Yayasan Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Sejarah jumlah ayat al qur'an

Pendahuluan
Banyak orang yang beragama islam saat ditanya terkait sholat terjadi kebingungan sehingga bukan jawaban yang diberikan akan tetapi emosi yang keluar. Sehingga banyak orang “Islam yang bertanduk”.

Seperti hal nya saat ada pertanyaan “ Ada berapa waktu sholat dan bagaimana cara melakukan sholat?”, dsb. Jawaban yang berbeda tapi hampir rata-rata sama adalah “pokoknya jalani saja, itu perintah Tuhan”. “Tuhan Kun Fa Yakun” dan masih banyak beragam jawaban lainnya yang diberikan. Orang-orang seperti ini adalah golongan pendusta. Pendusta pada siapa?, tentunya pada Tuhannya.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Qs Ar Rahman 55 : 77)

Manusia diberi nikmat akal, sehat, melihat, nikmat berfikir, dsb. Kenapa manusia tidak mau menggunakannya untuk membaca, mengartikan, memaknai serta menjalankan ayat demi ayat yang telah Tuhan Firmankan. Tentulah mereka termasuk golongan pendusta. Apakah kita akan masuk golongan itu?

Padahal Tuhan Menyampaikan dalam firmannya  yang lain :

"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran". (QS Az Zumar 39 : 9)

“…………………………………….Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al Mujaadilah 58 :11).

Allah SWT menyampaikan firman-Nya hanya kepada orang-orang yang berakal. Sebab, orang yang berakal sehat sajalah yang dapat memahami diin-Nya. Allah berfirman, “……………………….sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Q.S. Shad 38 : 43)

Dalam Hadist Nabi menyampaikan :
“Seorang alim (berilmu) dengan ilmunya dan amal perbuatannya akan berada di dalam syurga, maka apabila seseorang yang berilmu tidak mengamalkan ilmunya maka ilmu dan amalnya akan berada di dalam syurga, sedangkan dirinya akan berada dalam neraka” (HR. Daiylami)

 “Allah sangat dekat kepada Setiap manusia,

Bahkan lebih dekat dari dirimu sendiri … Wa Fi Anfusikum Afala Tubsirun

Memahami dan Mengenal Allah itu minimal dengan rasa dulu,

Karena tidak ada satu manusiapun yang mampu mengenal kecuali Allah sendiri yang Tajalli memperkenalkan DIRI-NYA kepada hamba yang di kehendaki-NYA.

 

Jalan untuk lebih memahami dan mengenal Allah hanyalah Jalan ilmu.

Memang bermula kenal Allah dengan memahami ciptaannya.

Kemudian mengenal DIRI Allah yang menciptakan.

Yang manusia rasa adalah kau ingin mengenal Ku.

Tapi tahukah kau yang ingin ku kenal,

kau ingin melihatku tapi tahu kah kau yang ingin kulihat,

kau ingin memahamiku tapi tahu kah kau yang ingin ku pahami,

Kau ada karena ku,

Takdirmu demi ku,

Tiada kehendak lain yang berlaku selain kehendakku,

Maka gunakan lah Akal mu demi ilmu untuk memahami Ku,

Kau ingin Melihat KU ??
Tahukah kau apa yang ingin Ku Lihat?

Kehendak Mu kah atau Kehendak Ku kah yang Terlebih Dahulu.

Berikan apa yang Ku inginkan maka Ku berikan apa yang kau inginkan”

 

Tulisan ini disusun dan disarikan dari berbagai sumber. Mohon maaf apabila tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Semata-mata untuk “memberikan secercah cahaya penuntun bagi kami yang belum memahami agama islam secara menyeluruh”. Harapan kedepan agar kita yang “mengaku beragama islam” memiliki kecerdasan spiritual yang baik, sehingga tahu dengan sebenarnya tahu tentang  isi dan makna dari ajaran Islam.

Harapan berikutnya agar penganut agama selain islam memahami bahwa agama islam adalah agama yang cinta akan damai, tidak arogan, tidak menjadikan pemeluknya menjadi “islam yang bertanduk”.

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al Baqarah 2:208)

Sejarah Sholat
Shalat yang wajib pertama kali adalah shalat malam, firman-NYA : “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari[1525], kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan”. (QS. Al Muzzammil 73 : 1-4)

[1525]. Sembahyang malam ini mula-mula wajib, sebelum turun ayat ke 20 dalam surat ini. Setelah turunnya ayat ke 20 ini hukumnya menjadi sunat.

Kemudian hukumnya menjadi sunah, “…..Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu……." (QS. Al Muzzammil 73 : 20)
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang sehingga sholat malam yang sebelumnya wajib menjadi sunah dikarenakan ada kepentingan-kepentingan manusia yang bisa menjadi halangan bagi pencapaian kekhusyuan shalat tersebut nantinya, seperti istirahat malam serta pencarian nafkah yang dilakukan paginya.

Dalam Hadist sendiri tidak diajarkan secara rinci cara pelaksanaan Shalat. Shahih Bukhari dari Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq, Aisyah berkata “Shalat diwajibkan pertama kali sebanyak dua rakaat seperti yang dilakukan pada Shalat dalam perjalanan, dan lebih dari itu jika tidak bepergian.”

Pada waktu itu, barulah sholat LAIL atau sholat Malam berubah dari wajib menjadi Sunnah.

 

Perintah Sholat Lima Waktu Berdasarkan Hadits
Nabi Muhammad menerima wahyu pertama kali berumur ± 40 tahun dan menerima perintah solat pada umur Nabi 50 tahun, yakni saat kejadian Isra Mi'raj (di Sidrat Al-Muntaha - lapisan Surga ketujuh - Muhammad menerima perintah shalat langsung dari Allah. Mula-mula diperintahkan untuk menjalankan 50 kali sehari ibadah shalat wajib).

Berikut Salah satu hadist yang menceritakan Rasulullah Muhammad saw. menerima perintah sholat lima waktu langsung dari Allah melalui peristiwa Isra’ Mi’raj :

Hadist Shahih Bukhari No. 211 Jilid I
Berita dari Anas bin Malik r.a mengatakan, “Abu Dzar pernah bercerita, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda: Pada suatu waktu ketika aku berada di Mekah, tiba-tiba atap rumahku dibuka orang. Maka turunlah Jibril, lalu dibedahnya dadaku, kemudian dibersihkannya dengan air zamzam. Sesudah itu dibawanya sebuah bejana emas penuh hikmat dan iman, lalu dituangkan kedadaku, dan sesudah itu dadaku dipertautkan kembali. Lalu Jibril a.s membawaku naik ke langit.

Ketika Jibril a.s meminta agar dibukakan pintu, kedengaran suara bertanya: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Lalu dibukakan pintu kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Adam a.s, beliau menyambutku serta mendoakan aku dengan kebaikan. Seterusnya aku dibawa naik ke langit kedua.

 
Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Isa bin Mariam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik langit ketiga.

Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Yusuf a.s ternyata dia telah dikurniakan sebahagian dari keindahan. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keempat.

Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Idris a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit kelima.

Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Harun a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keenam.

Jibril a.s meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Musa a.s dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. 

Jibril a.s meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi: Siapakah engkau? Dijawabnya: Jibril. Jibril a.s ditanya lagi: Siapakah bersamamu? Jibril a.s menjawab: Muhammad. Jibril a.s ditanya lagi: Adakah dia telah diutuskan? Jibril a.s menjawab: Ya, dia telah diutuskan. Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Ibrahim a.s dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari memuatkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar mereka tidak kembali lagi kepadanya.

Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar umpama telinga gajah manakala buahnya pula sebesar tempayan. Baginda bersabda: Ketika nabi berjalan-jalan meninjau kejadian Allah s.w.t, nabi  dapati kesemuanya aneh-aneh. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya.

Lalu Allah s.w.t memberikan wahyu kepada nabi s.aw  dengan mewajibkan sembahyang lima puluh waktu sehari semalam. Tatakala nabi turun dan bertemu Nabi Musa a.s, dia bertanya: Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? Nabi menjawab: Sembahyang lima puluh waktu. Nabi Musa a.s berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israel dan memberitahu mereka.
Nabi kemudiannya kembali kepada Tuhan dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku. Lalu Allah s.w.t mengurangkan lima waktu sembahyang. Nabi s.aw kembali kepada Nabi Musa a.s dan berkata: Allah telah mengurangkan lima waktu sembahyang dariku. Nabi Musa a.s berkata: Umatmu masih tidak mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi.

Nabi Muhammad s.a.w tak henti-henti bolak-balik antara Tuhan dan Nabi Musa a.s, sehinggalah Allah s.w.t berfirman: Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan hanyalah lima waktu sehari semalam. Setiap sembahyang fardu diganjarkan dengan sepuluh ganjaran. Oleh yang demikian, berarti lima waktu sembahyang fardu sama dengan lima puluh sembahyang fardu. Begitu juga siapapun yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya siapapun yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak sesuatu pun dicatat baginya. Seandainya dia melakukannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya.

Nabi Muhammad s.a.w turun hingga sampai kepada Nabi Musa a.s, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih lagi berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Nabi menyahut: Aku terlalu banyak bolak-balik kepada Tuhan, sehingga menyebabkan aku malu kepada-Nya. Kemudian Jibril membawaku hingga ke Sidratul Muntaha. Tempat yang mana ditutup dengan aneka warna yang aku tak tau warna-warna apa namanya. Sesudah itu aku dibawa masuk ke dalam surga, dimana didalamnya terdapat mutiara bersusun-susun sedang buminya bagaikan kasturi.

 
Shalat Lima Waktu
Secara kontekstual dan tersurat, tidak akan ditemukan adanya ayat yang memerintahkan sholat lima waktu didalam al-Qur’an. Akan tetapi ketiadaan keterangan mengenainya bukan berarti perintah sholat lima waktu sebagaimana dilakukan oleh umat Islam sekarang ini bertentangan dengan al-Qur’an, karena  waktu sholat didalam al-Qur’an tertulis hanya tiga waktu bukan lima waktu, yaitu Fajar, Wusthaa dan Isya. Waktu yang lima untuk sholat ini dijelaskan secara tersirat dalam beberapa ayat.

"Dan dirikan sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat " (Qs. Huud 11:114)

Qs.Huud 11 ayat 114, tersebut diatas menunjukkan adanya dua waktu sholat pada dua bagian bagian siang, kita semua tahu yang disebut siang itu adalah saat matahari masih bersinar dan melampaui titik zenithnya. Kedua waktu ini bersesuaian dengan hadist mengenai adanya sholat dzuhur dan ashar. Selanjutnya diujung ayat disebut satu lagi waktu sholat yaitu pada sebagian malam, dan ini bisa merujuk pada sholat isya, sehingga dari ayat ini saja bisa diperoleh tiga waktu sholat, yaitu dzhuhur, ashar dan isya.

"Dirikanlah shalat dari sesuatu matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh [865]. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) ". (Qs. al-Israa' 17:78)

[865]. Ayat ini menerangkan waktu-waktu shalat yang lima. Tergelincir matahari untuk waktu shalat zhuhur dan ashar, gelap malam untuk waktu magrib dan isya.

 
Arti tersirat dari Qs. Al Israa’ ayat 78 diatas adalah, saat matahari tergelincir yaitu saat yang disebut dengan syafaq atau senja, ayat ini merujuk akan adanya kewajiban mendirikan sholat maghrib pada waktu tersebut. Sedangkan kelam malam adalah waktu dimana matahari sudah tenggelam dan kegelapan pekat menyelimuti bumi dimana waktu-waktu ini sangat baik untuk melaksanakan sholat, dan sholat yang demikian bisa juga kita pahami sebagai sholat isya. Sedangkan akhir ayat secara jelas merujuk pada sholat fajar atau sholat subuh.

Bagaimanakah Tata Cara Sholat?
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra ;
Aku melihat Rasulullah saw. mengangkat kedua tangan hingga sejajar pundak ketika memulai sholat, sebelum rukuk dan ketika bangun dari rukuk. Beliau tidak mengangkatnya di antara dua sujud. (Shahih Muslim No.586)

Hadis riwayat Malik bin Huwairits ra ;
Dari Abu Qilaabah, bahwa ia melihat Malik bin Huwairits ketika ia sholat, ia bertakbir lalu mengangkat kedua tangannya. Ketika ingin rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Ketika mengangkat kepala dari rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Ia bercerita bahwa Rasulullah saw. dahulu berbuat seperti itu. (Shahih Muslim No.588)

Hadis riwayat Imran bin Hushein ra ;
Dari Mutharrif bin Abdullah, ia berkata: Aku dan Imran bin Hushein sholat di belakang Ali bin Abu Thalib. Saat sujud beliau bertakbir. Saat mengangkat kepalanya beliau bertakbir. Saat bangun dari dua rakaat beliau bertakbir. Selesai sholat Imran memegang tanganku dan berkata: Sesungguhnya Ali telah mengimami sholat kita dengan sholat seperti sholat Muhammad saw. atau katanya: Sesungguhnya Ali telah mengingatkan aku dengan sholat Muhammad saw.. (Shahih Muslim No.594)

Hadis riwayat Ubadah bin Shamit ra ;
Bahwa Nabi saw. bersabda: Orang yang tidak membaca surat Al-Fatihah, tidak sah sholatnya. (Shahih Muslim No.595)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra ;
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada sholat kecuali dengan bacaan surat Al-Fatihah. (Shahih Muslim No.599)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra ;
Bahwa Rasulullah saw. masuk masjid. Lalu seorang lelaki masuk dan melakukan sholat. Setelah selesai ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah saw. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda: Ulangilah sholatmu, karena sesungguhnya engkau belum sholat. Lelaki itu kembali sholat seperti sholat sebelumnya. Setelah sholatnya yang kedua ia mendatangi Nabi saw. dan memberi salam. Rasulullah saw. menjawab: Wa'alaikas salam. Kemudian beliau bersabda lagi: Ulangilah sholatmu, karena sesungguhnya engkau belum sholat. Sehingga orang itu mengulangi sholatnya sebanyak tiga kali. Lelaki itu berkata: Demi Zat yang mengutus Anda dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada ini semua. Ajarilah saya. Beliau bersabda: Bila engkau melakukan sholat, bertakbirlah. Bacalah bacaan dari Alquran yang engkau hafal. Setelah itu rukuk hingga engkau tenang dalam rukukmu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga engkau tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga engkau tenang dalam dudukmu. Kerjakanlah semua itu dalam seluruh sholatmu. (Shahih Muslim No.602)

Hadist diatas adalah beberapa hadist dari sekian banyak hadist yang menunjukkan tata cara sholat. Dalam hadist yang lain nabi menyampaikan “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat". (HR. Bukhari)”.

Hal ini akhirnya banyak menimbulkan pertanyaan, antara lain :
1.      Dalam peristiwa isra’ mi’raj Tuhan mewajibkan sholat di lima waktu, namun kenapa tidak mengajarkan tata cara sholat kepada Nabi? (mengingat betapa pentingnya sholat), malahan tata cara sholat banyak ditemukan dalam hadist?!.
2.      kenapa nabi tidak mengajarkan secara langsung tata cara shalat secara detail tapi hanya disuruh melihat ?, terus bagaimana nabi shalat?

3.      Bagaimana para sahabat tahu apa yang di baca nabi dalam shalatnya? apakah nabi ketika shalat itu membacanya dengan keras sehingga sahabat-sahabatnya bisa mendengarkan bacaan-bacaan beliau?

4.      Apakah ketika nabi sedang shalat, sahabat-sahabatnya menonton beliau untuk mengetahui cara beliau shalat?

5.      Kenapa hal sepenting shalat, beliau tidak mau mengajarkannya secara jelas, malah hanya di suruh melihat saja bagaimana beliau shalat?, Sehingga tidak salah apabila akhirnya banyak perpecahan yg timbul dari perbedaan tata cara shalat.  

****Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, yang harus kita fahami terlebih dahulu adalah apakah itu sejatinya sholat. Untuk itu baca terus website mercubuanaraya.com******

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait