Yayasan Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Sejarah puasa orang terdahulu

Puasa adalah salah satu dari tiga ibadah yang sama tuanya dengan umur manusia di muka bumi ini. Dua ibadah lainya adalah shalat, seperti disebutkan dalam surat al-Muddatsir (74): 40-43, dan Qurban seperti disebutkan dalam surat al-Ma’idah [5]: 27 Sementara ibadah puasa terdapat dalam surat al-Baqarah; 183 yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan juga kepada orang-orang yang sebe lum kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa”.

Dalam sebuah sumber disebutkan bahwa nabi Adam a.s. sesampai nya di bumi setelah diturunkan dari sorga akibat dosa dan kesalahan yang dilakukan, dia bertaubat kepada Allah swt dan berpuasa selama tiga hari setiap bulan. Itulah yang kemudian dikenal dengan puasa hari putih yang juga sunah untuk dikerjakan untuk umat Muhammad, pada setiap tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.

Nabi Daud a.s. juga melaksanakan puasa, bahkan nabi Daud a.s. berpuasa dengan satu hari berpuasa dan berbuka satu hari lainnya, sepanjang hayatnya. Hal ini juga disunnahkan untuk umat Muhammad namun jika umat Islam melaksanakan puasa Daud maka mayoritas ulama’ mengatakan gugurlah kesunahan puasa-puasa yang lainnya, seperti senin-kamis, puasa ayyamal biid, puasa asyura maupun puasa yang lainnya.

Al-Qurthubi, dalam kitab al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, menyebutkan bahwa Allah telah mewajibkan, puasa kepada Yahudi selama 40 hari, kemudian umat nabi Isa a.s. selama 50 hari. Tetapi kemudian mereka merubah waktunya sesuai keinginan mereka. Jika bertepatan dengan musim panas mereka menundanya hingga datang musim bunga. Hal itu mereka lakukan demi mencari kemudahan dalam beribadah. Itulah yang disebut nasi’ seperti disebutkan dalam surat at taubah: 37 “Sesungguhnya mengundur-undurkan ibadah) pada bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah…”

Hal itu menggambarkan betapa umat Yahudi selalu menghindarkan diri untuk melaksanakan ibadah dengan sempurna sesuai aturan Allah. mereka menginginkan puasa dilaksanakan selalu pada musim dingin atau musim semi yang siangnya lebih pendek daripada malamnya, berbeda dengan puasa pada musim panas, disamping suhu yang panas siang juga lebih panjang dari malam hari. Sehingga, puasa akan terasa sangat sulit dan melelahkan. Namun, begitulah hikmahnya Allah memerintahkan puasa berdasarkan perjalan bulan bukan matahari agar puasa dirasakan pada semua musim dan semua kondisi. Sebab, jika puasa berdasarkan perjalan matahari, maka ibadah puasa akan selalu berada dalam satu keadaan. Jika tahun ini puasa di mulai pada musim panas, maka selamanya puasa akan berada pada musim panas. Berbeda dengan perjalanan bulan yang selalu berubah, di mana jika tahun ini puasa dilaksanakan pada musim panas, maka tahun depan atau beberapa tahun kemudian puasa akan dilaksanakan pada musim dingin atau semi dan seterusnya. Demikian juga apa yang kita alami saat ini diIndonesia bahkan ketika Bulan Juli dan agustus yang merupakan Puncaknya musim kemarau Allah masih sering menurunkan hujan dari langit, mungkin ini dimaksudkann agar kita kaum muslimin nisa melaksanakan Ibadah Puasa dengan nyaman dan tenang. Inilah yang patut kita syukuri. Rahmat yang begitu indah namun kura kita sadari.

Dalam sebuah riwayat juga ditemukan bahwa umat Yahudi berpuasa pada setiap tanggal 10 Muharram, sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan Musa dari kejaran Fir’aun. Maka Nabi SAW juga memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram yang dikenal dengan puasa hari Asyura. Umat Yahudi juga diperintahkan berpuasa 1 hari pada hari ke 10 bulan ke 7 dalam hitungan bulan mereka selama sehari semalam.

Sementara masyarakat Mesir kuno, Yunani, Hindu, Budha, juga melaksanakan puasa berdasarkan perintah tokoh agama mereka. Umat Nashrani juga berpuasa dalam hal-hal tertentu, seperti puasa daging, susu, telur, ikan, bahkan berbicara. Sedangkan umat Islam diperintah berpuasa pada bulan Ramadhan sebagai sebuah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan.

Di dalam Al Qur’an menyebut kata SHIYAM dan kata SHOUM disebut untuk menunjukkan perintah puasa. Kata Shiyam disebut dalam Al Qur’an sebanyak 13 kali dengan berbagai bentuknya sementara kata AS SHOUM hanya sekali yaitu ketika bercerita tentang Maryam wanita mulia yang dijanjikan kedalam surga bersama tiga wanita yang lain, yaitu KHODIJAH binti Khuwalid, FATHIMAH Binti Muhammad SAW. Dan ASIYAH Binti Mazahi (istri Fir’aun). Dimana Maryam setelah melahirkan Nabiyullah Isa a.s dan kembali kepada kaumnya ia dicaci maki oleh kaumnya, namun ia telah bernadzar untuk melakukan SHOUM bicara bahkan Allah memberikan kemukjizatan kepada Nabiyullah ISA a.s. yang masih dalam buaian dapat berbicara untuk membela ibunya meski ia masih bayi.

Seperti yang pernah dilakukan Maryam ibu Nabi Isa sebagaimana dalam surat Maryam [19]: 26 Artinya: “…Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".

Para ulama’ bahasa cenderung memahami kata SHIYAM sebagai puasa dalam artian syari’at, yaitu menahan diri dari makan minum dan hubungan suami istri dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Berbeda dengan kata SHOUM yang artinya puasa dalam artian hakikat yaitu menahan lisan, telinga dan mata dan seluruh anggota tubuh dari hal-hal tidak bermanfaat yang menurut hukum asal diperbolehkan karena mengharap kan ridlo dari Allah SWT.

Jadi Puasa itu menjauhi hal-hal yang menurut hukum diperboleh kan namun di tahan sampai waktu tertentu. Yang boleh dan halal saja ditahan apalagi yang jelas-jelas haram.

Oleh karena itu menurut Al Ghozali Ada enam hal yang harus kita tahan ketika kita sedang berpuasa:
# Menahan pandangan dan tidak mengumbarnya pada hal-hal yang tidak bermanfaat yang menyibukkan hati dari mengingat Allah, apalagi hal-hal yang tercela dan dibenci.

# Menjaga lidah dari ucapan yang sia-sia dan tercela, seperti mengumpat, memfitnah , bertengkar dan membiasakan diri untuk diam dengan berdzikir kepada Allah. Sebab Bicara adalah perak sementara Diam adalah emas.

# Menahan pendengaran dari hal-hal yang dibenci oleh agama, kata Al Ghozali, setiap yang haram dikatakan adalah haram untuk didengarkan”

# Menahan seluruh anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa, perut dari memakan harta yang haram, tangan dari menyakiti orang lain, kaki dari menginjak-injak hak orang lain.

# Menahan diri untuk tidak makan secara berlebih-lebihan, meski pun makanan yang halal.

# Sesudah berbuka hendaknya hati senantiasa berada diantara cemas dan harap. Ia tidak boleh terlalu takut puasanya tidak diterima, dan tidak boleh terlalu yakin bahwa puasanya sudah sempurna. 

Mengetahui sejarah puasa umat terdahulu penting untuk diketahui agar kita jangan mencontoh puasa umat lalu, seperti umat Yahudi yang memilih waktu puasa seenaknya bukan menurut aturan Allah. sebab, ibadah yang lakukan dengan “kelicikan” kerugiannya akan diderita oleh manusia itu sendiri. Kita juga harus menyadari bahwa puasa adalah ibadah yang pelaksanaannya menuntut keimanan dan kesadaran. Ibadah puasa adalah untuk manusia itu sendiri. Bukankah Allah menegaskan bahwa tujuan puasa adalah untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Puasa akan menjadikan manusia berubah dari tingkat mukmin menjadi muttaqin.

Untuk bisa berubah ke arah dan bentuk yang lebih baik, bukan hanya manusia yang berpuasa, akan tetapi sebagian binatangpun ketika bermetamorfosa (merobah wujud) juga berpuasa, seperti halnya kupu-kupu yang berubah dari ulat yang bentuk dan rupanya jelek dan berjalan melata, menjadi seekor kupu-kupu yang bersayap dan berwarna indah serta bisa terbang karena berpuasa.

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait