Yayasan Mercubuanaraya

| Home | About Us | Ngaji Urip | Indonesia | Pengobatan | One Stop Info | Contact Us |

Tafsir al-misbah

Al-Fatihah

Surah al-Fatihah terdiri dari 7 ayat. Dinamakan surah al-Fatihah, yang berarti 'permulaan'

Surah al-Fatihah adalah 'Mahkota Tuntunan Ilahi'. Dia adalah 'Ummul Qur'an' atau 'Induk al-Quran'. Banyak nama yang disandangkan kepada awal surah al-Quran itu. Tidak kurang dari dua puluh sekian nama. Dari nama-nama itu dapat diketahui betapa besar dampak yang dapat diperoleh bagi pembacanya. Tidak heran jika doa dianjurkan agar ditutup dengan al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin atau bahkan ditutup dengan surah ini.

Dari sekian banyak nama yang disandangnya, hanya tiga atau empat nama yang diperkenalkan oleh Rasul saw. Pada masa beliau dikenal al-Fatihah, Ummul Kitab (Induk Kitab) atau Ummul Qur'an (Induk al-Qur’an) dan as-Sab’ al Matsani (Tujuh ayatnya diulang-ulang).

Banyak hadits Nabi saw yang menyebut nama al-Fatihah, antara lain: "Tidak ada (tidak sah) shalat bagi yang tidak membaca Fatihah al- Kitab," (HR Bukhâri, Muslim, dan perawi lainnya.)

Kata fath yang merupakan akar kata nama ini berarti menyingkirkan sesuatu yang terdapat pada suatu tempat yang akan dimasuki. Tentu saja bukan makna harfiah itu yang dimaksud. Penamaannya dengan al-Fatihah karena ia terletak pada awal al-Qur’an dan karena biasanya yang pertama memasuki sesuatu adalah yang membukanya. Kata fatihah di sini berarti awal al-Qur'an.

Surah ini awal dari segi penempatannya pada susunan al-Qur'an, bukan seperti dugaan segelintir kecil ulama bahwa ia dinamai demikian karena surah ini adalah awal surah al-Quran yang turun. Kita juga dapat berkata bahwa al-Fatihah adalah Pembuka yang sangat agung bagi segala macam kebajikan.

Berdasar kandungan tematik yang ada di dalam surah al-Fatihah, terdapat uraian tentang:
1.      Tauhid, yang dikandung oleh ayat-ayatnya yang pertama dan kedua: Alhamdulillah rabbi al-'alamin dan ar-Rahman ar-Rahim.

2.      Keniscayaan hari kemudian, yang dikandung oleh ayatnya yang keempat: Maliki yaum ad-din.

3.      Ibadah yang seharusnya hanya tertuju kepada Allah dikandung oleh ayat: Iyyaka na‘budu.

4.      Pengakuan tentang kelemahan manusia dan keharusan meminta pertolongan hanya kepada-Nya dalam ayat: Wa iyyaka nasta‘in, dan Ihdina ash-shirath al-mustaqim.

5.      Keanekaragaman manusia sepanjang sejarah menghadapi tuntunan Ilahi; ada yang menerima, ada yang menolak setelah mengetahui, dan ada juga yang sesat jalan, yaitu yang dikandung oleh ayat: Shiratha al-ladzina an‘amta ‘alaihim ghair al maghdhubi ‘alaihim wa la adh- dhallin.

Kelima hal pokok tersebut, yakni antara lain tauhid, keniscayaan hari kemudian, dan keikhlasan beribadah adalah dasar-dasar pokok ajaran al-Qur’an. Sedang uraian yang terdapat dalam surah-surah lain tentang alam, manusia, dan sejarah merupakan cara-cara yang ditempuh oleh al-Qur’an untuk mengantar manusia meraih, menghayati, dan mengamalkan persoalan-persoalan pokok itu.

Tujuan Utama Uraian Surah Al-Fatihah
Tujuan utama surah ini mengundang, lalu memelihara kesadaran tentang kehadiran Allah dan pengawasan-Nya kepada manusia. Itu sebabnya setelah menguraikan tentang rahmat dan kasih sayang-Nya serta kuasa-Nya memberi balasan, ayat surah ini disusul dengan menghadirkan-Nya di hadapan siapa yang membaca Maliki yaum ad-Din, bahwa Dia Sang Penguasa Hari Kemudian selalu hadir dengan pengawasan dan pengetahuan-Nya terhadap seluruh kegiatan lahir dan batin makhluk, serta hadir pula dengan bantuan dan ganjaran-Nya bagi yang taat.

Kehadiran dan pengawasan-Nya itu dicerminkan lebih jauh dengan pengajaran bagaimana berdialog langsung dengan-Nya, Iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in. Artinya, hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

Redaksi tersebut dihadapkan langsung kepada Allah laksana bertatap muka dengan wajah-Nya. Makna tentang kehadiran, pengawasan, dan bantuan Ilahi itu tercermin pula dalam riwayat Imam Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lain-lain melalui AbuHurairah yang menyatakan bahwa Allah, dalam sebuah hadits Qudsi, berfirman: "Aku membagi shalat (al-Fatihah) antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan untuk hamba-Ku apa yang dimohonnya. Maka bila dia membaca: Alhamdu lillahi rabbi al-‘alamin, Allah menyambut dengan berfirman: "Aku dipuja oleh hamba-Ku." Bila dia membaca: "Ar-Rahman ar-Rahim," Allah berfirman: "Aku dipuji oleh hamba-Ku."

Bila dia membaca: "Maliki yaum ad-din." Allah berfirman: "Aku diagungkan oleh hamba-Ku." Di kali lain Allah berfirman: Hamba-Ku berserah (diri) kepada-Ku, lalu bila dia membaca: "Iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in, Allah berfirman: "Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan buat hamba-Ku apa yang dimohonkan."

Dan bila dia membaca: Ihdina ash-shirath al-mustaqim, shirath al-ladzina an ‘amta ‘alaihim, ghairi al-maghdhub ‘alaihim wa la adh-dhallin, Allah berfirman: "Ini buat hamba-Ku, dan buat hamba-Ku yang dimohonkannya."

Pelajaran Dari Surah al-Fatihah
1.      Ayat pertama dalam al-Fatihah, yakni Basmalah memberi pelajaran agar kita memulai setiap pekerjaan dengan mengucapkan Basmalah sehingga terjalin hubungan yang erat antara si pengucap/ pembaca dengan Allah swt, dan dengan penyebutan kedua sifat-Nya ar-Rahman ar-Rahim tertancap dalam hati si pembaca betapa besar rahmat Allah sehingga semestinya pembacanya tidak akan berputus asa betapapun berat dan sulit keadaan yang dihadapinya.

2.      Ayat kedua surah al-Fatihah, alhamdulillah yang artinya segala puji bagi Allah adalah pengajaran agar seseorang selalu menyadari betapa besar rahmat dan anugerah Allah kepada-Nya. Sehingga bila sesekali ia mengalami sesuatu yang tidak menyenangkannya, maka ia akan teringat rahmat dan nikmat Allah yang selama ini dinikmatinya.

3.      Redaksi persona ketiga pada kalimat al-Hamdulillah dalam arti si pemuji tidak berhadapan langsung dengan Allah, memberi pelajaran bahwa memuji tanpa kehadiran yang dipuji lebih baik daripada memuji di hadapannya.

Sedang ayat kelima, Iyyaka na‘budu dan Iyyaka nasta‘in, yang artinya hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, dikemukakan dalam bentuk persona kedua, dalam arti Allah hadir dan si pemohon berhadapan langsung dengan Allah.

Ini karena dalam beribadah seseorang hendaknya bagaikan berhadapan langsung dengan-Nya. Inilah yang dimaksud oleh Nabi saw ketika menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang makna al-Ihsan, yakni "Engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan bila tidak mampu melihat-Nya (dengan mata hatimu), maka ketahuilah bahwa Dia melihat-Mu", (HR Bukhari melalui Umar Ibn al-Khaththab).

4.      Pernyataan bahwa Allah adalah Rabb al-‘alamin atau Tuhan Pemelihara seluruh alam memberi pelajaran bahwa Allah mengurus, memelihara, dan menguasai seluruh jagad raya.

5.      Firman-Nya bahwa Allah Pemilik Hari Kemudian mengajarkan antara lain bahwa kuasa-Nya ketika itu sangat menonjol sehingga tidak satu pun yang mengingkari-Nya, tidak juga seseorang dapat membangkang (berbeda dengan di dunia), sebagaimana ia mengajarkan juga bahwa tidak seorang pun yang dapat mengetahui kehidupan di sana kecuali bila diberi tahu melalui wahyu oleh Allah atau penyampaian nabi dan bahwa waktu kedatangan hari itu adalah suatu rahasia yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata.

6.      Kata 'kami' pada ayat ke-5: "Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan," mengandung beberapa pesan tentang kebersamaan antarumat yang menjadikan setiap Muslim harus memiliki kesadaran sosial, yang menjadikan keakuannya lebur secara konseptual bersama aku-aku lainnya. Setiap Muslim, dengan demikian, menjadi seperti satu jasad yang merasakan keperihan bila satu organ menderita penyakit.

7.      Ayat ke-7 surah ini mengajarkan agar menisbahkan segala yang baik kepada Allah swt, sedang yang buruk harus dicari terlebih dahulu penyebabnya. Ini dipahami dari penisbahan pemberian nikmat kepada-Nya; "Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat," sedang menyangkut murka tidak dinyatakan: "Yang Engkau murkai," tetapi "Yang dimurkai."

Demikian, Wa Allah A‘lam.

 

Surah at-Takwir

Surah at-Takwir terdiri dari 29 ayat. Kata 'at-Takwir, yang berarti 'Digulung', diambil dari ayat pertama

Ayat-ayat surah ini disepakati turun keseluruhannya sebelum Nabi berhijrah ke Madinah, yakni Makkiyyah. Namanya yang populer adalah surah at-Takwir. Ini terambil dari kata kuwwirat yang disebut pada ayat pertamanya. Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Sunan at-Tirmidzi, penafsiran kedua ulama itu terhadap ayat-ayat surah ini mereka letakkan di bawah judul surah Idza asy-Syamsu Kuwwirat.

Memang, tidak ditemukan riwayat yang bersumber dari Nabi saw. yang menjelaskan nama surah ini. Dalam Sunan at-Tirmidzi dan Ahmad melalui sahabat Nabi saw, Ibn 'Umar ra., ditemukan bahwa Nabi saw bersabda: "Siapa yang ingin melihat Hari Kiamat bagaikan melihatnya dengan pandangan mata kepala, hendaklah dia membaca Idza asy-Syamsu Kuwwirat, dan Idza as-Sama' Infatharat, dan Idza as-Sama' Insyaqqat.

Tujuan utama surah ini —sebagaimana terbaca dari ayat-ayatnya dan dari sabda Nabi di atas— adalah uraian tentang Hari Kiamat dan balasan yang akan diterima masing-masing orang. Al-Biqa'i menulis bahwa tujuan utama surah ini adalah ancaman keras atas siksa yang bakal terjadi di Hari Kiamat —hari tibanya makhluk di tempat tujuan terakhir.

Ancaman itu ditujukan kepada siapa pun yang mengingkari kebenaran al-Qur'an yang merupakan peringatan, dan yang tertulis di lembaran-lembaran yang dimuliakan, ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis, utusan serta duta Allah (baca surah yang lalu, QS. 'Abasa (80): 13-16). Ia disampaikan oleh utusan yang mulia, yakni malaikat Jibril, yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Pemilik 'Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat), lagi dipercaya (baca ayat-ayat 19-21 surah ini).

Namanya at-Takwir (penggulungan matahari) merupakan petunjuk yang jelas tentang tujuan utama itu bagi yang memerhatikan kandungan ayat-ayatnya yang menjelaskan tentang balasan sekaligus keagungan al-Qur'an. Demikian lebih kurang al-Biqa'i.

Surah ini merupakan surah ke-7 yang diterima Nabi Muhammad saw. Ia turun sesudah turunnya surah al-Fâtihah dan sebelum surah al-A'la (Sabbihisma). Jumlah ayat-ayatnya 29 ayat.

Akhir surah yang lalu ('Abasa) ditutup dengan ancaman kepada kaum kafir dan pendurhaka tentang akan datangnya Kiamat dan siksa Allah. Surah ini dimulai dengan uraian tentang Kiamat itu dan memberi gambaran yang demikian jelas tentang kejadiannya.

Ayat-ayat di atas menyebut enam hal luar biasa yang berbeda dengan apa yang selama ini dikenal dalam kehidupan sehari-hari yaitu:
1.      Matahari digulung dengan sangat mudah.
2.      Bintang-bintang berjatuhan dengan sendirinya atau pudar cahayanya.
3.      Gunung-gunung digerakkan dari tempatnya.
4.      Unta-unta yang mengandung di bulannya yang kesepuluh, yakni harta yang paling disukai, ditinggalkan.
5.      Binatang-binatang buas dan liar dikumpulkan.
6.      Samudera dipanaskan, atau dimunculkan panasnya, sehingga menjadi lautan api.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 1-6
Menjelang terjadinya Kiamat, Allah membatalkan sistem yang selama ini dijadikan-Nya pengatur tata kerja alam raya. Hukum-hukum yang mengaturnya tidak berfungsi sehingga bintang-bintang berjatuhan/bertabrakan dan pudar cahayanya.

Matahari boleh jadi tidak lagi memberi kehangatan dan semua makhluk di bumi kedinginan dan membeku, atau justru sebaliknya memancarkan panas yang sangat terik sehingga menjadikan semua unsure yang membentuk matahari menjadi gas-gas yang menyala. Manusia sibuk menyelamatkan diri sehingga tidak memedulikan selain keselamatannya.

Bahkan binatang buas pun ketakutan, sehingga menjadi tidak buas atau tidak lagi saling mengancam sebagaimana yang terjadi selama ini. Mereka berkumpul di satu tempat—setelah keluar dari hutan/sarang-sarangnya. Oksigen dan Hidrogen yang merupakan unsur-unsur kejadian air (samudra) boleh jadi dipisahkan sehingga melahirkan ledakan-ledakan dahsyat.

Intisari Kandungan Ayat (Ayat 7-14)
Ayat-ayat yang lalu melukiskan enam hal yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi menjelang Hari Kiamat. Ayat-ayat 7 sampai 14 menjelaskan juga enam peristiwa yang terjadi pada saat kebangkitan, yaitu:
1.      Jiwa-jiwa dipertemukan kembali dengan jasadnya yang tadinya telah terkubur atau bergabungnya jiwa dengan sesamanya. Yang durhaka dengan yang durhaka, demikian juga sebaliknya.

2.      Bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanyai mengapa mereka diperlakukan demikian. Ini untuk mengecam pelaku-pelaku kejam itu.

3.      Lembaran-lembaran amal perbuatan manusia yang dicatat oleh malaikat dibuka lalu dibaca oleh masing-masing pemiliknya.

4.      Langit dicabut dari tempatnya bagaikan menguliti kulit binatang.

5.      Neraka Jahim dikobarkan lalu didekatkan kepada para pendurhaka.

6.      Surga dihiasi lalu didekatkan menyambut para yang taat.

Apabila hal-hal yang disebut tadi  terjadi, maka menurut ayat 14 setiap orang akan mengetahui dengan sangat jelas sehingga yakin serta menyadari apa yang telah dia kerjakan dalam kehidupan dunia ini.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 7-14
1.      Alam raya akan punah, kehidupan dunia/ di planet bumi tidak akan kekal. Karena itu sementara ilmuwan berkata bahwa setiap detik berlalu, berkurang pula berat matahari. Alam raya menurut ilmuwan terus melakukan ekspansi tapi suatu ketika jika tiba waktunya dia mengerucut dan mengerucut hingga punah.

2.      Di Hari Kemudian manusia akan bangkit dengan jasad walau bukan lagi dengan jasad yang digunakannya di dunia.

3.      Pada masa Jahiliyah sebagian suku membunuh anak-anak perempuan mereka karena takut tak mampu membiayai hidupnya atau karena khawatir dipermalukan bila anak-anaknya ditawan oleh musuh. Kecaman dan ancaman al-Qur’an terhadap pelakunya merupakan salah satu yang menunjukkan perhatian dan kasih sayang Islam terhadap perempuan dan larangannya melakukan kekerasan terhadap mereka.

4.      Membunuh anak/aborsi baik perempuan maupun lelaki—setelah kelahiran atau masih janin—baik karena takut miskin atau menutup malu adalah dosa besar. Tidak diperkenankan melakukannya kecuali dalam keadaan darurat guna memelihara kelanjutan hidup ibu, dan/ atau menurut sementara ulama dewasa ini akibat perkosaan.
5.      Dalam kehidupan dunia ini, malaikat mencatat amal-amal perbuatan manusia, yang baik dan yang buruk, bahkan niatnya (yang baik) dan di Hari Kemudian setiap orang membaca catatan itu dan tak dapat mengingkarinya.

Kelompok ayat-ayat ini berbicara tentang al-Qur'an dan Nabi Muhammad saw yang keduanya menyampaikan keniscayaan Hari Kiamat. Melalui ayat 15 dan 16, Allah bersumpah dengan bintang-bintang yang 'bersembunyi' sehingga tidak terlihat oleh pandangan mata, dan juga bintang-bintang yang menampakkan diri saat terbit dengan cahayanya yang redup, yang beredar dengan amat cepat dan berlindung saat terbenam seperti berlindungnya kijang di persembunyiannya.

Dia juga bersumpah melalui ayat 17 dan 18 demi malam saat semakin menipis kepekatannya menjelang fajar, dan subuh saat fajarnya mulai menyingsing. Sumpah dengan aneka hal itu untuk menyatakan bahwa sesungguhnya Hari Kiamat seperti yang dilukiskan oleh ayat-ayat yang lalu dan al-Qur'an al-Karim benar-benar firman Allah yang disampaikan oleh utusan yang mulia, yakni malaikat Jibril as (ayat 19).

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 15-19
1.      Bintang-bintang yang bertebaran di angkasa ada yang tidak terlihat dengan pandangan mata telanjang, ada juga yang terlihat. Pada masa turunnya al-Qur'an lima planet tata surya yang terlihat: Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus. Sampai sekarang, kendati sudah lebih banyak yang dapat terlihat melalui teleskop, tetapi sebagian besar belum/ tidak terlihat.

2.      Malam atau kegelapan diibaratkan dengan rasa kesal dan gelisah yang menyesakkan nafas dan bila fajar telah menyingsing perasaan itu mulai berkurang tak ubahnya dengan ketenangan yang diperoleh seseorang yang menarik nafas panjang. Demikian juga halnya dengan kekufuran. Yang menyambut kehadiran al-Qur'an bagaikan menyambut fajar setelah kelamnya malam, bernafas lega sesudah sempitnya dada.

3.      Al-Qur'an bukan ucapan Nabi Muhammad, bukan juga malaikat Jibril as. Malaikat Jibril hanya menyampaikannya kepada Nabi Muhammad, dan Nabi Muhammad saw bertugas menyampaikan, menjelaskan kepada umat, dan memberi contoh pengamalannya.

Intisari Kandungan Ayat (Ayat 20-25)
Setelah ayat-ayat yang lalu menjelaskan tentang al-Qur'an mulia yang disampaikan oleh utusan Allah yang mulia, ayat 20 sampai 25 memuji dengan menjelaskan sifat utusan Tuhan itu bermula dengan menegaskan bahwa malaikat Jibril adalah pemilik kekuatan, yakni kemampuan yang diperolehya atas anugerah Allah, serta memiliki juga kedudukan tinggi di sisi Allah swt, yang merupakan Pemilik lagi Penguasa 'Arasy yakni alam semesta ini. Malaikat itu ditaati di alam malaikat lagi dipercaya dalam segala hal, termasuk dalam menyampaikan wahyu al-Qur'an.

Selanjutnya, ayat 22 menampik tuduhan-tuduhan kaum musyrik terhadap Nabi Muhammad saw yang menyampaikan tuntunan al-Qur'an dengan menyatakan bahwa bukanlah 'sahabatmu' yakni Nabi Muhammad saw yang kamu kenal demikian dekat seperti dekatnya sahabat yang selalu bersama kamu, bukanlah dia seorang yang gila (22).

Nabi agung itu telah melihat malaikat Jibril as dalam bentuk aslinya di ufuk yang terang, yakni di Shidrat al-Muntaha di mana segala sesuatu menjadi terang tanpa sedikit kekaburan atau kekeruhan pun, sehingga beliau mengenal malaikat itu sebaik mungkin (23). Dia juga tidak kikir menjelaskan hal gaib yang diketahuinya (24). Selanjutnya, (ayat 25) menegaskan bahwa al-Qur'an yang beliau sampaikan itu sedikit pun bukan merupakan perkataan setan yang terkutuk.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 20-25
1.      Seseorang yang diberi tugas haruslah yang memenuhi syarat-syarat guna keberhasilan tugasnya. Antara lain kemampuan dalam bidang tugasnya, amanah/ kepercayaan yang menghiasi kepribadiannya, yang menjadikannya dihormati oleh lingkungannya.

2.      Nabi Muhammad saw —sebelum pengangkatan beliau sebagai nabi— telah dikenal secara luas oleh masyarakat dan dikagumi sebagai seorang yang sangat jujur.

3.      Nabi Muhammad saw tidak mungkin tukang tenung, karena biasanya tukang tenung enggan menyampaikan hal gaib yang dia diketahuinya sebelum dibayar atau diberi semacam imbalan, padahal Nabi Muhammad saw berusaha sekuat tenaga menyampaikan segala sesuatu yang beliau ketahui.

4.      Seorang pengajar hendaknya jangan enggan menyampaikan informasi yang bermanfaat kepada siapa pun yang membutuhkannya.
5.      Al-Qur'an tidak mungkin merupakan ucapan setan. Bukankah ayat-ayatnya mengutuk setan dan menjadikannya musuh abadi manusia. Bukankah setan selalu mengajak kepada keburukan, sedang al-Qur'an selalu menganjurkan dan mendorong kepada kebaikan?

Setelah ayat-ayat yang lalu menampik aneka tuduhan terhadap al-Qur'an dan terhadap yang menyampaikannya, dengan membuktikan kekeliruan mereka, maka kini ayat 26 mengecam para penuduh itu dengan menyatakan: Maka ke manakah kamu akan pergi yakni jalan apa yang kamu tempuh sehingga menuduh dengan tuduhan yang tidak benar serta berpaling darinya? Atau ke manakah kamu akan pergi, padahal di sini ada al-Qur'an yang memberi petunjuk keselamatan sedang tiada jalan keselamatan selainnya? Ayat 27 dan 28 bagaikan menyatakan: namun demikian, jika ada jalan lain yang hendak kamu tempuh, silakan saja karena al Qur'an tiada lain hanyalah peringatan dan bahan pelajaran bagi semesta alam, yaitu bagi siapa di antara kamu yang hendak menempuh jalan yang lurus dan menemukan kebenaran dan kebahagiaan.

Maksud ayat terakhir surah ini (ayat 29) adalah jangan duga jika kamu berkehendak, bahwa kamu memiliki kemandirian mutlak atas kehendakmu tanpa peranan Allah sama sekali. Jangan duga kamu dapat keluar dari system yang ditetapkan-Nya. Tidak! Allah memberi kamu potensi dan menunjuki jalan, dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, yakni sesuai dengan sistem yang ditetapkan Tuhan semesta alam.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 26-29
1.      Jalan yang ditempuh oleh mereka yang menolak al-Qur'an adalah jalan buntu. Kendati demikian, Allah tidak memaksa siapa pun untuk menelusuri jalan yang ditunjuki-Nya. Tiada paksaan dalam memilih jalan!

2.      Al-Qur'an adalah petunjuk dan peringatan. Siapa yang hendak meraih petunjuknya hendaklah dia berusaha, niscaya Allah akan membantunya.

3.      Manusia memiliki kemampuan berusaha, tapi usaha itu sedikit pun tidak mengurangi kuasa dan kehendak Allah. Allah dapat memaksakan kehendak-Nya. Namun, itu bukan berarti bahwa Dia memaksa manusia, atau bahwa manusia tidak memiliki keterlibatan dan upaya. Karena itu, jangan pahami bahwa kehendak manusia terpisah dari kehendak Allah, yang kepada-Nya kembali segala sesuatu.

Demikian, Wa Allah A'lam.

 

Surah al-Muthaffifin

Surah al-Muthaffifin terdiri dari 36 ayat. Kata al-Muthaffifin, yang berarti  'Orang-orang yang curang', diambil dari ayat pertama.


Ulama berbeda pendapat menyangkut masa turun kumpulan ayat-ayat surah ini. Ada yang menyatakan turun sebelum Nabi saw berhijrah, yakni Makkiyyah, ada juga yang menyatakannya Madaniyyah, yakni turun setelah beliau berhijrah. Kelompok ketiga berpendapat bahwa sebagian ayat-ayat Makkiyyah dan sebagian lainnya Madaniyyah.

Yang Makkiyyah mereka nilai ada delapan ayat dimulai dari ayat 29 sampai dengan ayat 36. Sedemikian beragam pendapat ulama sampai-sampai ada yang menyatakan bahwa dalam surah ini ada ayat yang merupakan ayat terakhir turun di Makah dan ada pula yang pertama turun di Madinah. Agaknya, pendapat yang menyatakan sebagian ayatnya turun di Makkah dan sebagian di Madinah adalah pendapat yang lebih tepat.

Namanya dalam sekian banyak kitab-kitab hadits adalah surah Wail Li al-Muthaffifin sebagaimana bunyi ayatnya yang pertama dan ada juga yang mempersingkatnya menjadi surah al-Muthaffifin. Tidak ada nama lain baginya kecuali yang disebut di atas.

Tujuan surah ini, menurut al-Biqa'i, adalah penjelasan dari akhir surah al-Infithar yang menegaskan tentang adanya balasan terhadap semua hamba Allah di akhirat nanti, yaitu dengan menempatkan yang taat dan bahagia di surga dan yang durhaka di lubang neraka Jahanam. Ini dibuktikan antara lain oleh penegasan bahwa Tuhan adalah Pemelihara dan Pelimpah aneka nikmat.

Tidak mungkin tergambar dalam benak ada yang memberi aneka anugerah kepada seseorang, lalu orang itu tidak dimintai pertanggungjawaban menyangkut apa yang ditugaskan kepadanya. Nama surah ini al-Muthaffifin yang berarti orang-orang curang dalam menakar dan menimbang.

Surah ini menggambarkan keadaan masyarakat Makkah dan Madinah sebelum dan saat-saat awal kehadiran Islam. Di samping itu, surah ini juga membuktikan bahwa ajaran Islam bukan sekadar aqidah yang tertancap di dalam hati, tetapi ia juga harus membuahkan amal dalam dunia nyata.

Ajaran ini tidak hanya mengawang-awang di udara dan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat metafisik tetapi juga harus membumi sehingga keadilan yang dianjurkannya terasa dalam kehidupan keseharian masyarakat. Itu sebabnya secara gamblang surah ini menjanjikan ancaman kecelakaan dan kebinasaan bagi mereka yang curang dalam takaran dan timbangan.

Surah ini dinilai oleh sementara ulama sebagai surah yang ke-68 dari segiperurutan turunnya. Ia turun sesudah surah al-'Ankabut dan sebelum surah al-Baqarah. Jumlah ayat-ayatnya sebanyak 36 ayat.

Setelah surah yang lalu ditutup dengan uraian tentang putusnya segala sebab pada Hari Kemudian; bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman tangan Allah; bahwa yang berbakti akan masuk ke surga, sedangkan yang durhaka tempatnya adalah neraka, maka awal surah ini menyebut salah satu kedurhakaan yang paling banyak terjadi dalam hubungan antar manusia, yakni berkhianat menyangkut ukuran dan timbangan.

Allah berfirman: Kecelakaan dan kerugian besar, yakni di dunia dan di akhirat, bagi orang-orang yang curang (1), yaitu antara lain mereka yang apabila menerima takaran dan timbangan dari orang lain, mereka menuntut secara sungguh-sungguh agar dipenuhi atau bahkan cenderung minta dilebihkan (2), dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka berbuat curang dengan mengurangi timbangan dan takaran dari apa yang mestinya mereka berikan (3).

Selanjutnya, tiga ayat berikutnya mengecam sekaligus menggugah hati mereka dengan menyatakan: Tidakkah mereka yang curang itu menduga bahwa mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar lagi dahsyat, yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan Pengendali semesta alam untuk dimintai pertanggungjawaban atas setiap aktivitasnya?

Setelah mengecam, ayat 7 dan 8 memperingatkan bahwa berhati-hatilah atau sekali-kali jangan curang dan sadarlah bahwa Hari Kebangkitan pasti datang dan segala amal perbuatan tercatat dan sesungguhnya kitab catatan amal para pendurhaka —termasuk yang melakukan kecurangan dalam interaksi— benar-benar tersimpan dalam sijjin. Sijjin itu sendiri adalah sesuatu yang tidak dapat terlukiskan oleh kata-kata, tidak juga dapat tergambar oleh benak.

Karena sijjin tidak dapat terjangkau, maka yang dilukiskan adalah kitab amalan manusia durhaka yang tersimpan di sana. Kitab itu menurut ayat 9 adalah kitab yang sungguh dahsyat yang ditulis di dalamnya segala sesuatu dari yang terkecil sampai yang terbesar, tidak satu pun dari aktivitas manusia yang luput dari catatannya, atau kitab yang dahsyat itu bertanda/ bercap sehingga dengan mudah diketahui keburukannya.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 1-9
1.      Mencurangi pihak lain —Muslim atau non-Muslim— dalam segala macam interaksi, baik ukuran berat,panjang, bilangan, bahkan transaksi apa pun adalah dosa besar. Sedangkan menuntut dan mendesak mitra interaksi sehingga terpaksa melebihkan dari kadar yang semestinya adalah kezaliman yang harus dihindari.

2.      Berinteraksi dengan pihak lain baru dapat langgeng jika dijalin dengan sopan santun serta kepercayaan dan amanat antara kedua pihak. Dalam berinteraksi, kedua sifat tersebut melebihi jalinan persamaan agama, suku bangsa, bahkan keluarga.

3.      Menduga akan adanya pembalasan Tuhan sudah cukup untuk menghalangi seseorang melakukan penganiayaan dan dosa serta waspada dan hati-hati, apalagi jika yang bersangkutan yakin.

4.      Pengingkaran Hari Pembalasan mengakibatkan seseorang enggan melakukan kebaikan bila tidak mendapat ganjaran segera dan juga berani melakukan kejahatan terhadap yang lemah. Sebaliknya, kepercayaan tentang adanya Hari Pembalasan menjadikan seseorang selalu awas dan waspada, dan kalau dia menghadapi orang lemah, maka dia tetap berhitung, bahwa kalau kini dia kuat dan dapat berlaku sewenang-wenang atasnya, maka ada hari di mana semua manusia akan diperlakukan Allah secara adil, dan ketika itu dia terancam mendapat balasan kejahatannya.

5.      Sumber kejahatan dan pelanggaran adalah pengingkaran tentang keniscayaan Hari Pembalasan serta pengingkaran kebenaran al-Qur'an.

Setelah menginformasikan tempat kitab amalan para pendurhaka, ayat 10 menjelaskan bahwa kecelakaan yang akan dihadapi para pendurhaka itu akan terjadi pada Hari Pembalasan. Dilanjutkan oleh ayat 11 yang menjelaskan siapa yang dimaksud dengan para pendurhaka serta inti kedurhakaan yang mengantar mereka kepada aneka pelanggaran, mereka itu adalah orang-orang yang senantiasa mengingkari Hari Pembalasan.

Dilanjutkan dengan ayat 12 yang menunjukkan bahwa keniscayaan Hari Pembalasan demikian jelas sehingga tidak ada yang mengingkarinya melainkan setiap pelampau batas lagi pelaku dosa yang sangat terbawa oleh bujukan nafsu dan pemenuhan syahwat. Mereka itu, lanjut ayat 13, adalah siapa saja yang apabila dibacakan kepadanya oleh siapa pun ayat-ayat Allah, dia berkata tanpa berpikir: "Ini adalah dongeng-dongeng, yakni mitos atau legenda, para pendahulu yang tidak memiliki hakikat dan wujud, dan sama sekali bukan firman Allah."

Ayat 14 dan 15 menjelaskan sebab utama dari pandangan mereka itu, Allah berfirman: Sekali-kali Hari Pembalasan dan al-Qur'an tidaklah seperti apa yang mereka katakan, keniscayaan dan kebenarannya sungguh jelas. Mereka berkata demikian karena hati mereka telah tertutup sehingga menjadi bagaikan kaca yang berkarat.

Itu adalah akibat kedurhakaan yang selalu mereka lakukan. Ayat 15 mengulangi sanggahan di atas, tetapi kali ini dengan menyatakan bahwa mereka pada Hari Pembalasan itu benar-benar terhalang dari rahmat dan kebenaran atau terhalang hadir di tempat terhormat di sisi Tuhan. Bukan hanya itu, tapi —lanjut ayat 16 dan 17— sesungguhnya mereka benar-benar akan masuk neraka Jahim. Kemudian, dikatakan kepada mereka oleh siapa pun sebagai ejekan: "Inilah siksa yang dahulu kamu selalu ingkari kebenarannya."

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 10-17
1.      Tabiat jiwa manusia pada mulanya adalah suci dan jernih, mampu mengetahui kebenaran sebagaimana apa adanya, serta mampu juga membedakan antara yang hak dan yang batil, ketakwaan dan kedurhakaan.

2.      Setiap pelanggaran melahirkan tetesan hitam ke dalam kalbu. Ia tidak terhapus kecuali dengan taubat. Jika pelanggaran berlanjut, maka akhirnya kalbu menjadi hitam, buram, dan berkarat sehingga jiwa terhalangi menerima kebenaran. Yang bersangkutan tersungkur jatuh ke lembah kehinaan akibat ulahnya sendiri. Dengan demikian, ia terhalang dari rahmat dan kebajikan.

3.      Kebejatan moral seringkali bermula dari sesuatu yang dinilai kecil dan sepele. Karena itu pula ia seringkali tidak dirasakan kecuali setelah parah. Ia bermula dari satu titik saja dan memang perjalanan jauh ditempuh dengan satu langkah kecil. Bukit yang tinggi bermula dari sebiji pasir.

Intisari Kandungan Ayat (Ayat 18-28)
Setelah ayat-ayat yang lalu menjelaskan apa yang menanti para pendurhaka, ayat-18 sampai 28 surat ini menjelaskan apa yang menanti mereka yang taat. Allah berfirman: "Sungguh, sesungguhnya kitab catatan amal al-Abrar, yakni orang-orang yang luas kebaktiannya, benar-benar tersimpan dalam 'Illiyyin.*"

Sebagaimana halnya Sijj'n, ‘Illiyyin pun tidak dapat terlukiskan oleh kata-kata, tidak juga dapat tergambar oleh benak, dan karena itu yang dilukiskan adalah kitab amalan yang tersimpan di sana. Kitab itu —menurut ayat 20— adalah kitab yang sungguh hebat dan mengagumkan, kitab yang di dalamnya tercatat segala sesuatu.

Tetapi karena kitab/ catatan amal dimaksud adalah milik hamba-hamba Allah yang berbakti, maka ia dilukiskan oleh ayat 21 sebagai disaksikan oleh makhluk-makhluk yang didekatkan kepada Allah. Selanjutnya, ayat 22 menjelaskan keberadaan mereka dalam kenikmatan, disusul oleh ayat-ayat berikutnya yang menjelaskan aneka kenikmatan yang mereka peroleh, yaitu duduk dengan santai di atas dipan-dipan yang diselubungi oleh selubung halus bagaikan kelambu sambil memandang aneka pemandangan indah ke arah mana pun mereka hendak memandang. Begitu maksud ayat 23 yang dilanjutkan oleh ayat 24, bahwa Engkau —siapa pun engkau yang sempat melihat mereka— dapat mengetahui dari wajah-wajah mereka kecemerlangan nikmat pertanda kesenangan dan kebahagiaan hidup mereka.

Selanjutnya, ayat 25 hingga 27 menjelaskan hidangan yang disuguhkan kepada mereka. Menurut ayat 25, mereka itu dilayani oleh remaja-remaja surgawi dengan hidangan, antara lain, minuman dari khamar surgawi murni yang dilak tempatnya dan tidak dibuka kecuali saat akan diminum; laknya adalah kesturi. Ayat 26 melanjutkan bahwa minuman tersebut benar-benar merupakan puncak kelezatan minuman. Sebelum melanjutkan keterangan tentang sifat minuman itu, ayat 26 mengajak umat manusia untuk meraih kenikmatan itu dengan berlomba melakukan aneka ketaatan kepada Allah dan Rasul saw. Lalu, ayat 27 menjelaskan lagi bahwa campuran khamar murni itu—bila ada yang hendak mencampurnya— adalah dari Tasnîm, yaitu suatu mata air yang merupakan minuman khusus hamba-hamba Allah yang didekatkan kepadaNya.

*'Illiyyin, tempat penyimpanan catatan amal orang-orang berbakti, serta kehadiran atau kesaksian makhluk yang didekatkan Allah terhadapnya adalah hal yang tidak dapat terjangkau oleh nalar. Demikian juga halnya dengan sijjin yang merupakan tempat penyimpanan catatan amal para pendurhaka.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 18-28
1.      Dalam kehidupan dunia banyak hal yang tidak terjangkau oleh nalar, baik hal tersebut berkaitan dengan alam fisika yang nyata, lebih-lebih yang berkaitan dengan alam metafisika (yang tidak nyata). Bila Anda tidak meragukan siapa yang menyampaikannya kepada Anda, maka Anda harus membenarkannya melalui daya kalbu yang antara lain menghasilkan iman.

2.      Karena kehidupan ukhrawi—baik nikmat maupun siksanya—tidak dapat dilukiskan, sedang manusia ingin/ perlu mengetahuinya, maka gambaran yang diberikan al-Qur'an adalah yang sesuai dengan kemampuan masyarakat yang ditemuinya. Jadi apa yang dilukiskan oleh ayat al-Qur'an menyangkut nikmat dan siksa belum sepenuhnya serupa dengan lukisan tersebut. Kenikmatan surga jauh melebihinya.

3.      Khamar surgawi ditutupi bukan dengan tanah, tetapi dengan kesturi, sehingga kelezatannya semakin sempurna dan dengan aroma yang sangat harum, baik sebelum meminumnya maupun akhir aroma yang muncul setelah meminumnya. Bukan seperti minuman keras di dunia ini!

4.      Penghuni surga bertingkat-tingkat. Al-Muqarrabun lebih tinggi derajatnya daripada al-Abrar, karena itu ada minuman khusus yang tersedia buat al-Muqarrabun saja, yaitu tasnim, sedang mereka yang berbakti yang derajatnya lebih dari al-Muqarrabun, hanya dapat mencampurnya dengan minuman lain, yakni rahîqin makhtum.

Setelah ayat-ayat lalu membandingkan perolehan mereka yang durhaka dan yang taat, ayat 29 dan 30 menguraikan sikap para pendurhaka terhadap hamba-hamba Allah yang taat. Mereka yang berdosa itu —dalam kehidupan dunia ini— selalu menertawakan dan melecehkan orang-orang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman itu berjalan di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan mata untuk menghina dan meremehkan kaum beriman itu.

Selanjutnya, ayat 31 menggambarkan sikap para pendurhaka itu ketika kembali ke keluarga atau kelompok mereka, yakni mereka kembali dengan gembira ria dan lupa diri, dan begitu mereka melihat orang-orang beriman, mereka berkata kepada rekan-rekan mereka bahwa orang-orang beriman itu adalah orang-orang sesat karena meyakini bahwa Nabi Muhammad saw adalah seorang nabi dan utusan Allah. Begitu keterangan ayat 32. Mereka berkata demikian—lanjut ayat 33—padahal mereka tidak diutus atau ditugaskan oleh siapa pun menjadi penjaga-penjaga bagi orang-orang beriman, tidak juga ditugaskan memberi penilaian terhadap orang lain.

Setelah penjelasan tentang sikap para pendurhaka di dunia ini terhadap orang-orang beriman, ayat 34 menjelaskan sikap orang-orang beriman terhadap orang-orang di akhirat kelak. Yakni pada hari itu yang beriman menertawakan*) orang-orang kafir yang dulu melecehkan mereka.

Orang-orang beriman itu—lanjut ayat 35—duduk dengan santai di atas dipan-dipan sambil memandang berbagai pemandangan indah. Begitulah sedikit dari balasan masing-masing. Akhirnya, surah al-Muthaffifin diakhiri dengan suatu pertanyaan yang bertujuan menjelaskan bahwa balasan terhadap para pen durhaka itu sesuai dengan perbuatan mereka, yaitu firman- Nya: Apakah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan? (36) Jawaban yang diharapkan tentu saja: "Ya, mereka diberi balasan sesuai dosa-dosa mereka."

*)Tawa orang-orang beriman itu tidak harus dipahami sebagai tawa ejekan terhadap yang tersiksa, tetapi “tawa terpaksa” melihat perlakuan malaikat terhadap orang-orang kafir sehingga menimbulkan tawa. Boleh jadi juga tawa tersebut adalah tawa bahagia dengan aneka nikmat yang mereka alami yang mereka bandingkan dengan siksa dan kecelakaan besar yang dialami oleh orang-orang kafir yang pernah mengejek dan melecehkan mereka. Betapapun ini menunjukkan bahwa balasan di akhirat kelak setimpal dengan dosa yang dilakukan.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 29-36
1.      Sejak dahulu hingga kini, ada upaya-upaya dari lawan-lawan Islam untuk melecehkan dan menghina ajaran Islam dan kaum Muslim. Ayat-ayat 29 sampai 36 ini mengandung pesan : Jangan goyah dengan pelecehan dan penghinaan orang-orang kafir, lebih-lebih jika pelecehan itu akibat agama dan keyakinan Anda.

2.      Jika tidak sependapat dengan agama atau kepercayaan orang lain, maka jangan menghina atau melecehkannya, apalagi bertindak sewenang-wenang terhadapnya, karena seseorang tidak ditugaskan Allah sebagai penjaga yang membatasi kebebasan beragama yang telah Allah anugerahkan kepada setiap orang.

Demikian, Wa Allah A'lam.

 

Surah 'Abasa

Surah 'Abasa terdiri atas 42 ayat. Dinamai 'Abasa, yang berarti 'Ia bermuka masam', diambil dari ayat pertama

Surah ini disepakati sebagai surah Makkiyyah. Namanya yang paling populer adalah surah 'Abasa (cemberut). Ada juga yang menamainya surah ash-Shakhkhah (yang memekakkan telinga), surah as-Safarah (para penulis kalam Ilahi), dan surah al-A'ma (sang tunanetra) yang kesemuanya diambil dari kata-kata yang terdapat dalam surah ini. Pakar tafsir, Ibn al-'Arabi, dalam bukunya Ahkam al-Qur'an menamainya surah Ibn Ummi Maktum karena awal surah ini turun berkenaan dengan kasus sahabat Nabi yang buta itu sebagaimana akan Anda baca.

Tema utamanya, menurut Ibn 'Asyur, adalah pengajaran kepada Nabi Muhammad saw membandingkan peringkat-peringkat kepentingan agar tidak mendahulukan sesuatu yang pada mulanya penting atas yang lain, yang sama dengannya atau lebih penting darinya, sambil mengisyaratkan perbedaan keadaan kaum musyrikin yang berpaling dari petunjuk Islam dengan kaum muslimin yang memberi perhatian besar terhadap ajaran Islam.

Menurut al-Biqa'i —tokoh yang selalu berusaha menunjukkan keserasian hubungan ayat-ayat al-Qur'an— tema dan tujuan utama surah ini adalah penjelasan tentang kandungan ayat 45 surah yang lalu yaitu: "Engkau hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya, yakni kepada hari kiamat."

Penjelasan itu adalah bahwa tujuan utamanya adalah memberi peringatan bagi siapa yang memiliki potensi (dan bermaksud) untuk takut kepada Allah melalui peringatan tentang hari kiamat yang telah terbukti keniscayaannya dengan kuasa-Nya menciptakan manusia pertama kali serta penciptaan awal dan pengulangannya menyangkut makanan. Namanya 'Abasa (bermuka masam) menunjukkan tujuan tersebut dengan memerhatikan ayat-ayatnya serta tujuannya. Demikian juga dengan namanya yang lain yaitu ash- Shakhkhah dan al-Bakhkhah yang menggambarkan tersemburnya api dan keburukan.

Thabathaba'i berpendapat bahwa surah ini merupakan kecaman kepada siapa yang memberi perhatian kepada orang-orang kaya yang bermewah-mewah dengan mengabaikan orang-orang lemah dan miskin dari kaum beriman. Thabathaba'i mengemukakan riwayat yang berbeda dengan riwayat populer di kalangan kelompok Ahl as-Sunnah yang mengatakan bahwa ayat ini turun sebagai teguran kepada Nabi Muhammad saw yang bermuka masam terhadap 'Abdullah Ibn Ummi Maktum yang tunanetra.

Ulama beraliran Syi'ah itu mengemukakan riwayat dari sumber Syi'ah yang menyatakan bahwa yang bermuka masam bukanlah Nabi Muhammad saw, tetapi salah seorang selain beliau. Surah ini dinilai sebagai surah yang ke-24 dari segi perurutan turunnya kepada Nabi saw. Ia turun sesudah surah an-Najm dan sebelum surah al-Qadr. Jumlah ayat-ayatnya menurut cara perhitungan ulama Mekkah, Madinah, Kufah adalah 42 ayat, sedang menurut cara perhitungan ulama Bashrah 41 ayat.

Surah ini merupakan awal dari surah-surah al-Mufashshal yang pertengahan jumlah ayat-ayatnya. Sedang, surah al-Hujurat sampai dengan an-Nazi'at adalah awal surah al-Mufashshal yang jumlah ayat-ayatnya dinilai banyak.

Rangkaian ayat-ayat ini turun berkaitan dengan kedatangan seorang tunanetra kepada Nabi Muhammad saw yang meminta agar beliau mengajarnya. Nabi saw ketika kedatangannya itu sedang menjelaskan ajaran Islam kepada tokoh-tokoh masyarakat Mekkah dengan harapan ajakan beliau dapat menyentuh hati dan pikiran mereka, dan ini tentu saja akan membawa dampak positif bagi perkembangan dakwah Islam.

Nah, kedatangan sang tunanetra saat itu sungguh mengganggu sehingga beliau tidak menyambutnya, bahkan bermuka masam. Allah dalam ayat 3 dan 4 mengarahkan pembicaraan langsung kepada Nabi saw dengan berfirman: Apakah yang menjadikanmu mengetahui? Yakni engkau tidak dapat mengetahui isi hati seseorang. Boleh jadi dia, sang tunanetra, itu ingin membersihkan diri dan mengukuhkan imannya atau dia ingin mendapatkan pengajaran sehingga bermanfaat baginya pengajaran itu walau tidak dalam bentuk yang mantap.

Ayat-ayat berikutnya melanjutkan teguran-Nya dengan menyatakan bahwa: Adapun orang yang merasa tidak butuh kepadamu karena memiliki harta, anak, atau kedudukan maka engkau melayaninya dan menjelaskan secara sungguh-sungguh ajaran Islam. Engkau berbuat demikian, lanjut ayat 7, padahal tiada (celaan) atasmu, kalau dia tidak membersihkan diri dan memeluk Islam. Ayat 8 s/d 10 melanjutkan bahwa sedang siapa yang datang kepadamu dengan bersegera dan dalam keadaan takut—yakni sang tunanetra itu—maka engkau mengabaikannya.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 1-10
1.      Ayat-ayat tadi menunjukkan betapa jujur Nabi Muhammad saw dalam menyampaikan wahyu al-Qur'an sehingga teguran terhadap diri beliau pun tidak disembunyikannya.

2.      Kendati sikap Nabi Muhammad saw dalam kasus yang dibenarkan ayat-ayat ini menurut ukuran manusia terhormat adalah sangat wajar dan baik, tetapi karena beliau adalah manusia teragung, maka itu dinilai Allah tidak wajar beliau lakukan.Karena itu, ada rumus yang menyatakan bahwa: "Apa yang dianggap baik oleh orang kebanyakan, masih dapat dinilai buruk oleh yang budiman."

3.      Tidak terlarang menyebut ciri yang tidak disenangi oleh yang dicirikan bila hal tersebut diperlukan untuk menjelaskan identitasnya. Menamai seseorang 'si tunanetra' untuk tujuan memperkenalkannya —karena tidak ada kata lain yang dapat menunjuknya— digunakan oleh ayat ini.

4.      Teguran tersebut mengajarkan bahwa ada hal-hal yang terlihat baik dan tepat melalui pandangan mata atau indikator-indikator yang tampak, tetapi pada hakikatnya jika diperhatikan lebih dalam dan dipikirkan secara saksama, atau jika diketahui hakikatnya yang terdalam maka ia tidak demikian.

5.      Menghadapi —walau seorang— yang benar-benar ingin belajar dan menyucikan diri jauh lebih baik daripada menghadapi banyak orang yang hatinya tertutup.

Intisari Kandungan Ayat (Ayat 11-16)
Ayat-ayat yang lalu menegur Nabi Muhammad saw atau siapa pun, ayat 11 dan 12 mengingatkan bahwa sekali-kali jangan mengulangi sikap itu! Sesungguhnya ia yakni ayat-ayat al-Qur’an serta ajaran yang engkau sampaikan kepada tokoh kaum musyrik itu adalah suatu peringatan, maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia mengingatnya yakni memerhatikannya.

Lebih lanjut dinyatakan bahwa ajaran itu tercantum juga di dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan di sisi Allah (13) yang ditinggikan kedudukannya atau di langit lagi disucikan (14) sehingga tidak disentuh oleh sedikit kekurangan atau kekeruhan pun. Ia berada di tangan para penulis yakni dalam genggaman tangan para malaikat (15). Para malaikat itu adalah penulis-penulis yang menulis al-Qur’an dari Lauh al-Mahfudz atau duta-duta yang mulia, berbudi luhur lagi berbakti dengan kebaktian yang sangat tinggi (16).

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 11-16
1.      Al-Qur'an adalah pelajaran dan peringatan. Setiap pelajaran dan peringatan baru akan bermanfaat jika ada langkah dari seseorang untuk menjadikannya pelajaran. Tidak ada gunanya Anda memiliki tiket perjalanan dan mengetahui tempat dan jam keberangkatan jika Anda tidak melangkah keluar rumah menuju stasiun/ bandara.

2.      Prinsip-prinsip ajaran yang terdapat dalam al- Qur'an, yakni akidah, syariah, dan akhlak terdapat juga dalam kitab-kitab yang diturunkan Allah; Taurat, Injil, Zabur, dan shuhuf Ibrahim.

3.      Ada malaikat yang antara lain berfungsi sebagai duta-duta bagi manusia, dalam arti melakukan kegiatan yang bermanfaat, bermohon kepada Allah kiranya si A atau si B memperoleh pengampunan dan perlindungan Allah.

Kelompok ayat-ayat yang lalu berbicara tentang keniscayaan hari kemudian dan sikap manusia yang durhaka terhadap jalannya; mereka yang enggan memerhatikan al-Qur'an.
Ayat 17 mengecam mereka yang angkuh itu dan siapa pun yang enggan menyambut tuntunan al-Qur'an dengan menyatakan: Binasalah manusia yang durhaka; alangkah amat sangat besar kekafirannya! Bukan saja pada banyaknya kekufuran, tetapi juga pada kualitas kekufurannya yang demikian mantap.

Lebih lanjut kandungan ayat tersebut bagaikan berkata, Apakah gerangan yang membuatnya kafir dan ingkar? Lalu, ayat 18 bagaikan berkata: Tidakkah dia berpikir dari apakah Dia yakni Allah menciptakannya?

Tanpa menunggu jawaban, langsung dijawab oleh ayat 19 —karena siapa pun yang berakal tidak akan menjawab selainnya— bahwa: Dari setetes mani yang kadarnya sangat sedikit dan terlihat remeh/ menjijikkan. Dia Yang Maha Kuasa itu menciptakannya lalu menetapkan kadar-nya yakni menentukan fase-fase kejadiannya hingga sempurna dan lahir sebagai manusia. Kemudian setelah sempurna kejadiannya sebagai janin, jalan untuk keluar dari perut ibunya Dia memudahkan (20) kemudian Dia mematikannya setelah berlalu usia yang ditetapkan Allah baginya, lalu Allah memerintahkan memasukkannya ke dalam kubur (21) kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya dari kubur (22).

Selanjutnya, ayat 23 memperingatkan seluruh manusia: Sekali-kali jangan! Yakni jangan angkuh dan jangan kafir! Atau 'Hati-hatilah!' Ayat 23 menjelaskan sebabnya, yakni karena dia belum menuntaskan tugasnya yang diperintahkan Allah sejak dia mukallaf/ dewasa sampai kematiannya.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 17-23
1.      Manusia perlu mempelajari asal kejadian dan jati dirinya, agar menyadari kelemahannya sehingga tidak angkuh dan selalu memohon bantuan Allah dan agar mengetahui potensi-potensinya, agar mengembangkan dan memanfaatkannya. Di samping itu siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan dapat mengenal keagungan dan kebesaran Tuhannya.

2.      Pengetahuan tentang kapan datangnya kiamat, sedikit pun tidak diketahui manusia—berbeda dengan pengetahuannya tentang kelahiran anak atau kematian. Itu sebabnya ketika menguraikan tentang hari kebangkitan, ayat tadi menggunakan kalimat Bila Dia menghendaki.

3.      Siapa pun dan betapapun sempurnanya ibadah dan ketakwaan, namun manusia tetap saja tidak dapat melaksanakan secara sempurna dan tuntas seluruh apa yang ditugaskan Allah kepada-Nya. Itu salah satu sebab mengapa Allah membuka pintu taubat.

Intisari Kandungan Ayat (Ayat 24-32)
Setelah ayat-ayat yang lalu mengajak manusia memerhatikan dirinya, ayat 24 mengajak untuk memerhatikan bahan makanannya dengan mata kepala dan mata hati. Ayat 24 seakan-akan berkata: Kalau manusia hendak melaksanakan tugasnya dengan baik maka hendaklah manusia itu melihat ke makanannya, memerhatikan serta merenungkan bagaimana proses yang dilaluinya sehingga siap dimakan.

Ayat 25 hingga 30 menjelaskan sekelumit proses itu dan hasil yang dipersembahkannya, yakni Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air dari langit sederas-derasnya (25), kemudian Kami belah bumi yakni merekahnya melalui tumbuh-tumbuhan dengan belahan yang sempurna (26), lalu Kami tumbuhkan padanya yakni di bumi itu biji-bijian (27), dan anggur serta sayur-sayuran (28) dan juga pohon Zaitun serta pohon kurma (29), kebun-kebun yang lebat (30), serta buah-buahan dan Abba*) yakni rumput-rumputan (31) Itu semua adalah untuk kesenangan kamu wahai umat manusia dan juga untuk binatang-binatang ternak kamu (32).

* Sayyidina Abu Bakar ra. pernah ditanya tentang arti Abba (ayat 31), lalu beliau menjawab dengan 'Saya tidak tahu.' Jawaban serupa dikemukakan juga oleh Sayyidina Umar Ibnu al-Khaththab ra. Ini memberi pelajaran untuk tidak menjawab pertanyaan yang kita tidak ketahui, sekaligus larangan menafsirkan al-Qur'an secara spekulatif. Biarlah orang lain atau generasi berikut yang menjelaskannya, bila mereka mampu.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 24-32
1.      Melihat dan merenung tentang bahan makanan, bagaimana proses kejadiannya, lalu memilih yang terbaik dan sesuai untuk dimakan, merupakan salah satu perintah Allah yang perlu diperhatikan.

2.      Setiap orang harus dapat menarik pelajaran dari fenomena alam, semakin dalam renungan, semakin banyak rahasia dan manfaatnya yang dapat terungkap.

3.      Manusia hendaknya selalu mengingat nikmat-nikmat Allah—dan alangkah banyaknya nikmat tersebut, antara lain ketersediaan yang lebih dari cukup dia4.persada bumi ini bahan pangan untuk seluruh makhluk hidup.

Ayat-ayat yang lalu menguraikan tentang aneka makanan yang disiapkan Allah bagi manusia. Di sana, terlihat betapa Allah kuasa mencipta. Pepohonan dipetik buahnya bahkan berguguran dedaunannya, khususnya pada musim gugur, kemudian berkembang lagi pada musim bunga. Apa yang berjatuhan dari pepohonan, lalu bercampur dengan tanah dapat tumbuh lagi, antara lain menunjuk kuasa-Nya membangkitkan yang mati.

Jika demikian, kiamat pasti datang. Nah, ayat 33 menegaskan: maka apabila kiamat datang dengan suara yang memekakkan yaitu tiupan sangkakala yang kedua, pertanda bangkitnya semua makhluk dari kuburnya, pada hari itu semua manusia lari dari saudaranya (34), dan dari ibu dan bapaknya (35), serta dari teman yakni istri dan anak-anaknya (36). Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang sangat menyibukkannya (37) sehingga masing- masing hanya mengurus dirinya, enggan diganggu oleh siapa pun.

Setelah masing-masing selesai mempertanggungjawabkan amal-amalnya, maka ketika itu menurut ayat 38, banyak muka-muka yang berseri-seri penuh cahaya, tertawa dan gembira ria menikmati anugerah Allah (39). Mereka itu adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan menurut ayat 40, banyak juga muka-muka pada hari itu,  wajah-nya terdapat debu yakni ditempel oleh debu sehingga tampak keruh, dan ditutup oleh kegelapan yang sangat hitam (41). Mereka itu adalah orang-orang kafir yang mengingkari keesaan Allah dan keniscayaan kiamat lagi pendurhaka-pendurhaka (43), yakni pelaku-pelaku kejahatan dan amal-amal
tidak terpuji.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 33-42
1.      Perhatikanlah fenomena alam niscaya Anda memperoleh contoh tentang kuasa Allah membangkitkan orang yang telah mati.

2.      Pada hari kiamat, semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Semua juga takut mempertanggungjawabkan amal-amalnya tanpa dapat melempar tanggung jawab, tidak juga dapat saling tolong-menolong, kendati yang mengharapkan bantuan adalah orang yang paling dicintai. Situasi ini paling tidak terjadi pada awal tahap perhitungan Allah.

3.      Di hari kemudian hanya ada dua kelompok besar, yaitu yang bermuka ceria dan bergembira ria, karena berbahagia dengan surga dan yang bermuka keruh lagi berwajah hitam karena takut, sedih memperoleh siksa yang pedih.
Demikian, Wa Allah A'lam.

 

Surah an-Nazi'at

Surah an-Nazi'at terdiri dari 46 ayat. Dinamai an-Nazi'at, yang berarti 'Malaikat-malaikat yang mencabut', diambil dari ayat pertama.

Surah ini merupakan salah satu surah yang keseluruhan ayat-ayatnya disepakati turun sebelum Nabi saw berhijrah ke Madinah. Namanya surah Wa an-Nazi'at, yakni dengan huruf wauw pada awalnya. Ada juga yang menamainya tanpa menggunakan huruf wauw. Nama ini diangkat dari ayatnya yang pertama. Namanya yang lain adalah as-Sahirah dan ath-Thammah. Keduanya juga diangkat dari kata yang disebut oleh ayat-ayatnya.

Banyak ulama menilai tujuan utama surah ini adalah pembuktian tentang keniscayaan hari Kebangkitan disertai dengan bukti-buktinya, antara lain dengan uraian tentang pengalaman Nabi Musa as. dengan Fir'aun serta penggambaran tentang rububiyyah (pemeliharaan) dan pengaturan Ilahi menyangkut manusia yang pada akhirnya terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu penghuni surga dan neraka.

Sayyid Quthub menulis bahwa surah ini merupakan contoh dari sekian banyak contoh pada juz ini guna menyentuh hati manusia menyangkut hakikat akhirat, yakni tentang kedahsyatan dan keagungannya serta keniscayaannya sejak semula dalam takdir dan ketetapan Allah bagi alam raya ini. Demikian juga tentang pengaturan Ilahi bagi fase-fase dan langkah-langkah penciptaan itu di permukaan dan perut bumi, kemudian di akhirat nanti yang merupakan akhir dari penciptaan itu.

Tujuan utama surah ini, menurut al-Biqa'i, adalah uraian tentang akhir perjalanan hidup manusia di pentas bumi ini dan keniscayaan Kebangkitan mereka pada Hari Kiamat. Itu digambarkan melalui pencabutan nyawa melalui malaikat-malaikat mulia serta uraian tentang Fir'aun dan Nabi Musa as. Tujuan ini menjadi sangat jelas jika diperhatikan namanya, yakni an-Nazi'at (pencabut), demikian juga namanya yang lain, yaitu as-Sahirah (Padang Mahsyar) dan ath-Thammah (Malapetaka).

Surah ini merupakan surah ke-79 dari segi penempatannya dalam Mushhaf, sedang dia adalah surah yang ke-81 dari segi perurutan turunnya. Ia turun sesudah surah an-Naba’ dan sebelum surah al-Infithar. Jumlah ayat-ayatnya sebanyak 45 ayat menurut cara perhitungan ulama-ulama Kufah dan sebanyak 46 ayat menurut ulama-ulama lain.

Surah yang lalu (an-Naba') diakhiri dengan uraian tentang keinginan orang-orang kafir untuk tidak wujud sebagai manusia, tetapi sebagai tanah atau tidak dibangkitkan dari kubur dan tetap berada di sana menyatu dengan tanah. Kini, awal surah an-Nazi'at menguraikan sumpah Allah dengan menyebut Pencabut-pencabut dengan keras, Pengurai-pengurai dengan lemah lembut, Mereka yang berpindah-pindah dengan cepat, Pelomba-pelomba yang saling mendahului dengan kencang, lalu Pengatur-pengatur urusan.

Mereka itu menurut banyak ulama adalah kelompok malaikat yang mencabut nyawa orang kafir dengan keras dan yang mencabut nyawa orang mukmin dengan lemah lembut. Para malaikat itu, menurut ayat ke-3, berpindah-pindah dengan cepat guna melaksanakan tugasnya atau untuk mengantar nyawa sang mukmin. Mereka juga berlomba mendahului yang lainnya dalam amal kebajikan atau dalam mengantar nyawa sang kafir dengan kencang. Para malaikat juga adalah pengatur-pengatur urusan. Allah bersumpah dengan menyebut lima kelompok malaikat bahwa sungguh hari kebangkitan/ kiamat pasti datang.

Ada juga ulama yang memahami pelaku-pelaku kelima hal yang disebutkan tadi adalah bintang-bintang yang berpindah dari satu ufuk ke ufuk yang lain, dalam arti perpindahan menuju ke arah tenggelamnya (ayat 1) dan terbitnya (ayat 2) serta peredaran matahari, bulan, dan bintang-bintang masing-masing pada orbitnya (ayat 3), yang peredarannya itu dilukiskan bagaikan berlomba saling mendahului (ayat 4). Mereka semua melakukan tugas yang dibebankan Allah kepada mereka secara sempurna (ayat 5).

Ada lagi yang berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut berbicara tentang kuda-kuda perang, atau ayat pertama berarti para pejuang yang mencabut anak panahnya untuk dilepas ke arah lawan. Ayat kedua adalah panah itu ketika mengenai sasaran dan ayat ketiga serta keempat adalah kuda dan unta-unta saat dipacu dalam peperangan. Semua itu tidak keluar dari apa yang digariskan Allah dalam ketentuan-Nya. Apa pun makna ayat-ayat tersebut, yang jelas Allah bersumpah bahwa Kiamat pasti datang, cepat —dalam pandangan manusia— maupun lambat.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 1-5
1.      Para pendurhaka dicabut nyawanya dengan paksa karena saat itu dia telah sadar akan kesudahan buruk yang menantinya. Berbeda dengan yang Mukmin yang diperlakukan dengan lemah lembut oleh malaikat.

2.      Malaikat pencabut nyawa bukan hanya satu, tetapi mereka adalah kelompok yang dipimpin oleh satu malaikat, yang dalam satu riwayat dinamai 'Izra'il.
3.      Malaikat-malaikat adalah makhluk yang ditugaskan Allah menangani aneka kegiatan dan mereka melakukannya dengan sangat sempurna. Makna ini dipahami dari penyebutan kelompok-kelompok mereka secara berdiri sendiri.

4.      Para malaikat adalah pengatur segala urusan. Ini tidak bertentangan dengan kuasa Allah yang mutlak. Ia dapat diumpamakan dengan tulisan yang ditulis seseorang.

Anda dapat berkata bahwa yang menulisnya adalah pena. Sebenarnya sebab yang berada di balik pena adalah ibu jari dan jari telunjuk yang memegang pena. Selanjutnya, kedua jari itu bergerak karena bergeraknya pergelangan. Pergelangan bergerak sesuai dengan perintah otak untuk menulis. Tetapi pergerakan manusia dan perintah otak diarahkan oleh malaikat, sedang malaikat tidak dapat melakukan tugasnya tanpa perintah Allah swt.

Inti Sari Kandungan Ayat (Ayat 6-9)
Ayat 6 menjelaskan keadaan hari kiamat saat kedatangannya. Yakni, kiamat itu terjadi pada hari ketika guncangan-guncangan yang dahsyat membuat bumi atau alam raya hancur dan semua yang bernyawa mati tersungkur. Lalu, itu diikuti oleh tiupan yang mengiringinya yang mengakibatkan langit pun hancur, atau diikuti oleh tiupan sangkakala yang kedua di mana semua yang telah mati akan bangkit kembali menuju Padang Mahsyar. Ayat 8 menyatakan bahwa banyak hati ketika itu sangat gentar, pandangannya, menurut ayat 9, tertunduk. Itu karena diliputi oleh rasa takut, hina, dan duka.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 6-9
1.      Kiamat tidak hanya memusnahkan planet bumi dan segala isinya, tetapi memunahkan seluruh alam raya. Boleh jadi karena sistem yang mengatur keseimbangan planet-planet dihancurkan Allah.

2.      Para pendurhaka akan merasa sangat takut, tertunduk, dan hina. Sedang orang-orang Mukmin terhindar dari rasa takut yang besar itu, sebagaimana ditegaskan oleh firman-Nya: "Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang terbesar dan mereka disambut oleh para malaikat: 'Inilah hari kamu yang telah dijanjikan kepada kamu.'" (QS al-Anbiya' (21):103).

Inti Sari Kandungan Ayat (Ayat 10-14)
Setelah ayat yang lalu menjelaskan bahwa banyak hati yang gentar dan pandangan yang tertunduk, ayat 10-12 menjelaskan siapa yang keadaannya demikian, yaitu mereka adalah yang dalam kehidupan dunia menolak keniscayaan kebangkitan dan terus-menerus berkata sambil mengejek: "Apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?"

Mereka menolak dengan berdalih: "Apakah benar-benar kami akan dibangkitkan kembali apabila kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur lumat? Yakni, padahal jasad kami telah bercampur dengan tanah dan tulang-belulang kami telah lapuk dan hancur?"

Dengan nada menolak dan mengejek mereka berkata tegas: "Itu yang sungguh sangat sulit diterima akal—kalau benar-benar demikian yang akan terjadi—maka ia adalah suatu pengembalian yang merugikan padahal kami bukanlah orang-orang yang merugi."

Jika demikian, ia tidak mungkin terjadi. Ayat 13 dan 14 mengingatkan mereka bahwa pengembalian itu sangat mudah bagi Allah. Betapa tidak! Dia (dengan) hanya sekali bentakan saja maka serta merta mereka berkumpul di as-Sahirah, yakni Padang Mahsyar di mana yang berada di sana gelisah bagaikan orang yang tidak dapat tidur.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 10-14
1.      Salah satu dalih mereka yang menolak adanya kebangkitan manusia setelah kematian adalah mustahil—menurut mereka—jasad yang telah punah dapat pulih kembali. Mereka lupa bahwa jasad itu suatu ketika pernah tidak wujud sama sekali, namun sang penolak—ketika menolaknya—menyadari wujudnya. Kalau dulu ia tidak wujud, lalu wujud, maka tentu akan lebih mudah—dalam logika manusia—mewujudkan sesuatu yang pernah wujud dan sisa-sisanya pun ada dibandingkan dengan sesuatu yang tidak wujud sama sekali.

2.      Kehancuran alam raya, kematian semua makhluk hidup, dan kebangkitan mereka semua adalah sangat mudah bagi Allah. Ia diibaratkan dengan sekali bentakan saja. Di tempat lain dinyatakan-Nya hanya bagaikan sekejapan mata, bahkan lebih cepat (QS al-Qamar (54): 50).

Untuk menunjukkan kuasa Allah, terutama kepada para pengingkar hari kebangkitan, ayat-ayat di atas menguraikan kisah Nabi Musa dengan Firaun. Kisah Firaun diuraikan di sini karena dalam kisahnya terdapat hal-hal luar biasa yang dapat menjadi contoh kecil bagi hari kiamat.

Ayat 15 dimulai dengan pertanyaan kepada Nabi Muhammad saw, sedang yang dimaksud adalah umat beliau, bahwa: "Bukankah engkau wahai Nabi Muhammad telah menyimak kisah Nabi Musa" (15). "Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci yang bernama Lembah Thuwa" (16), yang terletak di Palestina.
Ketika itu —menurut ayat 17— Allah berfirman memerintahkannya: "Pergilah wahai Nabi Musa kepada Firaun —Penguasa tertinggi Mesir sekitar 1224-1214 SM sesungguhnya dia telah melampaui batas dalam kedurhakaan kepada Allah serta penindasan terhadap manusia."

Lalu setelah menemuinya katakanlah kepadanya dengan lemah lembut penuh kesopanan: "Adakah keinginan bagimu, yakni aku mengajakmu, untuk menyucikan diri dengan bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah dan aku akan mengarahkanmu berkat bimbingan Allah —ke jalan Tuhan Pencipta alam raya serta Pemelihara seluruh makhluk dan Pemeliharamu— sehingga dengan menerima ajakan serta mengamalkan petunjuk itu Engkau menjadi takut dan kagum, yakni kepada Allah semata-mata?" Demikian lebih kurang ayat 18 dan 19.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 15-19
1.      Perlunya mengambil pelajaran dari pengalaman masa lalu, baik yang berkaitan dengan tokoh-tokoh yang berjasa maupun yang durhaka.

2.      Perlunya bersikap lemah lembut dan berbudi bahasa halus dalam berdakwah/ menyampaikan nasihat kendati yang dihadapi adalah pendurhaka semacam Firaun.
3.      Nabi, apalagi manusia biasa, hanya mampu memberitahu, tapi sukses memperoleh hidayah dan mengamalkannya, hanya berkat bantuan Allah.

4.      Pengenalan terhadap Allah dan rasa takut/ kagum kepada-Nya itulah yang mendorong seseorang patuh kepada Allah.

Intisari Kandungan Ayat (Ayat 20-26)
Setelah mendapat perintah, Nabi Musa as. mendatangi Firaun dan segera melaksanakan tuntunan Allah. Lalu setelah menyadari penolakan Firaun, beliau memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar, yaitu berubahnya tongkat
yang beliau gunakan menjadi ular.

Firaun kagum melihatnya, tetapi dia tetap mengingkari kerasulan Nabi Musa serta mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Yang lebih aneh dan buruk dari pengingkaran dan kedurhakaan itu adalah dia berpaling/ enggan beriman seraya berusaha menantang dan memadamkannya. Maka, untuk maksud penentangan itu dia mengumpulkan pembesar-pembesar dan penyihir-penyihir masyarakatnya, lalu memerintahkan untuk memanggil seluruh penduduk. Setelah terkumpul, dia berkata kepada mereka: "Akulah Tuhan pemelihara kamu semua yang paling tinggi."
Sikap Firaun yang demikian angkuh dan bejat itu, dan setelah berkali-kali dinasihati, diperingati, serta diberi bukti-bukti yang meyakinkan, namun selalu saja dia membangkang —sikapnya itu— menjadikan Allah bertindak sebagaimana dijelaskan oleh ayat 25, yakni bahwa Allah pasti akan menyiksanya dengan siksa yang akan dijatuhkan-Nya di akhirat, yaitu memasukkannya ke neraka, dan siksa di dunia yaitu dengan menenggelamkannya di Laut Merah. Sesungguhnya di dalam peristiwa yang dialami oleh Nabi Musa dan Firaun itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Pelajarat yang Dapat Dipetik Dari Ayat 20-26
1.      Allah selalu mendukung nabi/rasul yang diutus-Nya dengan bukti yang sesuai dengan perkembangan pemikiran atau kemahiran yang ditekuni oleh umat/ masyarakatnya. Umat Nabi Musa dikenal dengan kemahiran mereka dalam sihir, maka mukjizat untuk Nabi Musa adalah hal-hal konkret yang luar biasa yang melebihi sihir.

2.      Yang lebih buruk daripada menolak kebenaran adalah bersikap angkuh terhadapnya serta berusaha menghalangi tersebarnya.

3.      Ucapan Firaun di atas dapat dipahami dalam arti pengakuan tentang adanya pemelihara dan pihak-pihak selain dirinya yang mengurus, mengarahkan, bahkan memiliki wewenang, tetapi dialah pemelihara dan pemilik wewenang tertinggi.

4.      Perlu dicatat bahwa Firaun yang ditenggelamkan ini, bukanlah Firaun yang memungut Musa as. di sungai Nil. Yang ditenggelamkan ini adalah putra Firaun itu yang dibesarkan bersama Musa as. dan yang kemudian menjadi penguasa Mesir tertinggi menggantikan ayahnya. 

 
Surah an-Naba'

Surah an-Naba' terdiri dari 40 ayat. Dinamakan surah an-Naba' yang berarti berita besar, diambil dari ayat 2.

(Bagian 1)
Ayat-ayat surah ini disepakati turun sebelum Nabi saw hijrah ke Madinah. Namanya adalah surah an-Naba'. Ada juga yang menambahkan kata al- 'Azhim. Ia dinamai juga surah 'Amma Yatasa'alun dan ada yang mempersingkatnya dengan menamainya surah 'Amma. Nama-nama yang lain adalah surah at-Tasa’ul juga al-Mu‘shirat. Nama-nama tersebut diangkat dari ayat pertama dan kedua surah ini.

Surah ini mengandung uraian tentang hari kiamat dan bukti-bukti kuasa Allah untuk mewujudkannya. Bukti-bukti utama yang dipaparkan di sini adalah penciptaan alam raya yang demikian hebat serta sistem yang mengaturnya yang kesemuanya menunjukkan adanya pembalasan pada hari tertentu yang ditetapkan-Nya.

Tujuan utama surah ini menurut al-Biqa‘i adalah pembuktian tentang keniscayaan hari kiamat, yang merupakan suatu hal yang tidak dapat diragukan sedikit pun. Allah Sang Pencipta, di samping Maha Bijaksana dan Maha Kuasa, Dia juga mengatur dan mengendalikan manusia sesempurna mungkin.

Dia menyediakan buat mereka tempat tinggal (bumi) yang sesuai bagi kelangsungan hidup mereka dan keturunan mereka. Apa yang Allah sediakan itu demikian sempurna sehingga manusia tidak membutuhkan lagi sesuatu yang tidak tersedia. Itu pulalah yang menciptakan hubungan harmonis antar-sesama. Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Kuasa itu tidak mungkin membiarkan hamba-hamba-Nya hidup saling menganiaya, menikmati rezeki-Nya tetapi menyembah selain-Nya, tanpa melakukan hisab (perhitungan) atas perbuatan-perbuatan mereka.

Apalagi Dia adalah Pemberi Putusan, bahkan sebaik-baik Pemberi putusan. Pengabaian mereka sama sekali tidak dapat diterima akal, bahkan terbetik dalam benak. Perhitungan atas manusia adalah sesuatu yang pasti. Nama surah ini an-Naba’ (berita yang penting) dan 'Amma yatasa'alun menunjukkan dengan sangat jelas tujuan tersebut. Ini terlihat dengan memerhatikan ayat-ayatnya serta awal dan akhir uraiannya. Demikian lebih kurang al-Biqa'i.

Surah ini, menurut beberapa pakar, merupakan surah ke-80 dari segi perurutan turunnya surah-surah al-Qur’an. Ia turun sesudah surah al-Ma'arij dan sebelum surah an-Nazi'at. Jumlah ayat-ayatnya menurut cara perhitungan ulama Madinah, Syam, dan Bashrah sebanyak 40 ayat, sedang menurut cara perhitungan ulama Mekkah dan Kufah sebanyak 41 ayat.

Surah an-Naba' dimulai dengan pertanyaan yang bertujuan menggugah perhatian pembaca dan pendengarnya. Uraian surah ini memberi kesan kehebatan dan kedahsyatan apa yang dibicarakannya. Ayat 1 dan 2 menyatakan: Tentang apakah yang mereka —yakni kaum musyrik atau masyarakat Mekkah secara umum— saling pertanyakan (1) Tentang berita penting yang agung, yang mereka itu berselisih pendapat menyangkut terjadinya (2) Ada yang percaya, ada yang ragu, dan ada juga yang menolaknya (3) Selanjutnya ayat 4 menghardik yang ragu atau menafikan dugaan dengan menegaskan bahwa semua pihak akan mengetahui dengan pasti. Makna serupa diulangi lagi oleh ayat ke-5.

Selanjutnya, ayat 6 sampai dengan ayat 16 mengemukakan sembilan aneka ciptaan Allah yang terhampar di bumi, yang terbentang di langit, dan yang terdapat dalam diri manusia, yang kesemuanya demikian hebat dan mengagumkan sekaligus menunjukkan kuasa Allah atas segala sesuatu. Itu bermula dengan menyebut bumi yang diciptakan-Nya nyaman bagaikan ayunan (untuk menjadi hunian manusia) (6), gunung-gunung yang ditancapkan-Nya (agar bumi tak oleng) (7), dilanjutkan dengan penciptaan manusia berpasang-pasangan (agar potensi cinta yang terdapat dalam dirinya dapat tersalurkan dan generasi dapat berlanjut (8).

Lalu, tidur yang memutus aktivitas (agar manusia dapat beristirahat) (9), malam yang dijadikan-Nya gelap sehingga menutupi pandangan dan tidur dapat nyenyak (10) dan siang yang dijadikannya terang benderang guna memudahkan mencari sarana kehidupan (11). Dari sana, ayat (12) beralih untuk mengundang perhatian terhadap langit yang berlapis-lapis dengan kokoh, di mana terdapat matahari yang memancarkan cahaya yang demikian benderang (13).

Selanjutnya, diingatkan bahwa dari langit, yakni awan yang mengandung butir-butir air, Allah menurunkan hujan yang deras (14) untuk tumbuhnya aneka biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan (15) serta kebun-kebun yang lebat (16). Selanjutnya, ayat 17 menegaskan bahwa ada hari di mana Allah akan memisahkan yang baik dan yang buruk, memberi putusan terhadap masing-masing, dan hari tersebut memunyai waktu yang telah ditentukan, yakni oleh-Nya sendiri.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 1-17
1.      Tidak ada alasan untuk meragukan kuasa Allah! Perhatikanlah alam sekeliling! Siapa yang menciptakannya? Tidak mungkin alam itu menciptakan dirinya sendiri. Pelajarilah keharmonisan kerjanya. Pasti akan disadari bahwa yang mengatur keharmonisan itu pastilah Dia Yang Maha Esa lagi Maha Mengetahui.

2.      Pelajarilah diri Anda, banyak hal yang belum terungkap, kendati Anda sendiri yang mengalaminya setiap hari. Tidur misalnya, hingga kini belum diketahui bagaimana proses terjadinya.

3.      Selanjutnya, apa jadinya jika siang terus-menerus tanpa malam, atau sebaliknya? Allah yang menggilirnya, melakukan hal tersebut demi kepentingan manusia. Jika demikian, bukan hanya cahaya yang baik dan bermanfaat, tetapi juga kegelapan malam. Jangan menggeneralisir seperti halnya orang musyrik atau penyembah api.

4.      Perhatikanlah langit betapa indah dan tegarnya. Lihat juga matahari! Tanpa sinarnya yang sesuai kita akan kedinginan atau akan terbakar kepanasan. Bandingkanlah berapa banyak tenaga dan biaya yang diperlukan untuk penerangan jika sinar matahari tidak memancar? Lalu amati air yang diturunkan-Nya dari langit! Bagaimana siklusnya? Bagaimana proses turunnya? Kehidupan di planet tempat kita bermukim, tidak akan berlanjut tanpa air.
5.      Setelah sekian banyak ciptaan-Nya yang sengaja diciptakan-Nya untuk kepentingan dan kenyamanan manusia, apakah manusia menduga bahwa ia diciptakan sia-sia? Apakah manusia mengira bahwa tujuan penciptaan hanya pergantian hari dan malam, makan, minum, dan hubungan seks? Mengumpul materi dan meraih kedudukan sosial? Apakah manusia menduga bahwa Allah akan mempersamakan yang baik dan yang buruk? Tidak, karena itu Dia menentukan hari tertentu —di mana semua akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan amal-amalnya, sehingga terpisah yang baik dan yang buruk.

Setelah ayat-ayat yang lalu menguraikan siksa bagi para pendurhaka, ayat 31 hingga 36 menguraikan ganjaran orang-orang bertakwa, yakni "Bagi mereka kemenangan yang besar atau masa dan tempat kebahagiaan di surga (yaitu) kemenangan dengan memperoleh keselamatan dan keterbebasan dari bencana serta perolehan kebajikan yang dilengkapi dengan kebun-kebun dan buah-buah anggur, serta gadis-gadis remaja yang baru tumbuh payudaranya, lagi sebaya dengan sesamanya dan/ atau sebaya juga dengan pasangannya. Yang menjadi penghuni surga itu tersedia juga gelas-gelas yang isinya penuh minuman yang sangat lezat. Di surga sana, mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (juga) ucapan dusta. Yang demikian itu adalah ganjaran yang bersumber dari Tuhanmu, wahai Nabi Muhammad, yang merupakan pemberian yang banyak dan memuaskan."

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 31-36
1.      Nikmat surgawi bermacam-macam. Ada yang bersifat jasmani; makanan dan seks, ada juga yang bersifat ruhani; keterbebasan dari perkataan sia-sia dan kebohongan.

2.      Ucapan yang tidak memunyai makna lebih-lebih kebohongan adalah sesuatu yang buruk, yang tidak wajar muncul dari orang-orang yang mendambakan surga.

3.      Nikmat surgawi bukanlah imbalan amal kebaikan sehingga dapat dituntut, tetapi ia adalah ganjaran yang diterima berkat pemberian Allah. Itu sebabnya ketika berbicara tentang siksa, dinyatakan-Nya: "Balasan yang setimpal" (ayat 26) berbeda dengan ganjaran surga yang dinyatakan-Nya sebagai "Pemberian".

4.      Penyebutan kata Tuhanmu dalam konteks pemberian ganjaran (ayat 36) mengisyaratkan betapa tinggi kedudukan Nabi Muhammad saw di sisi Allah swt.

Intisari Kandungan Ayat (ayat 37-40)
Setelah ayat yang lalu menjelaskan aneka ganjaran yang disiapkan Allah, ayat 37 dan seterusnya menjelaskan siapa Allah, bagaimana sikap makhluk kelak jika terjadi kiamat serta sifat kiamat. Ayat 37 menegaskan bahwa Dia yang memberi ganjaran itu adalah Tuhan Pemelihara dan Pengendali langit dan bumi, serta apa yang terdapat antara keduanya, semua makhluk yang berada di alam raya ini tidak memiliki, yakni tidak diberi oleh Allah kemampuan/ wewenang berbicara kepada-Nya.

Ketiadaan wewenang dan kemampuan itu menurut ayat 38 akan sangat jelas terlihat pada hari kiamat, hari ketika ruh, yakni Malaikat Jibril dan para malaikat semuanya, berdiri bershaf-shaf, menghadap-Nya. Mereka tidak berkata-kata, lebih-lebih keberatan atau memohonkan ampunan atau syafaat kepada yang durhaka, kecuali siapa yang telah diberi izin khusus untuk berbicara oleh ar-Rahman, Tuhan Yang Maha Pemurah itu; dan yang diberi izin itu mengucapkan kata yang benar.

Ayat 39 menyatakan bahwa: "Itulah hari yang pasti terjadi dan jika demikian maka siapa yang menghendaki, untuk menelusuri jalan keselamatan—sebelum Jahanam menjadi tempat tinggalnya—maka hendaklah dia sekarang ini juga bersungguh-sungguh menempuh menuju Tuhannya jalan kembali dengan beriman, bertaubat, dan beramal saleh."

Akhirnya, surah ini ditutup oleh ayat 40 dengan firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu—hai semua manusia, khususnya yang kafir—tentang siksa yang dekat. Itu akan terjadi pada hari setiap orang melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, yakni amal-amal kebaikan dan keburukannya selama hidup di dunia atau melihat balasan dan ganjarannya.

Orang Mukmin ketika itu akan berkata: "Alangkah baiknya jika aku dibangkitkan sebelum ini." Dan orang kafir akan berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah sehingga tidak dibangkitkan dari kubur atau sama sekali tidak pernah wujud."

Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Ayat 37-40
1.      Allah Penguasa di dunia dan di akhirat. Kekuasaan-Nya di akhirat sangat menonjol sehingga tidak satu pun yang mengingkarinya. Semua takut kepada-Nya, tidak seperti dalam hidup duniawi. Di sana, para malaikat yang dekat kepada-Nya pun tidak dapat berbicara kecuali dengan izin-Nya, maka tentu lebih lebih makhluk durhaka. Mereka pasti akan bungkam.
2.      Allah adalah Pemilik, Pemelihara, dan Pengatur alam raya dari yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya. Dia bukan sekadar Pencipta, lalu menyerahkan wewenang pengaturan aneka ciptaan-Nya kepada malaikat/ dewa-dewa, baik dipersonifikasi dengan berhala-berhala, maupun tanpa personifikasi (sekadar percaya).

3.      Ganjaran, bahkan balasan yang diberikan Allah adalah bagian dari rahmat-Nya, termasuk yang diterima oleh para pendurhaka. Bukankah merupakan rahmat menghukum yang bersalah? Bukankah merupakan rahmat membedakan antara yang baik dan yang buruk?

4.      Di hari kemudian, setiap orang akan melihat apa yang dikerjakannya di dunia. Itu dapat berarti melihat dengan mata kepala ganjaran dan balasan amalnya, atau bahkan melihatnya kembali sebagaimana yang terjadi—melebihi cara kita sekarang melihat rekaman peristiwa-peristiwa.

5.      Penghuni neraka menyesal —penyesalan yang tidak berguna— mengapa mereka harus diwujudkan di dunia untuk memikul tanggung jawab. Karena itu yang berakal hendaknya menggunakan kesempatan hidupnya di dunia, agar tidak menyesal di Hari Kemudian.
Demikian, Wa Allah A'lam.

 

Setelah ayat-ayat yang lalu menguraikan siksa bagi para pendurhaka, ayat 31 hingga 36 menguraikan ganjaran orang-orang bertakwa, yakni "Bagi mereka kemenangan yang besar atau masa dan tempat kebahagiaan di surga (yaitu) kemenangan dengan memperoleh keselamatan dan keterbebasan dari bencana serta perolehan kebajikan yang dilengkapi dengan kebun-kebun dan buah-buah anggur, serta gadis-gadis remaja yang baru tumbuh payudaranya, lagi sebaya dengan sesamanya dan/ atau sebaya juga dengan pasangannya. Yang menjadi penghuni surga itu tersedia juga gelas-gelas yang isinya penuh minuman yang sangat lezat. Di surga sana, mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (juga) ucapan dusta. Yang demikian itu adalah ganjaran yang bersumber dari Tuhanmu, wahai Nabi Muhammad, yang merupakan pemberian yang banyak dan memuaskan."

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 31-36
1.      Nikmat surgawi bermacam-macam. Ada yang bersifat jasmani; makanan dan seks, ada juga yang bersifat ruhani; keterbebasan dari perkataan sia-sia dan kebohongan.

2.      Ucapan yang tidak memunyai makna lebih-lebih kebohongan adalah sesuatu yang buruk, yang tidak wajar muncul dari orang-orang yang mendambakan surga.

3.      Nikmat surgawi bukanlah imbalan amal kebaikan sehingga dapat dituntut, tetapi ia adalah ganjaran yang diterima berkat pemberian Allah. Itu sebabnya ketika berbicara tentang siksa, dinyatakan-Nya: "Balasan yang setimpal" (ayat 26) berbeda dengan ganjaran surga yang dinyatakan-Nya sebagai "Pemberian".

4.      Penyebutan kata Tuhanmu dalam konteks pemberian ganjaran (ayat 36) mengisyaratkan betapa tinggi kedudukan Nabi Muhammad saw di sisi Allah swt.

Intisari Kandungan Ayat (ayat 37-40)
Setelah ayat yang lalu menjelaskan aneka ganjaran yang disiapkan Allah, ayat 37 dan seterusnya menjelaskan siapa Allah, bagaimana sikap makhluk kelak jika terjadi kiamat serta sifat kiamat. Ayat 37 menegaskan bahwa Dia yang memberi ganjaran itu adalah Tuhan Pemelihara dan Pengendali langit dan bumi, serta apa yang terdapat antara keduanya, semua makhluk yang berada di alam raya ini tidak memiliki, yakni tidak diberi oleh Allah kemampuan/ wewenang berbicara kepada-Nya.
Ketiadaan wewenang dan kemampuan itu menurut ayat 38 akan sangat jelas terlihat pada hari kiamat, hari ketika ruh, yakni Malaikat Jibril dan para malaikat semuanya, berdiri bershaf-shaf, menghadap-Nya. Mereka tidak berkata-kata, lebih-lebih keberatan atau memohonkan ampunan atau syafaat kepada yang durhaka, kecuali siapa yang telah diberi izin khusus untuk berbicara oleh ar-Rahman, Tuhan Yang Maha Pemurah itu; dan yang diberi izin itu mengucapkan kata yang benar.

Ayat 39 menyatakan bahwa: "Itulah hari yang pasti terjadi dan jika demikian maka siapa yang menghendaki, untuk menelusuri jalan keselamatan—sebelum Jahanam menjadi tempat tinggalnya—maka hendaklah dia sekarang ini juga bersungguh-sungguh menempuh menuju Tuhannya jalan kembali dengan beriman, bertaubat, dan beramal saleh."

Akhirnya, surah ini ditutup oleh ayat 40 dengan firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu—hai semua manusia, khususnya yang kafir—tentang siksa yang dekat. Itu akan terjadi pada hari setiap orang melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, yakni amal-amal kebaikan dan keburukannya selama hidup di dunia atau melihat balasan dan ganjarannya.

Orang Mukmin ketika itu akan berkata: "Alangkah baiknya jika aku dibangkitkan sebelum ini." Dan orang kafir akan berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah sehingga tidak dibangkitkan dari kubur atau sama sekali tidak pernah wujud."

Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Ayat 37-40
1.      Allah Penguasa di dunia dan di akhirat. Kekuasaan-Nya di akhirat sangat menonjol sehingga tidak satu pun yang mengingkarinya. Semua takut kepada-Nya, tidak seperti dalam hidup duniawi. Di sana, para malaikat yang dekat kepada-Nya pun tidak dapat berbicara kecuali dengan izin-Nya, maka tentu lebih lebih makhluk durhaka. Mereka pasti akan bungkam.

2.      Allah adalah Pemilik, Pemelihara, dan Pengatur alam raya dari yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya. Dia bukan sekadar Pencipta, lalu menyerahkan wewenang pengaturan aneka ciptaan-Nya kepada malaikat/ dewa-dewa, baik dipersonifikasi dengan berhala-berhala, maupun tanpa personifikasi (sekadar percaya).

3.      Ganjaran, bahkan balasan yang diberikan Allah adalah bagian dari rahmat-Nya, termasuk yang diterima oleh para pendurhaka. Bukankah merupakan rahmat menghukum yang bersalah? Bukankah merupakan rahmat membedakan antara yang baik dan yang buruk?

4.      Di hari kemudian, setiap orang akan melihat apa yang dikerjakannya di dunia. Itu dapat berarti melihat dengan mata kepala ganjaran dan balasan amalnya, atau bahkan melihatnya kembali sebagaimana yang terjadi—melebihi cara kita sekarang melihat rekaman peristiwa-peristiwa.

5.      Penghuni neraka menyesal —penyesalan yang tidak berguna— mengapa mereka harus diwujudkan di dunia untuk memikul tanggung jawab. Karena itu yang berakal hendaknya menggunakan kesempatan hidupnya di dunia, agar tidak menyesal di Hari Kemudian.

Demikian, Wa Allah A'lam.

download

www.mercubuanaraya.com

Menjadikan Indonesia Pusat Dunia

Link Terkait