Yayasan Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Serat Centhini

Serat centhini adalah sebuah pustaka jawa dengan ketebalan mencapai 4.200 halaman, tulisan tangan dengan huruf jawa (12 jilid). Serat ini ditulis pada tahun 1814 M atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta, seorang putra kanjeng susuhunan Pakubuwana IV, yang kemudian bertahta sebagai pakubuwana V.

Pengerjaan dipimpin langsung oleh Pangeran Adipati Anom, dan yang mendapatkan tugas membantu pengerjaannya adalah tiga orang pujangga istana, yaitu
1. Raden Ngabehi Ranggasutresna
2. Raden Ngabehi Yasadipura II (sebelumnya bernama Raden Ngabehi Ranggawarsita I)
3. Raden ngabehi Sastradipura

Serat centhini disebut juga dengan kitab suluk Tambangraras oleh karena sebagian besar berisi wejangan syekh amongrogo kepada istrinya Ni Ken Tambangraras. Pelayan Tambangraras bernama Ni Centhini selalu mengikuti dengan penuh perhatian segala wejangan dari Amongrogo kepada tambangraras. Atas dasar itu, maka pustaka ini diberi nama Serat Centhini.
Serat centhini digunakan untuk menghimpun segala macam pengetahuan lahir dan batin masyarakat jawa pada masa itu, yang termasuk didalamnya keyakinan dan penghayatan mereka terhadap agama. Sebelum dilakukan penggubahan, ketiga pujangga istan mendapat tugas-tugas khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuat kitab.

Ranggasutresna bertugas menjelajah pulau jawa bagian timur. Yasadipura II bertugas menjelajahi jawa bagian barat, sedangkan Sastradipura bertugas untuk menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuan tentang Islam.

Serat Centhini disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri sunan giri setelah dikalahkan oleh pangeran pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari kerajaan mataram.

Kisah dimulai setelah ketiga putra-putri sunan giri berpencar meninggalkan tanah mereka. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga/Jayeng sari dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti.

 Jayengresmi diikuti oleh dua santri yang bernama Gathak dan Gathuk. Mereka melakukan perjalanan spiritual di sekitar Keraton majapahit, Blitar, Gamprang, hutan lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan bogor, Gambirlaya, guning padham, desa dhandher, kasanga, sela, gubug merapi, gunung prawata, Gunung muria, pekalongan, gunung panegaran, gunung mandhalawangi. Tanah pasundan, bogor, bekas keraton pajajaran, gunung salak,  dan kemudia tiba di karang.

Dalam perjalanan ini, Jayengresmi mengalami “pendewasaan spiritual”, karena bertemu dengan sejumlah guru, tokok-tokoh gaib dalam mitos jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat ditanah jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh tersebut, dia belajar megenai segala macam pengetahuan dalam kazanah kebudayaan jawa, mulai dari candi, makna suara gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan sexsual, perhitungan tanggal, hingga kisah syekh siti jenar.

Pengalaman dan peningkatan kebijaksanaan ini kemudian Jayengresmi dikenal dengan sebutan Syekh Amongrogo. Dalam perjalan tersebut syekh amongrogo berjumpa dengan NI Ken Tambangraras yang kemudian menjadi istrinya.

Jayengsari dan Rancangkapti diiringi santri bernama Buras dan berkelana ke sidacerma, pasuruan, ranu grati, banyu biru, kaki gunung tengger,malang, baung, singhasari, sanggariti, tumpang, kidhal, pasrepan, tasari, gunung bromo, ngadisari, klakah, kandhangan, argopuro, gunung raung, banyuwangi, pekalongan, gunung perahu, dieng, smapai sokayasa dikaki gunung Bisma Banyumas.

Dalam perjalanan tersebut mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah jawa, syariat para nabi, kisah sri sadana, pengetahuan wudhu, shalat, pengetahuan dzat Allah, sifta dan asma’NYA (sifat dua puluh), hadist markum, perhitungan slametan orang meninggal, serta perwatakan pandawa dan kurawa.

Setelah melalui perkelanaan bertahun-tahun, akhirnya ketiga keturunan sunan giri dapat bertemu kembali dan berkumpul bersama keluarga dan kawulanya. Hal ini tidak berlangsung lama, karena syekh amongrogo melanjutkan perjalanan spiritualnya menuju tingkat yang lebih tinggi, yaitu berpulang ke pada Tuhan. Singkatny, serat centhini berisikan beraneka ragam ilmu pengetahuan, maka dari itu disebut dengan Ensiklopedi kebudayaan jawa.

Kupasan inti serat tjentini yang disusun oleh R.Tohar lewat penyuntingan Dr. A. Seno Sastroatmodjoo. Dalam Bab IV : wejangan syekh amongrogo adalah usahanya dalam mencari Tuhan (manunggaling Kawulao Gusti) .
Disampaikan bahwa usaha ini tidak akan berhasil apabila manusia masih terpenjara oleh Rasa Kemingsun, yakni merasa diri lebih unggul. Manusia harus lepas dari hal ini supaya insaf sehingga muncul kesadaran bahwa semua makhluk sama dihadapan Tuhan. Apabila keadaan yang demikian tidak tercapai, maka manusia tidak dapat memasuki alam SUNYA-RURI, suatu kesunyian.

Untuk dapat memasuki alam sunya-ruri, Amongrogo menasehati untuk :
1. Panekung, artinya semedi secara khusuk, tak tergoda oleh apapun.
2. Dyana, artinya tekad bulat untuk berkonsentrasi menghadap Tuhan.
3. Pencerahan, dengan sumeleh dan sumarah.
4. Paramita, artinya kehidupan lahir dan batin yang menuju ke arah kesempurnaan, yakni legowo, susila, kanceng, waspada, tepa selira dan wicaksana.

Dekat atau jauhnya Tuhan dari manusia, pada hakikatnya tergantung pandangan dan kegiatan kita sendiri. Untuk bisa manunggal dengan Tuhan, kita harus menempuh 4 macam jalan :
1. Sare (ng) at : Analoginya dipakai sebuah hutan rimba. Tumbuhan sangat lebat sehingga suasananya amat gelap. Sebagian tumbuhan mesti ditebang untuk membuat jalan setapat menuju cita-cita.

2. Tarekat : Setelah membentuk jalan, hendaknya kesempurnaan hidup dicari dan dilaksanakan sepanjang jalan tadi.

3. Hakikat : Hal ini diibaratkan dengan sebuah obor yang menerangi jalan tersebut.

4. Makrifat : Dalam level ini orang bisa memiliki kewaspadaan mengenai adanya dzat sebagaimana dilukiskan dalam pepatah bahasa jawa : Ora arah, ora enggon, nanging mesti ono ( tak berkiblat, tak bertempat, tetapi pasti ada ).

Wejangan Amongrogo dalam Bab V, yaitu pada tingkatan sare(ng)at, yaitu ibadah adalah menghormati dan hidup sesuai dengan hukum-hukum agama. Tahap tarekat, kesadaran tingkat awal harus diinsafi lebih dalam dan ditingkatkan. Pada tahap hakikat, Amongrogo melihat sebagai usaha menjunjung tinggi Dzat yang dilandasi oleh kesungguhan hati pada waktu dan menurut aturan yang telah ditetapkan.

Sementara makrifat terkandung upaya menjernihkan kebaktian kepada Tuhan yang dilandasi oleh Tubuh Yang suci. Perkataan dan tindakan mesti seimbang. Tuhid adalah kebulatan tekad yang terkandung dalam hati sanubari hingga memuncak pada pelenyapan segala pandangan, bahkan terhadap Tuhan. Perasaan memiliki jiwa dan raga yang kongkret pun tidak ada lagi. Pada saat itu musnahlah perasaanku.

Kemudian dalam proses pentahapan ini, Amongrogo berupaya menggabungkan menjadi :
1. Sare(ng)at dalam makrifat : tahapan ini berarti segala sesuatu yang bersifat keduniawian diabaikan. Sedapat mungkin makan, minum dan tidur dikurangi. Tidak boleh memperhatikan segala syarat do’a, menghafalkan atau membaca kitab pun tidak.

2. Tarekat dalam makrifat : Pada intinya manusia tidak mengikuti gerak-gerik keduniawian. Dalam kebatinan jawa disebut mati sajroning urip ( Mati didalam hidup).  Usaha ini bisa berarti pula bersembunyi di tempat sunyi, misalkan gua atau puncak gunung sehingga tidak ada kontak sesama manusia. Ditempat inilah dia menjernihkan pikirannya lewat tapabrata atau mesubrata demi pengenalan diri pribadi.

3. Hakikat dalam makrifat : artinya pemusatan diri sangat ditonjolkan pada tahap ini. Diri sendiri adalah satu-satunya yang ada (laksana Tuhan) segala suci dan berbudi luhur. Jadi laksana berkuasa adalah pribadi karena segala sesuatu yang terjadi diantar bumi dan langit tidak diperhatikan lagi.

4. Makripating makripat :  Ini adalah keadaan yang mengandung pelajaran memisahkan diri dari ssegala sesuatu yang ada dan / atau sedang terjadi dalam alam semesta. Manusia masuk ke alam kekosongan. Dalam kekosongan itu kita akan merasakan kenikmatan yang tak terhingga. Seketika itu juga lenyaplah perasaan bahwa kita memiliki jiwa dan raga. Pada saat itu juga kita tidak menghambakan diri kepada sispapun juga sambil tetap hening dengan sendirinya yang tidak disebabkan oleh pengaruh apapun.

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait