisan, Mengingat penyampaian penulisan ini dalam bahasa makna (bahasa hakekat), dimana fenomena spiritual bagi konsumsi akal pikiran masyarakat umum adalah sesuatu yang sangat sulit dan rumit.

Karena bagi orang awam terkesan segala sesuatunya dihubung-hubungkan (gothak-gathik mathuk). Secara hakekat, dalam kehidupan ini tidak ada kebetulan. Kebetulan sejatinya merupakan ketetapan yang telah ditetapkan-Nya sesuai Karsa (kehendak) Allah SWT. Kecuali bagi pembaca yang sedikit banyak telah mengenal kawruh (ajaran laku utama di dalam keilmuan).

Maka, dalam membaca tulisan ini dibutuhkan kedewasaan dalam perenungannya dan kesadaran spiritual tanpa terjebak ke dalam fanatisme beragama dan dogma yang dijalankan.

 1.     Definisi Satrio Piningit
Joyoboyo meramalkan akan munculnya Satrio Piningit yang nanti akan membawa Indonesia kemasa keemasannya. Ramalan itu dituliskan ulang oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Satrio Piningit adalah dua kata sifat yang menyatu dan melekat pada diri seseorang. Satrio adalah sifat seorang petarung sejati dalam menegakkan kebenaran dan membela kejujuran.

Piningit adalah sifat yang memingit diri, artinya adalah memingit dirinya dari segala hal yang tidak baik. Menaati segala Perintah dan menjauhi larangan-larangan, baik kehidupan secara pribadi dengan Tuhan ataupun sebagai makhluk sosial.

2.      Asal Satrio Piningit
Satrio piningit berasal dari Indonesia
# From the three water signs (seas) will be born a man. (Dari pertemuan tiga laut, akan lahir seorang lelaki). (nostradamus) #
Artinya :
Tiga lautan tersebut adalah laut Cina selatan, laut Jawa, dan Laut Indonesia.

 # Salah satu anggota liga yang dikeluarkan dari Hermes yang agung Dia akan mencapai puncak kekuasaan di atas semua kekuasaan lain di timur.(Nostradamus : Century 10 Kuantrain 75) #
Artinya :
Dalam pemerintahan Presiden soekarno(Hermes yang agung) indonesia pernah menyatakan diri keluar dari Perserikatan bangsa-bangsa (anggota liga), dan setelah kepemimpinan presiden soeharto, indonesia adalah kekuatan yang ditakuti di asia timur dengan sebutan macan dari timur.

 3.     Pemimpin yang terpilih dari Kediri – Jawa Timur
Pemimpin yang diidamkan berasal dari Indonesia (jawa), hal ini ditegaskan lagi pada jangka jayabaya syair 161.

# dunungane ana sikil redi Lawu sisih wetan\ wetane bengawan banyu\ andhedukuh pindha Raden Gatotkaca\ arupa pagupon dara tundha tiga\ kaya manungsa angleledha\ #
Artinya :
asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur, sebelah timurnya bengawan, berumah seperti Raden Gatotkaca, berupa rumah merpati susun tiga, seperti manusia yang menggoda. (Jangka Jayabaya : 161).

# Putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu\ hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti\ mumpuni sakabehing laku\ nugel tanah Jawa kaping pindho\ ngerahake jin setan\ kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo\ kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda\ landhepe triniji suci\ bener, jejeg, jujur\ kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong\ #
Artinya :
Putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu, yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti, menguasai seluruh ajaran (ngelmu), memotong tanah Jawa kedua kali mengerahkan jin dan setan, seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu, membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda, tajamnya tritunggal nan suci, benar, lurus, jujur, didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong. (Jangka Jayabaya : 164) *

artian secara bahasa (umum)
a.       Berdasarkan Jangkajayabaya syair 161 diatas, jelaslah bahwa dia dilahirkan di Kediri-Jawa timur. Kenapa kota ini?, Secara geografis posisi kota ini berada ditimur Gunung Lawu dan lebih jelas lagi diterangkan masih dalam syair 161 “ sebelah timur sungai “ dan dipertegas dengan Jangka jayabaya syair 164 “ memotong tanah jawa kedua kali”.

Tanah jawa pernah terpotong menjadi dua sebelumnya, yaitu terjadi pada masa Raja Airlangga. Pembagian kerajaan tersebut dilakukan oleh seorang Brahmana yang terkenal akan kesaktiannya yaitu Mpu Bharada.

Sejarah Kerajaan Kediri atau Kerajaan Panjalu adalah merupakan sebuah kerajaan besar yang terletak di daerah Jawa Timur yang berdiri pada abad ke-12 yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang. Kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Kuno. Pusat kerajaannya terletak di tepi Sungai Brantas yang pada masa itu telah menjadi jalur pelayaran yang ramai.

Singkat Cerita Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan.

Empu Baradha terbang sambil membawa Kendi (Teko dari tanah liat) berisi air. Dari angkasa, ia tupahkan air kendi itu sambil terbang melintas persis di tengah-tengah Kerajaan Kahuripan. Ajaibnya, Tanah yang terkena tumpahan air Kendi langsung berubah menjadi sungai. Sungai itu semakin besar dan airnya deras. Sungai itu sekarang bernama Sungai Berantas.

Inilah tapal batas kedua negara. Guna memperingatkan kepada kedua penguasa di beberapa daerah didirikan beberapa dinding batu agar mereka ingat bahwa itulah batas kerajaan mereka. Siapa yang berani melanggar akan terkena kutukan dewa, kutukan Empu Barada. Sehingga legenda itu masih dipercayai oleh sebagian besar masyarakat kediri, salah satunya adalah tidak boleh ada pernikahan antara warga timur sungai dengan barat sungai.

*Kediri berasal dari kata diri yang berarti adeg, angdhiri, menghadiri atau menjadi raja (bahasa Jawa : Jumenengan)*

b.      Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat" dan telah lama tidak aktif. Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho.

Gunung lawu merupakan tempat utama dan terakhir bagi orang-orang perjalanan dalam memahami semua petunjuk yang telah diterima selama Olah “Raga” dan Olah “Rasa”. Gunung ini juga merupakan tempat pertapaan bagi Raden Gugur (Brawijaya Pamungkas). Dia adalah Penguasa Gunung Lawu yang terkenal hingga sekarang dengan sebutan Sunan Lawu.

 
# Kaki : kaki adalah salah satu bagian / wilayah dari anggota tubuh #

Prabu brawijaya pamungkas sebagai pewaris mahota kerajaan majapahit moksa di gunung lawu. Sementara itu wilayah kerajaan majapahit begitu luasnya. Sehingga makna hakekat dari kaki disini adalah wilayah atau bagian dari kerajaan majapahit. Dimana gunung Lawu adalah kepalanya atau pusatnya.

# Gunung : adalah kejayaan, kekuatan, kerajaan #
* Lawu, Lawu Dalam dunia spiritual berarti LA : Laku, lelaku, baik itu perjalanan spiritual (hubungan dengan Tuhan) ataupun perjalanan wujud (hubungan sesama manusia, WU : Wulangan, Pelajaran *

# Timur : adalah permulaan #
* Permulaan perjalanan untuk menjadi pemimpin telah dilakukan oleh satrio piningit dengan dua jalan, Spiritual dan Secara lahir. Secara spiritual telah dilakukan semenjak kecil dengan pengawasan oleh sang kakek *
Secara lahir dengan mengikuti “pendadaran” di “rumah merpati susun tiga” guna mendapatkan ilmu keprajuritan dan ketatanegaraan.
c.      Berumah seperti Raden Gatotkaca, berupa rumah merpati susun tiga, seperti manusia yang menggoda. (Jangka Jayabaya : 161)

# Rumah/Baitullah : adalah Diri pribadi #
Raden Gathotkaca adalah orang yang memiliki kesabaran dan ketangguhan dalam menjalani hidup. Singkat cerita, setelah “Semar” memasukan Gathotkaca ke dalam kawah candra dimuka dalam waktu singkat Gathotkaca mampu menyelesaikan “pendadaran”nya. Kemudian berganti baju dengan simbol “Bintang” didadanya, yang melambangkan orang yang memiliki kesabaran dan ketangguhan.

# berupa rumah merpati susun tiga #
Rumah merpati dinamakan “Pagupon”, berpintu banyak dan bersusun tiga. Walaupun berpintu banyak akan tetapi masih satu-kesatuan Rumah. Hal ini adalah menggambarkan tempat pendadaran sekaligus tempat istirahat “mess” bagi Sang Ksatria. Bangunan ini berada di Akademi Angkatan Laut (AAL)- Bumi Moro Krembangan – Surabaya.

Gedung sejumlah 6 buah dan masing-masing gedung berlantai tiga (susun tiga) dan berkamar 6 (enam) buah yang kesemua pintunya menghadap Laut. Sehingga apabila dipandang dari jauh seperti “ rumah merpati yang susun tiga”. Urutan ke-enam gedung dari selatan ke utara adalah gedung Tinombala, Tambora, Tokala, Tamrau, Muria, Tanggamus.

Sehingga arti lain dari kaki Gunung Lawu : adalah kerajaan atau wilayah (kaki) dari Kerajaan (gunung) Lawu (majapahit) meliputi Tinombala (sulawesi), Tambora (NTT), Tokala (sulawesi), Tamrau (jayapura), Muria (jawa), Tanggamus (sumatera). Kekuasaan atau wilayah majapahit yang dimaksud diatas bukanlah wilayah majapahit akibat penaklukan. Hal ini akan dijelaskan di catatan sejarah.

Keterangan:
* Gunung Tinombala adalah nama sebuah puncak gunung di Pegunungan Bosagong, gunung ini terletak di Desa Tinombala, Kecamatan Tomini, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Jarak dari Parigi sekitar 200 km, sedangkan jarak dari Tolitoli sekitar 40 km *
* Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada 8°15' LS dan 118° BT *

* Gunung Tokala adalah sebuah Gunung yang terletak di negara Indonesia yang memiliki ketinggian 2630 meter, atau setara dengan 8629 kaki.  Dataran tinggi berbentuk Gunung yang bernama Gunung Tokala ini berada di wilayah Sulawesi (Celebes). 

* Pegunungan Tamrau terletak di wilayah Jayapura dengan Latitude/Longitude: S 0° 30' 0.00"  E 132° 27' 0.00" (-.50000, 132.45000)*

* Gunung Muria adalah sebuah gunung di wilayah utara Jawa Tengah bagian timur, yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kudus di sisi selatan, di sisi barat laut berbatasan dengan Kabupaten Jepara, dan di sisi timur berbatasan dengan Kabupaten Pati*

* Gunung Tanggamus adalah sebuah gunung yang terletak di Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Gunung ini berada di sebelah timur laut dari Kota Agung dengan jarak sekitar 10 km *

Sebagai Catatan Sejarah tentang wilayah majapahit
Wilayah Majapahit itu ada di Pulau Jawa (Jawa Timur dan Jawa Tengah). Sayang sekali banyak ahli sejarah menafsirkan bahwa Nusantara itulah wilayah Majapahit. Hal ini mengandung makna ”nusa” adalah ”pulau-pulau atau daerah”, sedangkan ”antara” adalah ”yang lain”. Jadi, Nusantara pada masa Majapahit diartikan sebagai ”daerah-daerah yang lain” karena kenyataannya memang di luar wilayah Majapahit.

Nusantara merupakan koalisi di antara kerajaan-kerajaan yang turut bekerja untuk kepentingan bersama untuk keamanan dan perdagangan regional, demikian hemat Hasan. Mereka berkoalisi sebagai ”mitra satata” sahabat atau mitra dalam kedudukan yang sama.

Sebagai kerajaan adikuasa setelah zaman Sriwijaya berakhir, Majapahit tetap berkepentingan dengan wilayah kerajaan-kerajaan disekitarnya sebagai daerah tujuan pemasaran dan sebagai penghasil sumber daya alam yang berpotensi perdagangan. Memang ada jalinan hubungan. Namun, hubungan ini tidak harus seperti penguasa dan yang dikuasai, bukan kekuasaan dalam artian politik. Ini adalah hubungan kepentingan bersama sehingga Majapahit juga berkepentingan untuk mengamankan dan melindungi wilayah-wilayah itu.

Berdasar uraian Nagarakertagama, Majapahit memang punya tradisi mengadakan suatu pesta besar setiap tahunnya. Semua penguasa wilayah–wilayah kerajaan itu diundang dan ada yang memberikan hadiah-hadiah kepada raja Majapahit, dan menurut Hasan hadiah itu bukanlah upeti. ”Buktinya, sejak Majapahit berkuasa sampai runtuh pun daerah-daerah itu bebas merdeka.”

Artian secara Hakikat (makna)
# asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur, sebelah timurnya bengawan, berumah seperti Raden Gatotkaca, berupa rumah merpati susun tiga, seperti manusia yang menggoda. (Jangka Jayabaya : 161) #

Sebelum kita masuk kedalam makna tentang syair 161 dari jangka jayabaya tersebut diatas, marilah kita simak terlebih dahulu cerita terkait gathotkaca dan kawah candradimuka dibawah ini ;
Kisah ini diawali dengan kelahiran Gathotkaca yang merupakan putra Bima (Werkudara) dengan Dewi Arimbi, dewi Arimbi sendiri sebenarnya adalah putri raksasa/buta yang didandani oleh Dewi Kunthi sehingga menjelma menjadi perempuan cantik.

Gathotkaca kecil diberi nama Tetuko oleh kakeknya, ada keganjilan dalam kelahirannya, yaitu tali pusarnya tidak bisa dipotong dengan alat apapun.

Ternyata diketahui tali pusar Gathotkaca baru bisa diputus oleh Pusaka Kuntha. Batara Narada yang bertugas mengantar senjata ini ke Raden Arjuna (Paman Gathotkaca) malah mengantarnya ke Raden Karna karena kemiripan muka mereka. Karna merupakan saudara seibu arjuna yang karena takdir berada di pihak Kurawa, akhirnya terjadi pertarungan memperebutkan senjata Kuntha yang dimenangkan oleh Raden Karna. Arjuna hanya mendapatkan warangka/sarung senjata Kuntha. Karena warangkanya juga merupakan senjata ampuh maka tali pusar tetoku bisa putus juga, dan ajaibnya warangkanya menghilang, menyatu kedalam tubuh Tetuko.

Batara guru memerintahkan Tetuko dibawa ke khayangan yang sedang dilanda peperangan dengan raja setan Kolopracono, bayi Gathotkaca yang masih merah dikirim ke medan pertempuran untuk melawan senopati musuh, ajaibnya meskipun ditusuk, digigit, dan dibanting, Bayi Gathotkaca tidak mengalami luka sedikitpun, senopati kolopracono yang marah protes ke Batara Guru bahwa bayi merah ini bukan lawan sepadan untuknya. Batara Guru pun berpikir kemudian bayi Gathotkaca yang masih merah dicemplungkan ke Kawah Candradimuka beserta pusaka/senjata seluruh dewa-dewa khayangan. Akhirnya keluarlah ksatria muda gagah perkasa dengan otot kawat balung wesi kulit waja sikut pethel garis linggis anu ceret yang kemudian ditandingkan dan mengalahkan senopatinya kolopracono bahkan si kolopracono sendiri.

Perang di Kurukshetra dalam pewayangan Jawa biasa disebut dengan nama Baratayuda. Kisahnya diadaptasi dan dikembangkan dari naskah Kakawin Bharatayuddha yang ditulis tahun 1157 pada zaman Kerajaan Kadiri. Versi pewayangan mengisahkan, Gatotkaca sangat akrab dengan sepupunya yang bernama Abimanyu, putra Arjuna. Abimanyu menikah dengan Utari putri Kerajaan Wirata, setelah ia mengaku masih perjaka. Kenyataannya, Abimanyu telah menikah dengan Sitisundari putri Kresna. Sitisundari yang dititipkan di istana Gatotkaca mendengar kabar bahwa suaminya telah menikah lagi. Paman Gatotkaca yang bernama Kalabendana datang menemui Abimanyu untuk mengajaknya pulang (Kalabendana adalah adik bungsu Arimbi yang berwujud raksasa bulat kerdil tapi berhati polos dan mulia). Hal itu membuat Utari merasa cemburu. Abimanyu terpaksa bersumpah bahwa jika dirinya memang telah beristri selain Utari, maka ia rela mati dikeroyok musuhnya di kemudian hari. Kalabendana menemui Gatotkaca untuk melaporkan sikap Abimanyu. Gatotkaca justru memarahi Kalabendana yang dianggapnya lancang mencampuri urusan rumah tangga sepupunya itu. Karena terlalu marah, Gatotkaca memukul kepala Kalabendana. Mekipun perbuatan tersebut dilakukan tanpa sengaja, namun pamannya itu tewas seketika.

Ketika perang Baratayuda meletus, Abimanyu benar-benar tewas dikeroyok para Korawa pada hari ke-13. Pada hari ke-14, Arjuna berhasil membalas kematian putranya itu dengan cara memenggal kepala Jayadrata.Duryodana sangat sedih atas kematian Jayadrata, adik iparnya sendiri. Ia memaksa Karna menyerang perkemahan Pandawa pada malam itu juga. Karna berangkat meskipun hal itu melanggar peraturan perang. Setelah tahu bahwa para Korawa melancarkan serangan malam, pihak Pandawa mengirim Gatotkaca untuk menghadang. Gatotkaca sengaja dipilih karena Kotang Antrakusuma yang ia pakai mampu memancarkan cahaya terang benderang. Gatotkaca berhasil menewaskan sekutu Korawa yang bernama Lembusa. Sementara itu dua pamannya, yaitu Brajalamadan dan Brajawikalpa, tewas di tangan musuh mereka, masing-masing bernama Lembusura dan Lembusana.

Gatotkaca berhadapan dengan Karna, pemilik senjata Kontawijaya. Ia menciptakan kembaran dirinya sebanyak seribu orang sehingga membuat Karna merasa kebingungan. Atas petunjuk ayahnya, yaitu Batara Surya, Karna berhasil menemukan Gatotkaca yang asli. Ia pun melepaskan senjata Konta ke arah Gatotkaca. Gatotkaca mencoba menghindar dengan cara terbang setinggi-tingginya. Namun arwah Kalabendana tiba-tiba muncul menangkap Kontawijaya sambil menyampaikan berita dari kahyangan bahwa ajal Gatotkaca telah ditetapkan malam itu. Gatotkaca yang pasrah terhadap takdirnya berpesan supaya mayatnya bisa digunakan untuk membunuh musuh. Kalabendana setuju, kemudian menusuk pusar Gatotkaca menggunakan senjata Konta. Pusaka itu melebur dengan sarungnya, yaitu kayu mastaba yang masih tersimpan di dalam perut Gatotkaca. Setelah Gatotkaca gugur, arwah Kalabendana melemparkan jenazahnya ke arah Karna. Karna berhasil melompat sehingga lolos dari maut. Namun keretanya hancur berkeping-keping akibat tertimpa tubuh Gatotkaca. Pecahan kereta tersebut melesat ke segala arah dan menewaskan para prajurit Korawa yang berada di sekitarnya.

# asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur, sebelah timurnya bengawan, berumah seperti Raden Gatotkaca, berupa rumah merpati susun tiga, seperti manusia yang menggoda. (Jangka Jayabaya : 161) #

* asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur : Dia adalah sosok yang mampu membaca keadaan, sebab perjalanannya diawali dengan belajar pada dirinya sendiri (membaca diri / jawa / kesadaran). Semua yang terjadi padanya disadari secara penuh merupakan LA-ku (lelaku) dan WU-langan (pelajaran hidup) yang diberikan Tuhan untuk membentuknya menjadi manusia yang tangguh (otot kawat balung wesi, sumsum timah). Dan manusia yang bisa dan mampu membaca keadaan adalah manusia yang terjun dalam olah spiritual (orang Hakikat), sehingga mampu membaca makna baik yang tersurat ataupun tersirat *

* sebelah timurnya bengawan : Karena perjalanannya untuk menjadi pemimpin diawali dengan mengkaji diri (LA - WU), maka itu digambarkan berposisi disebelah timurnya bengawan (mengarungi kehidupan), yang bermakna bahwa DIA akan melewati sungai tersebut sehingga akan berposisi dibarat sungai (mencapai tujuan), sehingga dia berumah seperti Gathotkaca *

Penjelasan :
* Laksana seorang biksu dengan ketiga muridnya yang melakukan perjalanan menuju barat "Journey to The West". Pendeta Tong, guru pendeta. Sun Go Kong, raja monyet, murid pertama. Tie Pat Kay, karakter berwajah babi, murid kedua. Sam Cheng, karakter rahib, murid terakhir. Di dalam ekspedisi ke langit barat, empat tokoh ini melewati 14 musim panas dingin, 81 kali bahaya menghadapi gangguan dari siluman dan setan-setan yang ingin menawan Pendeta Tong sebelum akhirnya mencapai tujuan *

Dalam bahasa hakikat adalah perjalanan menuju akhir (perjalanan mengkaji diri, dari mana berasal, bertugas sebagai apa didunia dan kemana akan kembali)

Kenapa artian sebelah timurnya bengawan = Journey to The West = Sangkan Paraning Dumadi?, marilah kita artikan secara "hakikat". Manusia dikatakan sebagai makhluk paling sempurna karena segala sifat "dibenamkan" pada tiap diri manusia. Hanya manusia yang mampu menggunakan hati nuraninya saja yang akan mampu mengenali diri, lingkungan dan Tuhannya.

- Pendeta Tong, guru pendeta = Sisi baik tiap manusia. Karena dalam tiap manusia memiliki "Ruh Al Quds" atau dalam bahasa wujud adalah Sebagai "Hati Nurani". Terbukti dalam cerita perjalanan menuju barat, pendeta Tong selalu berpasrah pada Tuhan disetiap keadaan.

- Sun Go Kong, raja monyet = Sebagai simbolisasi diri "Ego" manusia. Dalam cerita Journey to The West selalu digambarkan sebagai sosok monyet yang tidak bisa diatur. Sun Go Kong akan diam setelah Pendeta Tong berdoa. Mengandung makna, apabila manusia telah dikuasai oleh "Ego" diri dan apabila Ke Egoannya di bawa ke Hati "Perenungan", egonya akan hilang dan dia bisa menyadari bahwa semua merupakan kehendak dari Tuhan.

- Tie Pat Kay, karakter berwajah babi = Sebagai simbolisasi dari "nafsu" dari setiap diri manusia. Diceritakan pat kay selalu tergoda oleh nafsu birahinya. Dia selalu tertarik dengan perempuan-perempuan cantik.

- Sam Cheng, karakter rahib = Sebagai simbolisasai dari "nafsu serakah" yang ada ditiap manusia. Dalam cerita perjalanan menuju barat sering digambarkan selalu lapar dan kepingin makan.

Catatan karya sastra
Perjalanan ke Barat (Hanzi: 西遊記, hanyu pinyin: xi you ji, bahasa Inggris: Journey to The West) adalah sebuah karya sastra terkenal dari zaman Dinasti Ming. Novel ini menceritakan banyak mitologi klasik pertentangan antara baik dan buruk yang bertemakan seorang pendeta dari zaman Dinasti Tang yang mengambil kitab suci ke barat, dalam hal ini ke India. Di kalangan Tionghoa di Indonesia, novel ini dikenal dengan nama See Yu Ki yang merupakan dialek Hokkian dari Xi You Ji.

Walaupun tokoh pendeta yang digambarkan di dalam novel ini merupakan pendeta Xuanzang, namun deskripsi pendeta Tong bertolak belakang dengan karakter asli Xuanzang yang hidup pada masa Dinasti Tang itu.

Novel ini selesai ditulis oleh Wu Cheng-en (Hanzi: 吳承恩) sekitar pertengahan abad ke-16 dan kemudian populer sebagai bacaan di seluruh Tiongkokdan juga adalah salah satu dari 4 karya sastra terbaik di dalam sejarah sastra Tiongkok bersama Kisah Tiga Negara, Batas Air dan Impian Paviliun Merah.

# berumah seperti Raden Gatotkaca = Setelah memahami siapa dirinya (sangkan paraning dumadi) maka Dia akan menjadi seperti Gathotkaca, sosok yang tanggung dengan disimbolkan otot kawat, balung wesi dan sumsum timah serta akhirnya menjadi manusia yang sabar dengan disimbolkan adanya "Bintang didadanya". Dia mampu memahami orang lain dan mendahulukan kepentingan umum dari pada dirinya sendiri. Hal ini sebagai simbolisasi dari pengorbanan gathotkaca yang dengan ikhlas menerima hunjaman senjata konta dari pamannya "karna" di pusarnya. dan ini juga sebagai simbolisasi kesempurnaan manusia "keris manjing juriga". (Baca : sangkan paraning dumadi)

# Sebelum menjadi Gathotkaca bayi tetuko dicemplungkan ke Kawah Candradimuka beserta pusaka/senjata seluruh dewa-dewa khayangan. Akhirnya keluarlah ksatria muda gagah perkasa dengan otot kawat balung wesi kulit waja sikut pethel garis linggis anu ceret #

Penjelasan :
* Kawah       = kawah gunung, lubang, kuali, tempat yang panas.
* Candradimuka = sinar bulan 
* Dicemplungkan ke Kawah Candradimuka beserta pusaka/ senjata seluruh dewa-dewa khayangan *

- Karena Gathotkaca adalah dari golongan ksatria (Prajurit), maka pemimpin yang sedang dinanti adalah sebagai seorang "militer". Maka dari itu dididik ditempat yang disebut "kawah". Sehingga Dia menjadi prajurit yang tanggap, tanggon dan trengginas.

- Selain sebagai seorang prajurit, Dia juga sebagai seorang spiritualis. "Candradimuka" mengandung arti sinar rembulan. Sinar rembulan hanya muncul dimalam hari. Hanya orang-orang spiritual saja yang "melek" dimalam hari. Dengan adanya "malam" semakin merenung dan semakin rendah diri dan semakin memasrahkan diri pada Tuhan (Dicemplungkan ke Kawah Candradimuka beserta pusaka/senjata seluruh dewa-dewa khayangan).

*** Sehingga sosok pemimpin kedepan adalah seorang prajurit (TNI) dan juga sebagai seorang spiritualis ***

# Seperti manusia yang menggoda #
Pada tiap tahunnya AAL (Akademi TNI Angkatan Laut) memanggil para pemuda diseluruh Indonesia untuk dididik menjadi satria berwatak “Gathotkaca” pengawal samudra Nusantara.

* Pada tiap angkatan lulusan AAL memiliki nama lithing. Entah kebetulan dan yang serba kebetulan sesungguhnya adalah kehendak dari Tuhan, nama lithing atau angkatan dari "Pemimpin yang dinanti" ini adalah "MOROPRABU".

* MOROPRABU *
- MORO = Bumi moro, Moro krembangan - surabaya adalah dimana AAL berdiri, atau dalam bahasa jawa berarti tiba-tiba.
- PRABU = Perwira Remaja Dua Ribu (lulus tahun 2000)
- MOROPRABU = Ujug-ujud (red jawa : tiba-tiba) menjadi Prabu (menjadi Raja / Pemimpin).

*** Maka dari itu dilanjutan ramalan joyoboyo disebutkan bahwa munculnya secara tiba-tiba dan ditandai dengan goro-goro. Selain itu disebutkan juga tidak ada yang menyangka kalau dia lah yang menjadi pemimpin ***

*** Memang sudah menjadi kehendak Tuhan ***


Kesimpulan
Berdasarkan kupasan diatas pemimpin yang ditunggu atau “Satrio Piningit” berasal dari kota kediri dan terlahir dari tempaan “Semar” (kesabaran), yang berasal dari Akademi TNI Angkatan Laut Bumi, Moro Krembangan – Surabaya. Selain sebagai seorang prajurit, dia juga sebagai seorang spiritulis.

Bahasan menurut hadist
sahabat RA berkata , “Kulit al-Mahdi berwarna coklat (sawo matang).” Daripada ucapan sahabat RA di atas, dapatlah diambil arti bahwa Imam Mahdi itu kulitnya berwarna, bukan putih cerah seperti kebiasaan warna kulit orang Arab. Disebutkan warna kulitnya di dalam bahasa Arab sebagai coklat, bukannya putih atau cerah. Jelasnya, warna ‘coklat’ yang dimaksudkan itu adalah sawo matang. Dan jika kita cantumkan semua keterangan yang ada mengenai Imam Mahdi ini, jelaslah, bahwa Timur yang dimaksudkan itu tidak lain dan tidak bukan adalah kawasan Nusantara ini.

| -1- | -2- | -3- | -4- | -5- | -6- |

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait